“Gue kadang bingung. Salat duha udah, berdoa udah, sedekah udah, tapi kan tetep aja gaji segitu-segitu aja. Gue percaya Allah ngasih rezeki, tapi kan gaji dari kantor gak mungkin tiba-tiba nambah”
Berapa banyak dari kita yang beribadah untuk mengharap bertambahnya rezeki? Ada? Pasti ada.
Salah? Tentu tidak, karena memang sudah begitu janji Allah. Barang siapa melaksanakan duha, maka akan diberi rezeki. Barang siapa meminta, maka akan diberi rezeki. Barang siapa bersedekah, maka akan dilipatgandakan rezeki.
Namun sayang, banyak orang salah memahami rezeki. Banyak orang menganggap, rezeki adalah uang, gaji, take home pay. Tidak, tidak begitu.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi sakit-sakitan? Maka tidak hanya uang, kesehatan juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi jarang bertemu dengan keluarganya? Maka tidak hanya uang, waktu dengan keluarga pun rezeki
Berapa banyak orang yang punya uang tapi di kantor dan pulang ke kantor terus isinya hanya memikirkan pekerjaan? Maka tidak hanya uang, ketenangan pikiran juga rezeki
Berapa banyak orang yang punya uang tapi kesulitan untuk beribadah? Maka tidak hanya uang, kemudahan akses beribadah juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tapi tidak memiliki bisnis? Maka tidak hanya uang, memiliki tenaga, waktu, dan pikiran lebih untuk digunakan membuat bisnis diluar jam kerja adalah juga rezeki.
Berapa banyak orang yang punya uang tidak bahagia? Maka tidak hanya uang, memiliki kebahagiaan juga adalah rezeki.
Bentuk rezeki itu banyak, tidak hanya berbentuk uang, justru kadang rezeki itu berbentuk hal-hal yang tidak kita fikirkan. keluangan waktu, kemampuan begadang, kesehatan, libur di sabtu dan minggu, kemampuan beribadah, dan lain sebagainya yang membuat kita tetap bahagia, adalah bentuk rezeki.
Maka, jangan berhenti untuk tetap bersyukur, tetaplah meminta dan berusaha. Karena kondisi kita yang tanpa masalah, adalah bentuk rezeki yang kadang tidak disyukuri.
BENTUK REZEKI
Bandung, 21 Januari 2020
@choqi-isyraqi