Tak terasa sudah hampir 2 tahun kurang 3 hari sejak terakhir aku menulis lagi disini. Kenapa akhirnya menulis lagi?
Hmm.. sebenarnya lebih ke-tidak-sengaja-an. Berawal dari niatan untuk menghapus jejak digital, aku iseng search nama sendiri di Google lalu muncul beberapa platform atas namaku dan tentu salah satunya Tumblr ku ini.
“Omg sudah lama sekali tidak melihat akun Tumblr ku sendiri” - pikirku.
Akhirnya aku membuka akun ini dan berakhir dengan nostalgia selama satu jam. Membaca tulisanku sendiri, rasanya aneh. Sempat terpikirkan, “aku harus memusnahkan aib ini”. Tapi semakin aku membaca, semakin jauh waktu yang tertera, semakin aku melihat bagaimana diriku tumbuh dan berkembang bersamanya.
“Kamu sudah berubah. Kamu sudah berubah menjadi lebih baik.” - batinku.
Ada rasa mengelitik hebat ketika aku membaca kembali tulisan-tulisan yang remeh temeh, dan ada rasa terharu sekaligus bangga ketika aku melihat bagaimana tulisan-tulisan itu turut serta membentuk diriku yang sekarang.
Kesimpulannya? Aku rasa akun ini tidak akan aku musnahkan. Kehadirannya sudah menemani perjalanan hidupku. Meskipun banyak yang ‘memalukan’nya, tapi akun ini sudah menjadi prasasti masa transisi remaja - dewasa seorang Iklima Musyarofah.
Persetan dengan jejak digital. Aku harap orang bisa melihat sisi masa lalu Iklima yang alay dan baperan layaknya seorang perempuan menjelang usia 20 tahunan.
Apakah aku akan aktif kembali di akun ini? Entahlah, mungkin iya. Kalau tidak lupa hehe.
Life Update: Saat ini aku sedang disibukkan dengan tugas akhir (re: Skripsi). Harusnya sekarang ini aku harus melanjutkan garapan Skripsiku, tapi malah nyasar kesini. Tak apa, aku tak menyesalinya. Ya, cukup sekian, saatnya kembali mengeluti van Dijk yang belum selesai-selesai. :)
it’s been a while since my last chessy post. and i just promised myself to ‘do not think or act like a melted cheese’. dalam resolusi tahun 2017 ini pun juga aku menyantumkan untuk tidak memposting hal-hal ‘menye-lenye’ dan lebih memperbanyak postingan yang bermanfaat bagi nusa bangsa dan negara di blog ku ini.
tapi yaa namanya juga manusia kadang susah buat move on dari hal-hal yang sudah membuat dia nyaman, right? so i am here.
sebenarnya wajar jika kamu melibatkan perasaan pada setiap hal yang kamu lakukan ataupun setiap hal yang datang padamu. sangat sangat manusiawi. namun tentu kita harus memikirkan faktor lainnya, menentukan takaran yang tepat, bahkan sampai harus mengesampingkannya. dan menurutku, aku belum cukup dewasa untuk bermain peran dengan baik dan benar. aku sadari itu.
seiring dengan berjalannya waktu. peristiwa-peristiwa itu berlalu begitu saja. dan pada akhirnya hanya menjadi sebuah kenangan dan pembelajaran untuk hidup di kemudian hari. banyak orang yang belajar dengan baik dari masa lalunya, sehingga ia bisa mencicipi manisnya masa depan. namun, tidak sedikit juga yang jatuh ke dalam lubang yang sama, seolah ia tak memperlajari apapun dari masa lalunya itu. yaa sama seperti ku, yang lagi dan lagi membuat postingan berbau keju ini.
aku merasa sangat sangat bersalah pada salah satu temanku karna sikapku yang bagi teman-temanku yang lain ini sangatlah keterlaluan. sebenarnya aku pun tak menyadarinya. seperti anak kucing yang dituduh mencuri ikan asin. jelas-jelas menurutku, aku tidak melakukan apa-apa disini. hanya berusaha menjadi diri sendiri. tapi mungkin dia menanggapinya lain. dan mungkin salahku juga karna bersikap ambigu selama ini. dan baru ku sadari tak lama ini. tentunya setelah mereka membombandirku dengan pernyataan fakta cenderung menyudutkan.
dan kemudian aku dilanda dilema yang cukup menyita waktu karna terus menerus memikirkannya. rasa bersalah. keterlaluan. jahat. yang aku pikirkan. meminta maaf pun rasanya seperti melempar salju di musim panas. tak ada gunanya. maaf atas dasar apa? aku tidak melakukan apapun. hanya berusaha menjadi diri sendiri.
egois? ya, sudah aku akui sebelumnya aku belum cukup dewasa.
sudah cukup bau asam disini, ini lah masalahku. sekarang aku sibuk-menyibukkan diri dengan mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya dan berusaha untuk menerima segalanya. “aku tak apa-apa” batinku dan terus seperti itu. hah~ rasanya sesak hidup dalam jelaga yang tak masuk akal ini. antara aku harus merubah diri menjadi orang yang dicintai semua orang agar tidak ada lagi yang terluka. atau tetap berdiri menjadi diri sendiri namun secara tidak langsung melukai orang lain.
Alhamdulillah~ Wa syukurillah~ Bersyukur padamu ya Allah~
Alhamdulillah! SEMESTER INI KELARRRRR!!! K E L A R ! ! ! !
Benar-benar semester yang melelahkan. Seriously!
Sebenernya di awal semester 3 ini berjalan santai sih dan flownya lambat juga. Pertengahan mulai berjalan gabut, bayangin aja dalam seminggu masuk kelas cuma sekali. Sampai di ujung semester ini nih yang butuh perjuangan keras sampai bercucuran darah dan air mata. :’)
UASnya alhamdulillah ga ada yang tertulis, TAPI PROJECT SEMUA COY! dan alhamdulillahnya lagi kebanyakan tugas kelompok, TAPI 1000X LEBIH CAPE COY! Sumpah aku lebih milih tugas individu, percuma tugas kelompok tapi rasanya kayak tugas individu. yakan?
Tapi so far, tugas akhirnya menyenangkan semua sih... Seperti hehebringan sama ibu-ibu, kunjungan ke media, wawancara dede-dede emesh, nontonin film-film, liat-liat skripsi orang, sampe ketemu gebetan HEHEHE... tapi ya part yang menyebalkannya adalah saat membuat laporannya dan harus dipresentasikan dan dalam tekanan deadline.
Final exam week ini yang sukses membuat aku kekurangan jadwal tidur hingga menanyakan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya waktu 24 jam dalam sehari itu tidak adil, dan kenapa tidak jadi 30 jam saja. :’) Selain itu juga menyebabkan aku tidak bisa menyentuh sama sekali sapu dan baju-baju dan piring-piring, alhasil kamarku seminggu ini sudah layak dikatakan kandang babi.
Tapii banyak sekali hikmah yang aku dapetin selama mengerjakan semua tugas uas. Alhamdu?lillah~ Jama’aah~~ (lanzuutt)
YANG PALING PERTAMA DAN UTAMA ADALAH : CARILAH REKAN KERJA YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN DAPAT DIANDALKAN! Berhubung banyaknya project kelompok dan orang-orangnya seperti itu yaa hehehe.
YANG KEDUA : MULAI LAH PASANG WIFI DI KAMAR KOSAN ATAU NUMPANG KE KOSAN ORANG. Sesungguhnya setiap hari nongkrong di dunkin atau kunst, cukup menguras dompet sehingga baru kamu sadari saat liburan seperti ini uangmu sudah habis. :’) (aku gapapa, aku sudah terbiasa:” #SayaTidakTakut)
YANG KETIGA : KETAHUILAH GEBETANMU LEBIH LANJUT. Jangan sampai kamu kaget dan salah tingkah ketika mengetahui tempat yang kamu tuju untuk tugas UAS adalah tempat dia berada. Kecuali bila itu takdir tuhan untuk mempertemukan kalian berdua kenapa engga? yakan? EHEHEHE :)))
DAN YANG TERAKHIR YANG PALING PENTING : DON’T JUDGE A BOOK BY IT’S COVER.
Oke yang ini mulai serius ya, ekhemm... Jadi pada hari kamis kemarin aku melakukan wawancara pada anak-anak SMA di Taman Balai Kota Bandung ditemani oleh seorang teman sebut saja tohang. Si tohang ini dia kebagian wawancara pada orang tua berusia 40tahun keatas. Lama kita mondar-mandir kesana kemari sampai si tohang putus asa dan menyerah, dia berniat untuk memanipulasi data karena tak kunjung mendapatkan mangsa. Aku berusaha menyemangati tohang dengan berkata “KAMU PASTI BISA MENDAPATKAN KITAB SUCI! eh salah NARASUMBER!” (jauh banget ya typonya). Sampai akhirnya kita berjalan menuju kantor walikota karena bau-baunya disana terdapat banyak paruh baya.
Sampailah kita disana dan mataku langsung tertuju pada segerombolan kakek tua yang tengah duduk santai di anak tangga dengan kopi yang diwadahi a*ua gelas bekas dan berbatang-batang rokok. Diantara segerombolan kakek tua itu ada satu yang paling menarik perhatian, bisa dibilang gayanya yang paling nyentrik. Si tohang yang asalnya jadi tamengku, dia malah balik badan. “Ah klim kayaknya yang ini sama aja kayak yang tadi, kayaknya dia gatau tentang politik.” Tohang ini... mudah sekali menyerahnya. Lalu aku meyakinkan dia, “eh kamu jangan liat dia dari penampilannya.” “engga ah klim, aku mau nanya om ku aja..” “ihh jangan gituu, coba dulu ajaa dia kayaknya paham politik deh” “ihh tapi aku takut ditolak kayak yang tadi-tadi..” “coba duluuu jangan pantang menyerah dongg.” Dan dengan sedikit dorongan, tohang pun maju.. (bener-bener aku dorong punggungnya)
Awalnya segerombolan kakek tua itu menolak, namun kakek yang nyentrik ini dengan antusias bersedia untuk diwawancara. DAAN TELUSUR PUNYA TELUSUR! OMG!!!! KAKEK INI HEBAT SEKALEEEEEEEE!!!! SUCH AN AWESOME MAN!!! LYKE SERIOUSLY DIA BENAR-BENAR LUAR BIASAA! Soekarno adalah guru dia dan dia sangat dekat dengan keluarganya, sampe diceritain waktu Ibu Megawati baru pulang sekolah pas SD, BJ HABIBIE DAN W.S RENDRA ITU TEMEN DEKETNYA, sampe diliatin undangan pernikahan dia tertulis nama mereka dan nama-nama besar lainnya di bagian tamu yang diundang. KETUA PERSENIAN SEDUNIA, AKTIVIS, SAMPE GURU BESARNYA RIDWAN KAMIL!! Doi cerita setahun sebelum ikut pemilihan walikota bandung Ridwan Kamil galau dan curhat sama dia. OMGGG!!!! Aku dan tohangpun hanya bisa terpaku mendengar cerita kakek tua ini. Doi cerita kayak ke cucunya sendiri. Terus dia memperlihatkan tas travel batik yang udah lusuh dan kumel, dan tau isinya apa? 2 buku besar yang isinya CV-CV, pencapaian, sertifikat, dan dokumen-dokumen pribadi! DAN KITA BERDUA BOLEH LIAT!!
Sampe-sampe kakek-kakek yang lain bilang kalo kita berdua beruntung banget bisa ketemu dia dan diperbolehkan melihat buku-buku suci dia! OMG pokoknya bener-bener speechless dan aku gatau mau ngomong apa lagi. Doi juga sampe nawarin untuk berkunjung ke rumah dia dan baca buku yang dia miliki. BAIK SEKALEEEEE! aku ga habis pikir deh sumpah. Dia sampai mengingatkan aku sama Abah Iwan, tokoh yang paling berpengaruh di Unpad. DAN TAU GAK? TERNYATA DIA TEMENNYA ABAH IWAN JUGA! Oke bener-bener aku gatau mau ngomong apa lagi. Dia benar-benar luar biasa dan salah satu orang yang aku syukuri keberadaannya di dunia.
Ini waktu tohang mewawancarai kakek luar biasa itu. (yah ketahuan deh identitas tohang:( maaf yha nacha wkwkw).
Akhir cerita kita sudah selesai wawancara, yaa sekitar 1jam lebih kita berbincang-bincang. Setelah selesai pamit kita langsung pergi dan langsung excited! “OMG GILA KLIM! AKU SAMPE GATAU MAU NGOMONG APA” “ABAH ITU KEREN BANGET JADI INI..JADI ITU..” “BUKUNYA TEBEL BANGET ISINYA CV SEMUA COYY!” “SOEKARNO, BJ HABIBIE, SUHARTO, AMIN RAIS, W.S. RENDRA!” “GILA NILAIKU BISA A KALO GINI HAHAHA” dan kami tenggelam akan takjub yang tak henti-henti. And yes “Don’t judge a book by it’s cover”
Pelajaran yang didapatkan dari pertemuan ‘jalan tuhan’ itu adalah banyak sekali pelajaran yang disampaikan si abah. buku-buku yang ia bawa seakan bukti apa saja yang telah ia lakukan di dunia ini, dan menjadi cerminan juga “lalu selama ini apa yang sudah kulakukan?” Dan ada satu petuah abah yang masih menempel dikepalaku dan selamanya akan aku genggam “Jadilah seorang pemain, bukan penonton!” katanya kalo penonton bayar wkwkwk.
Terima kasih abah atas pelajarannya, terima kasih atas tamparannya, terima kasih juga atas minyak yang ditumpahkan dalam bara api ini. Terima kasih abah ‘achoenk’ soepardi.
(Nanti kalo bara itu redup atau diri ini lelah dan binggung, aku bakalan main lagi ke kantor walikota ehehe :))
Sebenarnya kamu hanya melihat 2% diriku yang sebenarnya melalui media sosial. Sisanya? Pencitraan mungkin? Sudahlah jangan terlalu munafik, pasti kamu pun seperti itu kan? Secara sadar ataupun tidak.
Pada hakikatnya manusia menginginkan citra yang baik dihadapan semua orang. Seringkali orang yang kita temui di dunia maya memiliki penampilan yang indah atau kehidupan yang baik berdasarkan segala hal yang mereka unggah di akun miliknya. Dan seringkali kita tercenggang saat melihat mereka di dunia nyata. “Dia tidak secantik foto profilnya” atau “aku baru tau kehidupannya sangat menyedihkan” atau “itu dia? Seperti dua orang yang berbeda” dan masih banyak lagi. Menjadi bahan pergunjingan atau lebih parah bahan hinaan bagi orang-orang.
Lalu siapa yang salah? Apakah dia yang bersikap munafik karena alasan pribadinya? Ataukah orang-orang diluar sana yang memperburuk suasana? Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang benar. Semua kembali pada perspektif bagaimana kita memandangnya dan menyikapinya.
Sebenarnya kita punya hak yang bebas untuk mengunggah apa yang mau kita unggah, bebas mengemukakan pendapat yang bahkan sudah tertera jelas di Peraturan Perundang-undangan pasal 28E ayat 3. Dan kita sebagai konsumen atau followers juga bebas memilih dan menolak segala terpaan yang dalam konteks ini adalah konten media sosial. Kalau tidak suka, yasudah jangan dilihat. Gitu aja repot.
Namun, disamping kita bebas untuk mengunggah segala hal yang kita mau. Tentu kata ‘bebas’ disini tidak sepenuhnya bebas. Ada hakikat nilai dan norma yang membatasinya. Aku tidak begitu paham akan Peraturan Perundang-undangan yang tertulis. Tapi nilai dan norma sosial ini sangat erat kaitannya dengan masyarakat Indonesia dan bisa dikatakan merupakan jenis hukum non-tertulis yang sadar atau tidak sudah dibawa dari sejak kita kecil.
Jadi sebelum mem-posting sesuatu, tidak apa-apa tidak mempedulikan perkataan orang-orang, tapi pedulikan nilai dan norma yang mengikat budaya kita. Dan jangan menilai orang dari media sosialnya, karna yang kita nilai belum tentu orang itu seutuhnya.
Aku tidak peduli perkataan kalian yang mengatakan jika tulisanku ini adalah salah satu bentuk pencitraan. Kalian benar, tapi kalian juga salah. Aku punya hak, kalian pun begitu. Kalau tidak suka, yasudah jangan dilihat, gitu aja repot.
Setelah sekian lama. Baru pertama kali bertemu dia lagi. Ada rasa takut, takut canggung, takut melihatnya, takut rasa itu kembali ada dan takut luka ini kembali terbuka. Tapi kini, pemikiranku mulai terbuka, aku sudah berpikir jernih. Setidaknya kami masih bisa berteman dengan baik. Dia teman yang baik. Dan menurutku dia bisa menjadi teman yang bisa aku andalkan di masa depan. Dan setidaknya kami kembali ke titik awal. Titik dimana semua berjalan baik-baik saja. Titik dimana kami memulai segalanya. Titik dimana kami bisa menulis cerita lain. Titik dimana kami diberi kesempatan kedua.
Ceritanya hari sabtu kemarin, saat di penghujung acara CC dan menunggu giliran untuk bertemu produser, Gede-Panji- celetuk berbicara seperti ini “Klim aku mau bikin film” dengan logat bali nya yang begitu kental yang sukses membuatku penasaran. ‘Hmm pasti absurd’-pikirku. “Apaan tuh?” “Tentang coli” dan langsung disambut dengan senyuman menggodanya yang aneh. Aku tersontak mendengarnya dan sedikit memaklumi karna dia memang gesrek seperti itu. Disana juga ada Yanto dan ka Radifan yang tertawa dan meledek responku. Apa yang salah? Justru mereka kan yang salah?
Singkat cerita dia memintaku untuk menuliskan naskahnya. Ingin rasanya langsung ku tolak saat itu juga. Namun terlintas dipikiranku ‘Kalo kamu nulis naskah film ini, it will be a big BOOM!’ Akhirnya aku meminta dia untuk menceritakan keseluruhan cerita.
Dia menceritakannya dengan begitu jelas dan detail sampai aku bilang “Lah udah jelas juga, kenapa dibikin naskah segala?” Dan dengan lugasnya ia menjawab “Film itu harus ada naskahnya, biar afdol” Hmm alasan yang cukup....masuk akal.
Akhirnya dia selsai bercerita. Aku bertepuk tangan, tersenyum dan berkata “gila kamu” lalu melenggos pergi meninggalkannya yang terus memanggil namaku sambil meminta untuk kutuliskan naskahnya.
Jujur saja aku tertarik, bukan tertarik akan visualisasinya nanti, tentu bukan. Aku tertarik karna ini tantangan baru, sebuah langkah besar menurutku. Bukan hal baru bagiku menuliskan naskah bergenre sexuality. Naskah Doradasih sebelumnya juga tentang sexuality, hanya saja tidak terlalu aku explore dan mendalam adegannya. Tapi yang satu ini... Gila! Disisi lain, aku ingin mencobanya.
Tapi ada hal lain yang aku pikirkan. Dosa. Apakah aku berdosa jika menuliskan hal-hal seperti itu? Apakah akan sama halnya dengan melakukan hal itu? Meski aku tau niatku hanyalah untuk aktualisasi diri saja. Tapi apakah tetap akan dihitung sebagai dosa? Belum lagi apa kata orang nanti? Jika mereka mengetahui sang penulis naskah adalah seorang wanita berhijab. Sebenarnya aku tida terlalu peduli akan hal itu. Persetan dengan kata orang.
Belum aku putuskan akan ikut bergabung dan membantu Gede dalam penulisan naskah. Aku tidak begitu paham akan dosa. Aku masih belajar akan hal itu. Tapi untuk sekarang, apakah aku harus mencari aman atau aku melangkah mengambil resiko?
Hai! Sudah lama sekali rasanya tidak menulis disini lagi. Seperti biasa saya masih sibuk dengan kegiatan di dunia nyata. Hmm sebenarnya karna tidak ada koneksi internet juga sih hehe. Ini saja saya harus mengandalkan fasilitas kampus dengan wifi-nya yang dicintai oleh seluruh mahasiswa.
Bahasan kali ini akan terasa lebih serius.
Kenapa serius? Tentang cowok kok serius?
Serius! Tulisan ini benar-benar mengalir dari hati, melibatkan perasaan dan terdengar rumit. Pengalaman saya sebelumnya juga menjadi salah satu alasan saya menuliskan tentang laki-laki disini.
Oke. Dimana saya harus mulai?
Kenapa saya tiba-tiba menulis tentang ini ya? Oh ya.. saya baru ingat! Awal mulanya dari perbincangan ringan dan semakin berat di sebuah grup chat line. Diawali dengan saya yang ingin sedikit mencurahkan isi hati, karna kebetulan saat itu sedang membahas lelaki juga lalu saya pikir kenapa tidak sekalian? Hehe. Saya bilang “sepertinya aku jatuh cinta” satu kolom chat sederhana yang langsung di bombardir oleh jutaan pertanyaan dan pernyataan. Oke tidak sampai jutaan, itu terlalu berlebihan. Tapi setidaknya mampu mengalihkan isu yang kami bahas sebelumnya.
Saat sedang heboh-hebohnya, sebagian sudah tau siapa orang yang beruntung mendapati hati saya dan menyebabkan semua orang tau Who’s the lucky guy! Kemudian ada celetukan konyol dari salah satu teman saya.
SIKLUS IKLIMA
1. Berbunga-bunga, seminggu masih antusias.
2. Dua minggu kemudian ada kejadian salah ngomong atau salah tingkah yang mengakibatkan malu berkepanjangan.
3. Tiga minggu kemudian berbunga-bunga lagi.
4. Minggu keempat merasa ada yang salah.
5. Minggu kelima menyesal.
6. Minggu keenam gak mau dibahas lagi.
“Gitu aja terus sampe icha jadi ketua BEM”
Iya kah? Iya kah saya seperti itu? Rasanya tidak. Entah kenapa teman saya yang satu ini begitu peka. Atau memang benar saya seperti itu tapi saya tidak menyadarinya.
Ini yang membuat saya seketika flashback pengalaman ‘mengagumi’ seseorang tanpa mendapat balasan yang pasti. Jadi inget salah satu quotes yang dijadikan wallpaper oleh seorang kakak tingkat.
Kita selalu mencintai orang yang tidak bisa kita miliki.
Sengaja dibikin highlight karna pasti kalian yang membaca juga mengalaminya kan? Hehe
Pengalaman sebelumnya yang membuat saya berpikir kembali, akan kah sama jadinya dengan yang ini? Atau kah akan memiliki cerita berbeda?
Oke segitu dulu, nanti saya lajutkan. Bella teman saya sudah mengajak makan, dia sedang menjalani suatu program diet. Tapi nyatanya dia yang ngajak makan juga hahaha. Lanjut lagi kapan-kapan ya, kalau ada internet hehe
HOLAAA i’m back! udah lama ga update karna sibuk nulis naskah.. tapiii setelah melewati beberapa revisi, rombak, evaluasi, revisi, rombak, evaluasi dan revisi lagi, akhirnya Script Lock! YASH! alhamdulillah~
Script Lock adalah suatu keadaan dimana naskah yang kita tulis sifatnya sudah final dan fix. Tidak ada revisi dan sudah di setujui berbagai pihak.
Bikin naskah ini perjuangan loh, sumpah no joke. Tantangannya luar biasa beuh.. Aku yang biasanya nulis bergenre sosial dituntut buat bikin naskah genre horor! Aku yang borangannya naudzubillah alias penakut tingkat akut harus masuk ke dunia itu langsung. Aku yang janji ga akan nonton the conjuring, jadi harus wajib kudu nonton the conjuring dan ga boleh sedikit pun tutup mata! Belom lagi beberapa film horor yang aku jauhin keberadaannya harus di tonton daann di perhatikan setiap detail adegan termasuk si “sosok”nya dengan jelas! Belom lagi cari referensi lain seperti baca-baca cerita horor di buku ataupun internet, tanya-tanya pengalaman orang, sampe ngerasain sendiri! Alhasil aku gabisa hidup tenang sampe sekarang wahahaha. OHIYA di tambah tuntutan dari berbagai pihak dalam produksi yang minta ini itu dalam waktu deadline, sukses bikin aku kepengen nyerah dan ngeluh kesana kemari. (baca post aku sebelumnya)
Tapi alhamdulillah semuanya udah selsai~ Tinggal di breakdown dan produksi, YEAY!! gabut lagi...(resiko scriptwriter paling hectic di awal) Tapi sepertinya tidak begitu gabut. Karna alhamdulillah lagi ada kerjaan juga jadi fotografer buat brand hijab ternama. ea ea ea. Yaa lumayan lah ngisi waktu luang sama ngisi dompet juga hahahaha..
Semoga produksi filmnya nanti lancar dan filmnya sukses! Semoga kerjaan freelance fotografer nya juga lancar dan sukses!
Baru selsai ngabuburit buang-buang uang buat beli semua buku ini. Nyesel ga sih ngabisin duit buat buku-buku ini? (mending beli baju lebaran klim) Well, engga juga sih. Buat ilmu kenapa harus nyesel? Toh duit bisa dicari lagi. Lagian aku dapet suntikan dana dari papski dan siskii (pajak ultah ceritanya hohoho)
Temen aku, si senja dia pernah bilang “mu, kalo beli novel dari penulis indonesia belinya yang ori jangan yang kw fotokopian, hargai penulisnya. Jadi kalo penulis luar boleh kw dong yah?” Lhaa.. emang temen aku yang satu ini kadang sengklek sedikit hahaha
Seperti di post sebelum-belumnya, aku bakalan isi kegabutan liburan kali ini salah satunya dengan baca buku. Dan nanti aku bakalan post tentang buku itu kalo udah selsai aku baca. Yaaa seperti review ringan gitu kali yak wkwkwk so soan expert.
So see you on the first book!
Iklima Musyarofah @iklimsyrfh - Tumblr Blog | Tumgag