Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata Muslimah?
Yaaa, aku rasa sebagian besar pasti akan menjawab Muslimah itu adalah wanita yang sebenar-benarnya wanita, dengan kata lain Muslimah itu harus kalem, lemah lembut, feminim dan anggun. Ga ada deh yang namanya muslimah kalau ketawa mulutnya terbuka lebar ampe lalat aja bisa masuk, ga ada deh yang namanya muslimah jalannya gerasak gerusuk kaya banteng mau nyeruduk, ga ada deh yang namanya muslimah kalau ngomong suaranya ngalahin emak-emak lagi marahin anaknya. It’s Not Muslimah…
Ditambah saat aku kenal dengan seorang akhwat yang berhijab syar’i dengan karakternya yang lemah lembut, baik hati, ramah, feminim dan cantik, pokoknya beliau itu bagai air jernih di sungai yang tenang deh pokoknya, nyejukin! Itu menambah paradigmaku bahwa memang wanita muslimah itu harus kalem! It’s the true Muslimah…
Lah terus gimana dong sama nasib ku? Yang kalau ngomong suka kenceng kaya nelen toak, suka jingkrak sana sini ga bisa diem, yang malunya cuma sama orang baru doang tapi sama orang lama mah malah malu-maluin, yang suka sama kegiatan outbond bikin tingkat kefeminiman menurun drastis. Apa aku bisa jadi Muslimah sejati?
Pemikiran itu membuat aku berfikir seribu kali untuk memakai hijab syari’i. Ada kekhawatiran tersendiri tentang karakter yang jauh dari kata muslimah sejati, haduh aku rasa itu beraaaaat, sangat berat. Sampai suatu hari aku berniat mengubah karakterku menjadi seperti sosok akhwat tsb, dan taraaaaam hasilnya di hari ketiga melambaikan tangan ke kamera karena ngerasa ini bukan aku banget, nyiksa sist. Daripada memaksakan diri terus aku masuk RS jiwa karena stress (idiiih lebaay mae..lebaay..ahaha) aku putuskan untuk berhenti, dan berfikir kembali tentang niatku berhijrah.
Hingga akhirnya hidayah menghampiri, qadarullah setelah mencari-cari referensi, mengikuti kajian muslimah sampai aku menemukan bukankah istri Rasulullah sendiri pun berbeda-beda karakternya? Siti khadijah yang keibuan, Siti Aisyah yang manja, ceria dan pencemburu, dan Hafsah yang terkadang bisa membentak dan tertawa terbahak-bahak yang membuat paradigmaku berubah tentang karakter seorang muslimah.
Muslimah itu ga harus kalem ko..
Muslimah itu ga harus anteng duduk manis ko..
Muslimah bukanlah bidadari, muslimah hanyalah manusia biasa dengan keunikan warna karakternya. Hingga aku menyadari bahwa hijrah tak berarti aku harus menjadi orang lain, cukup dengan mengarahkan potensi dalam diri menuju jalan yang di Ridhai sang Ilahi, cukup melakukan hal yang di perintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya salah satunya perintah untuk memakai hijab. Maka biarlah muslimah dengan warnanya.
Akan tetapi memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bukan? Muslimah tetap harus menjaga sikap, muslimah tetap harus bisa menempatkan dirinya dimana pun berada. Sooo jangan menunda berhijab karena merasa belum siap, belum memiliki karakter baik wanita sholehah.
Sebagaimana Allah perintahkan dalam surat Al-Ahzab ayat 59.
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Jadi ga usah khawatir, kebaikan diri dan ilmu akan mengiringi setelah ada pondasi dari hijab itu sendiri. Sooo, be your self and love your self with hijab!