I don't care what is going to happen, all I care is you're right beside me when I'm getting through all of these. I wish.
Game of Thrones Daily

No title available

No title available

blake kathryn
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price

JBB: An Artblog!

tannertan36

Janaina Medeiros
TVSTRANGERTHINGS

izzy's playlists!
Show & Tell
almost home
Monterey Bay Aquarium
Keni
noise dept.

Origami Around

Product Placement

shark vs the universe

seen from T眉rkiye
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from France
seen from Russia
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@holachicasychicos
I don't care what is going to happen, all I care is you're right beside me when I'm getting through all of these. I wish.
Walaupun masih jadi deadliner, Alhamdulillah masih bisa lulus di level 8 ini. Mohon maaf buat yang merasa terganggu dengan postingan saya akhir-akhir ini yang terkesan seperti nyepam. Suka banget dengan review level 8 ini yang menyadarkan saya ingin menjadi orang bermental apa dalam menggunakan rejeki, bermental kayakah? Atau bermental miskin? Ciri cashflow orang bermental miskin: Pengeluaran pertama adalah untuk memenuhi hak diri sendiri, baru hak orang lain (misal cicilan hutang), hak untuk Allah (apabila ingat), dan sisanya (apabila ada) baru ditabung atau untuk investasi. Sedangkan cashflow orang bermental kaya memiliki prioritas: 1. Hak Allah (zakat, sodaqoh, dll) 2. Hak orang lain (cicilan hutang) 3. Menganggarkan untuk investasi atau tabungan (bukan sisa) 4. Memenuhi kebutuhan diri sendiri Orang bermental kaya lebih suka berbagi meski pendapatannya sedikit, sedangkan orang bermental miskin lebih berharap menerima meskipun pendapatan mereka sudah mencukupi. Sebenarnya biaya hidup itu murah, yang mahal adalah gaya hidup. Lalu, ingin menjadi orang bermental seperti apakah kita?
Cerdas Finansial #10
Sebagai seorang istri, mencari nafkah bukanlah kewajiban utama saya. Maka dari itu segala aktivitas yang menghasilkan pundi-pundi rupiah saya anggap adalah hobi yang dibayar atau sekedar mengisi waktu luang. Apalagi saat ini saya mungkin sedang berada di masa terluang dalam hidup saya sejak kuliah. Jadi saya saat ini sedang sibuk mencari kesibukan. Pada dasarnya saya orangnya nggak bisa nggak produktif. Saya bakalan merasa bersalah jika saya hanya menghabiskan waktu saya dengan leyeh-leyeh di kasur, menonton tv nggak jelas, atau scrolling timeline sosmed berjam-jam.
Saya pun ingat pesan ibu saya,"Jadi istri itu kalau bisa juga punya penghasilan sendiri, sehingga kalau pengin shopping atau me time nggak perlu menghabiskan uang belanja dari suami." Saya pun sangat setuju dengan pernyataan ini. Saya memang berniat untuk menjadi wanita karier, tanpa melupakan kewajiban saya sebagai istri dan ibu (nantinya). Ibu is my number one role model. Ibu sudah bekerja sejak sebelum beliau menikah sampai sekarang. Tapi ibu tidak melalaikan kewajiban utamanya. Bisa dilihat bagaimana jadinya anaknya sekarang, hhe hhe 馃榿. Semoga saya bisa menjadi seperti beliau nantinya yang cekatan dalam mengurus rumah tangga (termasuk keuangannya) dan pekerjaannya.
Penghasilan Tambahan (5)
Di tahun berikutnya, saya sempat ragu-ragu apakah akan menjalankan bisnis yang sama. Masalahnya adalah adik kelas saya yang baru masuk memiliki kurikulum ang berbeda dari saya. Jadi otomatis saya tidak bisa menawarkan buku-buku yang sudah saya buat. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba. Namun pertama saya harus observasi dulu bagaimana materi perkuliahan di kurikulum yang baru ini. Saya pun bertanya kepada salah satu adik kelas saya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, saya pun memodifikasi latihan-latihan soal menyesuaikan dengan kurikulum yang baru.
Sayangnya, animo adik kelas yang baru ini tidak sebanyak yang dulu. Bahkan ada beberapa buku yang tidak terjual. Padahal saya selalu mencetak sesuai dengan pesanan. Alhamdulillah saya tidak sampai mengalami kerugian.
Akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan bisnis ini. Selain karena saya akan masuk koass, cukup sulit bagi saya menyesuaikan dengan kurikulum baru.
Saya pun beralih ke usaha lain, yaitu membuka jasa translate. Berawal dari kesuwungan saya dan tim KTI karena kebetulan kami sudah selesai sidang duluan. Kami pun berusaha membantu teman-teman untuk mentranslate abstrak mereka dengan biaya hanya 5000/abstrak.
Dari situlah saya menjadi freelance journal translator sampai sekarang. Ada kesenangan tersendiri saat saya bisa membaca jurnal2 ilmiah, mentranslatenya, dan mendapat uang dari situ. Ya saya anggap sekalian belajar juga kan katanya jadi dokter itu harus update ilmu, salah satunya dari jurnal ini.
Penghasilan Tambahan (4)
Kalau printer, lain lagi ceritanya. Mungkin printer itu kecapekan setelah mengeprint ratusan lembar kertas. Ditambah teman-teman saya tidak punya printer yang mumpuni. Saya pun harus memperbaiki printer saya dengan biaya yang cukup mahal, sekitar 400ribu karena harus ganti cartridge. Dari masalah ini saya jadi belajar berbagai merek printer dengan kelebihan dan kekurangannya. Belasan malam saya pun terpaksa tidur sangat larut karena harus mengeprint. Yah karena pakai printer rumahan, jadi tidak bisa ditinggal.
Akhirnya usaha kami berbuah hasil. Kami bertiga bisa melunasi tanggungan iuran kami. Bahkan masih ada sisa keuntungan yang kami bagi bertiga.
Saya semakin menyukai bisnis ini. Di semester berikutnya saya membuat buku jilid kedua. Demi mendapatkan hasil produksi yang lebih bagus, saya pun membeli printer baru yang harganya 3x lipat dari printer saya sebelumnya. Saya pikir gakpapa modalnya besar, yang penting awet dan hasilnya bagus. (Tobe continued)
Penghasilan Tambahan (3)
Saat saya masih kuliah, ada suatu kegiatan yang bernama danus/fund raising. Karena banyak kegiatan mandat angkatan yang membutuhkan dana cukup banyak, masing-masing dari kami harus iuran. Nah iuran itu bisa kami ambil dari uang kami sendiri atau bisa juga dengan cara danus. Macam-macam cara danus yang dilakukan, antara lain jadi taksi dadakan, jualan makanan, hingga berjualan buku.
Saya bersama kedua teman saya memilih cara yang terakhir. Kami membuat buku kumpulan soal-soal latihan pretes disertai pembahasannya yang dijual kepada adik kelas. Ide ini merupakan pengembangan dari latihan-latihan soal yang sudah pernah saya buat sebelumnya. Kebetulan mata kuliah yang satu ini cukup sulit, maka animo adik kelas untuk membelinya cukup besar.
Danus ini merupakan project besar bagi kami. Kami harus membuatnya dari nol. Meminta ijin kepada dosen, menyusun buku, mencetak, menjilid, dan memasarkannya. Kali ini saya tidak bisa menjilid sendiri karena bukunya cukup tebal.
Proses pembuatannya pun menemui beberapa hambatan, yang cukup membuat saya pusing adalah laptop dan printer saya tiba-tiba rusak. Saat proses pembuatan naskah, lcd laptop saya tiba-tiba mati, gelap. Padahal saat itu saya harus mengikuti camp dan berencana membuat naskah sembari nge-camp. Akhirnya saya mengetik di tablet. Walaupun agak peer karena layarnya yang sempit, saya tetap berusaha menyicil buku tersebut. Kadang saya juga meminjam laptop teman untuk mengerjakannya.(to be continued)
Penghasilan Tambahan (2)
Jangan dibayangkan bisnis percetakan yang saya geluti adalah percetakan besar untuk mencetak buku, kaos, spanduk, dll 馃槄
Percetakan yang saya maksud disini adalah membuka jasa print2an dengan printer rumahan. Sebagai mahasiswa yang bahan kuliahnya adalah slide dosen, maka bisnis ini dulu cukup menjanjikan, apalagi saat itu teman2 yang ngekos belum punya printer. Harga yang saya berikan juga lebih murah dibanding harga ngeprint di fotocopyan.
Bisnis ngeprint ini kemudian merambah ke pencetakan latihan-latihan soal praktikum. Saya terinspirasi dengan kakak-kakak kelas saya yang lebih dulu berjualan latihan-latihan soal tersebut. Saya pun memodifikasi dan mengupdate latihan soal tersebut agar berbeda dari edisi sebelumnya. Dari proses pembuatan, promosi, pencetakan, hingga penjilidan saya lakukan sendiri. Bahkan saya membeli stapler besar seperti di tukang fotocopyan untuk menghemat biaya produksi.
Saya menyadari, saya tidak pandai dalam hal marketing. Saya nggak bisa nawar-nawarin barang. Maka dari itu saya berjualan sesuatu yang pasti akan dibutuhkan oleh target pembeli, bukan berjualan misal fashion item yang belum tentu semua orang butuh.
Penghasilan Tambahan
Sedari kecil saya selalu ingin berbisnis. Apapun itu, saya pikir sepertinya keren jika saya bisa punya uang dari keringat sendiri. Namun, apa daya, saya bukan berasal dari keluarga pebisnis, sepengetahuan saya tidak ada saudara saya yang berprofesi sebagai pengusaha, paling ada beberapa yang membuka toko untuk penghasilan tambahan. Kalau iklan tokopedia pasti bilangnya "udah mulai aja".
Maka sejak kuliah saya mulai berbisnis kecil-kecilan. Pertama, saya jualan makanan kecil karena saat itu di kampus belum ada kantin. Setiap hari saya mengambil kue di tetangga saya yang kemudian saya taruh di lobby kampus. Sistem jualannya adalah kantin kejujuran. Karena itu, tak jarang terjadi kejanggalan, kuenya habis tapi uang yang ada di kotak tidak seberapa. Tapi pernah di lain waktu uangnya berlebih. Saya pikir mungkin yang beli waktu itu baru membayar sekarang. Namun, setelah beberapa kali mengalami kerugian, saya putuskan untuk tidak meneruskan berjualan kue. Sepertinya saya kurang cocok dengan bisnis yang satu ini.
Saya pun mencoba peruntungan lagi di bidang lain, yaitu percetakan.
Pengin atau Butuh?
Sejak menikah, saya selalu berkonsultasi pada suami jika saya ingin mengeluarkan uang untuk hal-hal yang bukan kebutuhan pokok, misalnya beli baju, buku, makeup. Biasanya saya akan bilang "Mas, aku beli ini yaa." Ditambah dengan alasan-alasan pendukung, seperti "Mumpung diskon Mas/online shop ini dapetinnya susah banget Mas, harus rebutan/aku dapet tanda tangan penulisnya lho,dsb". Harapannya dengan ditambah alasan-alasan tersebut, suami akan mengijinkan. Lalu beliau akan balik bertanya pada saya "Kamu butuh apa pengin?" Yaa saya bilang jujur aja, kalau memang butuh, saya bilang butuh, kalau memang pengin, saya bilang pengin. Saya tau beliau tanya seperti itu agar saya introspeksi diri sendiri, kira-kira benar-benar perlu nggak barang itu dibeli. Seringnya, saya tetep beli sih, karena saya punya semacam limit untuk diri saya sendiri, misal beli buku 1x dalam sebulan, beli makeup hanya kalau memang belum punya atau yang dipunyai sudah habis, beli baju hanya yang diskon atau limited edition dengan harga terjangkau. Namun saya merasakan perubahan dari awal menikah dan sekarang. Kalau dulu saya pengin beli apa yaudah beli aja, toh pake uang saya ini, nggak minta uang ortu lagi. Kalau sekarang, walaupun tetep pake uang saya sendiri, saya jadi lebih mikir, saya beneran butuh atau cuman pengin?
Cerdas Finansial #3
Apapun itu, yang paling sulit adalah istiqamah. Termasuk dalam hal mencatat segala transaksi keuangan. Ini adalah masalah terbesar saya. Seringkali saya lupa sehingga terlewat untuk mencatat pengeluaran pada hari itu. Untuk menanggulangi hal tersebut, saya selalu meminta struk belanja yang kemudian saya simpan di dompet. Maka seperti kebanyakan ibu-ibu, dompet saya menjadi tebal 馃槄. Setelah 1 minggu, atau setelah saya merasa dompet sudah terlalu tebal, saya pun melakukan bersih-bersih dompet. Selanjutnya, saya merekap kembali pengeluaran dalam satu minggu.
Cerdas Finansial #2
Untuk memudahkan mencatat semua transaksi keuangan, saya menggunakan aplikasi smartphone. Sudah bermacam-macam aplikasi yang saya gunakan, karena sampai sekarang saya belum menemukan aplikasi yang benar-benar cocok dengan saya. Saya telah mencoba expense manager, goodbudget, tripbudget, sampai terakhir ini clevmoney. Expense manager sejauh ini adalah yang paling cocok, kekurangannya menurut saya adalah aplikasi ini akan mengakumulasi sisa uang dari bulan sebelumnya, sehingga saya tidak bisa tahu berapa sisa uang saya sebenarnya dalam 1 bulan. Selanjutnya saya beralih ke goodbudget, bagusnya aplikasi ini adalah kita bisa menginput budget untuk setiap section pengeluaran, sehingga kita bisa tahu pengeluaran kita melebihi budget atau tidak. Namun, kekurangannya adalah tidak bisa melihat perbandingan resume transaksi setiap bulannya.
Akhirnya bulan ini saya mencoba clevmoney, saya belum tahu apakah aplikasi ini sesuai dengan keinginan saya. Ya semoga saja begitu.
Cerdas Finansial #1
Akhirnya saya mendapatkan game yang paling sesuai dengan kondisi saya saat ini. Game level ini sangat menarik bagi saya karena katanya istri itu adalah menteri keuangan rumah tangga.
Bapak pernah berkelakar, kalau saat makan di luar yang bayarin si cowok berarti masih pacaran, kalau sudah menikah ya yang bayarin ceweknya. Maka dari itu, sejak malam pertama kami menikah, mas suami langsung memberikan seluruh uang yang ada di dompetnya pada saya. "Ini kan sekarang kamu yang pegang ya, kan udah jadi istri", katanya.
Setiap bulan saya pun dikirimkan uang, sebagian besar untuk kebutuhan saya sehari-hari, karena kebutuhan mas sudah dipenuhi oleh perusahaan tempat ia bekerja. Pertama kali saya diberikan uang adalah saat saya sedang kompre di Brebes. Jadi saya justru merasa seperti anak kos yang diberikan jatah uang bulanan oleh orang tuanya. 馃槄
Yang jelas perbedaan besar yang saya rasakan adalah setelah menikah saya jadi lebih mikir kalo mau mengeluarkan uang, takut uangnya nggak cukup sampai akhir bulan. Soalnya kan nggak enak kalo minta lagi sama suami dan sebagai pembuktian diri kalau sebagai istri saya mampu mengelola keuangan dengan baik.
Aliran Rasa
Setelah ini mungkin saya dan mas suami akan memiliki kegiatan yang membuat mata kami berbinar-binar. Meskipun hal itu masih akan terjadi beberapa bulan lagi, tapi segala sesuatu untuk mempersiapkannya pasti akan menyita banyak waktu dan perhatian kami. Excited, nervous, joyful, insecure, semuanya jadi satu. Akankah kami berhasil melakukan kegiatan tersebut? Akankah saya mampu mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari di IIP selama ini? Apapun hasilnya, yang jelas kami berdua sudah sangat bersyukur bisa mempraktekkannya. Bismillah....
Hari 10
Sampai saat ini saya masih mencari kegiatan apa yang membuat mata saya dan mas suami berbinar-binar. Dengan sifat dan karakter kami yang berbeda, memang belum banyak kegiatan yang bisa kami lakukan bersama-sama, apalagi dengan status LDM. Saat mas suami cuti, otomatis beliau menjadi "pengangguran", sedangkan saya yang suka mencari2 pekerjaan akan sibuk sendiri. Umur rumah tangga kami juga baru seumur jagung, masih banyak hal yang belum kami explore berdua. Yah semua kan butuh proses.
Hari 9
Melanjutkan cerita bermain keyboard. Jadi awalnya saya yang bermain, mas suami yang menyanyi, karena memang suaranya bagus apalagi kalau nyanyi lagu melayu atau campursarinya didi kempot. Logat dan cengkoknya pas banget.
Beliau menjadi penasaran dengan alat musik satu ini. Kalau untuk bermain dengan tangan kanan, beliau masih bisa. Tapi kalau sudah digabung dengan tangan kiri, cukup membingungkan katanya. Saya pun mengajari chord dasar. Kemudian dilatih satu tangan satu tangan. Saat saya bermain tangan kiri, beliau tangan kanan, begitu juga sebaliknya.
Nah giliran memakai kedua tangan, beliau masih merasa kesulitan. Ya memang semua butuh waktu sih. Pianist terkenal seperti Joey Alexander pasti berlatih beribu-ribu jam agar bisa sehandal sekarang ini. Saya pernah membaca kisah pianist dari Korea yang memiliki jari tangan hanya 3 pada setiap tangannya. Permainan pianonya sangat keren. Ternyata ia berlatih 10 jam setiap harinya.
Ya memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asal kita mau berusaha dan terus berlatih.
Hari 8
Kali ini saya ingin bercerita hal yang membuat mas suami berbinar-binar, yaitu bermain keyboard.
Sudah lama sekali saya tidak menyentuh keyboard di rumah sampai berdebu. Ketika akhirnya saya punya waktu cukup luang, iseng saya bermain lagi. Bermain keyboard selalu membuat mata saya berbinar-binar. Walaupun saya nggak begitu pandai mainnya, ya cuman buat hiburan aja. Sekalian menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan.
Saya pun bercerita pada mas suami kalau saya main keyboard lagi. Eh waktu beliau cuti dan menginap di rumah ortu saya, beliau jadi pengin ikutan main. Kalau dalam bidang musik, saya akui mas suami memang lebih jago. Saat karaoke bareng aja saya sempet minder karena suara saya fals. Beliau kebetulan juga bisa bermain gitar, tapi sayang gitarnya sudah rusak. Alhasil malah beliau yang mengambil alih keyboardnya. Asyik sendiri mencet2, seperti anak kecil yang baru pertama kali main keyboard.
Hari 7
Masih melanjutkan tentang buku. Saya memiliki impian ketika saya punya anak nanti saya akan memperkenalkan buku padanya sedari kecil. Apapun yang anak saya ingin menjadi di masa depan, dia harus punya modal awal yaitu mencintai buku.
Nah saya sadar bahwa anak itu memiliki sifat mencontoh orang dewasa di sekitarnya. Jadi kalau saya ingin anak saya suka membaca, saya dan suami harus mencontohkan pribadi yang suka membaca. Hal ini menjadi tantangan bagi mas suami.
Maka dari itu saya mencoba menstimulasi dia sedikit-sedikit. Misal dengan menceritakan novel yang sudah saya baca. Merubah sifat orang dewasa memang susah, tapi tidak ada kata menyerah demi kebaikan bersama.