Hari Bahagia di Delapan Putaran Negentropy 5 in E Major
Pada putaran lagu Negentropy 5 in E Major yang kedelapan, dia pejamkan matanya menuju tidur dalam yang sudah ditunggu-tunggu. Hari ini, ia sudah memutuskan akan bahagia selamanya. Di luar jendela, hujan badai bulan Januari begitu murka, seperti kumpulan keputusasaan yang tiada bertuan.
*Putaran Negentropy 5 in E Major Pertama
Tokohmu ini memulai hari dengan ceria. Mari kita panggil dia Ananda. Bahagia adalah cita-cita banyak manusia. Di media sosial mereka bilang “Jangan Lupa Bahagia”, seolah-olah bahagia adalah anak pemberontak yang mudah kabur dari rumah. Ananda bukanlah tokoh yang berbeda. Ia hanya perempuan semenjana. Ananda pun ingin bahagia. Bahkan di dalam nama yang disandangnya selama 28 tahun, Ayah dan Ibu pun sudah memantrakan asa akan kebahagiaan itu.
Seperti iklan Sariwangi yang ia sukai sejak masih remaja, Ananda merayakan pagi dengan meminum teh hangat di jendela dapur. Diingatnya, di televisi dia melihat seorang ibu muda membuat teh untuk dirinya sendiri dan tersenyum ke jendela menyambut matahari yang bersinar cerah. Ananda tersihir oleh nilai yang disebarkan oleh pariwara itu, sebuah keluarga bahagia dengan gambaran ibu yang menikmati paginya sebelum melayani kebutuhan keluarga. Dia ingin menjadi perempuan di iklan itu, ibu muda cantik yang penuh dedikasi berdasarkan nilai keluarga dalam NKKBS Orde Baru. Keluarga bahagia dan sejahtera, begitu propogandanya.
Jam 6.30 pagi ini, teh chamomile ia pilih sebagai pembuka. Disesapnya pelan-pelan teh berwarna kuning pucat itu. “Hari yang indah untuk bahagia bukan?,” Ia bergumam sendiri.
Sayangnya semua tidak selengkap pariwara yang dia sukai itu. Hari ini hujan, padahal terang adalah harapan. Terkadang Januari bukan waktu yang tepat untuk semua rencana ini, begitu pikir Ananda. Hujan turun di luar seperti orang gila. Dia tidak tahu sejak kapan sebenarnya hari yang cerah terasosiasi dengan keriangan, sementara hujan selalu berteman dengan kemuraman. Tapi Ananda sudah bertekad bahwa hari ini dia akan bahagia. Seterusnya.
*Putaran Negentropy 5 di E Major Kedua
Ia sudah menyusun rencana tentang apa saja yang akan dilakukannya di Hari Bahagia ini. Rencana pertama, Ananda akan merayakan hidupnya dengan mengenang. Ananda tahu kalau mengenang adalah hal yang harus dia lakukan dengan hati-hati. Kenangan bisa jadi teman baik, tapi seperti gejala bipolar, ia bisa berubah menjadi musuh paling dingin nan bengis dalam waktu yang tidak diduga-duga. Baiklah, darimana ia akan memulai?
Lagi-lagi anda diingatkan bahwa Ananda adalah tokoh medioker. Dia percaya pada kata-kata “…Some days are good and some days suck..,”. Optimisme bukanlah nama tengahnya, tapi Ananda pun tidak selalu menilai hidupnya yang hampir tiga dekade adalah kumpulan kesialan.
Ananda selalu mengidentifikasi dirinya sebagai angka delapan. Delapan adalah angka manusia, begitu keyakinannya. Angka itu tidak buruk namun tidak sempurna. Terlahir dengan wajah yang manis, rambut bergelombang lebat dan tinggi, Ananda memutuskan untuk ikut tim Paskibraka ketika SMA. Keterlibatannya di salah satu ekstrakurikuler bergengsi tersebut membuatnya cukup terkenal di SMA.
Karena Ananda bukan anak yang tinggi omongannya, ia tidak terlalu sering dapat masalah dengan senior cewek yang terkenal predator terutama kepada junior-junior bening. Meskipun, tatapan-tatapan menyebalkan kerap jadi makanannya setiap latihan. Selain berteman dengan banyak orang dari kalangan “elit” di sekolah, Ananda pun ternyata cukup cemerlang di kelas. Ia selalu masuk rangking 10 besar. Nilai Fisika, Kimia dan Matematikanya di atas 7. Meski sejujurnya dia tidak pernah tahu sedikit pun tentang apa yang dipelajarinya dan apa urgensi angka-angka itu dalam kehidupannya di masa depan. Sejak SMA Ananda, yang berasal dari keluarga yang terbuka pikiran dan hati, selalu berusaha untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia pun memilih masuk IPS, walaupun bergabung di kelas IPA adalah privilege di kalangan anak SMA. Setidaknya dia merasa tahu manfaat dari menghapal materi Tata Negara dan Sosiologi.
Mungkin para pembaca yang budiman akan menilai, ah tidak mungkin anak SMA begitu dewasanya? Hmm, baiklah. Ananda pun kemudian mengenang hari-hari “tengilnya”. Sebagai anak IPS, dia menikmati saja pelabelan yang selama ini kerap diberikan seperti cap sebagai murid yang rusuh dan hanya bikin onar. Ananda berada di kelas IPS 1. Namanya juga anak muda, beberapa temannya kerap membolos. Salah satu yang paling rajin bolos bernama Mabok. Mabok terkenal di seantero kelas tiga sebagai salah satu aktivis gerakan pengacau keamanan. Guru BK sudah bosan bertemu dengannya. Hingga Sembilan bulan menjelang UN, sekolah mengancam akan memecat Mabok.
Seluruh murid di IPS 1 pun tak mau kalah galak dari pihak sekolah. Demo besar-besaran pun digelar. Mereka tidak peduli pungutan ilegal berbentuk “buku wajib beli”, yang penting adalah solidaritas kelas. Ananda pun menganggap ini bentuk kekompakan, sebuah perlawanan nyata atas kesewenang-wenangan pihak sekolah yang tidak paham anak muda. Di hari Selasa yang panas, 11 tahun lalu, Ananda berada di barisan paling depan membawa spanduk “Jangan Pecat Mabok”. Di akhir cerita Mabok tidak dikeluarkan, tapi semua siswa IPS 1 dijemur di lapangan oleh Wakil Kepala Sekolah yang kumisnya seperti logo snack Mister Potato. Ananda hanya bisa tertawa mengingat catatan hidupnya. Di situ tertulis dengan rapi bahwa demonstrasi pertamanya adalah pembelaan terhadap pembolos. Dia sesap lagi tehnya membayangkan masa-masa muda yang “nothing to lose”. Hari-hari yang sedikit bajingan.
*Putaran Negentropy 5 di E Major Ketiga
Ananda tersentak dari tidurnya di malam hujan, saat itu ia berumur 12 tahun. Napasnya terengah seperti baru lari setengah marathon. Dalam mimpi itu dia mengejar seorang anak laki-laki sebayanya. Lebat rambut sosok itu. Hanya itu yang dia ingat. Ananda terus mengejar sampai dia kehabisan nafas dan si anak lelaki itu perlahan menghilang dari pandangan menuju hutan yang taka asing bagi Ananda. Dia pikir itu hanya mimpi biasa dan cepat melupakan begitu saja. Tentu saja mimpi receh begitu tidak berkesan dibandingkan mimpi bertemu kuntilanak.
Di malam hari sebelum anak IPS 1 menggelar demonstrasi bertajuk “Jangan Pecat Mabok”, seorang remaja laki-laki muncul di dalam tidurnya. Di sebuah café berwarna hitam putih, sang lelaki duduk menghadap jendela. Ananda ada di luar, dan entah mengapa ia berada di bawah hujan. Menatap ke si remaja lelaki di dalam cafe, Ananda tahu ia membaca novel Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh.
Saat bangun, Ananda yakin itu hanya pikiran-pikiran yang masuk ke dalam tidurnya. Memang sebelum lelap, ia membaca bulletin AISI milik salah satu ekskul yang membahas buku perdana Dee tersebut. Sulung dari serial Supernova itu dinilai mendobrak. Ananda sendiri tidak terlalu tahu apa isinya. Kata beberapa temannya, buku itu seperti sebuah obsesi menggabungkan pengetahuan eksakta dan fiksi. Memang sepertinya menarik, tapi Ananda lebih penasaran pada anak lelaki yang membaca itu. Dia seakan-akan mengenalnya dan sangat percaya hal itu, namun ingatan Ananda berkabut.
Seminggu setelahnya, saat ia sedang menunggu angkot menuju tempat les, Ananda mencapai titik temu. Laki-laki itu adalah anak yang pernah dikejarnya enam tahun lalu di mimpinya. Walau tidak ada bukti nyata, tapi Ananda punya keyakinan bahwa keduanya adalah sosok yang sama. Lagipula untuk apa mimpi butuh bukti nyata?
Ananda yang manis bisa saja menganggap semua hanya bunga tidur, sampai akhirnya di semester lima dia bertemu Utara, tepatnya di kelas Politik Kawasan Eropa.
*Putaran Negentropy 5 di E Major Keempat
Utara tergila-gila pada Frau. Walau ini terkesan mengada-ada, terkadang Ananda cemburu. Tahun 2010, Frau yang saat itu mulai naik daun menjadi penampil pembuka di konser Jazz yang diadakan sebuah kampus kedokteran. Musisi utama yang dihadirkan memang mereka yang dinobatkan sebagai artis papan atas, tapi Utara datang untuk Frau. Bagi ukuran mahasiswa tingkat akhir, harga tiket waktu itu cukup mencekik dompet. Namun Utara tetap merengek ke Ananda bahwa dia ingin melihat Frau dan harus duduk di jajaran VVIP. Alasannya sungguh dangdut; supaya dia bisa melihat Lani dan mendengar kata-kata pembukanya yang canggung dari dekat. Di jejeran VVIP yang kaku, Ananda tahu betapa bahagianya Utara malam itu.
Ananda dan Utara menjadi suami istri di perayaan yang sederhana pada musim kemarau lima tahun setelah konser itu. Meski mimpi tersebut tidak pernah diceritakannya pada sang suami, Ananda tahu bahwa sejak hari itu seluruh hatinya sudah menjadi milik Utara, si lelaki berambut lebat yang ia yakini hadir dua kali di tidurnya. Tanpa sisa, semuanya, seluruhnya.
Di akhir tahun lalu, Utara memutar dan memutar lagi Negentropy 5 di E Major, lagu penutup Frau di album Tembus Pandang. Di dapur, di motor dan di meja kerja, lagu itu teralun tanpa henti. Lewat speaker, lewat headset, lewat laptop maupun lewat iPod. Saat menunggu narasumber untuk wawancara dan saat mengejar deadline sore, ia dengarkan lagu itu. Sebagai yang sudah mengenal Utara hampir sewindu, Ananda maklum saja. Sampai akhirnya Negentropy 5 in E Major itu berubah menjadi Izrail dan menjemput separuh jiwanya di jalanan yang hampa.
* Putaran Negentropy 5 di E Major Kelima
Ananda tak bisa menahan isaknya saat mengenang bagian itu. Tapi ia ingat rencana yang sudah disusun dan ditulisnya dalam note kecil yang biasa dia pakai untuk menulis pengeluaran belanja. Rencana kedua adalah tidak boleh bersedih lagi karena ini hari bahagia.
Teh Chamomile di mug kesayangannya sudah tinggal sedikit. Udara di dapur pun mulai dingin. Hujan juga masih begitu liar di luar rumah. Ananda menuju kompor dan mulai memanaskan air. Kantung Chamomile kedua dia ambil dari lemari gantung. Sesendok teh gula, kantung teh dan air panas sudah menjadi satu. Dia pegang dengan erat mug itu dan didekatkan ke dadanya. Perlahan dia merasakan kehangatan. Ia pandangi mug yang tidak cantik itu, bahkan beberapa bagian sudah terkelupas dimakan zaman. Tapi Utara memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 25. Mug murahan itu bergambar band kesukaannya, SORE, yang dipesan Utara di Kedai Digital terdekat. Utara adalah orang paling payah dalam memilih hadiah. Terkadang ini membuat Ananda emosi karena beranggapan Utara tidak mengenal dirinya. Namun mug murahan ini mematahkan dugaan serampangannya.
Tidak ada tumpukan cucian piring di wastafel. Sejak kematian Utara, semua piring rapi di raknya. Alasannya, Ananda selalu bersih-bersih ketika dia dihujani lara. Setelah semua rapi, ia pun menangis sambil duduk bersandar ke kulkas sampai akhirnya ketiduran. Dia tertawa kecil mengingat kebiasaannya ini. Bagaimana tidak? Dia merasa seperti Toru Okada, protagonis di novel The Wind-up Bird Chronicles, cerita yang dulu dilahapnya saat awal-awal menjadi editor di penerbit buku tempatnya bekerja saat ini. Toru Okada selalu menyetrika ketika dia merasa marah atau kecewa. Ah, para lelaki Murakami memang mempesona, begitu pikir Ananda. Seperti laki-laki Murakami jua, Ananda pada satu titik sudah tidak paham lagi apa yang dia rasakan. Ananda tidak se-dewasa saat karakternya diperkenalkan di bagian pertama. Dia merasa ada air hangat yang mau tumpah di matanya.
Hello Ananda, ingat ini hari bahagiamu loh. Tiada air mata, Sweetheart. Hari ini semua kerinduan akan terbayar sudah.
* Putaran Negentropy 5 di E Major Keenam
Juni 2008, Ananda ditangkap polisi di Jakarta. Saat itu bersama dengan teman-teman kampusnya, mereka menolak kenaikan harga BBM. Aksi berujung ricuh dengan pembakaran beberapa mobil dinas dan penangkapan para mahasiswa saat hendak pulang ke kota asal. Alih-alih terdengar heroik seperti mahasiswa pra reformasi, Ananda dan kawan-kawan seperjuangannya malah masuk berita Buser dan menjadi bahan lawakan di kantin kampus. Meski tidak terlalu membanggakan, setidaknya Ananda bisa lebih sedikit berlega hati dibandingkan berdemonstrasi membela Mabok sang Tukang Bolos.
Salah satu dosennya pernah bilang, menjadi aktivis mahasiswa memang tidak akan memberikan apa-apa kecuali kenangan manis yang akan ditertawakan di masa mendatang. Ananda mengamini hal itu. Bagaimana pun mahasiswa berusaha membangkitkan romantisme perjuangan di masa orde baru, ruh-nya tidak akan sama lagi. Tantangan dan strateginya tak akan sama lagi. Tidak bisa seheroik seperti yang dituturkan Leila Chudori dalam novel Laut Bercerita.
Dua puluh empat jam di kantor polisi, Ananda jadi tahu bahwa banyak polisi yang kurang cerdas namun merasa sok kuasa. Saat ia diinterogasi, Pak Polisi mengeluarkan kartu mahasiswa yang menunjukkan statusnya sebagai mahasiswa S2 di Kampus Kuning. Tapi pertanyaan sang polisi yang menunjukkan keheranan kenapa ada pelajaran tentang Marxisme di kampus, membuat Ananda geleng-geleng. Jangankan di kampus, bahkan di mata pelajaran Ekonomi saat SMA juga sudah ada. Ah, di situ dia merasa tersanjung masuk jurusan IPS.
Tapi Ananda tahu, itu hanya kenangan saja. Dia bukanlah Ananda yang dulu, yang siap aksi kapan pun dimana pun dan jam berapapun. Iya benar, Ananda memang tokoh medioker. Ia pun siap berubah saat melepas toga seperti banyak orang lainnya.
* Putaran Negentropy 5 di E Major Ketujuh
Jam 6.00 tadi Ananda sudah mengirimkan pesan pada Mbak Dina, atasannya. Ia minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini. Lagi pula semua naskah yang dieditnya sudah masuk tahap cetak. Intinya, dia tidak merasa ada tanggung jawab yang harus dibereskan lagi saat mengajukan izin. Mbak Dina belum menjawab, namun Ananda sudah bertekad untuk merayakan hari bahagianya.
Pagi ini adalah pagi keempatpuluh sejak kepergian Utara. Setelah lara dan pergolakan emosi yang menguras, Ananda akan menunaikan apa yang menjadi arti namanya. Ananda dalam bahasa India berarti kebahagiaan. Ia lalu teringat iklan Sariwangi yang disukainya dan cita-citanya untuk menjadi ibu yang berdedikasi seperti pesan pariwara. Ananda mau berkompromi, mungkin bahagia bisa dimodifikasi. Seperti paradox yang ada didirinya; mantan aktivis yang belajar feminisme namun punya asa untuk jadi perempuan ideal versi NKKBS. Memang hidup itu tidak selamanya linier. Ya sudah maklumi saja paradox- paradox itu. Satu yang pasti, Ananda akan melaksanakan hal yang sudah diniatkan hari ini; Hari Bahagia Ananda.
*Putaran Negentropy 5 in E Major Kedelapan
Rencana ketiga adalah mari berbahagia. Pernahkan orang berpikir tentang apakah sebenarnya arti bahagia? Ah, Ananda merasa naif mempertanyakan hal itu. Tentu saja jutaan orang pernah bergumul pikirannya untuk mendefinisikan kata itu, bahkan dari era filsuf Yunani. Kalau tidak, mana mungkin buku self-help tentang kebahagiaan masuk dalam rak best seller. Walaupun tidak terlalu sering membaca bernada seperti itu, Ananda diam-diam menyukai satu buku berjudul The Happiness Project milik Gretchen Rubbin. Dia pernah mencoba menerapkan proyek kebahagiannya sendiri mulai dari membeli bunga krisan, menaruhnya ke dalam vas berisi air dan diletakkan di meja baca, hingga menyusun ulang baju-baju dengan lebih rapi di lemari. Tapi, proyek kali ini bahkan tidak ada dalam catatan Rubbin. Tidak mungkin ada, Ananda yakin. Ia tersenyum mengingat misi yang akan dilakukannya sebentar lagi.
Jam menunjukkan pukul 7:10 dan hujan masih turun tanpa ampun di luar sana. Guntur yang paling dia benci pun saling sahut menyahut seperti tentara Sparta. Pun begitu, Ananda mengembangkan bibirnya. Senyum termanis yang dia ingat. Di langit-langit rumah, sebuah tali sudah memanggilnya. Begitu merdu, begitu sayu. Bersama, mereka akan menuju Utara.
Selaraskah nada-nada nafas kita..?
Serasikah warna-warna watak kita..?
Setimpalkah beban-beban berat kita…?
Sebanding bebayang haluan di seberang sana..?