Ku mencintai kekasihku, untuk kemudian dia pergi membawa hati dan perasaanku.
Ku mempelajari ilmu dari guruku, lalu kuserahkan waktu dan akalku.
Ini aku, Sang Fakir. Tersisa cangkang kosong, wadah berisi nafsu.
Ilmuku hanya titipan. Langkahku menyusuri jejak guruku. Bayanganku membelakangi cahaya, seperti mengistirahatkan sifat 'jahiliah'-ku di masa lalu.
Terus merawat harapan, walau sering dikecewakan. Terus memohonkannya ampunan, pada mereka yang menyebar kedzaliman. Terus berfikiran positif, walau isi dompet lebih sering negatif. Tetap tersenyum, dengan air mata yang menetes. Tetap mencintai siapa dan apa saja, karena sudah tidak ada yang tersisa selain suka dan duka dalam terus menjalani cerita.
Tuhan. Jangan Kau titipkan aku beban besar dan bobot berat. Hamba lemah dan payah, dengan fakir ilmu dan minim pemahaman.
Ya Rasul. Jangan kirimkan saya umatmu yang cantik sifat dengan paras jelita, kaya harta dan ketakwaan luar biasa. Hidup hamba kacau balau dan jauh dari standar kesuksesan dunia.
Ini laporan, sederhana. Mungkin bukan seperti Doa. Tetapi ku tulis dengan jujur, walau sedikit kurang ajar dengan ada larangan dalam pengharapan.
Engkau Maha Mengabulkan, dan Perkabulanmu selalu baik dan menggembirakan dengan cara diluar nalar.
Kanjeng Nabiku adalah Rasul Tauladan. Manusia paripurna yang aku banggakan, semoga kebanggaanku bisa terbalaskan dengan penerimaan dan pemberian syafaatnya.
Amin | Bekasi. Awal maret, 2026.