Setelah 8 bulan bergabung di perusahaan ini, terhitung sejak 11 November 2019. Selama itu saya merasa menjadi karyawan bayangan haha alias karyawan magang yang kurang dianggap ada. Meskipun hingga tanggal hari ini masih berstatus magang, tapi setidaknya mulai ada titik kejelasan atas doa-doa yang selama ini aku panjatkan, atas segala permohonan petunjuk dari Allah. Berkali-kali sering nanya sama Allah, "Ya Allah, saya harus lanjut atau cari yang lain ya? Kalo lanjut kok sepertinya saya tidak berkembang di tempat ini, sedangkan umur saya terus bertambah dengan hanya menjadi karyawan magang yang minim pengalaman kerja." Tapi selalu saja jawaban dari Allah adalah untuk tetap bertahan dulu di tempat ini. Sampai saya bingung, apa ya tujuan Allah untuk nyuruh saya tetap bertahan, sedangkan sudah 2 bulan ngantor ga ada kerjaan yang saya kerjakan. Jadi setiap hari berangkat kerja, dan kerjaan saya di kantor hanyalah menunggu waktu pulang. Begitu terus sampai 2 bulanan. Berasa makan gaji buta hehe. Tapi setelah kebijakan new normal terbit, mulai ada kejelasan sedikit demi sedikit. Beberapa task bidang System Engineering (SE) mulai di training kan ke saya. Saya mulai dituntut untuk terus mempelajari berbagai task bidang SE tersebut. Belum, saya belum diangkat menjadi karyawan tetap. Saat tulisan ini saya tulis, saya masih dalam tahap mendalami task shipping dan kawan-kawannya, serta mulai pelan-pelan memahami bahasa query.
Sebisa mungkin saya menahan diri ini untuk tidak mudah jumawa dengan setiap tahapan proses yang saya alami. Saya percaya, ketika saya sedang berada di bawah, tidak lama lagi saya akan naik ke atas. Dan ketika saya sedang berada di atas, saya pun harus bersiap ketika roda saya mulai berputar ke bawah lagi. Begitu seterusnya.
Sebenarnya saat menulis ini saya sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja hanya karena karir mulai membaik. Percintaan saya sedang tidak baik-baik saja haha ya, dia yang sering saya tulis disini ghosting setelah kami saling confess di Mei terakhir kemarin. Kebucinan kami oh bukan kami, kebucinan dia hanya bertahan 2 minggu. Setelah itu dia cuek, saya fikir saya perlu tetap mempertahankan keadaan. Tetapi dia tetap saja seperti itu. Membuat saya menunggu setiap harinya. Makan hati haha beberapa malam saya menangisi dia, ya terdengar bucin sekali saya. Karena di awal saya fikir dia akan berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, ternyata memang berbeda, dia yang paling suka ghosting di antara mantan-mantan saya haha sangat tidak peka, tidak bisa tegas, penuh keraguan, banyak janji tapi jarang menepati. Saya muak, saya capek dengannya. Jadi sudah seminggu ini saya juga mengabaikannya. Dia tidak menghubungi, saya juga tidak akan menghubungi. Dia menghubungi, saya tetap respon dengan baik. Tapi tidak untuk saya memulai percakapan duluan dengannya. Saya capek menunggu. Saya lebih memilih untuk fokus dengan beberapa capaian yang harus segera saya tuntaskan sebelum memutuskan untuk menikah. Masa bodoh dengannya. Yang saya lakukan saat ini adalah:
1. Membangun karir yang mungkin bisa dibilang cukup tertinggal dibandingkan dengan capaian karir teman seangkatan saya.
2. Menyelasaikan pendidikan S2, mendalami ilmu IT untuk kebutuhan pekerjaan kantor saya, serta ilmu marketing untuk bekal saya menjadi mommy-preneur setelah berkeluarga nanti.
3. Memperbaiki hubungan saya dengan Allah, orang tua, dan diri sendiri. Saya sedang dalam tahap belajar untuk mencintai diri saya sendiri, meski masih sering berdusta dengan diri sendiri haha
Dan untuk perihal jodoh, saya paham semestinya mulai umur segini saya perlu sedikit usaha untuk meraihnya. Tapi terlalu sulit rasanya jika capaian-capaian hidup saya belum sampai separuh terpenuhi. Sehingga untuk hal yang satu ini sepenuhnya saya pasrahkan sama Allah, saya tidak sanggup untuk meraih segalanya sendiri, saya percaya nanti Allah bantu. Rasanya kalau saya harus menjalani itu semua, ditambah dengan harus memiliki komitmen dengan seorang pria alias berpacaran, saya tidak sanggup. Pacaran itu menyenangkan, tapi sungguh itu sangat mengganggu pikiran saya. Saya tipe orang yang bucin, sangat sulit untuk menomorduakan pacar setelah tugas ataupun tanggung jawab saya terselesaikan.
Hahhh.. Intinya saya bersyukur Allah selalu bantu saya, segalanya saya pasrahkan pada Dia. Segala urusan hidup ini, saya tidak mau ambil pusing untuk hasilnya. Saya sedang dalam tahap mencoba untuk terus berusaha, sabar, dan berdoa untuk dibantu oleh-Nya dalam menjalani setiap proses kehidupan ini.