KELAS ALUMNI BERBAGI IATL ITB
Pada hari Sabtu, 30 Agustus 2014, bertempat di Bumi Panda Jl. Geusan Ulun no.3, Bandung, diadakan Kelas Alumni Berbagi IATL ITB. Acar ini merupakan salah satu kegiatan yang ingin dijalankan IATLL ITB secara rutin, untuk mempererat hubungan antara alumni, mahasiswa, dan juga program studi Teknik Lingkungan ITB. Selain itu acara ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran keprofesian Teknik Lingkungan kepada mahasiswa sekaligus menginspirasi mereka lewat pengalaman-pengalaman dari alumni yang kompeten.
Alumni yang diundang dalam Kelas Alumni Berbagi IATL ITB kali ini adalah Ibu Yuyun Ismawati, seorang aktivis lingkungan leve internasional. Beliau adalah penerima penghargaan sekelas Nobel untuk lingkungan ,yaitu Goldman Prize Award dan juga merupakan founder dari Bali Fokus. Saat ini beliau merupakan Coordinator of Indonesia Toxics- Free Network, GAIA Asia Steering Comitee member, IPEN(International Pops Eliminiation Network) Steering Comitee member, dan IPEN SEA and East Asia Regional Hub.
Tema yang diangkat kali ini adalah Environmental Health Issues dengan 2 kasus, yaitu : 1.Merkuri di tambang emas rakyat di kawasan rural/remote
2.Waste to Energy di kawasan urban
Acara ini tidak hanya dihadiri bagi mahasiswa dan alumni Teknik Lingkungan ITB saja, melainkan juga dari berbagai organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, seperti BJBS ( Bandung Juara Bebas Sampah), BCLN ( Bandung Clean Action), Earth Hour Bandung, dan YPBB ( Yayasan Pengembangan Bio Sains dan Teknologi). Terhitung lebih dari 35 orang yang hadir dan antusias dalam mendengarkan sharing dari Ibu Yuyun.
Ibu Yuyun menceritakan tentang bahaya merkuri bagi kesehatan lingkungan. Banyak tambang emas liar si seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sisa deposit tambang emas ada di rural area . Hasil studi UNEP 2013 membuktikan bahwa emisi merkuri , 39% berasal dari tambang emas di seluruh dunia dan dari Indonesia sendiri sekitar 50%.Merkuri sering diselundupkan di kemasan sparepart fuso, kemasan sederhana ( botol kosmetik, botol plastik, dll) . Merkuri di udara dan lingkungan bisa bertahan sampai 150 tahun (persisten). Merkuri sendiri sebenarnya bersifat inorganik, tapi jika sudah terlepas ke lingkungan terutama air, merkuri akan berubah jadi bentuk metilmerkuri yang bersifat organik, sehingga mudah diserap makhluk hidup (tanaman, hewan, akhirnya ke manusia) dan masuk ke dalam rantai makanan. Ibu Yuyun terus berjuang untuk mengkampanyekan bahaya merkuri bagi kesehatan, karena yg terkena dampaknya adalah masyarakat sekitar yang hidup di dekat tambang emas liar. “Hak hidup sehat itu bukan Cuma untuk orang kota, tapi juga orang yang tinggal di daerah terpencil.”, ujar beliau.
Sesi pertama tentang bahaya merkuri kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu tentang bahaya PLTSA. Isu tentang akan dibangunnya PLTSA di Bandung membuat Bu Yuyun tidak bisa tinggal diam karena dampak PLTSA bagi kesehatan akan terlihat dalam jangka panjang. Beliau aktif menyuarakan untuk menolak PLTSA di Kota Bandung. Beberapa argumen yang beliau berikan, antara lain :
1.Sampah Indonesia basah, bernilai kalor rendah.
UNEP menekankan bahwa insinerator dikenali sebagai PENGGUNA ENERGI bukan PENGHASIL ENERGI. Sampah basah ga bisa langsung dibakar, harus ada pancingan bahan bakar.World Bank berpendapat bahwa rata-rata nilai kalor nya harus 6MJ/kg sepanjang tahun. IPCC ( international Pane of Climate Change) : insinerator bukan teknologi cocok untuk sampah basah, negara berkembang, dan sampah kota. Pikirkan berapa biaya bahan bakar yang dibutuhkan untuk membakar sampah.
2.Daur ulang lebih baik bagi iklim dan pemulung
Daur ulang mengurangi Gas Rumah Kaca dan mendukung zero waste .
3.Waste to Energy hanya memenuhi 1% bauran energi Indonesia 2035
Hanya 1 % energi yg akan terbentuk dari sejumlah biomassa. Hal ini sangat tidak efisien dibanding energi yg digunakan untuk membakar sampah.
4.Waste to Energy dan landfil sama-sama toksik
Waste to Energymenghasilkan dioksin. Dioksin dihasilkan dari pembakaran material yg mengandung klorin. Di Indonesia sampah masih tercampur, sehingga kemungkinan terbentuknya dioksin sangat besar.
Rantai makanan terkontaminasi
Radius 30-50 km dioksin bisa tersebar. Kesehatan masyarakat terancam. Kasus kanker meningkat setelah insinerator dibangun.
Landfill berhubungan dengan berat bayi rendah.
Tidak ada baku mutu yg mengukur dioksin yg keluar dari insinerator, berapa konsentrasi air limbah yg kelaur, kategori abu dari insinerator gimana, lalu monitoring dengan apa?? Sampel harus dibawa ke luar negeri untuk dicek karena Indonesia tidak memiliki alat untuk moniroting tersebut.
Dari sharing ini Ibu Yuyun berharap lebih banyak yang terbuka pikirannya, terinspirasi, dan tergerak untuk melakukan sesuatu mengenai isu-isu kesehatan lingkungan seperti ini. Kesehatan lingkungan dimanapun lokasinya, sangat penting untuk keberlanjutan kehidupan kita. Sebelum ditutup, terdapat sharing singkat dari Dokter William dari Medicuss tentang pengalamannya menolong orang saat bencana di daerah pelosok Indonesia. “ Apa yang dibutuhkan untuk bergabung dengan kita? Ketulusan.” , kata Dokter William menutup sharingnya. Acara berakhir pk 16.00, ditutup dengan foto bersama.










