
bliss lane

tannertan36

#extradirty
🪼

pixel skylines
The Bright Sessions
𓃗
Fieri Frames
Show & Tell

Game Changer & Make Some Noise
hello vonnie
sheepfilms
occasionally subtle

Love Begins

roma★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

oozey mess
RMH

Origami Around
noise dept.
seen from Brazil

seen from Australia
seen from United States
seen from Albania

seen from Brazil

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany

seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Canada

seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
@harvey-pepsodent7
Faktor Risiko
Faktor risiko adalah sebuah istilah dalam dunia medis yang digunakan saat membahas sebuah penyakit. Faktor risiko sendiri artinya adalah Hal-hal yang berkaitan dalam risiko timbulnya suatu penyakit. Faktor risiko biasanya tidak menyebabkan penyakit tetapi hanya mengubah probabilitas seseorang (atau risiko) untuk mendapatkan penyakit.
Sebagai contoh, debu bukanlah penyebab dari asma. Tapi debu menyebabkan orang yang sudah memiliki asma akan mengalami kekambuhan. Di sini debu berperan sebagai faktor risiko.
Istilah ini dapat kita bawa ke kehidupan sehari-hari. Contoh, tidak semua orang yang tidak memakai sabuk pengaman akan mengalami luka saat menyetir mobil, namun semua orang yang tidak memakai sabuk pengaman akan cedera saat mobilnya mengalami kecelakaan. Di sini, tidak memakai sabuk pengaman adalah FAKTOR RISIKO timbulnya cedera.
Atau satu contoh lagi. Tidaklah masalah jika menyimpan foto mantan (😝 ), namun semua orang yang masih menyimpan foto mantan akan terjebak dalam zona susah move on. Di sini, tidak membuang foto mantan adalah FAKTOR RISIKO timbulnya susah move on.
Pada beberapa kasus, faktor risiko memang tidak berpengaruh signifikan akan timbulnya penyakit. Namun tentu saja probabilitas terkena penyakit akan tinggi bila seseorang melakukan/terpapar faktor-faktor risiko timbulnya suatu penyakit. Maka, dengan mengetahui dan menghindari faktor risiko, sesungguhnya kita telah menjalankan salah saru dari 4 langkah penanganan penyakit, yaitu langkah preventif (pencegahan).
So, kalau mau sehat, kenali penyakit-penyakit yang akan menyerang anda beserta faktor risikonya. Hindari faktor risikonya!.
Aku bebas
Aku lihat barusan
17.20
Terima kasih
Selamat jalan
Selamat tinggal
MUNGKIN (TIDAK) BERAT BAGIMU
“Ah, apaan sih. Gitu doang, cemen banget padahal, kan tinggal milih aja, gausah ribet”
“Masa yang gitu doang gak bisa, kan tinggal gini aja. Apa susahnya?”
—
Seringkali, ada orang yang datang menceritakan berbagai masalahnya. Namun, tidak jarang juga, kita sebagai pendengar, merasa bahwa masalahnya itu terlalu remeh untuk diceritakan.
Seperti ketika beberapa waktu lalu, seorang wanita bertanya pada saya, ia bertanya
“Setiap hari saya bertemu mantan, haruskah saya keluar dari tempat kerja saya?”
Iseng, saya coba tanya pendapat teman-teman saya tentang pertanyaan ini. Banyak yang awalnya tersenyum ketika mendengar pertanyaan ini. Beberapa bahkan berkomentar “lah, masa gitu doang keluar? Santai aja kali”. Bagi mereka, persoalan itu, remeh.
Namun coba kita sedikit bernostalgia sejenak dengan hidup kita.
Pernahkah kita, ketika masih kecil, bertanya hal-hal yang begitu pada orang yang lebih dewasa?
Semisal “Ayah, 11 tambah 30 itu berapa sih?”
Atau “Kakak, kalau budi punya 4 permen, diambil 2, maka sisa berapa sih kak?”
Atau “Paman, lirik lagu indonesia raya itu, bagaimana sih?”
Bukankah pertanyaan itu sungguh mudah bagi orang-orang dewasa? Bukankah otak kita tak perlu berpikir keras untuk mencari jawabannya. Iya, tentu mudah. Karena kita sudah pernah melewatinya.
Namun, ingatkah bagaimana perasaan kita ketika kecil, bukankah kita bertanya dengan penuh kebingungan? Bukankah kita datang dengan penuh rasa ketakutan? Takut jika tak menjawab, ada konsekuensi yang didapat. Bukankah kita bertanya, karena kita butuh jawaban?
Pertanyaan itu, sungguhlah mudah bagi para orang dewasa. Namun, bagaimana rasanya jika kita sebagai orang dewasa menertawakan pertanyaan tersebut hanya karena kita anggap remeh? Bukankah sang anak justru akan berkecil hati? Bukankah sang anak akan merasa dirinya ini bodoh? Hati-hati, alih-alih dia mendapat jawaban, justru ia mendapatkan rasa sakit hati.
—
Setiap masalah memiliki kadar kesulitan yang berbeda bagi setiap orang. Bagi anak-anak, soal perkalian itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi para orang dewasa. Bagi yang baru belajar, solat subuh itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah lama beriman. Bagi yang baru paham, menggunakan hijab itu sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah terbiasa. Bagi keluarga yang sering berselisih, mengucapkan rasa sayang itu sungguh sulit, namun tidka bagi mereka yang keluarganya hangat. Bagi mereka yang baru merasakan cinta, menghadapi mantan di kantor adalah hal yang sulit, namun tidak bagi mereka yang belum pernah merasakan cinta atau sudah terlalu sering bergonta-ganti pasangan.
Masalah yang sama, belum tentu memberi rasa yang sama pada orang yang berbeda.
Maka, jangan pernah sekalipun meremehkan persoalan seseorang. Ketika mereka datang dengan masalah, mereka itu butuh untuk didengar, butuh untuk diberikan solusi. Mereka datang bukan untuk ditertawakan, bukan untuk dihina.
Mungkin, itu tidak berat bagimu. Tapi sungguh, itu sangat menyulitkan baginya
MUNGKIN (TIDAK) BERAT BAGIMU Bandung, 12 November 2017
"Dok, obat yang dokter kasih tempo hari manjur banget. Padahal cuma satu macam. Nikmat banget dok, hilang semua sakit-sakit. Ternyata segitu mahalnya ya nikmat sehat itu, Dok."
Seketika berkaca-kaca. Tersadar akan hal yang kurang dari diri ini seminggu belakangan. Lewat pasien, Allah mengingatkan. "Kamu kurang bersyukur".
Lain syakartum la a dzidannakum. Wa lain kafartum inna 'adzaabi la syadiid.
19.02 WIB, 3/11/17
Last Day in Arosuka
Datang dengan semangat dan suka cita.
Pulang dengan perasaan kalah dan biasa saja.
Tak ada yang serugi saya.
Kecuali saya sabar dan menasehati dalam kesabaran.
November. Tentang awal dan akhir (Doctojournal 9)
November dimulai hari ini. Setahun berlalu. Teringat masa ketika memulai di November 2016 mengabdi di daerah tempat aku dibesarkan. Tanpa terasa sekarang sudah November 2017. Setahun berlalu. Maka, beberapa hari lagi internsip di Arosuka pun berakhir. Karena setahun telah berlalu.
Setahun penuh pergolakan, karena aku sebenarnya tak pernah ingin mengabdi internship di kampung. Di rumah sakit yang pasiennya sedikit, yang sejatinya hanya akan mendowngrade kualitas ilmu yang sudah ada. Pengelolaan RS yang amburadul karena pergantian kepemimpinan memperburuk semua itu. Obat-obat yang seadanya, alat-alat yang seadanya, benar-benar menurunkan kualitas ilmu, karena kami menjadi tak terbiasa lagi menggunakan protap penatalaksanaan pasien sesuai dengan yang biasa kami lakukan sewaktu menjalani masa-masa pendidikan di RS pusat. Ditambah lagi berbagai macam peristiwa yang muncul seiring berjalannya waktu, menambah-nambah penyesalan memilih mengabdi di kampung.
Arosuka. Seindah apapun daerahnya, tak bisa lagi memberikan ketenangan itu. Ada memori-memori menyebalkan di sana. Dan memilih di sana adalah murni kesalahanku, di saat sebenarnya aku bisa berkelana ke RS yang lebih bagus untuk mengabdi dan mengupgrade ilmu.
Arosuka. Ada sisi buruk, ada pula sisi baiknya. Hampir tiap hal memiliki dua sisi itu. Hal yang tak mungkin menjadi penyesalan tentu adalah pertemuan dengan orang-orang baik hati di sana. Untuk mereka, aku rela tidak menyesal.
Dan andaikan tidak memilih internsip di Arosuka, mungkin aku tak akan pernah berkenalan dengan kopi, si biji ajaib yang menenangkan. Aku tak akan bertemu orang-orang menyenangkan yang kutemui saat belajar ngopi. Untuk kopi dan orang-orang ini, aku rela tidak menyesal.
Dan last but not least. Untuk keluargaku, aku tidak menyesal.
But, no reason to stay is a good reason to go. Tak ada alasan untuk menetap adalah alasan yang bagus untuk berpindah. Hal-hal baik yang terjadi padaku tidak menutupi kejadian-kejadian menyebalkan itu. Jika menyesal adalah salah, maka yang perlu dilakukan adalah move on dari rasa menyesal itu. Karena hikmah tak akan pernah muncul saat berdiam diri, dan tak akan mungkin muncul jika hanya mencari-cari di sini. Aku bersiap dan memutuskan untuk pergi, meninggalkan semua kenangan-kenangan menyebalkan itu. Menjemput hikmah yang tak kutemukan di sini.
Saat November dimulai, saatnya pula memulai menyingkirkan apa yang terjadi setahun ini, tapi mengambil kebaikan-kebaikan di dalamnya. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Beberapa hari lagi internship berakhir. Memulai di November, mengakhiri di November. Aku siap untuk petualangan baru. Bismillah
1/11/17
Love You No More
Hard rain are welcoming me in the beginning of November. Forcing me to love it once again. I just can’t.
I love rain
I used to
Jangan pamer. Sebahagia apapun kamu. Di luar sana ada yang tidak sebahagia kamu
#All.advice.are.autobiographical #agakrusak
November Rain
When I look into your eyes I can see a love restrained But darlin' when I hold you Don't you know I feel the same 'Cause nothin' lasts forever And we both know hearts can change And it's hard to hold a candle In the cold November rain We've been through this such a long long time Just tryin' to kill the pain But lovers always come and lovers always go And no one's really sure who's lettin' go today Walking away If we could take the time To lay it on the line I could rest my head Just knowin' that you were mine All mine So if you want to love me Then darlin' don't refrain Or I'll just end up walkin' In the cold November rain Do you need some time...on your own Do you need some time...all alone Everybody needs some time... on their own Don't you know you need some time...all alone I know it's hard to keep an open heart When even friends seem out to harm you But if you could heal a broken heart Wouldn't time be out to charm you Sometimes I need some time...on my own Sometimes I need some time...all alone Everybody needs some time... on their own Don't you know you need some time...all alone And when your fears subside And shadows still remain I know that you can love me When there's no one left to blame So never mind the darkness We still can find a way 'Cause nothin' lasts forever Even cold November rain Don't ya think that you need somebody Don't ya think that you need someone Everybody needs somebody You're not the only one You're not the only one -by Guns N' Roses- 1 November 2017
Happy national blogger day.
Egois
Menjelang tidur. Malam ini. Saya baru menyadari satu hal.
Masalah-masalah ternyata membuat saya menjadi manusia yang egois. Saya lupa memikirkan kebahagiaan orang-orang di sekitar, karena terlalu berupaya membuat diri saya bahagia. Saya lupa bahwa saya punya orangtua yang patut dibahagiakan dan adik-adik yang patut diceriakan. Masalah-masalah yang datang membuat saya tidak fokus menjadi anak yang berbakti serta abang yang mampu mengayomi.
Baru saya menyadari, saya seolah menuntut untuk dipahami, tapi ternyata tidak mampu memahami. Setelah masalah datang, saya berubah. Awalnya saya berusaha bersikap abai terhadap masalah tersebut. Tapi tanpa disadari, saya menjadi abai terhadap apapun. Berusaha melupakan masalah agar bahagia, tapi ternyata lupa juga cara membahagiakan orang. Saya berdoa, tapi hanya mendoakan kebaikan untuk diri sendiri.
Lupa sesaat, bahwa hidup di dunia ini adalah tentang berbagi, bukan sekedar menerima. Dan bahagia yang datang saat memberi, justru sebenarnya lebih besar dibandingkan saat menerima.
Saya lupa.
Dan mungkin bukan saya saja yang begitu.
Al Mulk sebelum tidur
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga
Anonim
Ada seutas benang yang belum putus. Ini menghambat langkah.
Percepatlah!
Kalo mau bikin latte art, nuang kopinya ga boleh gantung, Bang. Kalo suka ngegantung, hasilnya ga bakal jadi
@Rizky.katz
Doctojournal 8
Seorang teman bercerita padaku tentang penyesalannya. Kala itu kami hanya berdua saja duduk di meja makan menghadiri acara baralek. Suara biduan yang menghingar menjadi kesempatan baginya bercerita apapun kepadaku tanpa khawatir didengar siapapun yang sedang lalu lalang di dekat kami.
Kisahnya adalah tentang pilihan yang salah dan waktu yang terbuang dikarenakan pilihan itu. Tentang memilih jurusan kedokteran di saat dia sudah nyaman 2 tahun kuliah di satu fakultas lain, padahal saat itu dia akan lulus 2 tahun lagi. Tapi dalam zona nyamannya dia mengikuti tes masuk kedokteran, lulus, dan tanpa banyak pertimbangan mengambil jurusan kedokteran ini. Awalnya dia akan tamat dalam 2 tahun, namun justru dia kemudian harus sekolah 6 tahun lagi di kedokteran.
Dia bercerita tentang alangkah gegabahnya ia waktu itu mengambil keputusan. Penyesalannya hanya tentang waktu. Walau tentu tidak sia-sia dan percuma, dia tetap merasa 2 tahun sisa kuliah digantikan 6 tahun itu terlalu lama.
“Saat mulai kuliah di FK, Aku merasa bodoh sekali telah mengambil pilihan ini. Tapi ya mau bagaimana. Semua sudah terjadi. Aku sudah dokter sekarang. Alhamdulillah.” Dia seolah menghibur dirinya dengan kata-kata itu.
Aku terdiam agak berapa lama. Pilihan yang salah dan penyesalan adalah masalahku juga saat itu. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Tapi kemudian aku bertanya.
“Sudahkah kau menemukan hikmah dari pilihanmu itu?”
“Mungkin sedikit. Tapi masih ada perasaan mengganjal. Aku tak tahu kapan hikmah ini akan muncul seutuhnya. Bertahun-tahun mungkin. Aku sudah ikhlas, tapi mungkin secara tak sadar aku belum benar-benar ikhlas”. Tersenyum dia di ujung jawabannya.
Empati. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Sembari mendengar curhatan teman, pikiranku juga berkelana ke masa lalu atas pilihan-pilihan yang kemudian aku menyesalinya. Tentang memilih internship di Arosuka, tentang timing yang salah dalam “memilih sesuatu”, bahkan sesaat aku kembali merasa menyesal memilih kuliah di kedokteran, pilihan yang beberapa waktu lalu kusalahkan karena pilihan ini adalah pondasi dari semua penyesalan-penyesalan yang muncul setelahnya.
Tapi penyesalan hanyalah simbol dari ketidak ikhlasan dan cacatnya iman. Hanya iman-iman yang sumbinglah yang akan menyesal. Iman-iman yang tidak yakin bahwa rencana Allah lah yang terbaik. Namun menyalahkan orang yang tenggelam dalam penyesalan dan depresi pun rasanya tak tepat. Cobalah kalian merasakannya dulu sebelum menyalahkan. Betapa frustasinya ada dalam perasaan itu. Tiap kali ingin bangkit, selalu saja ada yang menarik ke bawah. Penyesalan dan depresi ternyata punya pusat gravitasi. Walaupun begitu, penyesalan dan depresi adalah hal yang salah. Tak boleh disimpan lama-lama. Boleh saja merasakan keduanya, namun harus tetap ada iman di dada. Walaupun cacat, walaupun sumbing, iman jualah yang akan menyelamatkan dari jalan yang menyimpang. Sedalam apapun anda tenggelam dalam tarikan gravitasinya.
Lama terdiam karena merenung. Kulontarkan sebuah retorika. “Hikmah mungkin memang lama munculnya, dan ketika muncul pun sulit untuk memahaminya. Tapi kita harus selalu yakin dia pasti datang untuk kemudian meringankan langkah. Inna ma’al usri yusra kan?”
Kembali dia tersenyum mendengar kalimat terakhirku. Senyuman yang selalu melelehkan pasien-pasien wanitanya. “Ya, Inna ma’al usri yusra”
Solok, 18/10/17