my twin
it's been months since the last hello, but I will remember March as I remember 12th of Oct, and I will remember to recite du'a for wellness in my 5 times prayer and sunnah for whom that date belongs to.
widya gladiantari

Discoholic 🪩

No title available
RMH
No title available
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie
macklin celebrini has autism
occasionally subtle

★
noise dept.
NASA
Noah Kahan
No title available

pixel skylines

roma★
Three Goblin Art

oozey mess

tannertan36
official daine visual archive
d e v o n
seen from United States
seen from United States
seen from Colombia

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Colombia
seen from Mexico
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Iraq

seen from Saudi Arabia
@heresmyjourknee
my twin
it's been months since the last hello, but I will remember March as I remember 12th of Oct, and I will remember to recite du'a for wellness in my 5 times prayer and sunnah for whom that date belongs to.
widya gladiantari
Noise
Just like any other night, I tried so hard to sleep as usual. It's hard for me to initiate sleep, and as a doctor, I diagnosed myself with early insomnia disorder. Just like any other night too, the moment I try to fall asleep was also a brief getaway from the burnout feeling, exhaustion, tension, headache, and any other negative emotions brought on by the events of the day.
I shut my eyes in that pitch-black space.
“This tranquil feeling," I thought, "is definitely calm" /sure it is calm, as it's past midnight at the moment/
“Everyone has slept, putting off their burden“, repeating me in my mind. Today's noises were finally stopped, as it is swallowed by the earth. Several hours later, they will reappear tomorrow in new yet quite identical forms.
"It's calm", I repeat in my mind.
“But, is it truly calm?”, I asked myself in a monologue. I believe everything is relative. So, "Is it truly calm?", with my closed eyes, I feel the surroundings.
“Or, Some undetected noises were present along with the noises we made throughout the day. The noise of worship from the things I never imagine could be “busy”. The plants, animals, falling leaves, stones, wandering winds, or even the air that moved at every inch of my skin. They are busy, the whole day until that night when I attempted to sleep off my exhaustion through the sleep. They are busy, as always.
"'Everyone/thing' is busy the whole day but me", argued me within my closed eyes.
"I was pursuing this and that all day, but I neglect to include Him. I'm frantic with ambition. While I was drowning in the hustle, I interrupted my day by going to sleep so that I could restart the same pattern and hustles the following morning. And the world remains there, solemnly, praising Him with an inaudible sound. On this peaceful night, despite my best efforts, the world continues to make unabating noises in praise of Him.
- Widya Gladiantari, Bekasi, Indonesia, 25/2/2022, 11.41 WIB -
Pada Umur Berapa?
Pada umur berapa kamu mulai merasa menjadi orang yang lebih tenang? Kalau ada sesuatu yang memang tak bisa kamu dapatkan, ya sudah, memang bukan takdirnya. Bersedih, sudah setelahnya, mengusahakan yang lain. Jika orang lain berbuat lalai, tidak langsung meledak-ledak marah, tapi berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi. Jika mengemudi, lebih penting selamat sampai tujuan daripada terpacu untuk cepat sampai. Pada umur berapa kamu merasa bahwa ruang privasi itu adalah hal yang sangat mewah. Dan kamu mulai sadar bahwa dalam hidup ini, mengejar mimpi memang penting, tapi memiliki teman baik, memiliki kehidupan yang tenang, pekerjaan yang nyaman, itu jauh lebih menyenangkan. Pada umur berapa kamu mulai sadar bahwa kamu telah berubah, sepenuhnya berubah. ©kurniawangunadi
2022
Ini bulan ketiga sejak 2022 datang, sudah belajar apa aku?
Belajar beberapa hal, dan yang utama hingga saat ini mungkin adalah tentang ego.
Belajar mengenali yang mana ego dan yang mana yang bukan.
Belajar mengenali yang mana yang harus diperjuangkan dan yang mana yang harus dilepas, diikhlaskan.
Masih sulit. Tapi pasti bisa. Pelan-pelan saja.
Namanya juga belajar.
WG
Process
I’ve done my best. If i fail i won’t regret. I do not lose anything.
I learn.
27/02/2022, WG
Bising
Seperti biasanya, aku berusaha tidur lagi malam ini. Sulit memulai tidur, early insomnia diagnosisku. Seperti biasanya juga, permulaan menuju tidur itu jadi pelarianku untuk menghilangkan penat, lelah, stress, sakit kepala atas semua kegiatan dalam satu hari itu.
Dalam kamar yang memang sudah gelap, aku pejamkan mataku.
Tenang sekali, pikirku. -Jelas tenang, mengingat sudah pukul 12 lebih-
Pikirku lagi, semua orang sudah tertidur, melepas lelahnya. Kebisingan satu hari ini akhirnya hilang. Seperti ditelan bumi. Lenyap untuk sekian jam, hingga akhirnya bising itu datang lagi esok hari.
Tenang, pikirku.
Tapi, apa benar tenang? Aku percaya semua hal serba relatif. Lalu sambil memejamkan mata aku rasakan sekitarku.
Apakah benar-benar tenang?
Atau, dibalik riuhnya kegiatan manusia hari ini, ada suara-suara tak terdengar. Suara-suara tasbih dari apa-apa yang aku anggap tidak “sibuk”. Tanaman, binatang, daun yang jatuh, angin yang semilir, udara yang bergerak disekitarmu. Mereka sedang sibuk, sepanjang hari bahkan hingga malam itu ketika aku berusaha melarikan diri dari kelelahan lewat tidurku. Mereka sedang sibuk.
Lalu, aku berpikir lagi. Semua sibuk, kecuali aku. Aku sibuk mengejar ini itu seharian penuh, tapi aku lupa mengingat Rabb ku dalam kegiatan itu. Sementara, saat aku melupakan Rabb-ku dan tenggelam dalam sibukku, lalu berakhir dalam istirahat untuk kemudian mengulang sibuk itu esok hari, dunia sedang bertasbih untukNya. Bahkan ketika aku berusaha memejamkan mata di suasana yang tenang ini pun, dunia sedang bertasbih untukNya.
- Widya Gladiantari, Bekasi, 25/2/2022, 11.41 WIB -
Tahun ini ibuku operasi. Lagi. Ini sudah yang ketiga kali sejak ibu didiagnosis Ca mamae 2012 lalu. Ini sudah yang ketiga kali sejak 10 tahun beliau mulai sakit. Operasi ini seperti banjir 5 tahunan, katanya.
Ketika tahu ibu akan operasi lagi, kali ini karena kista ovarium dan mioma uteri yang timbul saat ibu sudah menopause sehingga membuat dokter memutuskan histerektomi radikal melalui laparotomi eksplorasi, sedikit dalam hatiku ada rasa khawatir dan lelah. Mau sampai kapan ibu operasi lagi dan lagi. Ga bisa kah, keganasannya berenti, kenapa ada lagi dan ada lagi. Sudah mau 60 tahun umur ibuku, apakah ini akan jadi yang terakhir? Berapa banyak lagi organ yang mau diambil dari operasi. Apakah beliau akan baik- baik saja di tahun-tahun berikutnya? Apakah aku akan baik-baik saja?
Tapi berhari-hari kemudian aku pandangi ibu, akhirnya aku dapat jawabannya. Sudah cukup, untuk tahu ibu bisa bertahan di sini bersama aku, di depanku, bernapas dan sehat. Ibu bersamaku, dan aku tidak kehilangan dia, itu cukup. Aku bersyukur.
WG
Mental illness and imaan
After talking to several people, knowing their story, and ofcourse after going through psychiatry stage on my clinical rotation, I’ve got some insight, and to think of it bring me to this thought, like woow, I’m really sick to anyone who tell someone with mental illness that they lack of imaan. I am myself understand and admit that it’s really helpful for an imaan can protect someone from risky behaviour, make you feel safer and less worry about your condition or anything happened in your life or even the future because you understand it's all written and not only under your control (within the limits of human ability) but also Allah SWT control and will, etc.
But still, we can’t generalised / overjudged people with mental illness that they come to through it because of their lacks of imaan. Trust me, you don’t even know what kind of imaan state they have when they countered their mental illness, when they faced their stessors in every amount we can’t really imagine because it’s not ours. You know what, in fact, they won’t be here now so you can learn that they suffering a mental illness unless they have imaan in their heart, even if it’s just a slightest imaan, it’s still is. If not only because of their imaan, they might have choose to die, to end their pain. If not only because of their imaan, the tools they use when they do a self harm might be a lethal one other than the one they use to make them feel a little pain to cover up their real pain (that lies in their heart). So, maybe it’s time for us to rethink, to change our perspective. Because we are never on their shoes.
Widya Gladiantari, Bekasi, 23/1/22 20.44 WIB
spell of my life
1. If you patient, Allah will give what you wished. Allah will never disappoint those who put their hope in Him.
2. I’ll do it myself (i don't have to count on others -human- for my journey, my achievement, my happiness, it's a work of mine and no one responsible for it)
3. Whatever decision you make, make sure it doesn't fade up your lights
4. Allah (say His name whenever your heart feel a little bit heavy, and please continue even if your eyes shed tears, hopefully you’ll get ease soon wid)
5. Is this what I really looking for? (Say this whenever you have a will/facing some choices. Will it be beneficial for you, your iman, your deen, your parents, your family, and your surroundings?) #thought 23/01/22
6. ...
note to myself : Gonna fill the blank space time by time, no rush needed, it's a spelling sentence of my life. It do magic to my life. Every sentence should be meaningful.
-Widya Gladiantari-
“Allah is the best Listener. He hears even the very silent prayer of a sincere heart.”
Apapun asal Engkau cinta, tugas seorang hamba hanyalah tetap menghamba...
Setelah sempat bahagia di stase yang mirip-mirip bedah (re : forensik), aku masuk ke stase Hell wkwk yang kata orang-orang susah, kemungkinan lulusnya kecil (kelompok sebelumnya 50:50, maksudnya 50% lulus, sisanya taulah yaa). Stase Obstetri dan Ginekologi.
Dari awal emang udah ga nyiapin mental, yang ada sampai akhir malah denial. Kenapa aku? Aku kan udah di margono di bagian stase bedah dan anak yang juga susah untuk dilewatin dan dapat nilai bagus... Kenapa aku? kenapa ga orang lain yang dari dulu selalu dapet stase gampang, ga begitu berat, dan gampang dapat nilai bagus? Aku kan... Aku kan... Aku kaaan.... Akuuu terus...
Aku lupa harusnya aku berproses. Belajar untuk mengerti dan menerima apa-apa yang sudah ditakdirkan. Tapi, kemarin aku ga begitu. Yang ada cuma perlawanan selama 6 minggu, bahkan sampai aku ga bisa mencerna apa-apa yang aku baca meskipun aku udah paksa untuk belajar hingga H-1 ujian. Ujianku juga ga beres, jam 5 pagi -2 jam sebelum ujian- aku cek wifi kosanku yang ternyata mati pagi itu padahal malam sebelumnya baik-baik saja hingga akhirnya aku harus theatering lewat hp dan sempat hilang sinyal 2 kali selama ujian (konsulenku salty soal sinyal begini meskipun kadang beliau juga suka out karena sinyal jelek, but she wouldn’t understand anyone’s excuse). Selesai ujian aku nangis, masih denial sekaligus takut ga lulus, harus remedial, dan balik ke stase hell ini lagi. Makin lama lulus, makin tua wkwk... Sejauh ini, sesulit apapun stasenya aku berhasil lulus, tapi yang ini rasanya pesimis banget. Ketika itu, aku lupa, aku bukan cuma mahasiswa. Tapi aku juga seorang hamba, yang sudah berdoa mati-matian supaya lulus dan dimudahkan ujiannya, yang seharusnya aku tinggal berpasrah. Yang seharusnya aku percaya apa-apa yang terjadi padaku di hari ujian ataupun hasil sesudahnya adalah sebaik-baiknya takdir yang Allah gariskan kepadaku. Yang harusnya percaya, semua orang punya timelinenya masing-masing dan Allah jelas tahu apa-apa yang ada di hati hambaNya termasuk rasa gelisahku. Tapi kalau hasilnya ga seperti yang aku bayangkan atau aku inginkan, yeah that’s okay, it’s for the best, itu yang terbaik dari Allah.
Di stase ini juga aku belajar untuk jadi hamba yang upgrade levelnya, karena setiap minggu ada aja ujian dan cobaan dari pendidikan, produksi barang untuk shiftstyle, ataupun masalah pribadi. Semoga aku termasuk yang upgrade bukannya downgrade.
Karena harusnya aku tetap bersyukur, kapanpun, bagaimanapun, di manapun.
Karena apapun asal Engkau (Allah SWT) cinta, tugas seorang hamba hanyalah tetap menghamba...
/ quotes from @qoonit /
Stase Forensik Day .... Lupa :D
Hehe.. saking udah lama lewatnya aku lupa timeline forensikku. Yang jelas dulu sempat dapat beberapa kasus, yang pertama kasus ekshumasi yang udah aku ceritain sebelumnya, kedua kasus otopsi terduga kekerasan seksual yang dikerjain setelah ekshumasi pertama, ketiga kasus otopsi tenggelam sehari setelah ekshumasi pertama, ke empat dan kelima bersamaan kasus ekshumasi korban miras oplosan, keenam korban mati mendadak, dan ketujuh korban tenggelam lagi diduga korban adalah ODGJ.
Niat hati mau cerita satu-satu karena hikmah yang dipetik banyak. Tapi aku ga tau gimana ceritanya. Yang aku tahu, hati aku tersayat banget ketika otopsi seorang ibu terduga korban kekerasan seksual, ketika itu aku mendengar suara anak perempuan menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Jadi inget ibu di rumah, aku ga bisa bayangin gimana rasanya kalau aku ditinggal ibu tiba-tiba seperti anak itu, dan betapa aku bersyukur bahwa aku masih punya waktu berharga yang bisa aku habiskan sama ibu.
Atau ketika aku ekshumasi korban kekerasan miras, di situ ada keluarga korban mau melihat jenazah, ada ibu dan anak jenazah. Ketika itu, jenazah tidak dibuka langsung setelah digali dan dinaikan ke meja periksa. Kami menutup tubuhnya karena keluarga jenazah ingin melihat dan kami harap apa yang mereka lihat tidak terlalu membekas dan menimbulkan luka psikis pada keluarga terutama anak korban. Di situ, anak korban menangis sejadi-jadinya, melihat tubuh ayahnya yang tertutup kain. Aku kurang tau, bagaimana ayahnya mungkin mengasihi dia selama hidupnya, yang aku tahu ayahnya adalah korban minuman keras oplosan yang menurut kesimpulan pribadiku, mungkin dia hampir mabuk setiap hari. Tapi, anak itu masih menangisi ayahnya saat itu. Tangisannya, aku masih ingat hingga sekarang. Aku jadi berpikir, mungkin aku salah, bisa jadi ayahnya memang peminum tapi bukan berarti dia tidak penyayang hingga tidak berhak mendapat tangisan rindu dari sang anak. Hah, siapa aku berani menilai hanya dari satu dua fakta yang aku punya.
Atau ketika aku memeriksa korban mati mendadak. Korban adalah supir truk yang mati mendadak ketika ia sedang berhenti menunggu giliran jalan karena berpapasan dengan truk lainnya. Temannya -keneknya- merasa ada yang aneh karena si supir tidak kunjung bergerak meskipun truk di seberangnya sudah berlalu. Setelah diperiksa, ternyata beliau tidak sadar. Ketika aku memeriksa, aku berpikir, bagaimana keadaan keluarganya tahu orang yang sedang mencari nafkah untuk mereka tiba-tiba dipanggil Ilahi padahal tadi pagi ia segar bugar sebelum berangkat bekerja. Bagaimana perasaan si supir, meninggalkan keluarganya tanpa izin dan pamit? Bahwa kematian bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara apapun dan dalam keadaan apapun. Bahwa aku bisa saja pergi tiba-tiba tanpa pamit pada keluargaku, atau sebaliknya.
Di stase ini, aku sadar, aku punya banyak sekali orang-orang yang aku cinta dan aku ga mau kehilangan mereka. Aku sadar, aku punya waktu berharga untuk aku habiskan hingga yang tersisa cuma memori baik, dibandingkan aku terus bergumul dengan rasa sakitku dan terus membuang waktu hingga akhirnya aku sadar aku kehabisan waktu ketika orang-orang tersayangku pergi satu-satu dengan atau tanpa tanda sebelumnya. Aku belajar, rasa sayang tidak seharusnya ditahan untuk diungkapkan. Meskipun masih malu mengungkapkan langsung, aku bisa mengatakannya dengan perbuatan dan rasa peduli.
yang di atas itu, adalah salah satu alasan aku suka forensik, di mana tim ini berusaha untuk mengungkapkan keadilan bagi korban dan di sini aku sadar betapa berharganya waktu dan orang tersayang.
/Selain karena forensik bedah-bedah tubuh juga, dan orang-orang di dalamnya adalah orang-orang santai yang baik :) Aku suka forensik -setelah bedah-, dan di sini aku bisa merasakan bahagia seperti saat aku di stase bedah./
~cerita stase forensik selesai~
Istighfar is among the ways to increase wealth and means to relieve difficulty and hardships.
Ibn al-Qayyim رَحِمَ اللهُ عَلَيْهِ [Wabil al-Sayyib] (via islamic-quotes)
Stase Forensik day 2 - Ekshumasi + Otopsi
Besok kalian ikut saya ekshumasi di Pandeglang ya
Aku sudah memasuki stase ke 6 dari total 13 stase yang harus dijalani di pendidikan klinik kedokteran. stase ke 6 ini adalah stase Forensik, yang katanya kasusnya ga banyak-banyak banget di RSUD cilegon. Tapi, ternyata “kebau-an“ aku ga berhenti di stase ini hehe.. Hari pertama masuk, bahkan sesaat setelah buat grup dengan dr. Baety, Sp. FM, kita diberitahu untuk siap-siap karena besok kita akan ikut untuk proses ekshumasi. Ekshumasi adalah penggalian kubur untuk tujuan keadilan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang dan berkepentingan yang selanjutnya mayat akan diperiksa secara ilmu kedokteran forensik.
Singkat cerita, aku dan kelompokku yang isinya perempuan semua berkumpul di gedung forensik untuk berangkat bareng Pak Agus (kepala ruangan instalasi forensik) pukul 6 pagi, sudah sarapan lengkap karena kami tidak boleh makan selama perjalanan ataupun di lokasi nanti karena protokol kesehatan Covid 19, sudah membawa APD lengkap mulai hazmat, gown, face shield, handscoen, masker untuk ganti, baju ganti, dan sepatu boots.
Kami berangkat ke RSUD Bhayangkara di Serang, lalu melanjutkan perjalanan lagi bersama dr. Baety, tim DVI (Disaster Victim Investigation), dan tim lainnya dari kepolisian. Tidak langsung sampai ke lokasi, kami ke meeting point ke 2 yaitu Polsek Pandeglang, dan melanjutkan perjalanan ke lokasi dengan tim yang lebih banyak. Di situ aku menyadari kalau tim sangat dibutuhkan, bahkan untuk megurus satu individu sekalipun. Salah satu temanku berkata “Gila ya, ngurusin satu orang aja timnya sebanyak ini“. Mobil kami beriring-iringan, menyalan sirine menyisir jalanan yang sudah mulai merayap kala itu. Berasa keren jadinya ada di mobil ini haha, kayak di film-film gitu deh. No macet-macet club lah ya.
Sampai di lokasi kami mempersiapkan diri. Setelah melalui jalan yang sempit dan cukup curam, kami sampai di pemakaman. Saat itu pemakaman jadi sangat ramai oleh mobil-mobil dinas dari rumah sakit, DVI, maupun kepolisian. Seluruh alat pelindung diri sudah dipakai dari atas hingga bawah. Letak makam yang akan digali cukup jauh dari posisi parkir mobil kami, jadi kami harus jalan naik dan turun hingga akhirnya sampai di makam. Aku pikir, ketika ekshumasi disebutkan kami hanya perlu menggali makam dan membawa jenazah ke rumah sakit untuk proses autopsi. Tapi baru aku ketahui di lokasi, kalau kami juga autopsi jenazah di tempat.
Aku bertugas mencatat semua temuan, mulai dari posisi makam, kedalaman tanah, berapa banyak dan berapa panjang bambu yang menjadi penutup jenazah di makam, hingga pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam jenazah. Sehari sebelumnya dr. Baety sudah mengatakan kalau sebaiknya kami membawa minyak kayu putih untuk dibalurkan pada masker kami karena jenazah ini sudah sekitar 10 hari dimakamkan dan sudah berjalan proses pembusukan, pasti jenazahnya “harum“. Aku membawa minyak kayu putih, tapi bodohnya aku lupa memakainya, begitu pun dengan keempat teman kelompokku. Aku dan salah satu temanku berada paling dekat dengan jenazah sejak makam mulai dibuka hingga dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dan aku cukup bersyukur, mungkin karena itu juga aku jadi lebih tahan dengan keharuman jenazah tersebut karena hidungku sempat beradaptasi. Beberapa temanku yang mendekat ke jenazah setelah jenazah dibaringkan di atas meja periksa tidak tahan dengan baunya karena hidungnya tidak sempat beradaptasi.
Masih jelas sekali, kain kafannya sudah bercampur dengan tanah dan cairan hasil dari pembusukan tubuh. Tubuh jenazah sudah memerah, atau bahkan menghitam di beberapa tempat. Wajahnya sudah tidak dapat dikenali karena proses pembusukan lanjut. Tulang rawan yang membentuk hidung dan mulutnya sudah tidak dapat menegaskan bentuk wajahnya. Bau “harum” makin menyeruak, rasanya sangat menyengat menembus maskerku yang sudah 3 lapis (masker medis, N95, dan masker medis) ditambah face shield di depannya. Pak Agus dan Pak Mul bilang kalau tidak pandemi mereka biasanya tidak memakai masker. Hmmm... Anggota kelompok kami hanya bisa senyum-senyum dan saling melempar pandang satu sama lain.
Terima kasih untuk momen itu, aku jadi muhasabah diri, sering merasa insecure terhadap kekurangan fisik, merasa kurang ini dan itu, aku sering lupa aku masih diberikan yang terbaik oleh Allah, aku masih bisa bernapas, masih bisa melihat yang indah-indah (termasuk jalan dari masuk pintu gerbang makam hingga lokasi makam), masih bisa mendengar (alhamdulillah bukan suara-suara gaib), masih bisa berjalan, menggunakan kedua tangan, berpikir dengan otak, dan lain sebagainya. Aku yang masih sering insecure merasa kulitku kok warnanya coklat, jadi merasa lebih bersyukur aku punya pigmen kulit yang bisa mewarnai kulitku. Jenazah ini ataupun jenazah manapun, atau bahkan diriku sendiri saat nantinya membumi, akan putih juga karena pigmen kulitku akan terdegradasi sehingga semua jenazah pasti kulitnya putih.... pucat...
Singkat cerita setelah ekshumasi dan otopsi ini kami diberitahu bahwa ada kasus otopsi lagi di Rumah Sakit, jadi kami tidak langsung pulang tapi kami pergi otopsi lagi dan pulang pukul 10.00 WIB malam. Dari kasus ini aku juga dapet pelajaran, nanti kita cerita lagi ya :) Semoga apa-apa yang ditulis di sini bisa jadi insight baru yang positif bagi yang membaca.
I WILL START OVER AGAIN
Am I done / clear with myself?
Baru aja dengerin podcast Islamic Histories tentang seorang tokoh, namanya Zahra Lari, seorang muslimah atlet ice skating. Dari podcast beberapa menit itu aku menyimpulkan, Zahra bisa sukses dengan apa yang diusahakannya selain karena komitmen yang tinggi untuk berlatih, dia juga sudah clear tentang apa yang ingin ia raih atau capai.
Di usia 11 tahun dia sudah tau ingin jadi apa dan bagaimana meraihnya. Terbukti, meski terbilang terlambat untuk berlatih ice skating di mana atlet-atlet lain mungkin memulai di usia 3 atau 4 tahun, Zahra memulai di usia 11 tahun. Tapi dia tidak putus semangat, di usia 11 tahun dia membeli semua tahun-tahun yang ia lewati tanpa latihan dengan berlatih 7 jam per hari sejak hari di mana ia memutuskan akan serius di bidang ice skating. Bukan sesuatu yang mudah menurutku, menghabiskan waktu hampir 1/3 hari, setiap hari, itu komitmen yang besar dan membutuhkan ke-istiqamah-an yang sangat kokoh.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana dengan kamu, sudahkah kamu selesai dengan dirimu sendiri? Are you clear with yourself?
Hujan tidak tahu ke mana ia harus menebar berkah, sampai ia bertemu angin yang membawanya ke tujuan. Yg hujan tau, Ia harus jadi semurni-murninya air, hingga ketika nanti ia turun ke bumi, Ia jadi berkah yang sepenuhnya.
WG