Tentang 4 November yang lalu. Ya, aku memang ada di zona abu - abu. bukan berarti cari aman tapi memang tak ada yang ingin ku bela dari kedua belah pihak yang berseteru. Aku muslim yang menjunjung tinggi Alqur'an, sunah, dan hadist. SEharusnya kan aku berada di pihak demonstran. Namun aku tidak ikut yang kata mereka menyuarakan kebenaran. Aku bukan ahli tafsir yang bisa menafsirkan Alquran dan memutuskan seseorang telah melakukan penistaan. Aku hanya faham bahwasanya Islam itu bermakna selamat dan sejahtera. Islam itu rahmatan lil alamin. Keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, bukan golongan tertentu saja. Rahmatan lil alamin bagi seluruh makhluk tuhan bukan bagi golongan tertentu saja. Entah mengapa, berteriak penjarakan si A, bunuh si A, dan sebagainya itu membuatku khawatir akan makna islam yang adalah rahmat, kunci selamat, hilang ditelan emosi dan amarah sebuah golongan. Apakah ada di suatu masa yang lalu Rasulullah mengajarkan yang demikian? Tak hanya satu ayat dalam alquran, bahkan semua yang keluar dari mulut Nabi Muhammad dicerca oleh orang - orang yang menetap di Mekkah, ditolak mentah - mentah, disesat-sesatkan, dinistakan senista - nistanya. Tapi Rasulullah tetap cinta pada mereka. Bukan memerangi mereka yang tidak sependapat dengannya, namun mengatur strategi agar mereka dapat sependapat dengan dengan ajarannya tanpa harus dipaksa. Pembuktian yang dilakukan Rasulullah pada zamannya. Cara be;liau melakukan pembuktian itu adalah dengan berpindah ke Madinah karena beliau faham sefaham fahamnya tidak akan dapat memaksakan ajarannya yang benar kepada warga Mekkah. lalu beliau mempersiapkan diri dan umat-umatnya. Menerapkan Al-quran sebenar-benarnya, membangun peradaban, membangun pendidikan, memperbaiki sumber daya manusia yang Islam. Hingga pada saatnya mereka siap dengan segala amunisi keindahan pengaplikasian ajaran Al-quran, setelah semua orang mengagumi Islam dan meninggalkan kepercayaan bodohnya, setelah dukungan datang berbondong - bondong karena prestasi, Islampun keluar dengan aman. Robohlah sistem jahiliah yang penuh kebodohan dan digantikan orang - orang baru yang berpendidikan dan militan. Ditempatkanlah orang - orang yang berpendidikan, hasil tempaan Rasulullah secara diam - diam di negri Madinah.
Maka menyuarakan kebenaran memang tak semudah membalikkan telapak tangan, tak sekedar demonstrasi kemudian ada yang diturunkan dari jabatan dan selesai. Biarlah dia dengan jabatannya karena itu hasil kerja kerasnya. Negara ini milik Allah dan diapun umatNya. Negara ini bukan milik satu golongan yang mengatasnamakan Islam saja. Apakah dengan memintanya turun dari kursi hasil jirihpayahnya kemudian Islam akan kembali selamat dan sejahtera seketika? apakah hal tersebut yang dinamakan rahmat bagi semesta Alam? Seharusnya kita berkaca pada realita yang ada, jika memang orang - orang Islam belum berada di kursi yang tinggi, kursi - kursi yang berhak memutuskan, maka pantaskan diri kita terlebih dahulu. Perbaiki jati diri Islam seperti yang dilakukan rasulullah kala memilih meninggalkan Mekkah dan berpindah ke Madinah untuk mengadakan perbaikan. Jika memang kita harus menggantikan, gantikan dengan yang luar biasa akhlaknya melebihi yang sekarang duduk di sana. Yang dicintai seleruh rakyatnya. gantikan dengan yang menjulang prestasinya melebihi yang sekarang duduk di sana. Gantikan dengan cara yang baik, tidak memaksa, tidak menyakiti hati siapapun juga. Mari kita gantikan, dengan niat karena kita ingin semuanya selamat. Mari kita gantikan, dengan terlebih dahulu mengadakan perbaikan.