Etiket dalam Bermasalah
Sebenarnya udah lama banget gue pengen ngepost ini, sekalian pengen ngisi blog yang sudah lama diangguri juga sama sesuatu yang sangat random. Jadi, sepertinya sekarang saat yang tepat karena udah banyak banget yang numpuk di kepala. Banyak kejadian yang gue alami selama beberapa tahun ini, tapi menurut gue kejadian ini adalah salah satu yang paling unik, dan paling bikin gue muak kali ya (muak itu bahasa kasar, tapi emang begitu adanya).
Kejadian ini terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya di salah satu hari penting di agama gue yang memberikan banyak ujian hidup, salah satunya ini. Kejadian yang menyimpulkan bahwa: dalam marah pun ada etikanya. Beruntungnya, kejadian ini terjadi di dunia maya, bukan dunia nyata.
Mungkin gue akan menceritakan kejadiannya secara (sedikit) singkat. Terjadi pada salah satu bulan terpenting di Islam (baca: Ramadhan), tepat di hari pertama. Mungkin ini bisa gue bilang: ujian dalam hari pertama Ramadhan.
Sepulang tarawih, gue mendapat beberapa notifikasi dari sebuah aplikasi sosial yang sangat digandrungi oleh gamers (kalo gue bukan gamers, cuma ingin menambah lingkaran sosial budaya aja). Sungguh mencurigakan sampai gue bertanya ada apa. Salah satu user membalas untuk melarang saya tidak masuk dulu ke grup tersebut karena ada orang yang mencari saya dengan marah-marah karena suatu kesalahan yang saya lakukan kepadanya. Marah-marah? Yup, marah-marah pemirsa. Ceritanya, ketika beberapa orang sedang mengobrol dengan asyiknya dan sebagian hanya menyimak, tiba-tiba masuklah salah satu user (dan 3 buntutnya) ke ruang obrolan itu dengan marah-marah mencari orang yang sudah mengetahui identitas pribadinya. Padahal dia tau kalau itu gue dan lucunya, gue gak ada di ruangan itu. Well, lucu dan bodoh, kalo gue bilang.
Flashback, benar, gue sudah mengetahui identitas pribadi user itu, hasil pencarian sederhana yang didapat dari Google yang bermula dari diskusi antara gue dan seorang user lainnya. Hal itu terjadi 2 minggu lalu, dan sempat dibahas oleh kami di ruang obrolan umum (bersama 2 orang lainnya), tapi gue pribadi tidak mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Dan teman gue yang satunya memberi tahu akun salah satu sosmed paling mainsteram ke dua orang lainnya (dan tidak ada apapun yang bisa dilihat dari situ kecuali foto profilnya yang merupakan foto masa kecilnya) dan nama aslinya, yang juga, yaudah gitu doang. Dan setelah itu tidak ada sama sekali yang membahasnya, apalagi menyebar.
Nah kembali lagi ke 2 minggu setelahnya, di waktu dimana orang ini marah-marah. Setelah ditahan sama beberapa orang untuk tidak masuk ke dalam ruang obrolan itu, karena dimungkinkan akan terjadi ledakan yang masif, tapi bukan bom TNT. Awalnya gue turutin, tapi setelah dipikir, rasanya lebih menenangkan kalau didenger saat ini juga. Yasudah nekat saja masuk ke ruang obrolan itu. Benar saja, gak lama kemudian, orang ini (dan 3 buntutnya) langsung masuk secara bersamaan. Waw, amazing sekali. Tanpa tedeng aling-aling, langsung saja orang ini mengeluarkan amarahnya yang tidak tersaring lagi.
Gue yang mendengar amarahnya hanya bisa diam, karena, sebagai orang yang punya temperamen lumayan tinggi, cara menanggapi orang yang amarahnya membludak yaitu dengan: diam dan dengarkan hingga amarahnya selesai. Ditambah, pahami apa maunya. Dan kalau emang sanggup, turuti aja. Lalu selanjutnya, apakah orang itu akan mendengar sudut pandang dari target yang dia marahi? Nah, jawabannya ada di cerita ini.
Selama mendengarkan amarahnya, yang gue tangkep adalah:
Asumsi gue sudah menyebarkan semuanya ke semua orang di grup dan gue sudah mengetahui segala hal pribadi dia dari data dia yang termasuk paling pribadi.
Gue sudah melakukan doxing.
Karena asumsi gue sudah mengingat (bahkan menyimpan dan menyebar) data sensitif dari orang ini, gue dituduh akan melakukan tindakan kriminal.
Mengancam akan membuka data pribadi gue balik.
"MATI AJA LO!" umpatnya sebelum tepat pergi meninggalkan ruang obrolan itu.
Tanggapan gue setelah dia pergi, "Lho, kok pergi?"
Oh iya, ada yang sedikit lucu dan annoying kali ya. Di sela-sela orang ini mengeluarkan amarahnya, salah satu buntutnya muncul dan mengajari gue bahwa gue melakukan doxing. Isi pikiran gue, "Yang harusnya marah itu kan orang ini ya, guna buntutnya ikutan bunyi itu buat apa?"
Gak lama kemudian, orang ini masuk ke ruang obrolan lagi, dan masih mengeluarkan amarahnya, walaupun tensinya udah menurun. Setelah mengeluarkan amarahnya, akhirnya gue mendapat kesimpulan: Orang ini menginginkan permintaan maaf dari gue. Yang lucu, buntut lainnya berkata⦠Ā
"Kak, lo ga ada niatan minta maaf apa?"
Isi pikiran gue: apasih ini orang, eh buntut maksud gue. Mana suaranya kayak Tweety lagi. Urusannya apa coba 2 buntut ini mencoba menjadi penengah konflik. Eh iya yang lucunya lagi, orang ini bilang bahwa 2 buntut ini adalah sahabat yang baik. Sahabat!? Eat some buffalo's ass, dude.
Anyway, that's easy. Only say sorry, tho. Yasudah, kulakukan saja dengan minta maaf. Karena ada salahnya juga sih gue: tidak bisa mengendalikan mode intel gue dengan baik. Daripada masalah makin panjang dan runyam, ya selesaikan saja dengan minta maaf.
Setelah itu, orang ini juga ikutan minta maaf (setelah menerima maaf dari gue) kepada orang-orang yang mendengarkan atas amarah yang sudah meledak sebelumnya. Lalu tak lama kemudian, orang itu, dan ketiga buntutnya, satu persatu pergi meninggalkan ruang obrolan.
Let me ngasih tanggapan dari beberapa poin amarah orang ini:
Menyebarkan semuanya ke semua orang di grup dan gue sudah mengetahui segala hal pribadi dia dari data dia yang termasuk paling pribadi.
Seperti cerita gue, gue hanya bercerita hal ini sedikit lebih rinci dengan satu orang dan bercerita garis besar (tanpa spill data asli) ke 2 orang lainnya. Cuma kan, namanya juga asumsi orang itu sendiri, yaudah jadi isi dia dan pikirannya sendiri.
2. Gue sudah melakukan doxing.
Disgusting, dikata gue pemain internet kemarin sore kali jadi gak tau doxing itu apa. Dia dan bersama 2 buntut lainnya (1 buntut lain bisanya nangis doang) merasa menjadi ahli definisi doxing terhebat, padahal itu istilah udah ada beberapa tahun lamanya dan gue tau istilah itu karena suka baca di Quora beberapa tahun sebelumnya.
3. Karena asumsi gue sudah mengingat (bahkan menyimpan dan menyebar) data sensitif dari orang ini, gue dituduh akan melakukan tindakan kriminal.
Faktanya, bahkan gue tidak berminat sama sekali dengan data sensitifnya itu, bahkan dilihat saja tidak. Apalagi disimpan, tidak ada gunanya! Gue malah menertawakan dia yang upload dokumen sensitifnya ke publik tanpa menggunakan password atau sejenisnya. Justru yang dia pikirkan adalah peluang oknum lain yang akan melakukan penipuan, apalagi di platform itu sudah mulai menjamur penipu.
4. Mengancam akan membuka data pribadi gue balik.
Gue sempet bilang, "Silakan." Karena gue tidak pernah menjadikan diri gue 'anonymous' di dunia maya. Tinggal googling nama gue, dan muncul segala halaman media sosial, blog, sampai hal receh-receh yang memunculkan nama gue. Karena basically, I'm not anonymous and never claimed myself as an anonymous person.
5. "MATI AJA LO!" umpatnya sebelum tepat pergi meninggalkan ruang obrolan itu.
Padahal pengen gue kirim alamat rumah gue ke dia, in case gue pengen dibunuh beneran. At some cases, I have no idea why I should live (except for survive).
Kembali ke judul, etika dalam marah-marah. Nah, hal yang gue pelajarin disini adalah, selain kalo tau profil orang ya jangan sampe orang yang ember itu ada, yang gue pelajarin adalah:
Kemarahan, atau masalah jenis begini, seharusnya langsung marah aja ke target utama, alias "Kalo lo emang marahnya ke gue, ya tinggal cari waktu aja buat ngomong atau marah sama gue. Mau marah ampe suara habis kek, mau misuh ampe seisi kbun binatang keluar kek, aman semua. Ya karena marah dengan orang yang tepat dengan permasalahan yang jelas. Disitu pasti gue 100% juga salah (walaupun asumsi orang itu juga salah sih).
Nah, karena yang terjadi adalah orang ini pertama kali marah dengan orang lain yang gak tau urusannya apa, dan mengganggu suasana yang awalnya juga gak ada keributan apapun. Gue berpikir: Orang ini kalau marah apa emang kebiasaannya kayak begini ya? Yang lebih lucu lagi, seolah-olah semua orang tahu masalah dia, atau masalah sama gue adalah masalah kriminal yang bisa dipidana. Padahal mah, gak ada yang tahu--dan gak ada yang peduli juga. Instead of merasa bersalah, ya yang gue tangkap adalah orang ini sengaja ingin memalukan gue di depan publik supaya orang melihat gue sebagai orang yang sangat jahat karena sudah melakukan kejahatan dengan orang itu.
Ditambah lagi, tidak adanya kesempatan gue untuk bisa ngomong. Oalah, ya bisa gue tangkap orangnya kayak begini. Heran terkadang orang kayak gini kok ada yang mau ya. Yah, kata orang, jodoh itu misteri.
Thank God, orang-orang lainnya yang masih ada di ruangan itu memberikan kesempatan gue untuk menjelaskan kejadian dari sudut pandang gue (dan lebih beruntung karena ada temen gue yang juga ikut mencari info itu, gue berpikir kalau gak ada dia, mungkin juga gue udah dicap sebagai penjahat kali ya). Akhirnya, mereka masih mau berkomunikasi dengan gue hingga saat ini. Dan terima kasih juga sih, mungkin karena hal itu menjadi salah satu faktor ruang obrolan grup itu menjadi hampir tidak ada kehidupan.
Selain itu, yang gue pelajarin selanjutnya adalah: mempelajari sifat orang lain. Terima kasih, karena kejadian ini, sedikitnya gue tahu sifat mereka, dan tentunya gue juga tahu sekali apa yang harus gue lakukan.
Tujuan gue ngetik ini di blog ini, selain mengisi postingan setelah beberapa tahun, adalah ingin membuang kekesalan gue dan ingin lepas dari itu semua. Yup, to be honest, karena gue tidak bisa mengeluarkan emosi yang sesungguhnya, akhirnya hanya bisa disimpan aja di dalam pikiran. Dan mungkin dengan hal ini, semua yang di pikiran terkait hal ini bisa terbuang (en de personen, ook).












