Marah-marah di kantor.
Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan kacau. Rupanya sisa kekesalanku kemarin masih ada, bahkan setelah tidur dan rehat di rumah. Kemarin aku sampai di kantor pukul 8.30. Waktu yang normal untuk datang ke kantor bukan. Rekan kerja satu timku datang pukul 9.30, 10.30 dan yang terakhir pukul 11.30 WIB.
Padahal aku berniat mendiskusikan sesuatu. Teman-temanku datang siang membawa aura yang tidak menyenangkan. Entah mereka sedang punya masalah pribadi atau hanya karena kepanasan di jalan. Semua orang jadi sensitif.
Beberapa minggu ini aku mengambil pekerjaan sampingan. Kemarin aku beres-beres pukul 3 sore, pikirku, porsi pekerjaanku sudah aku lakukan. Sisanya akan aku selesaikan hari ini. Namun satu temanku nyeletuk, "Jam segini kok udah pulang." Aku refleks membalas, "Lha kamu jam 11.30 kok baru datang. Aku dah sampai sini jam 8.30, kerja dan sekarang aku mau ngerjain hal lain." Dia terdiam. Akupun membeku. "Ya salahnya berangkat pagi-pagi." lanjutnya sambil menatap layar laptop.
Aku menggendong tas. Pamit sekenanya. Lalu pergi.
Rupanya aku tidak cocok bekerja di lingkungan dengan jam kerja yang bebas. Kecuali posisi yang aku lamar menyebutkan statusku sebagai freelancer, aku lebih suka bekerja dengan waktu yang tetap. Mau 8-4, 9-5, bahkan 10-6 juga akan aku lakukan. Selama di luar waktu itu aku tidak lagi memegang pekerjaan utama.
Lha ini, kantorku tidak punya jam tetap. Semua rekan kerjaku berangkat sesuka hati. Tapi kalau ada yang pulang sebelum jam 4, pasti ditegur dan ditanya-tanyain. Padahal ia yang pulang itu sudah datang sejak pagi.
Doa yang selalu aku ucapkan pada pagi hari, selama beberapa bulan terakhir, adalah aku ingin mendapat pekerjaan yang bisa membantuku berkembang, pekerjaan dengan lingkungan yang sehat, kantor yang menyediakan ruang atau meja pribadi untuk pekerjanya, dan soal upah, selama itu sesuai dengan standar upah minimum di daerah itu, aku akan baik-baik saja (kecuali UMR DIY).


















