Jadi selama pandemi ini alhamdulillah dikasih full WFH yg berarti work from home dan juga wife full in home whehehehee. Sebagai orang yg ekstrovert, agak cranky juga aku karena ga ketemu temen2 secara langsung dan kalau mau jalan2 terbataaaaas bingits. Mungkin supaya ga gila gegara kerjaan dan hal2 lainnya, sebaiknya aku menulis kali ya. Biar suatu hari bisa menertawakan kekrenkian aku beberapa bulan ini.Â
Beberapa bulan ini ku yakin adalah momen yang emezing buat hampir semua orang. Harus menerapkan kebiasaan baru, ada yang rezekinya sedang dialihkan-ke-bentuk-yang-lain, ada yang kehilangan keluarganya, melewatkan momen2 berharga yang telah ditunggunya sejak kapan-tau. Semoga Allah anugerahkan kelapangan dan kekuatan dalam hati kita untuk ridho atas ketentuanNya ini~
Untuk adaptasi, qadarullah, aku bukan hanya harus adaptasi dengan 1 kebiasaan baru, tapi 3 :âD Sejak Maret pekan kedua mulai himbauan untuk kerja di rumah, menerapkan protokol kesehatan, dsb. Sejak April pekan pertama, alhamdulillah mengemban amanah baru menjadi seorang istri (ehehehehehee). Adaptasi sama orang baru dengan segala macam sifatnya, 24 jam full bersama (karena kita berdua wfh) cukup menantang juga sekaligus menyenangkan sih ehehe. Lalu 2 bulan kemudian Allah titipkan benih cinta dalam rahimku :â)) eehhee ko jadi geli sendiri yak.Â
Aku dan suami memang tidak berencana menunda momongan, tapi pas tahu positif aku kagets juga kek kek ga nyangka gimanaaa gt. Selama ini udah sering persiapan keilmuan tentang seni-mencintai-diri, seni-mengenali-orang-lain, tentang ups-and-down pernikahan sampe parenting, tapi tentang kehamilan...... hmm aku blank sekali wkwk :â) Awal tahu hamil sebenernya sempet belum mau sebar2 kehappyan dulu ke keluarga, karena ada peluang hamil anggur dan blighted ovum yang baru bisa ketauan di pekan ke sekian. Udah gt dipekan pertama telat haid, sempet keluar flek kayak haid, ngerasa biasa aja, bukannya istirahat, si heidy ini malah jalan2 keliling Thamrin City karena saking bosennya, nice. Untuk cek kehamilan pertama, kita pergi ke bidan deket rumah aja. Walaupun ga di USG, bidan meyakinkan aku dan suami bahwa hasil test pack itu akurat, ngasih wejangan untuk menjaga kehamilan, termasuk bahaya flek, dan dikasih vitamin.Â
Beberapa hari berjalan, ada kerjaan kantor yang bikin lembur yang berbuah lemes dan flek. Akhirnya cek lah ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilan, alhamdulillah kantung janinnya terlihat, tapi janinnya belum. Degdegan juga kan .--. dikasih obat penguat kandungan dan disuruh cek lagi 2 minggu ke depan. Aku juga dikasih surat izin cuti selama 10 hari full untuk bedrest. Lama juga ya hee. Tapi emang selemes itu. Mual2 walau cuma liat HP, lemes, kayak sakit2 pas haid tapi lebih greges lagi. Jadi sedih sendiri, kenapa aku egois sekali mikirin kerjaan, sedangkan aku ga ngasih porsi diri untuk istirahat karena sekarang efeknya bukan cuma ke aku, tapi ke dedek janin juga. Masa-masa ini jadi super mellow deh. Jadi inget kisahnya Nabi Yunus yang ditelan ikan paus, kalau bahasa Qurannya, mengalami 3 kegelapan. Aku merasa saat itu aku juga berada dalam selimut2 âkegelapanâ. Kegelapan karena wabah yang beredar, terkurung di-rumah-aja, dan harus istirahat di kamar aja. Subhanallah, memang ada aja caraNya biar bikin hambaNya ini bermuhasabah dan kembali padaNya :â
Selama aku bedrest, alhamdulillah suami koorperatif sekali :â) Handle hampir semua pekerjaan rumah, merawat aku dengan sabar, bahkan kalau aku lagi manja pisan, dia mau suapin aku ehehehe. Setelah 2 pekan, kami ke dokter kandungan lagi untuk memastikan kondisi kandungan. Buk dokter gerak2in alat USG itu untuk mencari lokasi janin dan detak jantungnya. Beberapa kali geser, janinnya sudah kelihatan tapi beliau bilang âSaya ga menemukan detak jantungnya ini buâ. Mataku udah mulai berkaca-kaca, tapi hatiku yakin âNak kamu baik-baik aja kaan, iya kaaanâ. Beberapa detik kemudian buk dokter bilang âOh ini ada detak jantungnya bu, yang gerak2 ituâ. Sontak hatiku berteriak, alhamdulillah, mamak tahu kamu masih disana nak :â)) Lalu buk dokter ngasih resep obat dan wejangan lainnya, diantarnya tidak boleh kecapean karena sudah ada riwayat flek.
Jadilah selama beberapa bulan ini, semua energiku ku alihkan untuk adaptasi super-kebiasaan-baru :âD yang berdampak pada kurangnya interaksi sosial, ekspektasi2 dan target2 karir. Boro2 mikirin acara resepsi yang ketunda tapi semua biayanya udah masuk ke vendor dan gabisa dibalikin :âD Pengen gitu bulan madu kemanaaa gt, ngidam ngidam pengen ini itu, tapi harus melipatgandakan kesabaran dulu. Sekarang lebih merhatiin makanan, kudu sehat, porsi kerja kantor harus diefektifkan, kerjaan rumah mulai dibagi sm suami, pikiran harus diupayakan positif, daaan lain2. Alhamdulillah âala kulli hal...
Gimana kisah adaptasi kebiasaan baru versi kamu? :)