Aku terbiasa mendapat inspirasi untuk menulis saat berada di dalam kereta dan selanjutnya akan menuliskannya. Biasanya bukan kereta pagi yang aku naiki, tapi kereta malam. Aku hanya beberapa kali menaiki kereta pagi. Pagi tadi, aku dan seorang kawanku memasuki gerbong 5 kemudian mencari tempat duduk kami. Telah sampai pada tempat duduk barisan 17, 17 A dan 17 B. Tapi disitu telah ditempati oleh pasangan lanjut usia. "Permisi Pak, Bapak nomor dimana duduknya?", tanya kawanku pada Bapak tua. Kemudian seorang anak muda yang duduk di di barisan 18 menjawab, kalu pasangan tua itu seharusnya duduk dibarisan 18, dan anak muda tadi di barisan 17 bersama kami. Akhirnya pasangan tua itu disuruh pindah oleh seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah anak dari pasangan tua tersebut. Lelaki tua tadi segera berpindah akan tetapi tidak dengan perempuan tua nya. Ternyata mata perempuan tua itu tidak dapat lagi berfungsi untuk melihat. Akhirnya aku mengatakan, "ya sudah, ibu disini saja, bertukar dengan anda" kataku pada anak muda tadi. Tapi kata perempuan paruh baya yang tidak lain adalah anak perempuan tua itu, agar ibunya tetap berpindah biar tidak repot. Akhirnya dengan pergerakan yang sedikit lambat, perempuan tua itu berpindah. Perjalanan sudah memakan waktu satu setengah jam. Perempuan tua itu meraba-raba kantong plastik yang tergantung didepannya. "ini makanan kita?", tanya perempuan itu. Dan dijawab oleh suaminya bahwa itu makanan mereka. Ternyata perempuan itu ingin makan, akhirnya diambillah makanan itu oleh anaknya dan diberikan kepadanya lengkap dengan sendoknya. Aku melihat bahwa bekal makanan mereka adalah nasi dengan ayam dan mie goreng. Aku yang duduk tepat di depan perempuan tua itu memperhatikannya. Karena ia sangat kesusahan untuk makan, terkadang sendoknya terbalik sehingga ketika samapi dimulut tidak ada makanan yang dapat dimakan, saat sendok tidak terbalik pun kadang tidak menghasilkan nasi ataupun mie. Melihat hal itu, aku berinisiatif untuk menyuapinya. Aku meminta izin kepada anaknya, yang duduk di seblah bapaknya. Karena kebetulan perempuan itu duduk tepat didepanku maka mudah bagiku untuk melakukannya. Akan tetapi tidak diizinkan oleh anaknya, katanya itu sudah biasa dan nanti pasti habis. Akhirnya akupun menyerah untuk membantunya. Akhirnya aku kembali membaca buku yang sejak tadi sedang aku baca, buku my life my adventure karya Ahmad Rifa'i Rif'an. Saat itu aku baru memulai bab baru " Tak pernah putus harapan", aku baru membaca judulnya. Dan aku menghentikan membacaku. Aku tiba-tiba teringat pada perempuan tadi. Ia tak dapat melihat lagi namun tak mengeluh karena tak ada nasi yang dapat masuk kemulutnya, tapi harus bekerja keras untuk mengambilnya. Tidak menyerah dan setelah itu perempuan tadi menggantinya tidak menggunakan sendok akan tetapi menggunakan plastik agar dapat meraba makanannya. Akhirnya nasinya pun sedikit demi sedikit termakan dan akhirnya habis lengkap dengan lauknya. Aku yang sejak hari kemarin sedang dalam kegundahan besar karena hasil ujianku tidaklah sesuai dengan apa yang aku harapkan. Dimana aku rasa usaha ku sudahlah maksimal. Aku terpikir, mugkin selama ini aku hanya berusaha dengan cara yang salah dan tidak mencoba cara lain yang lebih efektif. Aku mungkin memang telah bekerja keras tapi cara yang ku tempuh tidaklah efektif. Mungkin ini jawaban atas petanyaanku selama ini, kenapa usahaku tak sebanding dengan hasil. Bukan maksud mengingkari ketentuan Allah. Aku paham, itu semua mudah bagi Allah. Tapi dibalik itu pasti ada hal yang menjadi penyebab. Mungkin juga sebenarnya usahaku memang belumlah maksimal. Mungkin maksimal itu hanya menurut versiku. Mungkin juga Allah sedang mengujiku. Mungkin juga Allah sdang memberi peringatan. Ah banyak kemungkinan.. Yang penting jangan mengeluh. Karena dengan mengeluh keadaan akan tetap sama,, tak berubah sama sekali. Bukannya mempercepat penyelesaian maslaah, energi kita justru makin terkras dengan segala keluhan kita. Daan jangan pernah perbutus asa dari rahmat Allah. Masalah hidup kadang adalah bentuk kasih sayang Allah pada hambaNya. Daan, hidup itu seperti sepeda, untuk tetap seimbang kita harus terus bergerak. Jadi tetap Semangat wahai diri... Dalam rangakaian kereta Jakarta - Kebumen, 18 Februari 2016 08:52