Ada banyak hikmah yang bisa gw ambil dari gerakan 411 kemarin (feel so sad that I was not able to join because thatâs exactly the day when I had to submit my forecast for November month huhuhuhu *:(((((* )
Pertama, gw belajar bahwa as the agent of Islam, you need to have a courage to explain what was happening. Bukan hal yang di luar prediksi lah bahwa gerakan 411 kemarin akan menimbulkan berbagai persepsi dan respon, baik dari teman-teman kita sesama muslim maupun teman-teman non muslim. Thus, menurut gw, kita, sebagai agen Islam, wajib untuk berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa niat dari gerakan ini, dan kenapa kita harus melakukan gerakan ini. Ini agar supaya teman kita yang belum paham bisa menjadi paham, yang sempat berburuk sangka, jadi terluruskan prasangkanya. I do not know, tapi interpretasi gw adalah gerakan 411 ini adalah gerakan Bela Qurâan. Kita sebagai umat Islam wajib marah apabila ada komentar-komentar tak perlu (seperti komentar Pak Ahok) tentang Al-Quran dilayangkan ke publik. Gw, berpikir dari sudut objektif manapun, ga bisa memahami kenapa Pak Ahok harus banget bahas-bahas kitab suci agama orang lain. Aneh aja menurut gw, sehingga wajar lah umat si empunya kitab suci marah. Yah, well, walaupun pasti juga ada yang niatnya politis di gerakan kemarin (misal mengharap agar gerakan ini akan dapat menggiring opini publik untuk ga-milih-Ahok :p), tapi yah hellooooo, ga usah naif lah kita bahwa ga ada tunggang-menunggang dalam setiap pergerakan massa, apa pun temanya, hehe. Tapi, intinya, gw setuju sama Pak Banu, bahwa gerakan kemarin itu adalah asap (akibat). Apinya (penyebabnya) ya statement Pak Ahok, and I think nobody can deny it. Ya, bayangkan sebaliknya aja, apabila kitab umat Kristen dikomentari oleh orang lain, apa iya para umat Kristen diam aja? Enggak kan?
Kedua, gerakan kemarin adalah momen yang tepat untuk mem-filter kembali teman-teman kita dan kita cukup tahu aja orang seperti apa teman-teman kita, dan kembali meneguhkan hati kita tentang siapa yang harus menjadi teman baik kita hehe. Kalau boleh jujur, gw agak kecewa sama beberapa teman gw yang dari pagi pokoknya menuliskan status yang intinya bilang bahwa orang-orang yang lagi melakukan aksi adalah orang-orang yang ga punya kasih. Intinya menghinakan orang-orang yang sedang melakukan aksi. Yaampun, gw sedih. Yaaaaaa, gw ga bisa mengontrol bagaimana orang lain berpendapat, tapi gw cukup tau aja. Menurut gw, di negara yang heterogen, saling menghargai antar umat beragama itu penting. Gw, selama hidup ga pernah menghina agama orang lain dan umat beragama lain, sehingga gw merasa, tidak menghina agama orang lain adalah sesuatu yang do-able, sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan. Setidaknya, sedongkol-dongkolnya, at least ga perlu lah berkomentar negatif tentang umat beragama lain. Thatâs why, ketika melihat teman-teman gw masih ada yang menghina umat Islam, gw kecewa aja. Dalam hati gw, âBener sih memang, lo ga perlu gw jadikan teman dekat.â Hahahha. Tapiiiiiiiii, gw ga mau menghabiskan waktu untuk baper sama kelakuan teman-teman tak worth it seperti mereka karena orang-orang seperti mereka do not deserve to be my friend at first place, so I just let them go, they are black listed! Hehehhe.
Ketiga, ini yang paling penting, buat yang menganggap bahwa gerakan kemarin itu semacam gerakan sekelompok orang (which is umat Muslim) sedang melindungi Al-Quran (dimana melindungi itu identik dengan persepsi bahwa yang dilindungi itu adalah sesuatu yang lemah), maka jangan pernah kita lupa bahwa bukan demikian konteksnya. Al-Quran tuh ga butuh kita untuk membela-bela dia. Dia sudah mulia, dia sudah dilindungi oleh Yang Maha Melindungi, justru kita yang butuh untuk membela Al-Quran karena gampang bagi Allah menggantikan kita dengan kaum yang lebih baik, kalau kita gabut sebagai hamba. Itâs very easy to swap us away, :)
Semoga kita selalu semakin cinta sama Islam dan berani bergerak membela agama kita, ga hanya diam, pasif, nrimo. Bergerak melakukan aksi bukan cerminan bahwa kita adalah orang yang tidak terpelajar, tidak intelek, dan suka tarkam, tapi itu adalah aksi yang sah-sah saja. Hal yang normal menyalurkan aspirasi melalui aksi di negara demokrasi. Jangan alergi sama aksi. Kita harus berani bergerak, turun ke jalan, untuk sesuatu yang kita cintai. :)