Belajar Parenting dari 4 Role Model
Beberapa hari yg lalu habis ikut kajiannya Ustadz Bendri Jaisyurrahman tentang Qur’anic Parenting. Beliau hanya mengambil satu ayat saja untuk diterangkan, tapi dari ayat tsb ibrohnya banyaak banget yg bisa diambil. Rasanya sayang banget kalo disimpen sendiri catatannya dan ga dishare.
Oiya sebelumnyaa, yg perlu diingat adalah parenting bukan hanya bagaimana mendidik anak, tapi sebenarnya lebih ke bagaimana mendidik diri menjadi orangtua.
Allah berfirman dalam QS. Ali-Imran ayat 33 :
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan Nuh dan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran atas sekalian bangsa-bangsa”
Diantara manusia, ada 4 role model yg dapat dijadikan rujukan dan kita ambil hikmahnya. Mungkin ada yg bertanya-tanya, kenapa Nabi Muhammad tidak disebut dalam ayat tsb? Sebenarnya Nabi Muhammad termasuk dalam ayat ini yaitu dalam kalimat aala Ibraahim (Keluarga Ibrahim) melalui garis keturunan Nabi Ismail.
Ayat ini memberikan beberapa kesimpulan:
Ternyata ayat ini tidak menggelari Nabi Adam dan Nabi Nuh dengan aala (keluarganya). Nabi Adam dan Nabi Nuh hanya digelari sebagai sosok individunya saja. Tidak ada gelar keluarga. Sementara Nabi Ibrahim dan Imran digelari aala (keluarganya). Aaala Ibraahiim wa aala Imraana.
Ayat ini juga memberi isyarat bahwa:
1. Ada orang-orang yg kita pelajari sebagai sebuah contoh bagaimana membangun keluarga yg ideal, namun ketika dirasakan tidak tercapainya tujuan yg diharapkan maka fokuslah perbaikan diri sebagaimana Nabi Adam dan Nabi Nuh yg keluarganya tidak digelari, tapi dirinya diangkat sebagai salah satu manusia yg terbaik.
2. Untuk menjadi keluarga yg terbaik sebagaimana Nabi Ibrahim dan Imran, memliki beberapa syarat. Dimana syarat-syarat ini bisa kita pelajari untuk membina keluarga termasuk untuk pasangan dan anak. Syarat-syarat inilah yg dimiliki oleh keluarga Nabi Ibrahim dan Imran
3. Ayat ini secara fair menjelaskan bahwa sebuah keluarga disebut terbaik bukan karna statusnya sbg seorang Nabi, karna Imran bukanlah seorang Nabi. Sementara Adam dan Nuh yg merupakan Nabi tidak diberikan gelar aala.
Lalu, apa saja syarat keluarga terbaik?
Syarat pertama: Memiliki pasangan yang baik.
1. Adam memiliki pasangan yaitu Sayyidati Hawa. Hawa adalah wanita yg cantik. Dalam sebuah hadits, Hawa mengambi separuh kecantikan di muka bumi ini, seperempatnya milik Sarah, seperempatnya lagi dibagi ke wanita sejagat. Hawa merupakan wanita yg baik dan mulia.(syarat pertama terpenuhi)
2. Nabi Nuh memiliki istri, Namanya Wailah. Wanita yg menolak ajakan dakwah Nabi Nuh, dan menjadi musuhnya (syarat pertama gagal)
3. Keluarga Nabi Ibrahim. Menurut cerita yg masyhur, Ibrahim memiliki 2 orang istri yaitu Sarah (namun sebenarnya Nabi Ibrahim memiliki 4 orang istri). Sarah diberi hadiah oleh Raja Fir’aun yaitu seorang pembantu yg bernama Hajar . Sarah ditakdirkan oleh Allah tidak memiliki keturunan bahkan mandul yg disebut dgn ‘aqiima.
Dalam Al-Qur’an ada 2 jenis kemandulan: ‘aqiima (mandul yg tidak mungkin untuk hamil), dan ‘aaqira (mandul yg tjd akibat penyakit) spt istrinya Zakaria. Tradisi orang-orang Arab jika tidak bisa memberikan keturunan, maka ia meminta suaminya menikah dengan pembantunya. Ini salah satu cara wanita Arab menjaga harga dirinya. Maka Hajar diminta menjadi istri Ibrahim, poligaminya atas permintaan Sarah.
Tapi ternyata justru kecemburuan Sarah muncul saat Hajar hamil. Akhirnya Ibrahim membawa Hajar pergi dari Sarah untuk kondisi psikologisnya. Kemudian Ibrahim pergi ke daerah Madyan, disana ia kemudian menikah dengan Qanthuroh. Setelah itu beliau pergi lagi ke arah Yaman dan menikah dengan Hajun binti Amin.Istri-istri Nabi Ibrahim merupakan wanita-wanita yg shalihah. (syarat pertama terpenuhi)
4. Imran memiliki istri bernama Hana. Wanita yg mulia, saat hamil ia memiliki nadzar yg luar biasa yaitu ingin menjadikan anaknya sebagai Muharraran. (syarat pertama terpenuhi)
Dari syarat pertama, hanya Nabi Nuh yg gagal memenuhi.
Syarat Kedua: Memiliki Keturunan/Anak yang Baik
1. Nabi Adam memiliki anak yg bernama Qabil, spt yg kita ketahui ia melakukan dosa besar yaitu membunuh saudaranya sendiri (syarat kedua gagal)
2. Nabi Nuh memiliki anak yg kafir, kekufuran sesuatu yg hina di sisi Allah. Nabi Nuh memiliki lima anak yg bernama Syam, Ham, Yafiz, Yam/Kan’an, dan Abir. Abir ini anak bungsu yg wafat sebelum terjadi banjir bandang. Anak Nabi Nuh yg keempat mengabaikan ajakan ayahnya dan tidak mau beriman. (syarat kedua gagal)
3. Nabi Ibrahim, memilik banyak anak dan dua yg dikenal adalah Ismail (Isma: didengar, il: tuhan= Tuhan mendengar do’anya). Sementara Ishaq (artinya tertawa, Sarah terpekik tertawa krn tidak menyangka ia hamil ). Ismail digelari sebagai ghulaamin haliim (anak yg sabar). Sementara Ishaq digelari sebagai ghulaamin ‘aliim (anak yg cerdas). (syarat kedua terpenuhi)
4. Imran memiliki anak perempuan yg bernama Maryam. Ia bukan hanya wanita shalihah tapi juga wanita terbaik. (syarat kedua terpenuhi.
Syarat Ketiga : Memiliki Generasi Ketiga/Cucu yang Baik
Nabi Ibrahim memiliki cucu yg bernama Ya’qub, Ya’qub bahkan sampai cicitnya Yusuf disebut sebagai manusia yg mulia. Rasul dlm sabdanya menyebutkan, “Al-Karim Ibnul Karim, Ibnul Karim, Ibnul Karim” (orang mulia, anak orang mulia, cucu orang mulia dan cicit orang mulia)
Imran memiliki cucu yg kita ketahu Nabiyyulah Isa a.s. Ia menyebutkan dirinya sebagai manusia yg paling diberkahi dimanapun ia berada.
Syarat untuk menjadi keluarga terbaik ada tiga, disinilah target pengasuhan. Parenting dalam Islam tidak hanya bagaimana menjadi orangtua, namun bagaimana nanti menjadi kakek-nenek/grandparenting. Bagaimana keimanan ini tidak hanya sampai anak saja, namun juga turun temurun sampai ke cucu bahkan cicit.
Ibroh yg dapat kita ambil dari keempat role model yg Allah sebutkan adalah :
1. Dari Nabi Adam, kenapa bisa menjadi manusia yg terpilih? Mengapa istrinya baik, anaknya pembunuh tapi Allah masih memilihnya sbg manusia terbaik?
Ini menjadi pelajaran, terkadang kita merasa diri sudah baik, pasangan sudah baik, tapi anak melakukan dosa. Pelajaran yg kita terima adalah, bahwa kita harus memahami adakalanya hidayah itu bukan milik kita, tapi milik Allah.
Ilmu parenting tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tapi juga memohon kepada Allah supaya tidak takabur, karna kita tidak bisa menjamin anak mendapatkan hidayah dari Allah.
Dari ayat ini dpt kita simpulkan, dlm pengasuhan tidak dituntut hasil. Inilah pembeda Islamic parenting& western parenting, tidak fokus kepada hasil, tp fokusnya ke proses yg paling penting. Urusan hasil adalah urusan Allah. Selama orangtua sudah berusaha mengasuh anak dgn baik, namun anak tidak sesuai harapan. Di akhirat, orangtua akan dihisab atas usahanya. Allah Maha Tahu usaha tsb sungguh-sungguh sehingga tidak dianggap gagal.
Nabi Adam tetap dimuliakan karena Nabi Adam mempunyai sifat yg membuat Allah begitu mencintainya. Sifat yg harus dimiliki orangtua, yaitu I’tiraf. Nabi Adam tdk pernah menyalahkan pihak luar atas apa yg terjadi pada dirinya, termasuk pd anaknya. Saat Allah mengeluarkan Nabi Adam dari surga,ia tdk pernah dlm doanya menyalahkan iblis, nabi Adam justru menginsafi dirinya. (QS.Al-A’raf: 23). Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa penting sekali memiliki sifat: tidak mudah menyalahkan pihak luar , dan justru mengevaluasi diri.
2. Dari Nabi Nuh mengajarkan arti sebuah proses. Usahanya mendakwahi anak dan keluarganya tanpa putus asa, bahkan di saat banir bandang sudah datang ia masih mengajak anaknya untuk beriman.
3. Dari Nabi Ibrahim dan Imran : kita pelajari 2 role model keluarga.
Ibrahim adalah seorang Nabi, Imran bukan seorang Nabi. Tidak usah merasa minder, kitapun bisa mewujudkan keluarga terbaik. Hal ini dibuktikan oleh keluarga Imran
Ibrahim berpoligami, Imran monogami. Dalam islam, poligami ada ilmunya. Keluarga yg terbaik adalah yg terjaga.
Keluarga Ibrahim full parent, saat mengasuh anak ia dan istrinya masih hidup. Sementara Keluarga Imran single parent, Imran wafat saat Maryam masih dalam kandungan.
Ibrahim sering mengembara. Sementara pengasuh anak Imran adalah Zakaria yg stay at home dan mengawasi Maryam
Ibrahim memiliki anak banyak, Imran tunggal
Ibrahim smua anaknya laki-laki. Imran anaknya perempuan. Dari modul ini, mendidik anak laki bisa merujuk ke ibrahin dan perempuan ke Imran
Kata ustadznya, ini baru pengantar dari ilmu parenting yg beliau kasih. Luar biasa banget ya belajar jadi orangtua tuh :”
Walaupun diri ini belum punya anak wkwk mari sedikit demi sedikit nyicil teori daan doakan ya semoga nanti bisa mengimplementasikannya hehe