Setelah beberapa bulan berlalu, tiba-tiba Aya berdiri didepan pintu rumah Bima lagi, kali ini Ia tak sendiri. Ia bersama Fahran yang tak membiarkannya pergi kemana-mana sendiri lagi, darah manis kata orang tua mereka. Ketika hendak mengetuk pintu, seketika angan Aya berada di masa lalu, dimana ia hampir setiap minggu mendatangi rumah ini. Bahkan ia tak perlu mengetuk pintu lagi jika ingin masuk. Ia tahu jika Bima tak dirumah pasti Bu Gina Ibunya Bima sedang memasak mie dan gorengan didapur untuk dijual sore hari dan Aya akan dengan senang hati membantu Bu Gina walau hanya sekedar membungkus mie dengan daun pisang karena Aya sama sekali tidak pandai memasak.
"Kita mau tidur disini?," bisik Fahran didepan telinga Aya sambil tertawa kecil, membuyarkan lamamun Aya.
"Eh, maaf maaf ran. Kita ketempat lain saja dulu yah atau ke rumah Roni teman SMA mu itu saja dulu. Disini sepertinya gak ada orang." Jawab Aya masih dengan wajah gugupnya setelah ketahuan melamun oleh Fahran.
"Lah, ketuk pintu aja belum udah tahu orangnya gak ada, memang di kebidanan belajar ilmu ramal juga yah?" Canda Fahran menggoda Aya yang wajahnya semakin gugup.
"Nenek buyut aku dukun, bisa santet juga. Aku bisa panggil arwahnya buat nyantet kamu kalau kamu gak berhenti godain aku" jawab Aya dengan wajah kesal yang dibuat-buat karena terus digoda Fahran.
"Hahaha, ayo pergi tuan putri. Gak keren entar aku matinya karena disantet" ucap Fahran masih terus menggoda Aya.
Baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumah itu, tiba-tiba pintu rumah dibuka dari dalam oleh wanita paruh baya yang tadi ada dalam lamunan Aya. Aya dan Fahran berbalik mendengar suara pintu terbuka tersebut. Tiba-tiba Aya berlari memeluk wanita itu, Bu Gina. Aya tak dapat menahan tangisnya, ia menangis sesenggukan di pundak wanita tua itu. Terlihat Bu Gina juga menitikkan air mata dan langsung mengusapnya dengan tangannya. Fahran yang bingung dengan pemandangan ini hanya bisa mematung dan mulai bertanya tentang siapa dan apa yang terjadi antara kekasihnya dengan wanita tua ini.
Setelah masing-masing merasa kuat untuk melepaskan pelukan, Bu Gina mempersilahkan Aya dan Fahran masuk kedalam rumah.
"Silahkan duduk nak, maaf rumahnya berantakan. Ibu ambilkan minum dulu yah" ucap Bu Gina sambil berlalu ke belakang.
Fahran yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya langsung bertanya pada Aya "Ay, Ibu ini siapa? Kok aku gak pernah dikenalin?"
"Bukan gak mau dikenalin ran, nanti saja kita ceritakan dimobil yah, gak enak nanti didengar Bu Gina,"pinta Aya.
Belum sempat Fahran menjawab, Bu Gina sudah datang membawa sebuah nampan berisi dua gelas berisi teh dan sepiring gorengan.
"Maaf nak, adanya cuman ini. Ibu lagi gak ada kue,"ucap bu gina berbasa-basi.
"Gakpapa kok Bu, ini aja udah cukup malah kami yang harusnya minta maaf udah ngerepotin"jawab Aya diikuti senyuman paksa dari bibir Fahran.
"Eh, ngomong-ngomong yang ganteng ini namanya siapa, kok gak dikenalin sama Ibu"
"Ini Fahran Bu," ucap Aya sambil mencolek Fahran memberi kode pada kekasihnya untuk menjabat tangan Bu Gina.
"Iya Bu, saya Fahran temannya Aya" ucap fahran sambil tersenyum yang sudah mulai lepas.
"Oh, satu kerja sama Aya?" Tanya Bu Gina lagi.
"Gak Bu, Alhamdulillah saya kerja di kantor pemerintahan Bu, tapi masih honorer". Jawab Fahran.
"Ohh, bagus itu, semoga cepat diangkat jadi PNS yah nak" doa bu gina dengan tulus seiring dengan ucapan Aamiin dari mereka semua.
"Jadi tiba-tiba datang kemari ada apa Ay?" Tanya Bu Gina.
"Bang Bima dimana Bu?" Aya justru balik bertanya.
Tiba-tiba wajah Bu Gina menunduk,
"Bima sudah gak tinggal disini Ay" jawab Bu Gina seiring air matanya yang kembali jatuh.
"Loh, bang Bima ninggalin Ibu sama Bapak disini?" Tanya aya lagi.
"Gak Ay, Bapak dan Ibu yang mindahin Bima ke pengobatan kampung yang di Bulu Soma" jawab bu gina dengan tangis yang makin terisak.
"Ha? Itu kan pengobatan buat orang stres bu!" Ucap aya dengan nada meninggi.
"Iya ay, Bima stres dua bulan setelah kalian tidak lagi berhubungan. Ibu dan Bapak sudah membuat semua hal agar bima tak stres. Tapi Bima mengurung dirinya dikamar, saat pintu kamar didobrak Bima sudah tak bisa apa-apa, wajahnya lebam ia tinju sendiri. Bapak dan Ibu langsung membawa Bima ke RS, ia terus meracau. Setelah beberapa hari lukanya sembuh, Bima sudah bisa berjalan, makanpun sudah kuat, tapi ia juga tak bisa berhenti meracau, ia tertawa sendiri dan tiba tiba dalam sekejap menangis sendiri"
Tiba-tiba Aya mendekap erat Bu Gina, mereka larut dengan tangisnya masing-masing.
"Maafin Aya Bu, maafin Aya, maafin Aya Bu!" Kata Aya setengah berteriak masih dengan tangisnya yang makin keras.
"Aya gak salah, gakpapa. Bima hanya sedang menjalani takdir yang sudah ia janjikan dengan Tuhan semasih ia diperut Ibu." Jawab Bu Gina dengan isakan yang semakin reda tapi air matanya tak bisa berhenti menetes.
"Ini semua salah Aya Bu, Aya yang ninggalin Bang Bima, Aya yang udah gak nerima kejujuran Bang Bima, Aya yang gak ngasih kesempatan buat Bang Bima, Aya yang udah buat Bang Bima stres Bu, Maafin Aya Bu!" Ucap aya dengan isak yang semakin keras.
Fahran yang mendengar itu sedikit demi sedikit mulai paham apa yang sedang terjadi, siapa Ibu Gina, dan dirumah siapa mereka sedang berada. Fahran tak tahu apa yang harus ia lakukan, disatu sisi ia tak terima calon isterinya menangisi orang lain, apalagi dari kata-kata Aya pada Bu Gina, orang yang Aya tangisi sekarang adalah anak Bu Gina mantan kekasih Aya. Tapi dilain sisi, ia begitu simpati dan kasihan pada sosok Bima dan keluarganya.
Perlahan tangis Aya reda, ia sudah melepaskan pelukan Bu Gina. Ia pun menyeka air matanya dan meneguk sedikit teh manis di meja untuk meredakan kesedihannya.
"Sudah berapa bulan bang bima disana bu?" Tanya aya dengan nafas yang sudah teratur kembali.
"Sudah sejak Mei lalu, berarti sudah 8 bulan Bima berobat disana"
"keadaannya sekarang gimana Bu?"
"bima sudah jauh lebih baik dibandingkan saat diantar kesana, Ia sudah tak meracau lagi, bicara sudah nyambung, hanya emosinya saja tidak stabil. Dia tinggal sama abang Bapak yang paling besar kok, bukan tinggal di rumah pengobatannya."
"Ohh, Alhamdulillah lah Bu, Bang Bima memang gak minta pulang kemari bu?"
"Pernah sekali ia minta pulang, katanya kangen sama kawan-kawan. Tapi pas Ibu sama Bapak jemput dia, dianya gak mau. Gak jadi, takut jumpa sama Aya katanya"
"Maafin aya yah Bu? Aya udah buat bang bima jadi gitu" pinta aya dengan sangat menyesal.
"Gakpapa ay, bukan salah aya itu. Eh, nak Fahran jadi bengong gitu. Diminum tehnya nak, maaf udah dicuekin dari tadi"
"gakpapa bu, fahran ngerti kok"
"emang tadi kesini aya sama fahran mau ngapain?"
"Jadi gini Bu, kita cuma mau ngantar...."
"Gak ada kok Bu, Aya cuma rindu sama Ibu, minta ditemanin tadi sama Fahran" kata Aya langsung memotong Fahran sambil mengambil undangan pernikahan mereka dari tangan Fahran.














