Out now!! E&I
occasionally subtle
RMH

No title available
d e v o n
Phantogram Three
Cookie Run:Kingdom Official!

Product Placement
The Bowery Presents
Fieri Frames
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily
taylor price
Claire Keane

PR's Tumblrdome

Discoholic 🪩
todays bird
cherry valley forever
🪼
No title available

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Germany

seen from Spain

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from Finland

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Italy
@iamretnodwi-blog
Out now!! E&I
Cinta tak pernah tersentuh kata. Out now ya. From sudden rain chapter one. Only on wattpad. #iamwriting
Time to fall word. #iamwrite #onchapter6 Right.now
IT MEANS: DATE Kayaknya gue jatuh cinta deh sama kakak lo." Yang dikatakan Cleo itulah yang membuat Asti rela berbagi cerita tentang kakak laki-laki satu-satunya itu. Tentang Sastra Amidjaya yang pintar diatas rata-rata namun jauh lebih hidup jika sedang memasak. Dari semua saudaranya, Asti mengaku bahwa Sastra adalah satu-satunya yang bisa memasak. Padahal, semua kakaknya itu perempuan. Masakan biasa versi Sastra pasti terasa luar biasa bagi Asti dan kakak-kakaknya. Lantas dia bertanya dalam angan, kalau makanan biasa aja rasanya luar biasa, lantas masakan spesial rasanya seperti apa? "Gak bisa diungkapin. Pernah makan soufflé buatan dia? Itu.... " Asti memberikan dua jempol ke hadapan Cleo. Matanya berbinar. Mulutnya mengembangkan senyum lebar. Nada suaranya menyiratkan rasa bangga. "Souffle itu sodaraan sama truffle?" katanya kemudian. Ingat bahwa pemuda itu menjanjikan truffle pada jumpa pertama. Omong-omong, sekarang sudah lebih dari dua bulan dari saat dia menumpahkan caramel macchiato di baju koki pemuda itu. "Eh?" Asti terkejut. Matanya yang penuh binar hilang tergantikan oleh ketercengangan. Dia hanya mengerjap-ngerjapkan mata. "Lu belum pernah makan soufflé?" kata perempuan bermata hitam cerah--yang sama seperti Sastra--itu. Dia meringis. Dengan otomatis tangannya menggaruk-garuk kepala. Malu. Dia lebarkan senyum canggungnya. Asti berdecak. "Ck ck ck, camilan lu cang-ci-men sih. Gak ngerti kan tuh sama keik-nya orang Eropa." Jadi, soufflé itu adalah kue panggang bolu yang berisi krim kental cokelat. Berbentuk nyaris seperti kue kukus. Kue itu akan terasa nikmat jika kalian langsung memakannya setelah keluar dari oven. 90 detik adalah jangka waktu soufflé itu selepas keluar dari oven. Setelahnya, dengan perlahan-lahan kue itu akan memupus dan dingin lembek. Dan truffle, itu adalah camilan. Gula-gula cokelat bulat berisi campuran krim dan cokelat. Kulit pelapis cokelat itu pahit--Sastra mengatakan itu karena bahan permukaan itu dari bubuk kakao pahit--dan sangat pas dengan ganache--sebutan untuk isi cokelat itu--yang manis. Melumer dalam mulutnya. Menyesakki lidahnya dengan rasanya yang membuatnya mendesah bahagia. "Wah... Wah... Wah... Gak susah ternyata ya, buat kamu seneng." itu komentar Sastra saat mendengar desahannya. Mereka berada dalam apartemen pemuda itu. Hampir 4 jam setelah pertemuannya dengan Asti tadi pagi. Ini hari Sabtu, dia libur sekolah. Maka dari itu, pemuda itu mengundangnya ke apartemennya guna melunasi hutang truffle yang dijanjikan pada pertemuan yang usai. "Hahaha... Gak bisa dipungkiri. Aku memang cewek gampangan." balasnya bercanda. Yang disambut tawa pemuda itu. Siang ini pemuda itu tak berbau tepung dan buah-buahan segar seperti tempo hari. Yang bersisa hanyalah aroma mint yang sekarangpun sudah samar-samar tercium. Mungkin karena dia tak bekerja di hari sabtu. "Kamu beneran cuma mau makan ini doang?" pemuda itu berkata lagi. Duduk di depannya di meja makan. Dia mengangkat tangan sebelah. Isyarat bahwa dia masih mencoba menelan bongkahan cokelat di dalam mulut. Pemuda itu hanya menatapnya sambil tersenyum. "Gak usah repot-repot deh. Tau sendiri dari tadi akunya makan mulu. Kenyang makan chokolato ini." katanya setelah itu. Tangannya menepuk-nepuk perutnya yang rata. Pemuda itu mengerutkan kening, "bukan karena lagi jaim didepanku kan?" senyumnya menyelidik. Gadis-gadis lain sering seperti itu, bukan. Dia terbatuk. Air yang coba dia minum muncat kemana-kemana. Keluar dari mulut bahkan hidungnya juga. Pemuda itu bergerak cepat. Dia berdiri dari duduknya. Membawanya ke wastafel untuk memuntahkan apapun itu yang menyumbat tenggorokannya sehingga dia bisa bernafas lagi. Dia masih belum bisa bernafas dengan benar saat merasakan usapan tangan lembut ditengkuknya. Tangan pemuda itu yang baru dia sadari tak kunjung melepaskan tengkuknya bahkan setelah air keran sudah tak lagi mengucurkan air. Dia berbalik. Menatap pemuda itu yang ada dibaliknya. Dia harus mendongak tinggi-tinggi untuk sekedar mencari mata yang terlihat gelisah itu. Karena mereka berdiri begitu dekat. Amat-kelewat dekat. Seperti yang lalu-lalu, dia memikirkan hal lain lagi saat berdekatan dengan pemuda itu. Tentang betapa memalukannya dia tadi yang tidak berhasil menyembunyikan apa maunya. Mau kelihatan anggun kok malah keselek. Jelek banget. Gerutunya. Lagi-lagi, aroma mint pemuda itu mengusik penciumannya. Menyadarkannya dari gerutuan dan menyadarkannya bahwa kini tubuh mereka sudah tanpa sekat. Tangan pemuda itu masih di belakang tengkuknya. Tangannya ragu-ragu memegang siku berswitter hitam itu. Tangan pemuda itu yang lain, naik perlahan-lahan ke wajahnya. Menyentuhkan permukaan jari-jarinya yang sedikit kasar ke sebelah pipinya. Panas. Astaga, pastilah sekarang pipinya merona. Jari-jari pemuda itu mengalirkan aliran listrik. Wajah pemuda itu terlihat sangat lembut saat memandangnya. Dadanya makin berdegub menatap wajah itu. Ini pasti itu. Saat Esther mengantarkan makanan disuatu siang untuk Yanuar. Saat Sena menenangkan--dalam tanda kutip--Aline. Saat Katya selesai fitting baju pengantin dan berhadapan dengan Sergei (baca Priceless Moment, Paris: Aline, dan Éclair karya Prisca Primasari) Dia semakin yakin saat pemuda itu menundukkan badan. Tangan yang ada ditengkuknya menekan dengan kentara. Dia memejamkan mata. Menerima apapun yang ingin diberi pemuda itu. Lama dia menunggu. Tetapi posisinya tetap seperti itu. Tak ada pergerakan lagi dari pemuda itu. Pemuda itu seakan ragu. Seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya tak yakin. Sampai suara pemuda itu membangunkannya dari keheningan lelap. "Aku laper." Dia membuka mata. Pemuda itu tersenyum. Wajahnya sudah mundur, dan dia melepaskan cengkeraman di tengkuknya. Tangannya satu lagi mengelus pipinya sesaat. Lalu dia mundur teratur, "kamu serius gak mau makan lagi? Aku mau buat pasta nih." katanya sambil mengambil mie pasta dan bahan-bahan lain di dalam freezer. Dan ini juga pasti itu. Perasaan An saat tak mendapatkan kecupan dari bibir Tuan-Amat-Kelewat-Serius Ju (baca Walking After You, Windry Ramadhina) Dia menghembuskan nafas kecewa. Sayangnya, kencan kali ini bukan berakhir dengan kecupan. Melainkan seporsi pasta. ***
IT MEANS: CARAMEL MACCHIATO Dia menggenggam caramel macchiato kesukaannya dengan dua tangan. Mulutnya berada dekat dengan bibir cup starbucks itu, ingin menghangatkan wajah dengan uap air panas caramel macchiato-nya. Dia melirik tanda lantai di sisi pintu lift. Masih dilantai 5. Dan apartemen yang dicarinya ada dilantai 17. Huft. Kenapa pula kakak Asti harus menikah disaat-saat seperti ini? Pake resepsi di rumah yang penuh sesak itu pula. Kan bisa pakai gedung. Keluarga mereka kan keluarga terkenal. Masa gelar resepsi di rumah. Bikin dia harus minta ongkir lebih saja pada mamanya hanya untuk sekedar berangkat ke apartemen yang sedang dia naiki lift-nya ini. Tugas kelompok yang sebenarnya tak perlu banyak mengeluarkan uang jika diadakan di rumah Asti berubah membuatnya bokir hanya untuk biaya berangkatnya saja. Dia menyesap caramel macchiato dan baru sesesap saja saat pintu lift terbuka. Dia keluar dari lift sambil mengeluarkan ponsel dari kantong jins biru pudarnya. Dia kembali membuka percakapan line dengan Asti beberapa saat lalu. Ingin memastikan berapa nomor apartemen yang harus dia cari yang diberitahukan Asti lewat pesan line. Apartemen no 111. "106, 107, 1..." gumamnya sambil melenggang dari lorong yang tak terlalu terang itu dengan tenang. Sekarang memang bukan waktu sibuk untuk hilir mudik di lorong apartemen. Dia yakin, para penghuni apartemen ini kemungkinan besar meramaikan jalan saat pukul 8 pagi dan selepas isya. Sesuai jam kerja. Apartemen 111. Dia menemukan pintu dengan nomor itu. Lalu, dengan sedikit gugup karena dia tak pernah tamasya keliling apartemen. Karena tentu saja apartemen dengan rumah susun yang sempat dia jadikan tempat pulang sangatlah berbeda dengan apartemen. Tak ada jemuran bergelantungan. Tak ada lantai becek karena bocor. Tak ada bau-bauan aneh. Tidak ada sama sekali. Dia memencet bel di dekat pintu sambil mengamati pintu yang sewarna cokelat. Mengamatinya dalam-dalam hingga yakin 190% bahwa permukaan pintu itu halus tak ada cacat sedikitpun. Dia menunggu pintu dibuka bahkan dengan mengamati lantai marmer yang krem. Yang bahkan mungkin tampak lebih cemerlang dari dirinya sendiri. Tetapi sampai dia bosan menghitungi bintik-bintik di marmer itu, pintu masih saja belum terbuka. Dia lalu berdecak pelan. Mengambil ponsel dalam saku lagi. Ingin menghubungi Asti. Kini, sambil menunggu nada tunggu, dia mengetuk-ngetuk salah satu sisi cup caramel macchiato-nya. Lama nada tunggu terdengar, hingga entah sudah berapa detik--mungkin malah menit--telepon baru diangkat. "Hallo, Cleo?" suara Asti hampir tak terdengar karena anak tu kemungkinan ada di tempat ramai--mall, pasar, atau semacamnya. Suara gumaman beredar di sekitar telinganya melalui saluran telepon. "A... " belum sempat dia menjawab atau mempertanyakan keberadaan anak itu, sebuah suara berat namun ramah menjamah telinganya. "Anda sedang mencari saya?" kata suara itu. Dia yang suka kagetan itu lalu cepat-cepat berbalik tanpa tedeng aling-aling. Dan itu, menjadi masalah. Orang yang punya suara itu ternyata berada sangat dekat dengannya sehingga cukup untuk membuat apapun yang ada digenggamannya tertubruk. Dan itu caramel macchiato-nya. Caramel macchiato-nya yang berada dalam genggaman terlepas begitu saja saat bagian siku sampai pergelangan tangannya menggesek tubuh pemuda yang berkata dibelakangnya tadi. Dia sontak membelalakkan mata saat menyadari baju putih pemuda itu terkena noda kecoklatan hasil percampuran ekspresso, vanila, dan susu. "Aduh... " gumamnya. "Ah..." pemuda itu menjauhkan baju putihnya yang terkena siraman air hangat cairan susu cokelat entah apa ini agar tidak menembus kaos di balik baju putihnya. "Astaga, maaf-maaf." Cleo dengan cepat mengobrak-abrik tas dipunggungnya. Mencoba mencari tisu atau apapun itu untuk membersihkan noda. Seruan dalam ponselnya tak dia dengar lagi. Bahkan, dia lupa bahwa dia tadi sedang menelfon seseorang. Pemuda pembuat Cleo kaget tadi kini hanya memperhatikan Cleo dengan kening berkerut. Bingung. Matanya mengawasi tangan perempuan itu yang membolak-balik buku yang hanya satu-dua di dalam tas ransel itu. Tangannya membuka kotak pensil kuning sewarna jagung. Tangannya menyelip di sisi-sisi tak terlihat dalam tas lagi. "Kamu cari apa?" tanyanya tak tahan. Bingung sendiri dengan kelakuan perempuan di depannya ini. Dirinya yang kena air kenapa perempuan ini yang jadi repot? Perempuan yang tampak masih sangat muda itu--mungkin setara dengan adik perempuan nya aq lalu mendongakkan kepala. Menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. "Tisu... " jawab perempuan itu. Dia tertawa. Mulutnya terbuka lebar tanpa malu. Sekarang, berganti perempuan itu yang menatapnya bingung. "Itu maksudnya buat bersihin baju saya?" tanyanya setelah dia selesai dengan urusan tawanya. Perempuan itu baru tersadar. Ternyata bahan tertawaan pemuda ini adalah dirinya. Dia lalu berdecak, "Gak. Buat amplas tembok." jawabnya ketus. Yang ternyata mengundang tawa yang lebih hebat dari sebelumnya. Pemuda itu bahkan tak lagi memegangi baju putihnya yang terkena noda dan malah memeganginya perutnya. Perempuan itu, sekarang malah melakukan penelitian pada penampilan pemuda itu. Baiklah. Tinggi, terlihat masih muda--mungkin hanya beberapa tahun diatas--rambutnya hitam acak-acakan, wajahnya rupawan--hei, itu benar--dan tawanya ramah. Pemuda itu mengenakan sepatu hitam, celana kain serupa, dan baju putih yang terkena noda kecoklatan campuran ekspresso, vanila, dan--astaga... Benarkah ini? Pemuda itu mengenakan jubah koki? Pemuda ini koki? Walaupun tidak mengenakan topi putih tinggi, tetapi dia tahu pasti pemuda ini koki. Walaupun tidak mengenakan ikat kepala atau apapun itu seperti di Pasta, Kim Tak Goo, maupun Oh My Ghost--drama korea yang sering ia tonton. Dia lalu memasang senyum bersalah. Lalu maju untuk memegang satu lengan pemuda itu. Yang nyatanya menghentikan tawa pemuda itu. Pemuda itu kini memperhatikannya. Mungkin bingung kenapa tiba-tiba dia memegang lengannya. "Maaf." katanya takut-takut. Tidak ada yang tahu jika pemuda ini marah seperti apa bukan. Bagaimana jikalau dia punya sisi Hyde & Jekyl? Yang mulanya tertawa lau di detik berikutnya siap membantingnya ke tan--marmer. "Ini baju kerja kamu? Jadi kotor. Serius. Aku gak sengaja." dia menambahi. Mengangkat dua jari saat kata 'serius' terucap. Pemuda itu tak tertawa kocak lagi. Tuh, kan. Pasti mau marah. Dia menatap mata pemuda itu takut-takut. Entah kena setan apa dirinya, sampai-sampai disaat-saat seperti ini malah memikirkan bau mint, tepung, juga wewangian buah-buahan yang lembut. Dia baru tahu ada bau manusia yang seperti ini. Biasanya, yang dia temui, adalah manusia dengan bau cologne--teman-teman centilnya disekolah--bau manusia dengan parfum pasar--anak laki-laki tak bermodal dikelasnya, bau manusia dengan minyak kayu putih--guru Bahasa Indonesia-nya yang entah kenapa selalu masuk angin jika tak pakai minyak katu putih--bau manusia dengan keringat, dan bau manusia dengan kambing ataupun sapi(tersangka utama:tetangganya yang mantri hewan). Jadi bau koki itu sedemikian. Ah, i see. "Kamu selain lucu ternyata agresif, ya." Sial. Makinya pelan. Dia lalu dengan senyum terpaksa mendongakkan kepala kepada pemuda itu setelah sebelumnya mengamati baju pemuda itu. Pemuda itu--dan bukannya menatapnya tajam seperti dugaan nya aq malah tersenyum geli. Bagus. Ilfill kan nih orang. "Kamu sedang cari saya?" suara pemuda itu lagi. Dia otomatis menggeleng. Tak mau bersuara takut menambah kekonyolannya. "Lalu kenapa ada di depan apartemen saya?" kata pemuda itu lagi. "Ngotorin lantai juga. Dan... " Dia mengikuti arah pandang pemuda itu yang menatap ke kedua tangannya yang menggenggam tangan pemuda itu. Dengan cepat, dia menarik kedua tangannya kembali. Pipinya memanas. Semoga saja tidak merona. Walaupun biasanya seperti itu jadinya. "Maaf. Aku... Em... Saya... Sedang mencari apartemen teman saya. Mungkin nomor apartemennya salah. Saya minta maaf sama caramel macchiato-nya," dia menatap baju koki yang terkena noda dan lantai yang tergenang. "Bisa tolong pinjami saya kain pel?" "Eh." mata lelaki itu membesar. Tak percaya reaksinya akan begitu. "Gak papa. Biar nanti saya panggilkan OB. memangnya teman kamu ada di apartemen nomor berapa? Coba tanyain." pemuda itu melirik pada ponsel yang ada digenggaman tangan kirinya. "Ah iya. Sebentar... " katanya. Dia lalu menatap layar ponsel dan menggeser-geserkan jari. Tak lama, tangannya terangkat ke telinga. Tak seperti pertama dia menghubungi Asti, dalam beberapa deringan saja telepon itu langsung diangkat. "You okay kan Cleo? Tadi gue panggil-panggil lo. Tapi elonya gak jawab. Terus denger suara apa gitu jatuh. Beneran lo gak papa, kan?" ** Asti terduduk di depannya. Memandangnya sanksi. Dia, menunduk dengan pandangan ke caramel macchiato di dalam mug besar putih-hijau yang dia genggam. Pemuda tadi, ternyata adalah kakak laki-laki Asti satu-satunya. Dari yang dia dengar, kakaknya itu kuliah sastra di Depok namun seringkali bolos karena lebih suka membantu koki di dapur toko kue peninggalan ibu mereka. Ngomong-ngomong, nama pemuda itu Sastra. Sastra yang suka membaca buku resep daripada buku punya Landung Simatupang. Berbeda umur 4 tahun diatasnya. Dan sangat berbakat membuat kopi. Ah, ya. Caramel macchiato yang ada ditangannya adalah buatan pemuda itu. Setelah mengetahui bahwa ternyata dia teman Cleo, pemuda itu mengajaknya masuk kedalam apartemen sambil mengatakan, "kayaknya Asti sempet bilang, tapi sayanya aja yang suka lupa. Lagian saya gak tahu kalau kerja kelompoknya hari ini," dia menatap apartemennya dari seluruh penjuru. Barang-barang dalam apartemen itu sangat banyak. Saling bertumpukan dan saling menindihi. Walaupun begitu, apartemen ini sangatlah nyaman. "Rumah emang lagi rusuh banget." tutup pemuda itu tanpa berganti pakaiannya yang kotor lalu sibuk dengan mesin pembuat kopi. Beberapa menit setelahnya, mereka mengobrol seru di kursi tinggi dapur. Awalnya membicarakan kopi lalu lanjut ke keik-keik manis sampai pemuda itu berjanji akan membuatkannya truffle segala. Pembicaraan mereka selesai saat topik Asti dan pacar barunya. Karena orang yang mereka bicarakan sudah ada di depan pintu apartemen. Setelahnya pemuda itu pamit ke dalam kamar, keluar mengenakan kaos putih lalu pergi keluar apartemen. Dan setelahnya lagi, disinilah dia. Mendapat tatapan aneh Asti yang entah berarti apa. Dengan dia yang ditinggal pemuda tadi dengan degup gak karuan dan muka merona. "Kayaknya gue jatuh cinta deh sama kakak lo." *
You hold my hands. It means you have a something to me. You pick me up to a sweet hugs. It means you like me. You kiss my check that the effect like more than you kiss my lips. It means you love me. I am hold you back, cause I'm in love. Cause I know when you hug me, I'm on the way to fall. Cause when you kiss me, my stomach full of a butterflies. Cause if you in front of me, my world better than before.
Thought You (in)to A Memories
THE STORY BEGINS. Pukul tujuh malam tepat, dia melihat adik laki-lakinya turun dari lantai dua. Keluar dari kamarnya dan meninggalkan bau wewangian di udara. Dia yang ada di depan TV dengan satu piring berisi nasi beserta sayur sop dengan ayam menatap lelaki penabur wewangian dari kemeja kotak-kotak biru itu yang sesuitan sambil memutar-mutar kunci mobil punyanya yang dipinjam di jari kelingking. "Mobilnya kubawa ya Mas." pamitnya. "Mau kemana?" tanyanya setelah menelan nasi dalam mulutnya. Adiknya itu sudah berada di ambang pintu keluar. "Keluar. Kan malam minggu." katanya lalu menutup pintu. Benar. Adiknya punya pacar baru. "Kamu gak papa kan kalau mobilnya kubawa?" Suara itu membuatnya menatap kearah pintu kembali. Dan adiknya itu memang sekarang melongokkan kepalanya disitu. Dia lalu tersenyum. "Gak. Gak ada rencana keluar malam ini." Adiknya mengangguk-angguk paham. "Mau nerusin belajar, ya?" tanyanya. Dan jawabannya sudah pasti dapat dia ketahui bahkan sebelum kakaknya itu berkata sekalipun. "Iya." jawabnya singkat. "Gak futsal sama temen-temen? Udah dari pagi kamu belajar mulu. Jangan rajin-rajinlah. Kasian tuh cewek-cewek yang suka merengut gegara kamu terus yang jadi juara satu. Lagian tanpa belajarpun aku yakin kamu akan lulus dengan rata-rata 9." adiknya itu mungkin khawatir padanya yang memang belum rehat barang sejenak dari pagi. "Kalau mau keluar pake motorku, kuncinya ada di meja kamar. Duluan." dan dengan begitu, adiknya itu menutup pintu. Beberapa saat kemudian, suara mobil berdengung memenuhi foyer. Sinar lampu mobil sempat masuk melewati kelambu putih di jendela dekat pintu. Dia sempat termenung sesaat ketika akhirnya sadar kembali oleh bunyi mbak Tini yang menyalakan kompor di dapur. Mikir apaan sih, gumamnya pada diri sendiri. Lalu melanjutkan makan. Saat selesai makan dan meninggalkan piring kotor di tempat cucian, dia naik tangga lalu masuk kedalam kamarnya kembali. Rencananya, sholat isya, lalu lanjut belajar. Tak peduli ini malam minggu sekalipun. Namun, belum sempat dia membuka buku selepas isya, mbak Tini menggedor-gedor pintu kamarnya. "Ya mbak?" jawabnya sambil melepas peci. "HP-nya mas Asta bunyi." sautan dari luar itu. Tanpa berkata lagi, dia berdiri dari duduknya di atas sajadah dan menghampiri pintu lalu membukanya. Mbak Tini langsung tersenyum lebar walaupun tampak kaget karena tanpa pemberitahuan pintu tiba-tiba saja terbuka. Namun, mas Asta kan memang gitu. Mbak Tini lalu mengulurkan ponsel berwarna abu itu ke arah Asta. Asta menerimanya lalu mengucapkan terimakasih dan menutup pintu lagi. Sambil berjalan menuju kasurnya, dia melihat ada banyak notifikasi masuk selama 30 menit terakhir. Tetapi, dari semua notifikasi itu, hanya satu notif yang membuatnya tak bisa apa-apa selain melihatnya. Tak membalasnya, juga tak menghapusnya. Liesa Amima Karenina mengikuti Anda. Itu adalah arti bunyi notif Twitter-nya. Dia duduk ditepi kasur. Tak kunjung memfollowback akun yang baru saja mengikutinya. Sampai pada satu mention ini, @AstaFyord Hallo kakak ipar. Follow back, ya. ☺ Maka dia menyentuh nama itu. Dan menekan follow untuk mengikuti tweet perempuan itu. Dia terdiam lagi. @AstaFyord wahaha. Langsung di follback loh. Thanks kak. Harusnya dia membalas sama-sama, bukan? Haruskah? @AstaFyord Btw, aku boleh RT bio kamu kak? Perempuan itu me-mention-nya lagi. @LiesaKamima RT apa? Jarinya berjalan sendiri. Sumpah. @AstaFyord Yang ini-->thought you into a memories. @LiesaKamima oh. Boleh. @AstaFyord mau aku pasang di bio aku juga. Hihi... Dia harus jawab apa kalau ngomongnya kayak begini? @AstaFyord oke. Kakak Tata emang juara. 👍 Karena tak tahu mau apalagi, mau balas mention perempuan ini kok bingung, dia lalu memutuskan membuka-buka akun twitter perempuan itu. Ingin tahu seperti apa Liesa dalam bentuk kata-kata. Yang dia dapati, avatar dengan gambar pensil warna yang warnanya sesuai dengan gradasi warna pelangi. Liesa Amima Karenina @LiesaKamima RT from @AstaFyord--> just thought you into a memories. 60 mengikuti. 505 pengikut. Sebuah tweet baru mendatangi laman itu. Sebuah gambar yang memperlihatkan sosok seorang lelaki yang pipinya sedang dibelai oleh tangan mungil. Sosok itu tersenyum manis ke kamera. Wajahnya terlihat bahagia. Sosok itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru. Disertai caption emotikon senyum dan tag nama lelaki itu. Dia tersenyum pahit. Tiba-tiba saja dia malas belajar. Tiba-tiba saja dia ingin menendang bola. Dia keluar dari twitter. Masuk dalam grup line yang sejak tadi heboh ingin futsal. Asta: aku ikutan. **
and here i go. Thought You in(to) a Memories. Check iamretnodwi on wattpad. And also iamretnodwi.tumblr.com
Masih ingat dengan Conservatoire series yang sempat saya post dulu? Akhir-akhir ini saya membaca ulang dua cerita berantai itu. Dari beberapa menit saya membaca ulang cerita itu kembali, terbitlah rasa ingin membuat cerita lanjutan dari dua cerpen itu. Selama itu juga, saya berpikir diantara ruwetnya pikiran saya yang campur-aduk, dan, sampailah saya mendapat hadiah dari Tuhan. Cerita lanjutan Conservatoire akan terbagi menjadi dua. Saya akan post review di blog segera setelah ide dan penulisan benar-benar terlaksana. Untuk bocoran, sekarang saya sedang mengerjakan satu dari dua bagian Conservatoire series. Wish me luck, yaa!
PIANOFORTE
PROLOG
Bukan dia tak menyadari. Bukan juga dia tak pernah ingat. Dia hanya tak mau sakit. Baginya, cukup sekali saja dia merasakan dicabik-cabik, di potong-potong, di cincang. Dan dia masih bisa berdiri setelahnya. Benar-benar menyakitkan. Rasanya sangat perih. Ingin mati tapi tak bisa. Ingin bunuh diri tapi tak ada nyali.
Biarkan. Biarkan orang-orang itu pergi meninggalkannya. Toh dia masih bisa berjalan sendiri. Biarkan. Biarkan orang-orang itu mencacinya di belakang. Toh dia tak bisa mendengarnya. Biarkan. Biarkan orang-orang itu mengkasihaninya. Toh dia tak pernah merasa melarat. Biarkan.
Walaupun jiwa kerdil dalam tubuhnya selalu mengelak. Menjerit minta di kasihani. Mengatakan bahwa dia tak mau orang-orang itu pergi. Mengatakan ia mau mengubah sikap jika orang-orang itu mau menerimanya berada dalam jangkauan mereka. Menjadi teman atau sahabat yang rukun. Tak pernah meggunjing dibelakang. Dan mau berbagi kepedihan.
Tapi, memang biasanya ego-lah yang memenangkan pertandingan. Jiwa yang begitu kecil hanya dianggap kerikil. Atau barangkali atom jika meminjam istilah ilmiah. Sangat-sangatlah kecil. Pasti akan hancur berkeping-keping jika dilindas oleh ego yang sebesar gajah. Pasti akan menjadi butiran pasir jika dilindas tronton dan akan hilang mengabur bersama angin el-nino.
Ini kisah tentang gadis yang kehilangan. Kehilangan kepercayaan. Kehilangan jati diri. Kehilangan hasrat. Kehilangan rasa. Kehilangan toleransi. Kehilangan setengah hati. Kehilangan yang sungguh-sungguh memerangkapnya menjadi sosok yang dulunya tak terlalu di pedulikan orang kini menjadi tampak jahat.
Gadis ini, tentu saja ada alasan dibalik perubahan sikapnya. Gadis ini, tentu saja memiliki hak membela diri atas apa yang dia katakan. Gadis ini, tentu saja seharusnya mendapatkan tanggung jawab atas rasa kehilangannya. Karena rasa kehilangannya, Teman, sudah menggerus hatinya hingga lebur. Tanpa menyisakan apapun lagi. Gadis itu, kini nampak tak punya hati. Nampak tak punya perasaan. Berdiri sendiri tak punya pegangan. Terombang-ambing mengikuti irama angin. Sendirian.
Omong-omong, namanya Dyandra, Teman. Dia adalah solo pianis dari grup musik orkestra-tak-lengkap, bernama Forte.
Dan,oh, sekarang nampaknya dia sedang dalam masalah.
Dan seperti biasanya, Teman. Dia tahu dia sedang menghadapi masalah. Tetapi dia bingung untuk mencari jawaban. Karena kata-kata yang sering dia keluarkan dari mulut, biasanya melukai banyak orang. Dan semua itu, semua kata yang keluar dari mulutnya itu, Teman, seringnya tak dia sadari telah menyakiti orang lain.
*
Dyandra when december. Blank eyes and black coffee. #Pianoforte
PIANOFORTE - BULAN AGUSTUS: TETRALOGI MUSIM VIVALDI (on Wattpad) http://my.w.tt/UiNb/IBxW71ndJx Roda selalu berputar. Tak selamanya orang bahagia. Tak selamanya orang menderita. Hanya masalah waktu saja. Aku tahu itu, hanya saja dulu aku melupakan itu. Sekarang, aku bingung. Khawatir berlebihan pada keadaan diriku. Aku bingung menghadapi penderitaan yang ada di depan itu. Kisah ini, Teman, tentang seorang gadis yang berteman dengan kehilangan. Tentang seorang gadis dengan ribuan kebingungan menghadapi keadaan yang sebenarnya tak begitu rumit jika saja dia tak memperrumitnya sendiri.
Chapter one is on wattpad this day. Stay on wattpad! #Pianoforte
PIANOFORTE - PROLOG (on Wattpad) http://my.w.tt/UiNb/eUGzmjqJDx Roda selalu berputar. Tak selamanya orang bahagia. Tak selamanya orang menderita. Hanya masalah waktu saja. Aku tahu itu, hanya saja dulu aku melupakan itu. Sekarang, aku bingung. Khawatir berlebihan pada keadaan diriku. Aku bingung menghadapi penderitaan yang ada di depan itu. Kisah ini, Teman, tentang seorang gadis yang berteman dengan kehilangan. Tentang seorang gadis dengan ribuan kebingungan menghadapi keadaan yang sebenarnya tak begitu rumit jika saja dia tak memperrumitnya sendiri.
Violent part
Dia serupa porselen mahal. Bersinar kala diterpa cahaya. Tetap Indah walaupun tanpa gerak. Dan akan hancur berkeping-keping kala jatuh ke lantai. BAB 5 #Pianoforte
Byzanti Umara always alone. #unknowtitled #comebackhome
Yang tertinggal dari kayu itu hanyalah pilu. Yang tersimpan dari bingkai itu hanyalah tajamnya paku. Yang tersisa dari pigura itu hanyalah rindu. Dan yang tersisa dari potret itu hanyalah debu. Sept 2016 Re.