one more
Antara Cinta
Oleh: Hibahtul Utami
Gerimis deras yang hadir bersamaku sore ini, menyandera hati untuk bisa tersenyum. Di latar pos hijau ini, aku terus menunggu seseorang yang mungkin hadir atau sosok bayangannya saja. Di pos hijau inilah, dua hati yang tak saling mengetahui menjadi saling bertautan.
Tak terasa sudah angin beku yang menembus tulangku beberapa kali, ya angin beku, membekukan tulang, juga perasaanku.
“Bruuuuuummmm...”
Suara deru motor yang kencang kian keras, kian mendekat, dan kian berkurang lajunya. Pria berjaket hitam dan berhelm hitam itu berhenti tepat di depan pos hijau ini, acuh tak acuh aku memandangnya, hanya sekilas. Dia segera berlari dan duduk di sampingku, melepas jaket dan diletakkannya di bahuku, juga melepas helmnya. Enggan aku memandangnya.
“Kamu? Kamu Zain? Bagaimana bisa kamu di sini? Bagaimana bisa kamu berada di sisiku saat ini?”, tanyaku dengan ragu-ragu.
“Ya, ini Aku, Zain. Mengapa kamu begitu terkejut? Apa ada yang salah? Apa aku melakukan kesalahan?”, jawab Zain.
Aku tak mengatakan sepatah kata apapun untuk menjawab, aku tak bisa berkata apa-apa selain diam berkaca-kaca. Aku tidak kuat menahan panasnya mata, juga tidak kuat menahan bimbangnya hati. Bagaimana mungkin dia datang tanpa aku mengetahuinya? Bagaimana mungkin dia datang tiba-tiba seperti ini? Bagaimana dia datang saat hatiku mulai rapuh, bahkan akan hancur atas apa yang telah ia lakukan?
Zain sepertinya mengetahui apa yang aku pikirkan dan rasakan, dia terus menatap mataku yang berkaca-kaca dan berkata padaku.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menggantungkan hubungan kita, aku hanya ....”, kata-katanya terputus, tercekat sakit terlihat pada gerakan mulutnya. Mataku melotot memandanginya.
“Jangan berkata apa-apa!”, kataku sambil memalingkan muka.
Hening, termenung dua insan diantara kebimbangan rindu dan benci, antara senang dan amarah. Beranjak diriku dari tempatku termenung dan memberikan jaket yang dikenakannya padaku, pergi melangkah entah memikirkan apa, aku terus berjalan tanpa peduli dia menatapku pertanda JANGAN PERGI!
Bagaimana bisa aku menatapnya terlalu lama? Bagaimana bisa aku di sisinya terlalu lama? Bagaimana bisa aku bersamanya setelah apa yang terjadi? Tak ada jalan lain, sebisa mungkin aku harus menjauhinya.
Hari Minggu pagi esoknya, pergi menuju sebuah pujasera, dimana aku akan bertemu seseorang.
“Kak Al!”. Sapaku dari jauh,
“Hei Andin, cepat duduk sini.”. Sapanya juga sambil melambaikan tangan.
Segera aku duduk di kursi hadapannya, dan segera aku memesan kopi susu dan nasi goreng. Maklum belum sarapan.
“Sudah lama nunggu, Kak?”, kataku mengawali perbincangan.
“Tidak juga, 5menit sebelum kamu datang.” Katanya santai. “Bagaimana kamu dengan Zain? Apakah......?”, kalimatnya terhenti saat melihat wajahku mulai berubah. “Maaf.” Lanjutnya.
Aku hanya tersenyum menimpalinya dan mengangguk. Kupikir aku bisa lebih tenang, tetapi tetap saja, aku merasa...... ah sudahlah. Aku hanya terdiam memandang jalan sekitar sambil sesekali menyeduh kopi susu pesananku, Kak Al-pun hanya memandangku prihatin sambil menghembuskan nafas berasap nikotin.
“Kamu seharusnya tetap percaya, Andin. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan egomu, tidak hanya mengandalkan isi hati yang terbaca, tapi juga hati kecilmu, Adikku. Bagaimana mungkin kamu seperti ini? Pantaskah?” Kak Al mencoba untuk memberi aku pengertian.
“Sebuah hubungan tidak harus dengan status.” Aku kaget mendengarnya, lalu menoleh dan mulai menyimak. “Namun yang terpenting adalah, bagaimana kamu bisa percaya, bagaimana kamu bisa menjaga kepercayaan, bagaimana kamu bisa menjaga hati, bagaimana kamu bisa bersabar, bagaimana bisa selalu jujur, bagaimana, dan banyak bagaimana lagi. Tidakkah kamu mengingat komitmen yang kalian bangun dari awal?” sesuatu mengingatkanku, ya, aku teringat komitmen yang dulu pernah aku dan Zain ucapkan bersama, yaitu ‘bukan status yang kita butuhkan, tetapi perasaan yang sama-sama kita serahkan.’
“Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa , aku tidak akan kuat menjalani hubungan ini, maaf, menjalani hidup ini tanpa kejelasan.” Jawabku dengan penuh kesesakan.
“Biar kujelaskan sekali lagi, komitmen yang kalian bangun itulah fondasinya, apapun itu, kalian, khususnya kamu harus siap dengan segala resikonya.” kata Kak Al untuk mengingatkanku, lagi.
Sejenak aku berfikir, dan akhirnya.......
“Baiklah, aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku, dan aku yakin, bahwa ini yang terbaik. Aku akan pergi menemuinya, dan mengungkapkan yang tak sempat terucap” Timpalku. Aku beranjak meninggalkan Kak Al yang tengah ternganga dengan kepulan asap rokok di depan wajahnya.
Sesegera mungkin aku menghubungi Zain melalui SMS untuk memintanya datang ke tempat dimana kita bertemu untuk pertama kalinya. 15menit kemudian, pria itu datang, dia mengembangkan senyum manisnya seakan-akan aku membawa berita bahagia. Tanpa basa basi lagi, aku langsung mengutarakan apa yang tersirat dengan memunggunginya.
“Mungkin ini yang terbaik atau bisa jadi mungkin ini yang terburuk, aku tak tahu, entahlah. Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Dimana kita bertemu? Ya, di tempat sederhana ini, sebuah pos hijau yang warna catnya mulai memudar, sama seperti apa yang aku rasakan pada hubungan kita, mulai memudar.” Kulihat goresan manis di bibirnya perlahan mulai turun. “Jangan bersedih, ini bukan perpisahan kita, hanya perpisahan antara perasaanku dan perasaanmu. Aku tidak bisa selalu menunggu, kamu tahu kan, menunggu itu sakit! Beberapa bulan ini aku selalu menunggu kabar tawamu, menunggu candaan manismu, namun tak kunjung datang, apalagi hubungan kita yang tanpa status. Aku mulai berfikir bahwa aku tak perlu mengakhiri hubungan ini, toh apa yang harus diakhiri? Apa yang harus diputuskan jika dari awal tidak pernah ada kejelasan hubungan? Apa juga yang perlu dipertahankan? Biarlah perasaan ini tumbuh adanya, jangan ganggu lagi, biar mati dengan caranya. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan atas apa yang pernah kulalui, ini semua mengajarkanku arti kesetiaan, arti menunggu, dan arti pengorbanan, terimakasih juga atas jasamu, semua arti-arti itu ada berkat kamu. Senang bertemu denganmu.” Menahan sesak di dada dan juga menahan luapan emosi yang tak beraturan, membuatku terduduk, dan ‘tes’ air mataku berhasil lolos dari bendungannya.
“Mungkin aku tak banyak berkata-kata, kamu juga sudah mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang dewasa, pasti sudah bisa memikirkan semua dengan baik, aku terima, ya aku terima keputusanmu, aku terima dengan ‘agak’ ikhlas. Maafkan aku, maafkan aku.” Jawabnya dengan suara yang mulai serak.
Hening sejenak.....
“Sederhana itu cinta kita, cinta yang disatukan semesta, cinta yang ada karena Tuhan menginginkannya, ingat itu, Andin. Di tempat sederhana ini cinta diantara kita tumbuh, dan di tempat sederhana ini pula cinta kita berguguran, semoga kau berbahagia, Sayang.” Timpalnya dengan suara yang lebih serak, dan melangkah menjauh, semakin menjauh, dan pergi.
***
Sepoi angin menyapu air mata yang mengalir.
Tak sepatah katapun mampu bersuara untuk mencegahnya.
Cukup hujan yang mampu menyembunyikannya
***
�c��)�\








