Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu leba
Here is my very first mini review that gratefully written after I realize that this book got my inner child awaken after long long time trapped outside my range.
Here, Mata di Tanah Melus by Okky Madasari
Sepertinya selama beberapa tahun, ini pertama kalinya aku bisa kembali menikmati sebuah buku dengan khidmat tanpa harus merasa perlu membacanya. Iya, tak perlu membaca karena tiap kalimatnya adalah setapak-setapak yang harus dijelajahi untuk menemukan jalan pulang, seperti Mata dan Atok yang berjuang kembali ke mama masing-masing.
Rasanya, Mata dan Atok banyak sekali di sekitar kita, anak-anak dengan kapasitas mencintai dan meyakini yang luarbiasa. Okky Madasari menggambarkan dengan cukup polos gambaran-gambaran dunia dari mata seorang anak perempuan bernama Mata. Mata tumbuh di lingkungan orang tua yang memiliki kehidupan intelektual dengan mobilitas yang cukup padat. Sayangnya, kecerdasan dan segala keindahan 'ilmu pengatahuan' saja bukan hal yang cukup untum anak-anak. Buku ini berhasil menggambarkan betapa kaya sesungguhnya dunia anak-anak. Mereka dapat menemukan jawaban-jawaban sederhana berisi nilai-nilai luar biasa. Rasanya tak berlebihan kalau aku bilang Indonesia butuh lebih banyak cerita anak seperti ini. Ini adalah cerita anak dengan imajinasi dan petualangan yang luar biasa, sekaligus menampar para dewasa yang selalu bangga dengan kemampuan mereka menganalisa dunia. Sayangnya, seperti yang selalu Mata katakan mengenai kedua orangtuanya, orang-orang dewasa seringkali tak mempunyai jawaban atas pertanyaan sederhana :)
Lalu Atok? Aku sarankan kalian buat baca sendiri dan rasakan betapa moralitas, keberanian, dan penghargaan kita terhadap kehidupan mampu dikoyak oleh sosok Atok yang mungkin ada di adik kita, anak kita, saudara kita, tapi seringkali kita abaikan dan remehkan. Kids are magical, its true!