
@theartofmadeline

No title available
YOU ARE THE REASON
he wasn't even looking at me and he found me

Kaledo Art
cherry valley forever

Love Begins
todays bird

oozey mess
hello vonnie
Misplaced Lens Cap

blake kathryn
DEAR READER
Stranger Things

No title available

Origami Around

祝日 / Permanent Vacation
ojovivo
dirt enthusiast
No title available

seen from Netherlands
seen from Poland

seen from Australia
seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from France

seen from Belgium
seen from United States

seen from Israel

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Sudan
seen from Canada
seen from United States
@harahap95
Setipis Kertas Ijazah
“Tidurlah dirumah, tak usah dipikirkan panjang sebab jalan sempit, tujuan jauh, perbekalan sedikit.” (HAMKA)
Suatu kali Ibnu Hibban al Busti dalam bukunya raudlatul ‘uqala wa nuzhatul fudhala’ menyebutkan satu hikmah yang sangat mahal harganya. Beliau berkata, “Siapa yang kuat berangan-angan, maka akan lemah berbuat dan mengerjakan.” Dalam pembahasannya beliau mengingatkan bahwa orang berakal itu, tak panjang khayal, tapi lugas dan selesai berbuat. Dari hal-hal sederhana ia tidak luput, pada hal-hal yang besar sangat teliti.
Sore itu kami berkesempatan untuk duduk bersama para santri membaca salah satu karangan Imam Nawawi, Bustanul Arifin. Waktu yang kami gunakan tidaklah lama, sehabis ashar hingga sekitar pukul lima sore. Yang dibaca juga tidak panjang, hanya sekitar tiga halaman. Namun apa yang didapat dari majelis itu sangatlah memuaskan. Beberapa santri mengangguk dan tersenyum seakan ingin berkata, “kami haus, tambahkan lagi curahan ilmu itu.” Begitulah kiranya betapa manusia sangat membutuhkan pengetahuan dan tambahan ilmu.
Namun mengapa pula jiwa terasa berat untuk bergerak mencari dan mendatangi majelis-majelis ilmu? Mengapa para mahasiswa dengan sangat bersemangat melangkah menuju kampusnya, namun tak ada semangat untuk datang ke tempat-tempat diskusi, pengajian, seminar dan sebagainya. Bukankah yang dituju adalah sama, ilmu?! Namun mengapa semangat untuk itu, tidak sebesar semangat untuk yang ini.
Mahasiswa yang telah mentasbihkan dirinya sebagai abang tertua dalam dunia pendidikan kita hari ini, seharusnya punya semangat yang berlipat-lipat dari yang sebelumnya. Namun begitulah adanya, semangat menuntut ilmu ini, tipis. Setipis ijazah yang selalu kita banggakan. Apakah kita bersemangat dan rajin mendatanginya karena ada imbalan berupa ijazahnya? Pada hal itu, yang sejatinya kita membayar dan mengeluarkan dana yang cukup banyak, sangat semangat mendatanginya? Namun mengapa pada majelis-majelis ilmu dan tempat-tempat diskusi yang gratis itu sangatlah berat adanya.
Adakah kiranya jiwa yang malas, atau niat yang sudah amblas dan menerobos batas. Semangat yang tipis tadi semakin menipis ditambah dengan seabrek ‘kesibukan’ yang tak bertuan itu. Tepat apa yang disampaikan oleh salah seorang ulama bahwa perbedaan kita dengan ulama-ulama dan tokoh-tokoh hebat itu adalah perbedaan pada hitungan detik. Detik waktu mereka berkah dan menghebatkan, sedang detik waktu kita payah dan menghanyutkan. Detik mereka ibadah dan jihad, detik waktu kita pasrah dan penuh hasad. Hasad mereka pada ilmu dan ketaatan, hasad kita pada harta dan kepunyaan.
Segala kemudahan sudah didapat, namun semangat kami masih setipis ijazah. Semakin terkikis dengan semua kebodohan yang dibanggakan. Semangat semakin pipih, tersisih oleh rintih kesombongan yang terus ditumbuhsuburkan. Akhirnya jadilah kami manusia berpendidikan yang tak terdidik, manusia pendidikan yang tak menikmati ilmu dan pengetahuan. Semangat kami hanya mengejar secarik kertas, bukan segunung ilmu yang tak berbatas. Mungkin kalau ijazah kami agak sedikit tebal, kiranya tebal dan besar juga semangat kami yang belajar dan menuntut ilmu?!
Bahkan Sepi pun tak dia percayai
Dia 'tak pandai berteman', itu kesimpulanku. Cerita yang diceritakan hanya jadi cerita, tak berbalas dan berkomentar apa-apa. Sampai pada masanya aku akan menggerutu "lebih baik tak usah bercerita padanya."
Dia selalu memuji langit. Sebab dia mau kesana katanya. Walau bukan jasadnya, cita-cita nya katanya. Satu lagi yang dia sangat kagumi, dirinya sendiri. Dia selalu puji-puji dengan semua kata-katanya yang indah itu. Aku pun bingung mengapa sebegitu 'kagumnya' dia pada diri sendiri. Tapi aku yakin itu cara terbaiknya untuk memompa semangat saat-saat dia kehilangan hal mahal itu.
Katanya dia tak pandai menulis, tapi mengapa tulisannya selalu menarik untuk dibaca dan dinikmati. Sama-sama gila pada buku dan bacaan. Itu awal perkenalan (asyek). Dia selalu bisa membaca dengan ebooknya, saat aku selalu menghindarinya. Dari kecintaannya itu dia selalu berkhayal-khayal yang tak biasa. Tapi itu cara yang tepat di waktu yang tepat.
Keinginannya yang gula-gula itu tepat diimpikan nya di masa yang ia punya kesempatan dan kemampuan untuk itu. Dulu dia bercerita tentang Jerman, negeri yang sekarang dia mencoba menikmatinya. Apakah dia menikmatinya dengan baik, atau hanya berpura-pura menikmatinya? Entahlah, yang kutahu dia punya ambisi yang besar.
Dia tak percaya siapa-siapa, apa-apa (kecuali tuhan dan kedua orangtuanya mungkin). Kekesalannya yang ntah darimana akarnya, membuatnya kadang mengeluh, mengutuk dan marah. Dia memegang erat persahabatan (bagi yang dia ingin persahabatannya). Dia punya dunia yang tak bisa saya juga. Dunia yang digambarkan nya dengan kata-kata yang rumit dan penuh tafsiran.
Apapun itu tentang sosoknya, doa ku supaya semua maunya tercapai, semua cita-cita nya tergapai, semua doanya sampai. (Terkhusus pintanya untuk sosok tempat ia bisa menyandarkan semua keluh dan berbagi kisah dan kesah). Sebenarnya dia sedang tidak merasa sepi, dia ramai dengan semua bacaan dan impiannya. Ia hanya butuh sandaran saat ia membaca dan tangan yang kuat untuk menggenggamnya menggapai impian.
Apa kabar buku-bukuku ??
Apa kabar buku-buku yang hanya jadi pemanis di bibir saat disebut bahwa ia buku yang baik?
Apa kabar buku-buku yang dipuji setinggi langit dari caption di media sosial yang beratus penyukanya?
Apa kabar buku-buku yang sudah menanti dibuka dan dibaca oleh pemiliknya ?
Apakah ia hanya akan dibiarkan berdebu seperti otak pemiliknya; usang tak tersentuh dan tak terpakai. Apakah cintamu palsu dan penuh janji-jani? "Besok lah sehabis shalat, sebelum tidur". Apakah kata-kata itu yang akan terus didengarnya?
Benar dikata banyak orang, bahwa kejahatan terbesar bukanlah pada mereka yang menghancurkan dan membakar buku-buku. Kejahatan sebenarnya adalah pada mereka yang tidak membacanya.
Apakah ia hanya akan jadi hiasan semata, atau akan jadi permata yang mahal harganya? Buku yang seharusnya menghias cara berpikir, cara berbuat dan cara bersikap, tidak lain hanya menjadi hiasan lemari semata. Apakah memang lemari itu butuh padanya atau manusia dan makanan akalnya.
Apa kabar buku-buku dan debu yang sudah semakin bertumpuk? Akankah ia masih teringat atau sudah dilupakan dengan tontonan dan hiburan yang lebih menyenangkan ?
Apa kabar buku buku dan kusam yang sudah semakin tampak? Akankah ia masih jadi kerinduan atau hanya akan jadi tumpukan yang berserakan?
Apa kabar buku-bukuku dan akal yang semakin kehilangan arah!? Apa kabar buku-buku ku dan otak yang semakin membeku ? Apa kabar buku-buku ku dan lisan yang semakin kelu ? Apa kabar buku-bukuku dan sikap yang semakin kaku?!
Yang Tak Ada Dari Kita (Rasa syukur)
Setelah lelah seharian berburu dunia, terbaring badan menikmati masa beristirahat dalam tidurnya. Di dalam tidur itu pun diberikan juga bunga-bunganya berupa mimpi indah yang menghibur. Esok pagi, kembali dibangunkan dengan hari yang berbeda dan cerita yang akan berbeda. Lebih dari itu, hari itu nafas masih juga diberi, walau mungkin kemarin ibadah tidak juga bertambah, bahkan berkurang.
Setiap hari baru, disana juga ada nikmat baru yang akan didapat anak adam. Walau dengan lika-likunya, nikmat itu selalu menghampiri; sadar atau tidak sadar, ia ada dan selalu ada, tinggal manusia apakah bisa cerdas melihatnya atau pura-pura tidak melihatnya.
Nikmat sehat yang ada sering luput, saat dilihat tetangga atau teman baru saja mendapat nikmat barang-barang baru, atau kenikmatan bisa berlibur ke tempat-tempat yang mewah. Nikmat sehat sering dilupakan, saat dilihat sahabat telah naik tingkat di tempat ia bekerja atau mendapat tambahan bonus gaji yang menjajikan.
Begitulah manusia yang selalu melihat ke atas dan lupa melihat apa yang ada pada dirinya. Karena cara melihat yang salah itu, ia lupa mengucap syukur dan memberi hak pada diri bersyukur pada Sang Pemberi nikmat. Buya Hamka bertutur, "Itulah gunanya didikan agama yang selalu memerankan supaya manusia jangan mencintai nikmat tetapi cintailah yang memberi nikmat."
Sifat manusia yang tamak dan kurang bersyukur dan sering itu terlihat pada firman Allah, "Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir" (Q.S. Ma'araij: 19-21)
Keluh kesah itu membawa manusia buta melihat nikmat yang ada, pemberian yang tersedia dan semua kenikmatan yang sudah dan sedang ia rasakan. Yang kurang dari kita itu rasa syukur yang harusnya selalu diucapkan dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-hari. Kurang syukur itulah yang akhirnya menghabiskan dan mengikis bahagia yang seharusnya kita nikmati dari banyak nya nikmat Allah yang ada pada diri.
Narasi Baru Sejarah Islam: Umat dan Kesadaran Sejarah
Oleh: Muhammad Akmal Ashari
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal….” (Yusuf : 111)
Saat ini, sejarah menjadi salah satu hal yang sangat menarik untuk dipelajari dan diambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tidak hanya oleh para peneliti sejarah, kalangan masyarakat yang dari berbagai kalangan pun saat ini mulai tertarik dengan hal-hal yang ‘berbau’ sejarah. Terlebih bagi umat islam dan generasi mudanya, sejarah Islam menjadi ‘primadona’ untuk dibaca, ditonton, dan didengarkan serta dibagikan berkali-kali yang tentu dengan sumber yang valid dan kredibel, sekalipun masih ada sebagian yang terjebak dalam sumber yang invalid dan tidak kredibel.
Saya rasa ini merupakan bagian dari kesadaran sejarah umat Islam dan generasi mudanya. Tentang perjalanan umat selama hampir 14 abad lamanya. Banyak hal-hal yang tersembunyi namun pada akhirnya terungkap satu persatu ke permukaan dunia. Dengan mengandalkan media sosial, informasi tentang sejarah Islam yang baru terungkap menyebar dengan cepat dan menjadi identitas tersendiri bagi umat Islam. Berbagai macam aspek kehidupan perlahan terungkap ke khalayak dan menjadi pembelajaran tersendiri bagi umat.
Sikap kritis. Kurang lebih itulah yang mendasari mulai banyak dari kalangan umat Islam yang mempelajari sejarah dan mengungkapkannya kepublik. Saya ambil contoh seorang sejarawan sekaligus penulis buku The Lost Islamic History yang bernama Firas Al Khateeb. Dari karyanya menjadi penyegar dan pembuka pintu menuju ‘bagaimana perjalanan umat islam yang sebenarnya’. Karena selama ini kita ketahui sejarah selalu berorientasi pada bangsa-bangsa Eropa. Saya tidak mau mnyebut ‘disembunyikan’ atau ‘dihilangkan’, namun lebih kepada sudut pandang yang bersifat barat-sentris yang dilakukan oleh sejarawan Barat dengan pandangan orientalis. Justru dari tulisan-tulisan karya bangsa barat tersebut, sejarawan-sejarawan muslim mulai bermunculan untuk mengungkap bagaimana perjalanan sesungguhnya umat Islam selama 14 abad. Di Indonesia saja misalnya, ada buku Api Sejarah karya Guru Besar Sejarah Unpad, Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara yang menjelaskan bagaimana peran umat Islam dalam mengawal bangsa Indonesia hingga saat ini. Belum lagi peneliti-peneliti dari Insist (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) mulai aktif untuk melakukan penelitian dan seminar terkait sejarah Islam, ditopang pula dengan komunitas JIB (Jejak Islam untuk Bangsa) yang seringkali mengadakan seminar dan bedah buku terkait sejarah Islam di Nusantara.
Selain sikap kritis, ada lagi hal yang menjadi perhatian saya. Yakni bagaimana narasi ketika menyampaikan dan mengungkapkan peristiwa sejarah Islam kepublik. Selama ini, saya perhatikan pihak yang mengungkapkannya cenderung melakukan blaming terhadap bangsa barat/ataupun orang-orang yang berpemahaman orientalis dsb. Seperti yang saya sebutkan sebelumya, narasi-narasi seperti ‘pembohongan sejarah’, ‘sejarah yang disembunyikan’, ‘sejarah yang ditutup-tutupi’, seakan menjadi pembenaran bagi peneliti muslim maupun tokoh-tokoh muslim yang mempunyai concern dalam bidang sejarah. Sekali lagi, ini masalah sudut pandang yang dilakukan oleh sejarawan-sejarawan asing terhadap sejarah perkembangan umat Islam.
Baru-baru ini misalnya, saya perhatikan dimedia sosial mulai banyak bermunculan postingan tentang kehidupan muslimah di Nusantara yang ternyata dari arsip dan foto-foto membuktikan bahwa mereka menutup auratnya dengan sempurna. Tapi justru arsip dan file foto-foto tadi malah ditemukan di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-Land en Volkenkunde) Belanda yang hanya bisa diakses oleh pihak-pihak tertentu (akademisi misal) karena arsip yang begitu tertutup. Ini menjadi angin segar bagi umat Islam di Nusantara bahwa tradisi dan budaya menutup aurat sudah dilakukan oleh pendahulu kita di masa lampau. Ini semua berkat sejarah dan berterima kasihlah kepada sejarawan muslim yang berhasil mengungkapkannya kekhalayak ramai.
Kembali lagi tentang narasi yang cenderung blaming tadi. Saya rasa umat Islam perlu belajar dari bangsa Eropa ketika mereka berupaya menuju renaisans. Abad Kegelapan yang menyiksa akal dan pemikiran bangsa Eropa perlahan mulai mengikis dan perlahan menuju cahaya yang terang akan ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa tidak melakukan blaming terhadap bangsa manapun yang peradabannya lebih tinggi daripada mereka (red: Islam), dan justru mereka mengevaluasi diri mereka kenapa tidak mau maju seperti peradaban bangsa Timur. Evaluasi, sikap kritis dan tidak menyalahkan pihak lain atas ‘keterbelakangan’ yang sedang terjadi. Kalau menurut Husein Heriyanto penulis buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, kelemahan umat Islam kontemporer adalah tidak memiliki sikap kritis terhadap ilmu pengetahuan dan berbeda dengan para pendahulunya yang memiliki sikap kritis terhadap ilmu pengetahuan hingga mampu ke puncak peradaban saat itu. Dan sekarang kesempatan itu terbuka lebar untuk mengakses segala bentuk informasi ke seluruh dunia, termasuk informasi tentang sejarah perkembangan umat Islam dari masa ke masa. Lalu bagaimana untuk mengetahui sejarah sebuah bangsa? Cari siapa penjajahnya! Karena disitulah informasi bisa didapatkan, seperti informasi muslimah Nusantara yang justru didapat dari Belanda karena Belanda lah yang dahulu menjajah bangsa Indonesia. Begitupun sejarah umat Islam di belahan bumi lainnya, semua bisa diakses dan dicari kebenarannya.
Akhir kata, kesempatan telah terbuka luas. Ilmuwan-ilmuwan muslim sudah melakukan penelitian tentang sejarah Islam dari masa ke masa. Hal-hal yang masih belum terungkap akan segera diungkap asalkan setiap jiwa umat muslim mau mencari jati dirinya dan kebesaran Islam selalu ada sepanjang masa. Ditambah lagi generasi mudanya mau mencari informasi-informasi mengenai sejarah Islam dari berbagai platform yang tersedia. Dimedia sosial misalnya, sudah ada akun-akun yang menyajikan informasi tentang sejarah Islam dengan gaya yang apik dan ciamik tanpa mengesampingkan data dan sumber yang valid serta kredibel. Ini semua demi mendapatkan hikmah, dan menjadi pembelajaran berharga bagi setiap muslim, semakin umat sadar akan sejarah maka akan semakin tinggi rasa bangga umat dengan Islam, karena kisah-kisah mereka (orang terdahulu) terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal.
Tangerang Selatan, 20 Februari 2019
Renungan untuk Perempuan
Banyak sekali perempuan yang saya kenal dan ketahui mempunyai satu pola pikir yang menarik perhatian saya. Ketika mereka ditanyai mengapa mereka turut serta memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan bekerja diluar rumah dan bahkan sampai seharian meninggalkan rumah dan anaknya. Jawaban dari pertanyaan itu bermuara hanya pada satu jawaban, yakni kalau tidak bekerja kebutuhan rumah tangga tidak akan tercukupi.
Atas keadaan ini banyak hal yang sering diabaikan bahkan para perempuan lalai akan tugasnya dirumah. Seperti memberi pendidikan tehadap anak, mengurus rumah, memerhatikan kebutuhan suami dan masih banyak lagi.
Jika saja para perempuan mau mengkaji ulang bahwa sebenarnya apa yang membuat mereka harus bekerja diluar rumah yang katanya demi ikut serta memenuhi kebutuhan keluarga, lalu kebutuhan keluarga seperti apa yang mereka maksud? Apa kebutuhan keluarga hanya sebatas pemenuhan dari segi materi saja? Lalu pendidikan anak menjadi tugas siapa? Apa hanya sisa waktu bekerja yang diberikan untuk anak? Apa cukup? Mendidik anak apa bukan termasuk pemenuhan kebutuhan dalam keluarga?
Saya rasa itulah kebutuhan keluarga yang menjadi tugas utama seorang perempuan. Mendidikan generasi. Banyak saya dengar komentar emak-emak tentangnya rusaknya zaman, rusaknya generasi. Tapi mereka tidakkah mau merenungi jika itu dasar utamanya adalah karna mereka (perempuan)? Sudahkah mereka bersungguh-sungguh dalam mendidik anaknya? Sudahkan mereka senantiasa belajar dalam menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu?
Pemenuhan kebutuhan keluarga yang mereka gaungkan banyak didasari atas hawa nafsu. Bagaimana agar anak sekolah di sekolah favorit, punya alat sekolah yang mewah, hiasan rumah yang mentereng, punya pakaian yang elok dipandang, dan kebutuhan nafsu lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Tapi memang di masyarakat kita sudah tertanam pemikiran bahwa perempuan tidak bekerja diluar adalah perempuan yang tidak tau apa-apa. Perempuan yang dirumah saja hanyalah perempuan pemalas yang tidak bisa menggali potensi diri. Dan pemikiran-pemikiran seperti ini harus diperangi. Dengan aoa? Dengan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang menjadi pribadi hebat. Menjadi pribadi yang jika dilihat orang lain akan bertanya siapakah ibunya.
Sekali lagi, jika saja para perempuan mau merenung dan memilih bertahan dirumah menjalankan kewajibannya yang sebenarnya sesuai fitrahnya, insyaaAllah akan banyak perubahan pada generasi ini. Biarkan para lelaki menjalankan tugasnya, perempuan ikut serta berdoa agar Allah ridho, insyaaAllah terpenuhilah kebutuhan keluarga sesuai dengan makna yang sebenarnya.
Perempuan mendidik genarasi. Perempuan kunci peradaban. Perempuan sumber perubahan.
Allahu akbar!
Aku ini Sarjana Apa?
Tak ada yang berbeda dengan hari ini kecuali dengan amal yang tak bertambah dan umur yang semakin berkurang; ada juga yang bagi sebahagian kawan-kawan menjadi hal special, yaitu didapatnya sebuah penghargaan tanda menyelesaikan pembelajaran selama empat tahun bernama kuliah. Ditempuh waktu yang cukup lama itu untuk mentasbihkan diri menjadi seseorang bergelar sarjana.
Diantara kebahagian yang ramai itu, seorang dari mereka bertanya pada dirinya, ‘jika kelak murid atau anakku bertanya, bapak ini sarjana apa?’ apa pula kelak yang akan aku jawab untuk mereka itu. Akankah kujawab terlebih dahulu bahwa aku ini alumnus sebuah universitas ternama di sebuah kota suci yang selalu didamba semua anak-anak negeri untuk sampai disana dan belajar dengan para guru-guru hebatnya. Atau kujawab saja bahwa aku ini seorang sarjana dari sebuah program beasiswa yang sangat sulit seleksinya? Atau dengan gelar kebanggan mereka yang lulus dari Timur Tengah itu?
Pikiran-pikiran dan pertanyaan itu terus ada di pikirannya hingga sulit betul ia memejamkan matanya. Pikirannya kembali saat-saat dia masih duduk di bangku pendidikan pesantren dan memimpikan duduk di kursi para mahasiswa, mendengarkan dosen menjelaskan mata kuliah dengan tenang dan khusyuk. Tapi apa yang dibayangkannya sejak dulu itu hampir tak juga ia rasakan dan dapatkan. Sejak dulu yang jadi pikirannya bahwa di kampus itu ia akan mendapatkan suasana kelas yang hidup, mahasiswa yang sibuk mencatat dan mendengarkan dengan baik; lingkungan yang bersih, diskusi-diskusi yang aktif dan perpustakaan yang ramai dipenuhi mahasiswa yang rajin dan semangat membaca disana.
Pernah juga terlintas olehnya bahwa setelah jauh berjalan dari tanah air, mereka yang menjadi mahasiswa pilihan itu akan membawa segudang pikiran untuk kemajuan bangsa dan ummatnya disana, mereka yang pikiran-pikirannya terus mengolah masalah dan solusi untuk dituangkan dalam amal perbuatan kelak jika kembali ke tanah air. Mereka yang hidup dengan menghirup udara tanah kenabian dan bumi hijrah, hidup pula semangat mengabdi dan tinggi rasa pedulinya. Mereka yang tidak hanya kaya ibadah individualnya, tapi juga hebat menginspirasi; karena disana jasad nabi qudwah disemayamkan dan mereka berkali-kali sudah menziarahinya.
Hingga tanda selesai belajar itu ia terima, pikirannya tidak juga tertarik dengan semua itu. Pertanyaan yang kelak ia jawab itulah yang terus menghantui waktu demi waktunya. Setelah dari kesemua yang ia bayangkan dahulu tak lagi ia dapat, jawaban seperti apa yang kelak ia jawab. Ia adalah produk dari lingkungan yang tadi ia mimpikan dan dapatkan sebaliknya. Ia adalah bagian dari mereka yang berputar bersama waktu dan mencicip semua detik peristiwa tadi dengan sangat detail dan terperinci.
Kembali lagi dia bertanya, bahwa apa sebenarnya hakikat belajar dan menimba ilmu itu? Apakah ilmu itu adalah nilai yang berbaris di lembar kertas bernama ijazah itu? Jika itulah ilmu, maka jika ditanya sarjana apakah aku, maka kujawab saja ‘aku sarjana nilai yang berbaris’. Sebabnya tidak tertulis di kertas itu aku ini sarjana apa, tidak juga tertulis apa yang telah kukantongi selama empat tahun kuliah di tempat ini. Apakah aku sarjana itu, pribadi yang acuh tak acuh dan sibuk sendiri. Apakah aku sarjana itu, yang lebih banyak tidurnya daripada mengolah pikir dengan renungan-renungan panjangnya? Apakah aku sarjana itu, yang lebih banyak bergelut dengan media sosial daripada merunduk bersama bacaan-bacaan yang sulit dan memberi pandangan? Apakah sama saja nilai ibadahku dengan empat tahun lalu sebelum memegang ijazah ini atau malah lebih buruk?
Pertanyaan itu terus bertambah dan membuatnya semakin diam, entah diam malu atau tidak tahu diri.
‘’Begitulah maksud yang dikehendak dari kita belajar dan menuntut ilmu’’ ujar seseorang. ‘’Belajar itu lah cara manusia paham betul bahwa ia masih bodoh. Jika belajar membuatnya angkuh berilmu, itulah tanda dia belum mulai belajar”
Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
Menyelesaikan pendidikan di sebuah universitas agama masyhur ntahlah itu sebuah kebanggaan atau malah sebuah musibah. Sebab disana sudah menanti segudang permasalahan yang kebanyakan tak tertulis di atas lembar buku-buku yang kami pelajari. Masalah itu harus diselesaikan dengan fikir dan zikir. Solusinya adalah hasil dari pikiran-pikiran yang terus hidup dan memberi hidup; dengan dua hal tadi, ilmu tepat ada dalam sanubarinya dan juga pikirannya. Pikiran-pikiran bahwa gelar sarjana adalah untuk menikmati sanjungan atau panggilan-panggilan mulia adalah satu cacat produk pendidikan Islam hari ini. Tak ada pikiran-pikiran itu membesarkan para ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam di masa kejayaan. Mereka yang hidup bersama ilmu di masa itu, mereka yang paham bahwa hidup adalah perjalanan membekali diri dengan ilmu yang luas tak berbatas.
Sarjana-sarjana Muslim adalah mereka yang paham betul bahwa gelar hanya buatan dan rasa peduli itu dilahirkan dan ditumbuhsuburkan. Mereka yang membersamai ilmu sepanjang hayat dan memberi pesan kepada generasi Islam tentang peran universitas Islam, mahasiswa dan cendekiawannya sebuah risalah bahwa mereka ada untuk ilmu dan ummat. Jika itu sudah tersampaikan, aku pun tak lagi harus bingung menjawab aku ini sarjana apa, kujawab saja bahwa aku ini sarjana yang akan terus belajar seumur hidup dan mengabdi sepanjang hayat. Wallahu’alam
KITA LUPUT (UNTUK) MEMBACA
Seseorang sering membuka percakapannya dengan kata-kata “Sebelumnya, aku ini belum banyak ilmu tentang hal ini.” Kata kata ini jadi pembuka untuk setumpuk permasalahan yang akan diperbincangkan dengan sahabat atau teman-temannya. Sehabis kata-kata itu, mulai teori-teori dan seabrek komentar akan meluncur dari mereka. Jika obrolan sudah dimulai dengan kata kata ‘ketidaktahuan’, mengapa kemudian harus melanjutkan pembicaraan tanpa ilmu itu?
Mengulang perkataan Imam Ibnu Hajar al Asqalani, “Jika engkau melihat seseorang berbicara tidak pada keahliannya, maka lihatlah banyak keajaiban.” Bahwa riuhnya permasalahan orang beragama adalah karena banyaknya orang-orang tak ahlinya berbicara tentang hal-hal yang bersangkutan dengan agama dan syariatnya.
Membaca nash syariat agama misalnya ada ilmunya. Itu didapat dengan belajar dan luasnya bacaan. Bahkan untuk memberi komentar, kita lebih sering berbahan komentar orang-orang yang didapat di media sosial atau yang didengar dari orang-orang lainnya. Kita sering berbicara tanpa bekal pengetahuan yang cukup atau setidaknya tau pangkal dan awaknya. Darisana didapat cakupan dan batas-batas yang bisa untuk diperbincangkan. Akhirnya, ini kembali kepada insyafnya kita pada kebodohan yang ada dalam diri.
Kita luput untuk membekali diri dengan bacaan-bacaan yang akan memberi pengetahuan saat kita berbicara. Akhir dari itu adalah pembicaraan tanpa ilmu yang tak berakhir dengan nilai dan lebih seringnya menggantung dan diulang lagi di lain waktu. Pembicaraan yang seperti itu juga punya akhir negatif sebab tidak menghasilkan sebuah solusi yang bisa jadi manfaat kedepannya.
Kita misalkan hal yang lain adalah permasalah politik yang banyak menghiasi pembicaraan banyak masyarakat Indonesia. Jika sudah masuk tahun-tahun politik, maka akan banyak lahir para pengamat-pengamat politik yang bahkan membaca koran saja tidak pernah. Nafsu untuk banyak berbicara membawa kita luput membaca.
Seharusnya bacaan-bacaan kita bisa jadi bekal utama mempertentangkan pikiran dengan pikiran, bukan pembicaraan yang kalah menangnya ditentukan dengan suara siapa yang paling tinggi dan paling keras. Kita luput untuk membaca dan bermain dengan diskusi-diskusi pikiran sendiri dan bacaan sebelum akhirnya turun gunung dan memperbincangkannya dengan yang lain. Kita luput untuk membaca sebelum berbaju terbaik, dipuji dan diberi panggung yang besar untuk membaca. Membaca adalah bagian dari usaha kita untuk terus belajar dan mempersiapkan diri yang akan berbicara dengan ilmu, bukan dengan nafsu.
Kita luput untuk membaca dan melihat diri yang masih penuh kekurangan dan berlumur kejahilan. Orang yang akan membaca, mendapati dirinya perlahan-perlahan ditelanjangi oleh bacaannya sendiri. Jika dia membaca sebuah nasehat, didapatinya dirinya yang berlawanan dengan hal itu, insyaf dia bahwa selama ini ia salah. Orang yang membaca sebuah analisis masalah, dengan cermat lah dia paham bahwa orang punya banyak cara untuk melihat masalah saat ia masih melihatnya masih dengan satu kacamata. Ketika membaca sejarah, didapatinya bahwa ini pernah terjadi dan itu jadi sumber masalahnya dan solusinya seperti ini. Begitulah bacaan memberi nilai luarbiasanya pada kita. Luputnya kita membaca, membawa kita pada keangkuhan diri bahwa ‘aku tahu semua’ dan ‘benar hanya padaku.’ Wallahu’alam bis shawab
Akhirnya, Kau Harus Sendiri
Sebanyak apapun followernya, anak adam harus kembali hanya dengan dua kakinya sendiri; tak akan ada yang menopang dan menuntunnya. Ia akan berhadapan tuhannya sendiri, tidak pula sahabat yang sedari dulu atau juga kekasih yang mencintainya. Harta yang dibanggakan juga tak akan menggiring nya menuju hisab itu.
Sebagaimana ia dilahirkan sendiri, bersahabat dengan manusia, kembali pun ia harus sendiri. Pertanggungjawaban yang harus diselesaikan sendiri, tidak juga partner kerjanya semasa di dunia ikut membantunya atau menyelamatkan nya dari pertanyaan-pertanyaan yang sedari di dalam kubur sudah ditanyakan. Hari itu, semua akan sibuk sendiri-sendiri dan masing-masing kesibukannya.
"Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya." (Q.S. Abasa: 33-37)
Insyaf nya bahwa kita akan melewati masa-masa sendiri yang tidak sedikit, apa lagi yang harus dikecewakan jika manusia tak menoleh akan panggilanmu dan tidak menanggapinya. Sekali panggilan itu, cukuplah. Langkahmu memang akan terasa berat jika sendiri, namun menunggu manusia membersamaimu, menghabiskan waktu dengan sia-sia. Kerjakan apa yang apa yang bisa kau kerjakan sendiri.
Ridha manusia bukan tujuan lah yang harus dicapai, sebab itu hal mustahil yang bisa kau digapai. Pada Tuhan seharusnya semua usaha kita habiskan untuk mendapat ridha-Nya. Ridha yang membawa langkah kita menuju surganya, walau engkau sendiri.
Sendiri dalam kesepian dan renungan-renungan perubahan lebih bermanfaat daripada harus mabuk tawa dan senyuman palsu di keramaian. Akhirnya, kau harus sendiri; lahir, menjalani hidup yang sebentar ini dan kembali pada Tuhan memberikan setiap amal penjelasan dan pengakuannya. Sendiri yang akan membawa pada satu harapan yang tinggi bahwa sujud adalah waktu dan saat terindah untuk berbisik dan berbincang pada yang memiliki jiwa dan diri ini.
Jarak Antara Masalah dan Solusi
Siapapun yang dirundung masalah, ingin selalu tangannya menggapai solusi sedekat mungkin, secepat mungkin. Jika ditimpa sakit, ia inginkan obat yang cepat menghilangkan penyakitnya. Dicoba dengan musibah, ia mau ada yang jadi gantinya secepat membalikkan telapak tangan.
Seorang yang sudah menunggu lamanya jodoh menjemputnya, berharap doanya dikabulkan dan datanglah yang didamba itu setelah ia mengakhiri doanya. Memang begitulah watak manusia yang selalu terburu-buru. Bagi mereka, ketika ada masalah, solusinya selalu lama dirasa dan jauh. Itu yang membuatnya sering berputus asa dan jatuh pada ketidakterimaan pada ketentuan-nya.
Jikalau mereka sedikit saja bisa tenang dan berhati dingin, didapatlah bahwa solusi itu pasti ada. Sebab janji Allah setelah datang yang sulit, datang pula yang senang menghapusnya. Menjemput solusi itulah yang sebenarnya Allah harahapkan dari hamba-Nya saat diberi masalah.
Sebuah nasehat yang luarbiasa disampaikan penulis buku La Tahzan, Dr.Aidh Al Qarni "Antara Masalah dan solusi adalah antara kening dan tempat sujudmu."
Rupanya memang kita yang belum jeli melihat jalan keluar. Bukankah Allah telah sampaikan pada Rasulullah, saat dimana beliau sedang berduka dan merasa terhimpit, "Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (shalat)" (Q.S.An-Nahl: 96-97)
Masalah yang tak kunjung berlalu, musibah yang datang silih berganti saat doa terus disampaikan, namun belum juga mendapat jawaban dan solusinya, mungkin sebabnya kepala kita masih congkak ke atas, jiwa kita masih tegap membangkang. Luput kesemuanya untuk tunduk merendah, tersungkur dan meminta dalam sujud-sujud yang syahdu; saat dimana seorang hamba dalam kedekatan yang sangat dekat pada Tuhannya.
Pekerjaan Membosankan (Membaca)
Syekh Ali Thantawi mengatakan, "Aku telah merasakan banyak kenikmatan. Dan tak ada kenikmatan yang lebih besar daripada membaca."
'Aku selalu mengantuk ketika membaca' ujar seorang sahabat saat kuajak untuk terus membaca. Dari puisi-puisi yang ia buat, aku melihat ia punya kemampuan yang cukup untuk terus menulis, dengan syarat terus membaca. Sebab orang yang membaca mereka yang siap untuk menulis.
'Apakah membaca itu harus di cafe, ditemani musik instrumen dan segelas kopi?' Tanya seorang sahabat. Tentu tidak. Membaca bukan perkara kopi. Engkau bisa saja membaca sambil mengembala kambing. Pengetahuan tidak ada kaitannya dengan kopi.
Sajib al abdaly, salah seorang penulis mengungkapkan bahwa tidak ada satu tombol otomatis yang membuat seseorang itu menjadi pembaca buku yang baik. Tapi katanya, itu bukanlah hal yang sulit, jika ada kemauan yang kuat. Beberapa hal ini bisa jadi tips untuk menikmati bacaan sebagai kegiatan menyenangkan:
1. Jangan Ada Paksaan
Membacalah sesuai dengan mau mu dan condong nya hati. Jangan membaca dan memaksakan jenis bacaan yang harus dibaca. Bacalah apa saja yang hendak dibaca walau itu tidak berkaitan dengan pelajaran sekolah atau pekerjaan sehari hari.
2. Pilihlah Buku yang Tepat
Orang-orang di sekelilingmu membaca banyak hal. Diantara mereka ada yang membaca buku filsafat misalnya, jangan ikut ikutan membaca sebab kamu melihatnya asyik membaca itu. Bacalah buku yang tepat untukmu, sesuai dengan kemampuan akal mencerna dan mengolahnya.
3. Tentukan Tujuan Membaca
Ini tak kalah penting. Ini memberikan kita gambaran seberapa besar perhatian yang akan kita habiskan untuk itu. Mengapa harus menghabiskan banyak pikiran untuk membaca sebuah majalah bola jika tujuan kita hanya untuk hiburan.
4. Santai dan Nikmati
Jangan terburu buru sampai di halaman terakhir. Jika merasa bosan setelah membaca beberapa halaman, jangan langsung ditinggalkan. Tutup sebentar dan ambil perenggangan dengan berjalan jalan sedikit atau menggerak gerakkan badan. Setelah itu, kamu bisa kembali meneruskan bacaannya.
5. Beri Tanda atau Warnai
Buku bukanlah barang antik yang tak boleh lecet dengan sedikit apapun. Catatan catatan yang kita tuliskan atau tanda dan warna yang kita berikan, memberikan aktivitas baru saat membaca.
6. Berpura-pura menikmati
Pura-pura pun terkadang ada manfaatnya. Itu membawa kita untuk terus hidup di alam bacaan kita. Dunia kertas itu selalu aneh memang, di satu waktu ia membosankan dan di waktu yang lain, ia memabukkan. Bacalah walau hanya membolak balikkan lembaran buku itu.
Selamat membaca dan menjadi bahagia!!
Ayah, Pegang Tanganku Menuju Syurga-Nya
“Dan adapun dinding di rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang dibawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu mengendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Q.S. Al-Kahfi:82)
Seperti itulah Allah mengabarkan tentang rahmat dan berkah-Nya yang Ia berikan kepada yang menjadi pilihannya sebab sang ayah adalah sosok yang shalih dan bertaqwa kepadanya. Isyarat lembut untuk para ayah yang dibawahnya tanggungjawab anak-anak yang akan dipinta Allah pertanggungjawabannya.
Waktu Subuh selalu mendatangkan rahmat. Tak cukup sampai disitu, ia juga memberi pelajaran bagi siapa yang mau belajar. Subuh kali, kami diberikan pemandangan yang cukup menyita perhatian. Selepas dari pintu keluar masjid, kami melihat seorang ayah dan anaknya yang sedang beranjang remaja bergandengan tangan. Sesekali sang ayah merangkul pundak anak remajanya itu dan mendengar ucapan sang anak. Terlihat mereka sedang berbincang ramah sehabis subuh itu. Pemandangan yang sangat memberi pelajaran, tentang ayah yang tampak akrab dan dekat sang anak.
Seorang ayah yang mengajak anaknya dekat dalam sujud-sujudnya kepada penciptanya. Bukan kali ini saja kami melihat keduanya, dalam shalat yang lain, sang ayah masih saja memegang tangan sang anak dan merangkul pundaknya. Adakah keindahan melibihi hal ini? Sang anak yang merasakan bahwa Ayahnya mengajaknya dekat dengan syurga-Nya. Hal mahal yang tak banyak didapatkan banyak anak-anak laki hari ini.
Bagi seorang anak perempuan, ayah adalah seorang pahlawan yang memberinya rasa aman dan percaya. Laki-laki yang tak pernah menyakiti hatinya, laki-laki yang ia ingin menjaganya di masa depan. Keteguhan menghadapi hidup, rasa sabar dan tawakkal dilihat sang anak wanita pada sang ayahnya, itulah yang didambanya didapat pada pasangan kelak. Bagi anak-anak laki, ayah diharapnya jadi guru, teman bercerita untuk menghadapi hidupnya yang kosong pembelajaran. Laki-laki yang diharapnya mengandeng tangannya dan mengajarinya arti hidup.
Ayah bagi anak laki-laki adalah contoh dan tauladan. Jika sang ayah adalah perokok, maka sang anak akan berusaha mencontohnya. Sebab dipikirnya itulah yang harus dilakukan oleh seorang lelaki. Hingga usia hari ini, ayah masih memberi contoh terbaiknya. Walau mimbar ke mimbar telah dinaiki, jika waktu subuh, dilihatnya pintu kamar belum terbuka, dengan sabar ia akan membangunkan dan mengingatkan waktu shalat. Ayah yang kami harapkan berada di syurga kelak dan mencariku sebagai anaknya yang ia bimbing semenjak belajar shalat dan membawa kami ke masjid, meramaikan dan memakmurkan.
Masa ini, haruslah kita merindukan anak-anak muda yang kembali ke masjid. Mereka yang hidup dalam sayup-sayup ibadah, langkah-langah mereka di kegelapan subuh dan mengisi shaf-shaf pertama jamaah masjid. Harapan yang sangat bisa terwujud, jika sedari mungkin para ayah mengajarkan contoh terbaik dengan mengajak anak-anaknya menuju masjid. Para ayah yang tidak hanya memberikan uang-uang jajan karena khawatir sang anak tak menikmati masa sekolahnya, namun juga mengajarkan mereka bahwa ibadah adalah sebaik-baik kebahagiaan itu. Sang ayah yang tidak hanya mengantarkan anaknya di awal tahun pelajaran di mulai, namun juga ayah yang membangunkan sang anak di waktu subuh dan mengajak anak laki-lakinya menembus subuhnya fajar untuk khusyuk dalam sujud kepada sang pencipta.
Bagi anak-anak laki, peganglah tangan sang ayah dan bisikkan ke telingan, “Ayah, pegang tanganku ini dan bawalah dekat dengan syurga-Nya Allah. Mohonkan kepada Allah, supaya aku dan engkau ia pertemuka kelak menikmati sebaik pemberian melihat-Mu di dalam syurga-Nya.” Wallahu’alam
Si Tukang Bolos (Bukan untuk Dicontoh)
Kebosanan itu datang bukan dari melihat paragraf-paragraf diktat yang diajarkan. Tak pula dia merasa bosan untuk menelan ilmu dan mempelajarinya. Kebosanannya pada mereka (yang menuhankan nilai) dan pemburu pemburu ijazah, yang hidup dan duduk bersamanya di bangku-bangku universitas hebat. Semuanya mengagungkan logo kampus itu dan ditunjukkan pada setiap orang. Dibuatnya orang-orang terbawa mimpi supaya dapat kesempatan seperti dia dan kawan-kawannya.
Kebosanannya semakin memuncak saat didapat bahwa kebanyakan yang belajar di kelas itu menganggap bahwa agama itu hanya ritual ibadah saja. Hal-hal lain luput dan sering terlupakan. Menurut mereka, agama itu hanya perihal shalat dan zikir saja. Lisan dan tingkah laku biarlah jadi urusan sekiannya. Sampah dan kotor bukan masalah, sebab yang masalah itu nilai ujianku berkurang dua poin.
Bosannya terus bertambah saat kata peduli hilang dari kamus kehidupannya. Sabda nabi sudah dibaca, ayat ayat illahi dihafal mati. Yang terpenting adalah perkaya diri dan nikmati sendiri. Hilangnya kata peduli di dalam kelas itu, membuatnya semakin ingin cepat keluar dari sana dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Semakin baik kepedulian kita terhadap dunia hari ini, semakin baik pengetahuan kita akan diri dan peran apa yang akan kita mainkan di masa yang akan datang." (Syekh Abdul Karim Bakkar)
Saat pelajaran membicarakan duka kaum muslimin di negara-negara lain, pikirannya masih tertumpuk di HP nya dan game online nya. Ohhh..rupanya kuliah itu memindahkan tempat tidur dan menyambungkan jaringan internet. Adakah yang lebih membosankan dari itu?
Jangan lah lagi kau tanyakan apa yang dibahas. Hal-hal kotor hingga hal-hal receh yang tidak menambah ilmu atau iman. Tak ada diskusi diskusi yang membuka cakralawa berpikir dan mengulang apa yang dipelajari. Semuanya ada dan muncul hanya saat ujian. Saat semua ketakutan kehilangan 4 atau 5 poin ujiannya. Mahasiswa datang untuk diisi otaknya dengan doktrin. Tidak juga ia mencerna atau memahaminya atau mengolahnya.
Sungguh malang si tukang bolos itu. Letih dia menghirup udara kelas yang membosankan.
Bila tuan tak lagi ada kesanggupan menahan caci direndahkan orang lain, maafkan dan cepat berlalu dari dia.
Bila tuan sudah tak lagi ada kesanggupan mendengar cerca dan kata-kata buruk orang lain, maafkan dan cepat datang kepada Tuhan.
Bila tuan sudah tak lagi ada kesanggupan melihat sikap selalu dipandang hina dan rendah, buatlah perencanaan untuk melangkah. Jangan mendendam.
Bila tuan sudah tak lagi ada kesanggupan dipandang hidup bergantung pada orang lain, buatlah kesanggupan untuk berbuat lebih baik, berbuat baik lebih.
Bila tuan sudah tak lagi ada kesanggupan hidup dalam catatan kaki, bergeraklah secepatnya dan tempati paragraf kehidupan yang ramai dan selalu tampak.
Tapi bila tuan tak menyukai keramaian, tetaplah menjadi yang terbaik di dalam kesendirian dan sepi pujian. Sekian
Memaafkan yang paling sulit,susah dan sukar adalah memaafkan diri sendiri.
Mengapa sesulit itu Nona ? Hayolah sudah berbagai macam cara dan taktik untuk memaafkan dirimu sendiri. Sudah banyak cara cara untuk memaafkan nona . Sudahlah nona , aku mohon maafkan dirimu nona. Sudah cukup!! Aku sangat jengah dengan semua sikap mu itu nona. Hal apa yang sangat berat untuk mu ? Untuk memaafkan dirimu ? Apa yang salah nona? Aku sedih nona . Aku sangat sedih. Menyedihkan sekali hidup mu nona. Sangat menyedihkan dan aku tak akan peduli lagi:(
Beli Buku Pangkal Miskin?
Diriwayatkan bahwa beberapa ulama menjual beberapa harta kepunyaannya untuk membeli sebuah buku. Diriwayatkan juga bahwa mereka menghabiskan banyak uang untuk membeli buku yang ia inginkan. Sebuah kecintaan terhadap hal yang sangat tabu didapatkan dan dilihat hari ini. Mereka yang menghabiskan hartanya untuk memuaskan dahaga ilmunya dengan membaca.
Mereka yang memilih hidup yang zuhud untuk menikmati lembaran-lembaran buku yang bagi sebagian adalah kegiatan membosankan. Namanya syekh Bakr Abu Zaid. Salah seorang imam masjid Nabawi. Ia pernah membeli satu buku lawas yang sudah lama ia cari-cari seharga 3.000 riyal saudi (sekitar 12 juta rupiah). Sang anak yang ikut saat itu mengatakan, "Ayah berlebihan untuk itu." Ia menjawab, "Kalau harganya 20.000 riyal (sekitar 80.000 juta) pun aku bayar.
'Keinginan untuk mengetahui itulah yang menggerakkan orang membaca', begitu ujar salah seorang sahabat , saat kutanya apa sebab orang membaca. Ada juga yang menjawab, 'Kesadaran akan jahilnya diri dan pedulinya ia untuk merubah itu, itulah yang mendorong ia untuk membaca." Yang lain bertutur, "Membaca adalah cara kita bersyukur atas nikmat harta yang Allah titipkan dan nikmat mata dan penglihatan yang Allah berikan." Membaca selalu punya alasan untuk menarik kita dalam banyak pertanyaan dan kebingungan.
Siapapun yang sudah mencintai membaca sebagai bagian dari hidupnya, akan tergila gila dengan sang kekasih barunya, buku-bukunya. Segala cara ia lakukan untuk itu. Tak juga ia merasa berat untuk mengeluarkan banyak uang untuk itu. Tujuannya hanya satu, supaya lepas dahaga itu. Diceritakan bahwa Buya Hamka pernah menjual senapan anginnya untuk membeli sebuah buku. Setelah didapat buku itu, tak lepas tangannya membaca buku itu.
Sebab itu pula, mereka memilih menahan lapar dan menikmati makanan yang mewah demi si buku yang dinanti. Mereka yang membaca, tentu tidaklah semuanya diberi kelebihan harta. Banyak dari mereka yang harus lama menabung untuk memiliki sebuah buku.
Begitupula dengan sahabat kita yang satu ini. Tak jarang ia harus melewatkan banyak diskon barang-barang mewah dan juga lezatnya makanan di restoran ternama itu untuk mendapatkan beberapa buku yang ia sangat ingin baca dan miliki. Banyak dari uang beasiswa bulanannya habis kesana. Bajunya untuk kuliah pun hanya beberapa potong saja. Saat wisuda, ia harus rela memakai baju putih yang sudah berumur 4 tahun lebih; yang jika dilihat sudah hampir hilang warnanya karena kusam. Ia yang terkadang harus meminjam kepada beberapa sahabat, sebab ada buku baru yang keluar di toko buku. Semuanya ia lakukan dan tahankan supaya didapatkan kepuasan yang menuntut ilmu itu. Hingga hari ini, ia masih menyimpan asa memiliki sebuah buku 'Jami' as syuruh wal hawasyi' (5 jilid), dibandrol dengan harga 400 Riyal Saudi (1.600.000 ribu rupiah). Sebuah buku yang sangat ia impikan untuk ia miliki dan baca di kemudian hari.
Sekedar kuliah saja tidak memberikan jaminan akan akal yang luas, cerdas berargumen, lihai mengolah masalah. Kuliah pun hanya memindahkan tempat tidur dan menumpang jaringan internet. Adakah kepuasan itu? Bagi seorang penuntut ilmu, membeli buku itu keharusan dan kewajiban. Bagaimana ia hendak maju selangkah, sedangkan jalan terasa gelap. Membeli buku terkadang membawa pada titik sangat kekurangan, tapi mereka tidak miskin. Sebab kata ahli hikmah bijaksana bahwa "buku adalah khazanah kekayaan seorang penuntut ilmu." Belilah buku, miliki dan bacalah! Kau pun akan merasa tetap kaya walau harus berpakaian sederhana dan makan secukupnya.