Kalau suka, sama aku juga.
Kalau kau suka, kau pasti setuju denganku..
Aku paling suka hujan dimalam hari, bagai nyanyian sebelum tidur, ia membuatku ingin tidur lebih cepat. Rintiknya yang jatuh ke tanah mencipta harmoni yang indah, meneduhkan.
Hampir tiga tahun tinggal di kota ter-kering di negara ini.
Jarang sekali aku merasakan kedamaian seperti itu, kedamaian hujan kala malam sebelum kau tidur.
Seingatku terakhir merasakan momen itu saat kita masih di asrama. Pernah suatu malam, saat hujan, kau mendatangi asramaku. Kita bercerita di depan teras asrama ku.
Hujan reda, obrolan kita usai, kau pamit pulang. Sebelum kau berlari menembus rintik, kau sempatkan mengecup keningku, aku memintamu mengusap kepala ku.
Sungguh itu adalah hujan kala malam terindah, tak terlupakan, bagiku. Setelah itu, aku berani bertaruh bila kau melihatku saat aku tidur, pastilah malam itu aku tidur dengan senyum paling merekah.
Ah... malam ini aku duduk di teras kamar kos ku, sendiri. Langit nampak muram, angin bertiup kencang. Sepertinya akan turun hujan, semoga.
Ah, jangan. Aku ingat terakhir kali aku berharap turun hujan di malam hari malah jadi badai, aku ketakutan setengah mati. Mengutuk hujan kala malam.
Yah jadi... moral of the story. Jangan terlalu banyak berharap. Syukuri apa yang ada dihadapan. Tak usah harapkan apa yang tak ada. Secukupnya... termasuk dengan segala kenangan itu.. cukup untuk dikenang, syukuri kau pernah merasakan perasaan seindah itu, meski sekarang tak lagi, bersyukurlah karna semua pernah terjadi 🙂.
-ib