"Kenapa kamu ga bahas game lokal aja daripada komik lokal?"
Pertanyaan tersebut dilontarkan teman kuliah magisterku. Kami berdua sama-sama membahas permasalahan dunia komik lokal dengan dua sudut pandang berbeda. Dia membahas masalah dunia penerbitan komik lokal dan aku membahas masalah akses dan penyebaran komik lokal. Kami sama-sama mengalami langsung dunia komik lokal dan merasakan struggling-nya. Aku pun yang awalnya membahas minat baca sesungguhnya membahas masalah dunia komik Indonesia juga, tepatnya IP. Aku mempertanyakan kenapa IP lokal sulit sekali berkembang atau dihargai. Aku pikir "mungkin karena minat bacanya kurang", tapi ternyata pada akhirnya, semuanya masalah akses dan penyebaran. Masih banyak yang bertanya-tanya "memang ada komik lokal yang bagus?".
Sejak kecil aku menyukai dunia ACG (Animation, Comic, and Game). I was so into them and wish to be part of them. Walaupun mungkin mimpiku tidak sepenuhnya terwujud, aku tetap menjadi bagian darinya. Dari ketiga itu, yang akhirnya menjadi "panggilan" jiwaku adalah Game. Ever since I found Odin Sphere, the moment that game is for my soul. Aku tetap memantau dunia animasi dan komik juga. Tetap memantau animasi unik dan niche dari berbagai negara, membaca beragam genre komik. Akan tetapi, game yang menjadi jiwaku. Yang kemudian, aku tergabung dan menjadi admin di komunitas game yang cukup besar, yaitu Maintendo. Dari situ, aku bisa membandingkan bagaimana eratnya dunia game lokal walau masih terbilang kecil.
Lalu, saat aku menceritakan ke teman magisterku kalau aku merupakan admin komunitas game Nintendo tersebut, ia pun melontarkan pertanyaan tersebut. Lalu, aku menjawab "game Indonesia is thriving, meanwhile comic Indonesia is struggling". Game Indonesia sudah ada yang masuk nominasi kancah internasional, yaitu A Space for The Unbound (ASTFU). Game tersebut dikenal dan diberikan penilaian secara genuine melalui platform Steam. Dari mulut ke mulut, melalui penilaian platform, kemudian event yang selalu memberikan tempat untuk promosi game lokal, sehingga akhirnya game tersebut dimainkan banyak orang. Tak cuma ASTFU, ada beberapa game lokal lain yang berhasil meraup keuntungan melalui berbagai platform.
Tak cukup sampai situ, industri game internasional juga selalu memberikan tempat kepada "game indie", seperti Indieworld Showcase. Termasuk The Game Award yang memberikan nominasi dan membuka untuk game dari berbagai negara. Secara industri, game indie pun juga lebih diterima karena memberikan pengalaman game yang berbeda daripada game AAA dan harga yang lebih terjangkau. Game Indonesia yang masuk ke dalamnya pun ikut kecipratan. Yang membuatku merasa "game Indonesia bisa maju tanpa bantuanku."
Sedikit berbeda dengan dunia animasi Indonesia. Animasi memiliki strategi yang jelas berbeda dengan game juga. Animasi dan game sama-sama memerlukan studio dan banyak orang yang membantu proses pembuatan dan penyebarannya. Walau juga ada kemungkinan keduanya dilakukan oleh solo atau perorangan, seperti yang terjadi pada Stardew Valley yang hanya dipegang satu orang. Namun, ada satu perbedaan lain. Game sudah ada Steam yang memberikan kesempatan indie menjual gamenya (thank you, lord Gaben!). Animasi? Paling mentok media sosial yang mendukung video atau gambar bergerak dan itupun harus melawan algoritma. Kalau "beruntung", kamu bisa terkenal dan dapat duit. Untuk bisa survive di dunia animasi, harus mencapai TV dan Bioskop yang sudah jelas perlu dana besar dan backing yang kuat. Walaupun begitu, paling tidak, animasi Indonesia sudah cukup dikenal variasinya dan sudah ada Jumbo yang diperhatikan di kancah internasional. Jadi, paling tidak, animasi dan game lokal masih cukup maju dibanding satu saudaranya lagi, yaitu komik.
Komik lokal punya potensi, I know it! Yang jadi masalah bukan soal "tidak ada cerita yang bagus", "gambarnya jelek-jelek", "panelnya jelek", etc etc. NO! That's not it! Yang jadi masalah itu akses penyebarannya. Platform webcomic tidak memberikan support buat komik-komik yang baru mulai atau dari beda negara. Penerbit komik fisik apalagi, tidak memberikan dukungan pada komikus yang baru bangun nama. Ada beberapa yang berusaha cukup membantu, seperti event Peskom di Bandung dan Comipara di Jogja. Sayangnya ya baru dua itu. Ada influencer dan komunitas yang memperkenalkan komik lokal. Tapi, secara pergerakannya juga masih terbilang belum benar-benar memajukan komik lokal.
Khususnya lagi pemerintah. Peran pemerintah sangat penting dalam memajukan sebuah industri. Industri manga maupun webtoon sama-sama maju karena didukung pemerintahnya. Pemerintah saat ini "ngakunya" sedang berusaha mendukung dunia ACG karena dari yang mereka pantau dunia tersebut sedang mengalami perkembangan pesat dan menghasilkan uang (alasanku juga membandingkan keadaan dunia animasi dan game di Indonesia. Pada kenyataannya, pemerintah tidak benar-benar mendukung dan lebih sering menghambat perkembangan. Di dunia game pun sering terdengar cerita masalah dari pemerintah, sesimpel masalah game kit yang tertahan di beacukai sehingga developer harus pusing mengurusnya. Dan seperti yang dibahas sebelumnya, game dan animasi sudah cukup lebih maju dibandingkan komik.
Komik tidak punya platform seperti Steam, Playstore, atau Appstore yang memberikan kemudahan akses. Komik juga tidak punya satu channel khusus seperti TV ataupun bioskop. Penerbit lokal tidak memberikan dukungan dalam promosi ataupun soal bagi hasil. Event game pun terlihat lebih solid dalam menyuarakan dukungannya kepada sesama gamer yang menjadi pembuat game. Berbeda dengan event komik yang kebanyakan, ujung-ujungnya, harus mempromosikan dirinya sendiri. Belum lagi dari segi medianya. Komik pada dasarnya berbasis gambar dan cerita saja. Berbeda dengan animasi yang selain gambar dan cerita juga memiliki musik dan voice acting. Lalu, game yang bisa dianggap sebagai puncaknya, memiliki semua hal tersebut, ditambah gameplay, immersive-nya, dan replayability-nya. Pada akhirnya, komik jadi tertinggal dua saudaranya.
I really love comic! You can't tell me otherwise. I was wishing to make comic, I wrote story for comic, my art project for bachelor degree is comic, my friends knew how much I love comic. I teach comic, I've been a comic judge for some comic competition too. Comic will be always part of mine. That's the one of very reason I want to help them. In the end, the only way comic to develop is to rebuild from the very ground, the very core. I hope someday Indonesian Comic will be thriving. I just share my two cents...














