Hari ini, terpaku lagi aku menatap sesuatu yang tidak familiar. Jalan-jalan yang kutempuh, kusyukuri. Betapa Maha Baik Allah padaku, tapi bukan berarti tidak pada kebanyakan orang.
Kepahitan, kebahagiaan hidup adalah berbeda pada tiap orangnya. Juga karena salah satunya, bagaimana kita menatap dengan kadar ridho dan ikhlas yang berbeda terhadap takdir-Nya, yang membuat kita hari ini payah atau berkecukupan.
Hari ini aku melihat lagi, tumpukan nama-nama itu, yang berarti harapan hidup, bukan sekadar perlu tidak perlu. Aku melihatnya sesekali karena memang tugasku. Kadang aku buka lagi halamannya, memastikan bahwa benar-benar berat tugasku mengampu pengharapan akan pekerjaan, yang bagi sebagian orang lain adalah celaan, bagi sebagian lainnya adalah rasa syukur.
Ingat sekali, bagaimana sosok pekerja keras dalam keluargaku adalah sebaik-baiknya teladan, "hargai, hargai, hargai. beranilah pergi jika sudah bukan jalannya. bertahanlah dengan pengharapan terbaik, jangan sesekali mencela, tempat yang di sanalah masih menyala lampu rumahmu, masih terbayar kebutuhanmu." yang gaung kudengar meski hanya lewat teladan gerak geriknya.
Terima kasih, terima kasih, membuat segala hidupku isinya tentang hal yang kusyukuri. Bukan karena penuh bahagia dan lega, tapi karena hatiku dilatih begitu.















