#freepalestine 🇵🇸

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things
seen from United States

seen from Belgium
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Switzerland

seen from South Korea

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Italy

seen from United States
seen from Malaysia
@iksanharis
#freepalestine 🇵🇸
Pengalaman membuat Passport
Sesungguhnya obat patah hati adalah jalan-jalan ke tempat yang baru dan jauh dengan catatan ada duitnya. Patah hati sama siapa sih bujang? Hehe. Covid -19 memang sudah berakhir, tapi dampaknya masih begitu terasa, salah satunya adalah tiket pesawat yang super duper mahal, tak habis pikir aku dengan harga tiket pesawat Palu-Manado, PP Hampir lima juta. Harga ini sudah diluar nalar untuk kuterima, untungnya saja keberangkatanku ditanggung negara.
Sembari mengeluhkan harga tiket pesawat mahal itu, dalam perjalanan pulang yang transit di Makassar, rekan saya diajak oleh saudaranya untuk bertemu sembari makan siang diluar dan dia mengajak kami (bertiga), saya sih antara mau dan tidak, soalnya taksi keluar bandara Hasanuddin ini terkenal mahal, namun karena ditraktir, ya gas aelah! Sembari makan Pallubasa Srigala dua porsi lalu diajak melihat kawasan reklamasi yang berubah menjadi kawasan elite bernuansa timur tengah, topik kami kembali mengarah ke mahalnya tiket pesawat.
Eh dari pada pusing dengan tiket domestik, tiket pesawat ke Singapur lagi murah loh, kemarin dapat promo empat ratus lima puluan.” Sahut saudara perempuan temanku diperjalanan mengantar kami kembali ke bandara, hah masa sih, tapikan tiket ke Jakarta mahalnya minta ampun, sama saja (ujarku dalam hati). ---Karena baru buka penerbangan rute Makassar-Singapur PP.” HAH-yang benar saja, ada rute langsung dari Makassar ke Singapur!
Meski demikian, tiket pesawat ini tidak menarik perhatianku. Lagian, akukan mau menjelajah Indonesia dulu. Sesuai dengan hastag pak mentri parawisata, #Dirumahsaja, meski setengah hatiku protes dengan mahalnya tiket pesawat.
--------------------------------
Beberapa minggu berlalu, tibalah libur idul adha, hah libur? Untuk pertama kali idul adha ada cuti bersama, bertemu dengan akhir pekan menjadi empat hari. Kuputuskan untuk pulang kerumah, untuk pertama kalinya aku dua kali lebaran dirumah dalam tujuh tahun terakhir, betapa senangnya!
Kembali dari rumah menuju ke Palu, aku singgah sebentar di kantor, disuatu kelompok tongkrongan anak pelayanan sedang asyik membahas pembuatan passport, aku ikut nimbrung dan tiba-tiba saja aku nyerocos, pengen buat passport juga. Jadilah aku coba-coba membuat passport elektronik secara online dan melakukan pembayaran sebesar 750ribu, besok pagi tanpa persiapan dan dokumen aku akan diwawancara dan pengambilan foto di kantor Imigrasi. Sungguh suatu kegabutan yang tak jelas muaranya.
Buat aja dulu, jadi keesokan harinya dengan mencetak berbagai salinan dokumen yang diperlukan saya melangkah dengan pasti ke Imigrasi, setelah di wawancarai dan mengambil antrian untuk di foto dengan kondisi cat rambut pirang akhirnya selesai juga proses pembuatan passport elektronik yang berlaku selama sepuluh tahun ini, plus sepuluh tahun bakal punya foto rambut pirang di passport dan memakai baju jersey England.
N.b : karena saya tidak sempat mengambil passport tersebut, maka saya harus membuat surat kuasa untuk diambil oleh rekan kerja saya di Palu.
Eh, eh.
Menikah itu sebuah pilihan dan dalam pernikahan pun masih terdapat pilihan. Kalau di dalam sebuah pernikahan, kita tidak lagi memiliki pilihan dalam hidup, maka perlu kita pertanyaan. Apakah pernikahan kita ini memang benar pilihan kita secara sadar atau bukan, seperti tuntutan sosial, masyarakat, keluarga, sesuatu yang berasal dari luar diri kita.
Bahkan dalam kondisi paling ekstrem dalam pernikahan pun, disediakan pilihan untuk mengakhiri pernikahan sebagai solusi paripurna. Kalau dalam kondisi yang ekstrem kita tidak punya pilihan itu, sebenarnya pernikahan tersebut milik siapa? Dalam kondisi kita masih sendiri pun, saat usia kita sudah menjelang kepala tiga bahkan lebih. Apakah masuk ke dalam fase pernikahan itu keharusan, atau pilihan? Jika keharusan, sebenarnya siapa yang nantinya akan menjalani pernikahanmu dengan segala risikonya, bukankah kamu? Pernikahan ini jalan mendaki dan menurun, mendaki kita perlu tenaga, menurun kita perlu rem yang kuat agar kita tidak terperosok. Pastikan kendaraan yang kamu pilih adalah kendaraan yang terbaik yang bisa kamu usahakan. Jangan memilih seadanya, apalagi dipilihkan seadanya. Karena risikonya, kamu yang menjalani. Bukankah sebenarnya masuk ke dalam pernikahan itu sendiri seperti memilih masalah dan risiko yang sanggup kita hadapi. Kalau tahu kita tidak sanggup, beranilah memilih untuk tidak mengambilnya, mengambil waktu untuk membekali diri hingga cukup. Jangan sampai, kamu tidak bisa memilih.
Sedang mencari.
Tanah dan akar,
kamulah tanahku yang mustahil ditinggalkan tanah yang tlah mengikat akarku, Bahkan angin badai tak kurasa bisa melepas kita
Akulah tetumbuhanmu yang telah termakan janjimu kau telah menangkap benih hatiku dan kini aku tak bisa berlari,
Kuakui ku tlah kecanduan dengan bisik rayumu Namun tanah yang kau berikan tak subur sayangku
kau biarkan aku kering, Matahari terik membakar logikaku dimana hujan yang kau janjikan? dimana sungai yang kau sebut-sebut kan mengalir disamping kita,
nyatanya aku layu, nyatanya tak ada air nyatanya hubungan kita sama-sama kering,
lepaskan saja akarku dari tanahmu, meski kutahu diriku kan lebih terpuruk tanpamu.
28 September tiga tahun.
Hari ini begitu cerah dan kami bagaikan adonan kue yang dikukus di dalam kantor sementara atau disingkat kantara, meskipun tidak lagi kami bicarakan sesering dulu, namun efek dari bencana alam yang terjadi masih terus menemani kami di Kantara setiap hari, kuulangi setiap hari. Hari ini genap sudah Tiga Tahun peristiwa Gempa dan Tsunami di teluk Palu, Kantara ini sebenarnya jauh dari kata layak, dinding dari asbes tidak sehat untuk pernapasan dan tak memiliki sirkulasi udara yang baik, kami yang kerja dengan ruang gerak terbatas dan panas terik matahari kota Palu tetap terasa bahkan ketika semua AC telah dinyalakan, meskipun tidak kami bicarakan lagi, namun ada segelintir orang yang lembur hingga larut malam demi mengusahakan gedung kantor yang baru bisa segera diselesaikan.
”Kita semua boleh jatuh, tapi harus bangkit kembali.” -Sepenggal lagu dari HIVI! Yang memang diciptakan untuk menyemangati warga kota Palu menemani kami di kantara, siapa sangka dengan kantor yang sekecil ini kami masih bisa bekerja optimal, dua tahun penerimaan kami mencapai 100% dari target yang diberikan, semoga tahun ini bisa HETRIK!
”Jangan salah di kantor yang se-sumpek ini siapa sangka bisa memberikan kontribusi besar bagi negara.” Kata seorang AR yang rajin lembur.
Apakah saya seorang minimalis?
Apakah saya seorang minimalis? Satu pertanyaan yang membutuhkan perenungan dibanding harus dijawab dengan tergesa-gesa, jika pertanyaan digeser sedikit, apakah saya tertarik dengan konsep hidup minimalis? Mungkin dengan tegas saya akan menjawab, ya.
Setiap orang punya ketertarikan akan gaya hidup yang berbeda-beda, namun tidak semua orang bisa memberikan dampak positif terhadap gaya hidup yang ia jalani, terutama menyangkut aspek pelestarian lingkungan. Hukum ketertarikan (Law of attraction) membimbing kita untuk menarik berbagai kejadiaan demi kejadian dalam hidup kita, termasuk jika kamu sedang membaca ini.
Bagiku, minimalis bukanlah yang pertama kali datang, namun rentetan kejadian demi kejadian itu sendiri. Ketertarikan terhadap pentingnya konservasi alam menuntun kesebuah pertanyaan, sejauh apa kontribusiku? Adakah gaya hidupku yang sekarang telah sejalan dengan nilai yang tertanam?
Gagasan Zero Waste dari Channel Youtube Trash is for Tossers yang kusaksikan di tahun 2018 membuatku bersemangat untuk mengikutinya, kumulai cukup ekstrem dengan tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai dan tidak membeli produk-produk kemasan plastik yang menjadi sampah. Bisa dibilang susah-susah gampang, jatuh bangun, naik turun semangatnya, isi kulkas ku-ubah dari camilan kemasan plastik dan beberapa botol minuman kaleng ke buah-buahan dan jus buah yang kubeli dengan membawa tumbler. Untuk sarapan atau makan berat, saya akan makan langsung di warung atau membawa rantang untuk dibungkus ke kantor. Memang rempong namun langkah kecil ini membawa keberhasilan yang signifikan dalam mengurangi sampah pribadiku. Begitupun dengan urusan cuci pakaian, saya mulai kembali mencuci pakaian kotor yang ringan-ringan, sisanya kubawa ketukang laundry dengan menggunakan tas kain dan kuminta untuk tidak membungkusnya dengan plastik wrap (kecuali di musim hujan).
Keberhasilan yang paling saya rasakan adalah ketika Ramadhan di tahun 2019, saya sukses tidak menghasilkan sampah plastik sebulan penuh. Namun pelan-pelan saya mulai tidak ekstrim lagi, entah ini kabar baik atau buruk, namun sebuah perspektif baru muncul dibenakku, bahwa kita memang kini tidak bisa hidup tanpa plastik, bahwa ia diciptakan untuk memudahkan urusan manusia, namun penggunaan plastik sekali pakai adalah pemborosan, perlu dihindari dan tidak bijak, namun semua kembali lagi pada memaksimalkan fungsi dan meminimalisir dampaknya.
Dalam satu kesempatan, kusinggahi toko buku di kota Palu dan menemukan buku yang menarik dari banyak seri Chicken soup for the soul, ”Makin sedikit, makin bahagia” kumpulan cerita inspiratif dari orang-orang yang mendapatkan kebahagian dengan mengurangi barang-barangnya, stop belanja, mematikan smartphone, pindah ke rumah yang lebih kecil. Ceritanya benar-benar mencengangkan, sebuah konsep anti-materialism yang maniak, bumerang bagi nasihat orang awam terhadap arti kesuksesan mampu mengumpulkan banyak harta, mereka lebih memilih mengumpulkan pengalaman dan keterampilan.
Buku ”Goodbye, things” karya Fumio Sasaki yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, hidup minimalis ala orang jepang menjadi bacaan kesukaanku selanjutnya, dia memberikan argumen-argumen sesuai dengan perjalanan hidupnya dari konsumerisme menuju ke minimalis yang cukup baik dalam mempengaruhiku untuk mulai mencoba hidup minimalis. Hukum ketertarikan juga mengantarkanku pada serial televisi Mario Kondo, sang ratu beres-beres dari jepang yang memperkenalkan konsep melipat baju dan merapikan bagian-bagian rumah.
Contoh-contoh diatas sebenarnya tidak jauh dari kehidupan Rasulullah yang sederhana jika kita pernah mendengar kisah Beliau yang sebenarnya mampu hidup bermewah- namun memilih hidup dengan berkecukupan.
Semua dalam perjalanannya, namun jika dilakukan dengan konsisten saya pikir dapat membuat saya menjadi minimalis yang fungsional dan membahagiakan. Jika kamu membaca sejauh ini, mungkin kamu tertarik.
Bab baru atau sebuah penutupan?
I gotta move on. it’s been two weeks, and that’s unhealthy doing something without passion and lose it all. Honestly, everyday I just wanna sleeping after the day announced, until when?
but before I take it for granted.
lemme pluck a sprig of wisdom,
yeah it’s really lovely time, a history not just memory,
.
ada yang bilang memang tidak mudah, setelah kamu menerimanya, lalu membangun jalan cerita perlahan-lahan tidak hanya dengan orang-orang, tapi dengan rentetan bentang alamnya, dengan ramalan cuaca, dengan makanannya, dengan keramahtamahan manusia dan kebiasaanya. lantas kamu harus pergi disaat kamu siap-tak siap?
Kini dekat tidaklah berarti,
kini baru kurasakan arti sunyi di tengah keramaian.
Kemarin kutahan air mata sebab kurasa harus kuakhiri perpisahan itu dengan senyuman. Namun dimalam tepat saat diriku berada jauh ditempat ini, baru air mataku mengalir dan mulutku terisak-isak di kamar baru yang asing dan sendiri.
Jujur, tidak kunikmati hari-hari terakhirku berada disana, yang harusnya kunikmati. Hari-hari terakhir yang sibuk dan mengapa harus dihari-hari itu.
Untungnya,
bias mentari di hari terakhir begitu hangat kupandangi sambil mengendarai sepeda motor di jam-jam kurang dari sehari, damai, seperti berada di akhir sebuah film, yang kurasakan hanyalah sinarnya dan kedamaian, telingaku tak mendengar bahkan suara knalpot motorku sendiri.
Bukan tentang tempatnya,
mungkin kota kecil itu akan tumbuh dan telah berubah lalu akan menghapus sebagian besar kesanku tumbuh disana setelah kedatanganku suatu hari nanti jika.
Jika saja.
Aku bangga karena yang telah kubangun disana bukan hanya sebatas kewajiban bekerja ditempat jauh namun lebih ke sebuah hubungan psikologi dengan apa adanya yang ia tampilkan dan bagaimana kami perlahan-lahan saling menerima, sunyi yang ia tawarkan digantikan dengan alunan air sungai mengalir dalam damai, kami intim. Ia menawarkan air dan garam yang membuat tidur nyenyak, ia menunjukkan dunia dibawah sana yang tak kalah indahnya. Ia begitu idealis, memberiku keseimbangan antara dunia kerja dan tempat melepas penat.
Apakah hubungan seperti itu bisa kubangun disini? Jujur, aku takut.
Catatan di masa-masa sulit
Secara mental, Ramadhan tahun ini jauh lebih berat. Bukan tentang menahan lapar dan haus meskipun itu juga menjadi tantangan tersendiri buatku, melainkan Ramadhan 1441 Hijriah kali ini kesabaran dan iman kita jauh lebih diuji, sampai dimanakah dia?
Jauh berbeda, sangat jauh berbeda. Ada beberapa kenyataan yang membuatku dan mungkin kamu harus bersabar, salah satunya menerima kenyataan bahwa tak boleh mudik untuk berkumpul dengan sanak keluarga, tentu ini hal yang baru dan membayangkannya saja sudah sulit dan menghadirkan perasaan tidak enak. Berpikir positif dan menguasai diri sangat diperlukan, meskipun berat, namun ini satu-satunya senjata yang ampuh untuk tetap waras di masa pandemi yang serba tak menentu.
Saya yang tidur bermalas-malasan, mencoba mengusir rasa kesendirian yang memeluk tubuh begitu erat, lewat hembusan kipas angin, tubuhku yang kurus dan lemas bersembunyi di dalam selimut, jauh dari itu, jiwaku mulai kering, meskipun diluar hujan deras membasahi tanah dan awan hitam menutupi langit.
Kesendirian.
Ia bisa membunuhmu.
Jika kamu tidak berdamai, maka ia membunuhmu dengan lebih cepat.
Kesendirian berteman dengan sepi, rasa yang berdarah dingin.
Menghadirkan prasangka yang paling berbahaya.
Kadang kala ia baik, menjernihkan pikiran. Menghadirkan sesosok bijak yang berkata, “Wahai anak muda, kini kau menyadari bahwa kau bukanlah siapa-siapa, mudah saja bagi Tuhanmu memenjarakanmu dengan sesosok makhluk kecil yang bahkan kau tidak melihatnya.”
Ketidakberdayaan bukanlah sesuatu yang buruk.
Diam, bukan berarti tak mengerti.
Berhenti, bukan untuk bermalas-malasan.
Tubuh yang sakit perlu beristirahat.
Kadangkala dengan sendiri
Barangkali dengan sepi
Kita baru bisa melihat dengan jelas
Tanpa kabut yang menghalangi pandangan
Apa yang benar-benar berarti bagi diri,
Dan waktu yang telah dihabiskan
Ternyata banyak
sia-sia.
Cerita yang tidak boleh terlalu diceritakan
Siang yang cerah namun tak terlalu panas, suara jalanan yang tidak pernah bising dan pemandangan pegunungan di balik jendela kayu aula, nun lima menit disana gelombang lembut air laut bercumbu dengan bibir pantai, airnya jernih meski tak bebas dari sampah plastik. Terberkatilah tempat ini, sisi yang boleh diceritakan karena cukup menenangkan.
Dua minggu duduk dengan senang karena sudah memiliki meja kerja sendiri, meskipun kantor ini lebih terasa seperti rumah—yah, perlu diakui bahwa tidak banyak pekerjaan, terlebih dibagian umum menangani pekerjaan serabutan dan masalah-masalah dari berbagai pegawai.
Favoritku sejauh ini mengakses ‘workgroup’, disana banyak film-film lawas dan film baru bajakan yang bisa ditonton. Namun yang paling kusukai adalah arsip perjalanan tim petualang orang kantor (beberapa sudah alumnus) menjelajahi alam Tolitoli. Mereka mendokumentasinya dengan cukup rapi dan pembawa acara yang selalu tersenyum dan jago menyelam sambil tersenyum.
Mereka menjelajah sampai ke Ampana lanjut ke Togean.Dua minggu saya mengikuti petualang mereka, hingga seorang senior, menegur. Mungkin terlalu sering saya menonton, tapi bukan itu poinnya.
“San. Jangan terlalu ditonton,”
“Maksudnya mas?”
“Dia orangnya, dia.” Maksudnya dia yang tidak boleh terlalu diceritakan kisahnya, dia yang tersenyum sambil menyelam adalah orang yang sama dengan dia yang memilih menggantungkan diri dengan trali besi mengakhiri hidup, dia yang tidak boleh terlalu diceritakan, maksudnya, boleh, tapi, diam-diam.
Yang harus berubah (2)
3. Bukit-bukit Cengkeh
Mungkin sudah bosan telinga kalian mendengar kalau kota tempat penempatanku ini dijuluki kota Cengkeh, perkebunan cengkeh nyaris menguasai seluruh bukit yang mengelilinginya. Meski tidak se-sempurna hutan primer, kebun cengkeh cukup kuat menahan erosi dan membuat udara kota di pagi hari sejuk.
Dari jejak digital kutemukan seorang pengelana yang telah lebih dulu mendokumentasikan keindahan tempat ini dengan sebuah kata di ujung blog, “Jika kamu tidak menemukan gunung di tanah rantau tempatmu mendaki, cobalah belajar menyelam, dalamnya laut akan memberikanmu perspektif yang berbeda.” Awalnya kupikir itu adalah nasehat yang tepat sasaran kepadaku.
Belakang kusadari bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar, tidak juga salah. Tolitoli memang tidak memiliki gunung, melainkan pegunungan. Beberapa puncak dari Pegunangan itu dinamai Gunung Dako dan gunung Gallang. Tidak perlu repot-repot mendaki, dengan melakukan tracking atau trail running menuju puncak-puncak bukit cengkeh di sekitar kota, saya jamin betis kalian akan berdenyut merdu di kala malam hari. Inilah bagian yang kusuka, trail running ketika bosan di indekosan koh Jenly yang penuh drama.
4. Terpencil tak selalu mahal
Jejak Tionghoa di Tolitoli menurut informasi dari seorang teman, sekitar tahun 1960an. Kebanyakan mereka berasal dari Surabaya dan memiliki keluarga disana. Sterotype mengenai Orang Tionghoa adalah pedagang terlihat jelas disini, mereka menjadi penguasa pasar di Tolitoli, barangnya di datangkan dari Surabaya melalui kapal yang berlabuh di pelabuhan Dede, Kelurahan Sidoarjo. Berkat mereka, harga barang kebutuhan pokok di Tolitoli cenderung lebih murah bahkan dibanding kota Palu. Ini salah satu yang membuat saya senang dan keuangan aman berada di Tolitoli.
1994, Prajabatan.
Pertama kali saya meninggalkan Tolitoli setelah empat bulan penempatan yaitu ketika harus mengikuti diklat prajabatan di Pusdiklat PU, Jakarta. Saya berangkat dengan pesawat Wings Air sejam kemudian transit di Palu, dan entah mengapa ia yang dulu merupakan kota biasa saja terlihat lebih mewah, lebih luas, dan lebih gemerlap. Biasanya, mereka yang kembali ke Tolitoli berkata “Welcome to the Jungle” mungkin efeknya terasa ketika pulang nanti.
Prajabatan di Pusdiklat PU menjadi momok menakutkan bagi kami, desas-desus sebelumnya, pelatih kopasus galak yang tidak boleh disebut namanya dengan senang hati menghukum kami disana. Benar saja, latihan ini serasa latihan militer ditambah kami harus berfikir lagi, benar-benar menguras tenaga hingga malam. Kukeluhkan hal ini ke orangtuaku, dan.... ibu hanya tertawa yang membuatku kesal.
Dia mencerita pengalamannya yang bertarung nyawa saat prajabatan di tahun 1994, yah tahun itu juga kakakku lahir, belum genap enam bulan usia kakakku, panggilan prajabatan datang dan ia harus mengikuti diklat itu. Dulu jalan Trans Sulawesi begitu mengerikan, rusak berat dan rawan pembegalan. Ibu dan bapak berangkat dengan menggunakan kapal feri dengan membawa kakakku yang masih enam bulan. Pulang dari Prajabatan, ombak besar di perjalanan menghantam kapal feri mereka yang hampir saja oleng, hanya doa yang bisa ibu panjatkan, para penumpang bersiap-siap untuk melompat, muntah, keringat, hempasan air laut membuat ibu setengah pinsan. Orang-orang mengira kakakku akan meninggal, sebab badannya yang kecil sudah membiru, dan perjuangan ibu sebagai guru di daerah terpencil selesai di lautan dan mungkin jejaknya hanya dikenang di kampung.
Pengalamanku tentunya lebih menyenangkan, kami berada di kota besar, naik pesawat, diasramakan dan dapat uang harian yang lumayan, dan ada wanita cantik yang diam-diam kutaksir.
Bertahan di Pulau tidak berpenghuni (2)
(Hoga--saya--koeching)
Sore itu setelah mengelilingi pulau Buol, kapal ukuran sedang berlabuh, mereka masyarakat Ogomoli keturunan Sangir yang sedang berburu ikan untuk hari natal nanti. Setelah bersih-bersih di area kemah kami, mengingat pulau ini begitu banyak menerima kiriman sampah dari kota, saya lanjutkan dengan snorkeling dan membuat istana pasir bersama Hoga. Mereka memberikan kami sedikit minyak tanah untuk membakar kayu sebab nanti malam banyak sengit, sejenis serangga, yang keluar dari pasir dan menggigit. Mereka juga menawarkan kapalnya untuk kami tumpangi pulang besok subuh, namun kami menolak karena terlalu cepat.
“Eh, lama juga ya perjalanan karir kita kalo nggak lulus tugas belajar.” Kata Hoga sembari memainkan pasir dan membentuk imajinasinya.
“Entahlah, jangan bahas yang berat-berat uy.” Celetukku.
Sinar matahari terbenam di pulau Buol dipenghujung tahun 2016 begitu menakjubkan, yang sedihnya, hanya kami berdua yang menikmati. Air laut surut, kami menyiapkan makan malam sebelum hari benar-benar gelap dan membiarkan kamera iPhone baruku merekam video timelapse.
Malamnya kami menyalakan api unggun dari kayu-kayu kering yang sudah kukumpulkan, nelayan Ogomoli turut meramaikan selat kecil antara pulau Kabetan dan Buol. Perkampungan di Kabetan tampak begitu sepi di seberang, cahayanya redup bagaikan tiga ekor kunang-kunang. Kota Tolitoli nun jauh disana juga bercahaya, sinarnya cukup untukku. Mungkin bagi teman-teman yang lahir dan tumbuh di kota besar, cahaya itu belum cukup terang untuk meramaikan malam yang sepi.
Hoga tidur lebih dulu setelah bosan dan kehabisan topik bercerita denganku. Sementara saya masih memandangi api yang bersiap-siap menjadi bara. Pikiranku masih melayang-layang, malam ini terasa hangat tanpa angin yang berhembus, kuputuskan untuk tidur diluar saja beralaskan matras dan berselimut sleeping bag. Sejujurnya suara hewan-hewan malam cukup menakutkan, untungnya kucing-kucing yang dibuang pemiliknya ke pulau ini ikut tertidur disampingku.
Keesokan harinya kami putuskan untuk snorkeling lagi, setelah itu sarapan pagi. Kami belum berberes untuk pulang, sementara beberapa katinting lewat begitu saja, lumayan banyak sehingga kami pikir mudah saja untuk pulang. Namun setelah melewati beberapa jam dan kami berbenah untuk pulang, perahu nelayan sudah jarang. Ada sesekali dan kami melambaikan tangan, melompat-lompat, berteriak namun mereka seperti tidak melihat kami sama sekali. Besok masih libur, tapi kami sudah bosan, apalagi cuma berdua. Semua sudah dicerita.
Menjelang siang dari kejauhan terlihat awan hitam besar dan melingkar, angin tiba-tiba bertiup kencang. Badai akan datang, badai akan datang. Kami memasukkan semua barang ke dalam tenda, lalu menguatkan tali, kami segera masuk ke dalam, benar saja hujan deras dan angin kencang seakan ingin menerbangkan kami.
Satu jam kami menunggu hingga hujan reda dan angin bisa menenangkan dirinya sendiri. Cuaca berubah jadi cerah, saya memutuskan untuk jalan-jalan sendiri, setelah merasa sudah terlalu bosan bicara dengan Hoga. Tiba-tiba ada nelayan yang merapat, sayangnya dia baru saja ingin melaut dan pulang besok siang.
Sore hari Hoga sudah tidak tahan, kami mencari sinyal untuk menelpon pak Nurdin di pulau Kabetan. Beberapa kali gagal, akhirnya diangkat juga.
“Aduh. Ombak lagi kencang, sudah mau malam.” Jujur saja kami tidak mau lagi bermalam, meskipun logistik masih ada, namun kayu-kayu untuk dibakar basah semua, dan tidak ada lagi sesuatu yang menyenangkan untuk dibahas, kecuali kami sudah kembali dan membahas perjuangan hari ini yang tidak semenyenangkan seperti kemarin.
“Ini ada pak kumis, tapi dua ratus ribu, tapi... pakai katinting.” Kamipun mengiyakan.
Perjalanan pulang begitu menegangkan, ombak yang besar, katinting yang kecil, kami basah-basah dan hari sudah hampir gelap, setelah satu setengah jam perjalanan yang mendebarkan, tepat adzan magrib kami tiba di Tanjung Batu. Sementara pak Kumis langsung kembali lagi ke pulau Kabetan, sebuah perjuangan hidup. Saya melambaikan tangan perpisahan dan berterimakasih.
Bertahan di Pulau tidak berpenghuni (1)
Sungai Tuweley membelah kecamatan Baolan menjadi dua kelurahan, Tuweley dan Panasakan. Ironi memang karena sungai ini merupakan sumber air bersih satu-satunya di dalam kota yang dikelolah PDAM Ogomalane untuk dialirkan kerumah-rumah warga, yang akan berubah menjadi malapetaka ketika hujan deras seharian turun lalu menggenangi rumah-rumah warga yang berada dibantaran sungai atau di titik yang lebih rendah, salah satunya kelurahan Panasakan.
“Kalau musim kemarau, coba main-main ke hulu sungai diatas, airnya jernih dan udaranya segar.” Sahut mas Ardi sambil mengelus-elus mainan vespa di meja kerjanya.
“Oke mas, kami mau main ke Pulau saja dulu.” Kataku mantap, membayangkan pulau Kabetan yang tampak memanjang seperti Peta Jepang dari atas pesawat ATR pertama yang kutumpangi dulu ke Tolitoli.
“Hah. Bermalam? Sama siapa? Jangan berani-berani ke Pulau bulan Desember, cuaca lagi tidak bagus begini, nantipun kalau mau ke pulau sebaiknya ajak orang lokal.” Nasihatnya sama seperti Oma Poe dulu waktu kami mau menikmati libur semester di kota Tomohon.
Rencana yang sudah kubuat matang-matang, dan sebenarnya sudah kutahan jauh-jauh hari tak boleh tertunda lagi. Seminggu sebelum keberangkatan, setiap sore saya merapat ke Tanjung batu untuk menanyai nelayan perihal kapal-kapal yang akan berangkat menuju Kabetan. Peralatan kami sudah siap, Hoga sudah mempersiapkan tenda dan kompor serta peralatan yang dibutuhkan selama libur natal di pulau (dari semua orang yang kuajak ke pulau, cuma Hoga yang berani dan bersedia, dengan pesimistis sebenarnya mengingat ia sering berubah pikiran akhir-akhir ini).
Hari yang ditunggu telah tiba, namun sayangnya pagi itu angin kencang dan hujan turun begitu deras, nelayan yang akan berangkat ke rumahnya di pulau kabetan mengabari kami untuk menunggu hingga cuaca berubah cerah. Kami harap-harap cemas pada cuaca sembari menunggu di pos satpam.
“Cuma kalian berdua?” Tanya Benyak, satpam tua di kantor kami dengan ekspresi tidak biasa yang kubalas dengan anggukan seadanya, mataku menatap daun-daun berguguran di terpa angin dan hujan di jalanan, berharap segera reda.
Dua jam kemudian cuaca menjadi cerah, angin diajaknya berdamai. Pak Nurdin, nelayan yang akan mengantarkan kami ke Pulau Kabetan mengabariku untuk bersiap-siap. Pukul 10.55 kami sudah berada diatas kapal kecil, ada sepuluh orang, empat diantaranya wanita, kebanyakan dari mereka membeli kebutuhan sehari-hari di pasar Susumbolan sambil berjualan hasil bumi dari pulau Kabetan, terlihat juga seorang gadis muda berseragam SMA yang harus menempuh perjalanan laut setiap harinya, 45 menit di kapal yang bising ini pikirku, suatu perjuangan yang harus diapresiasi.
Setelah mengantarkan penumpangnya turun di Pulau Kabetan, tampaknya kami sepakat untuk merubah rencana yang awalnya ingin menginap di pulau kabetan menjadi menginap di Pulau Buol yang mungil, tanpa sumber air tawar dan tidak berpenghuni.
Setelah kami berlabuh, waktu seakan diperlambat. Saya dan Hoga sepakat untuk tidak saling mengatur satu sama lain, kami punya itinerary bebas hari ini. Saya berencana untuk mengelilingi pulau, membersihkan area tenda kami dari sampah plastik, dan tentunya snorkeling. Sementara Hoga sepertinya ingin tidur siang dulu, rencana selanjutnya belakangan.
Ramalan cuaca kala itu
Ketiga, yang kusukai dari Tolitoli adalah cuacanya, dibandingkan kota-kota lain di Sulawesi, Tolitoli jauh lebih sejuk. Di pagi hari selalu cerah dan siang mulai mendung dengan awan tebal di balik Pegunungan Gallang hingga hujan di sore hari, begitu terus mendominasi sepanjang bulan September hingga Desember. Saking mudahnya menebak, ramalan cuaca tidak dibutuhkan disini.
Namun berbeda dengan siang itu, hujan lebat mulai pukul 12.00 hingga 15.00 membuat beberapa jalan dan pemukiman di kecamatan Baolan terkena banjir. Jalan Anoa salah satunya, jalan yang persis berada di gang sebelah indekosanku terdampak banjir dengan tinggi hingga 1 meter, memang gang itu lebih rendah 1,5 meter dari jalan Daimalambang tempat kami, juga dari segi penataan, mereka masih masuk DAS (Daerah Aliran Sungai) yang harusnya di kosongkan untuk lahan terbuka hijau.
Baru kali ini saya melihat dengan mata telanjang langsung kejadiaan banjir yang masuk kerumah warga dan merusak perabotannya, luapan sungai yang seketika itu tidak hanya merusak rumah, salah satu asrama laki-laki pesantren Nurul Ihsan dan panti asuhan juga terkena imbasnya, anak-anak lelaki harus lari menyelamatkan buku-buku pelajarannya sebelum hancur terbawa banjir, sedih sekaligus haru melihat perjuangan mereka yang saling bahu membahu menyelamatkan barang, saya dan teman-teman menawarkan kepada mereka tempat penampungan barang-barang sementara.
Kalau sudah banjir begini, banyak warung yang tutup. Imbasnya kami harus memasak mie instan untuk makan malam, dan listrik mati hingga pagi hari yang berimbas pada mati air, padahal disebelah baru saja kebanjiran, bayangkan kawan, sebuah ironi. Setelah hujan reda, banjir yang datang tiba-tiba juga surut seketika meninggalkan lumpur tebal di setiap rumah, bayangkan selain bingung harus tidur dimana malam-malam gelap begini, warga yang terimbas banjir juga harus membersihkan lumpur tebal dari dalam rumahnya.
Dari lantai dua Indekosan Koh Jenly saya merasa bersyukur, meski mati lampu, warung tutup, banyak nyamuk, dan jauh dari keluarga, saya masih bisa tidur dengan kasur kering malam ini. Padahal, rumah sebelah belum tentu. Meski begitu, tidur ini tidak akan nyenyak, banyak pertanyaan bermunculan di kepala, tentang alam yang kehilangan keseimbangannya, tentang siapa yang salah, tentang harus bagaimana?
Sarang yang tidak aman
Indekosan tempatku tinggal tak ubahnya sebuah struktur sosial, ia mewakili beberapa bidang pekerjaan, lapisan budaya dan sifat manusia. Tak hanya itu ternyata jika diteliti lebih jauh di dalamnya terdapat blok persekutuan dan teori konspirasi. Mari kuperkenalkan dulu, indekosan kami, seperti yang kubilang sebelumnya, tidak jauh dari kantor polisi dan kantor tempatku bekerja. Terdiri dari 2 lantai 24 kamar yang masing-masing memiliki WC dalam, ruang parkir yang cukup untuk 2 mobil dan puluhan sepeda motor, serta memiliki dapur umum di lantai satu yang jarang sekali kuhampiri. Dari luar, indekosan ini terlihat megah, namun ketika masuk di kamarnya ternyata hanya kamar kecil biasa dengan WC pribadinya.
Sebenarnya tempat ini jadi rekomendasi terakhir dari orang-orang kantor, banyak pengalaman yang membuat alumninya kurang betah. Namun jika ditinjau dari aspek jarak dan finansial, indekosan ini paling ideal.
Kosan ini sejatinya milik seorang nenek tua keturunan Tionghoa-Tolitoli yang kami hanya mendengar namanya beberapa kali disebut, Ci Mayleen, oleh Ulak, tukang bersih-bersih kos sekaligus berprofesi sebagai ojek galon keliling, yang diberi kamar nomor 3 bersama istri dan ketiga anaknya. Sebenarnya saya cukup bertanya-tanya apakah ia diberi gaji tambahan mengingat anak-anaknya terlihat seperti kekurangan gizi.
Ci Mayleen, memberikan tanggung jawab pengelolaan aset ini kepada salah satu anaknya, Koh Jenly yang tinggal di kamar 17 lantai atas, dikamar sempit itu ia tinggal bersama istri keduanya, beda suku beda agama yang membuat Koh Jenly sepertinya dipecat jadi anak oleh Ci Mayleen. Dibawah manejemen Koh Jenly yang gemar berjudi, kosan ini jadi kosan mafia minuman keras yang dilindungi padahal jaraknya hanya seratus meter dibelakang kantor polisi. Ada beberapa kamar dilantai bawah yang dikosongkan dan didatangi oleh orang berbeda-beda setiap minggunya, kami saling curiga siapa sebenarnya yang melindungi semua ini, sebab beberapa kamar diisi oleh pegawai bank sebagai pelaku utama dan mencolok, oknum polisi itu sendiri, orang dari Kejaksaan, dan kami si anak bawang yang mereka curigai tanpa dasar sebagai mafia di kantor Pajak yang tak lebih suci dari mereka.
Kamarku dan kawan-kawan berada dilantai 2, jika pesta mabuk itu sudah dimulai di lantai 1, maka kami hanya bisa mengurung diri dikamar, kadang mereka teriak-teriak hingga larut malam yang awalnya cukup mengganggu, koreksi, sangat mengganggu terutama bila sudah tidur dan harus terbangun ketika ada yang teriak tidak jelas, dalam hati hanya bisa mengumpat. Sebaliknya, jika kami terlanjur berada diluar saat pesta sudah dimulai maka kami harus menunggu hingga larut malam di kantor sampai pesta mereka bubar dengan sendirinya.
***
Pernah suatu hari kucoba memberanikan diri untuk naik ke lantai dua dan melewati mereka, saya pernah mendengar kata seseorang yang bilang kalau orang mabuk tak mungkin bisa menang melawan orang yang sadar, jika mereka mulai mengamuk, maka lari zig-zag saja, mereka akan sempoyongan sendiri. Saya sudah berlatih lari zig zag, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk memperaktekkannya. Tanpa menoleh sedikitpun saya berjalan memecah kelompok mereka yang nongkrong di depan kamar nomor 8 dan 9 persis diantara tangga, tubuh saya dalam mode siaga, langkah saya tidak santai. Jantung saya berdegup kencang saat ada suara yang memanggil.
“Dek, oi, Ko mau ladies kah?”
“Hah?”
Yang harus berubah
Apa yang harus diubah?
Oke-oke, saya akan mulai mencoba menerima kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa disini cukup sepi dan jauh dari mana-mana, kenyataan kalau sinyal jelek dan listrik sering mati di hari sabtu dan minggu seharian. Kenyataan yang paling tidak boleh terlalu dipikirkan adalah jauh dari keluarga dan kerabat dekat di kampung. Satu lagi kenyataan yang cukup mengerikan, bahwa orang-orang punya hobi yang berbeda di akhir pekan.
Terlepas dari semua keterbatasan, saya sudah cukup lega karena tidak terpilih melalui undian untuk berangkat ke Buol, disini saja sudah sepi, apalagi, sudahlah.
Saya ditempatkan di sub bagian umum, sebuah tantangan baru karena selama masa training saya tidak pernah magang dibagian itu.
Kami sudah memilih indekosan masing-masing, hanya Alen yang memisahkan diri, sementara kami berempat berada di indekosan milik Koh John yang tak jauh dari kantor polisi namun setiap malam ada saja yang mabuk dan teriak-teriak, cukup mengganggu sehingga biasanya kami memilih untuk menghabiskan waktu hingga larut malam di kantor dan merasa kurang aman.
Semua kekurangan-kekurangan itu akan membuat makin susah saja jika terus dipikirkan. Meskipun berat, akhirnya saya memilih untuk mengubah jalan pikiran saya. Mula-mula saya memejamkan mata dan memikirkan hal-hal yang tidak akan saya dapatkan jika berada ditempat lain, sesuatu yang hanya saya dapatkan disini, di Tolitoli.
Apa saja itu? Berikut daftarnya :
1. Seafood dengan kualitas ikan paling bagus, beranekaragam, rasa yang juara, dan harga yang murah.
Coba bayangkan ikan baubara, baronang, kerapu, sunu, udang dan cumi datang dari nelayan dan langsung disajikan di rumah makan terapung di tanjung batu, dengan view menghadap pulau lutungan, aroma ikan bakar nan segar berpadu dengan syahdunya musik dan angin sepoi-sepoi dari arah pantai, jangan lupakan suara desir ombak. Semua itu tersedia setiap hari di Tolitoli, harganya sangat terjangkau dengan kualitas yang mungkin tidak akan kamu dapatkan bahkan di kota Palu, setauku.
2. Kolam renang gratis yang luas tak terbatas.
Bangun pagi diakhir pekan, cocoknya berenang. Hanya ada satu kolam renang beneran di Tolitoli, Lorenz di Buntuna namanya, tapi lupakan saja itu. Pergilah ke pantai Lalos, sepanjang tahun di pagi hari kamu akan mendapatinya tenang seperti di danau. Pasirnya lembut dan hati-hati disengat ubur-ubur kecil yang tidak berbahaya.
Apalagi ya, saya mencoba mencari-cari minimal sepuluh, simsalabim, kapal telah tiba di pulau harapan.