Ma, kalau ada mama pasti akan lebih seru. Bisa cerita, dan mama pasti excited banget.
Three Goblin Art
Jules of Nature
h
hello vonnie
taylor price
No title available

Discoholic šŖ©

Kiana Khansmith
Stranger Things
art blog(derogatory)
Aqua Utopiaļ½ęµ·ć®åŗć§čØę¶ćē“”ć

ā
Keni
i don't do bad sauce passes
TVSTRANGERTHINGS
wallacepolsom
No title available
šŖ¼

blake kathryn

ē„ę„ / Permanent Vacation
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from India
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Poland
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@imshiverspine
Ma, kalau ada mama pasti akan lebih seru. Bisa cerita, dan mama pasti excited banget.
Bapak mama, malam ini Esi nangis kangen kalian banget. Esi takut akan banyak hal. Dulu aku kalo takut langsung peluk mama, atau ke bapak.
Aku nggak sekuat itu. I miss my parents.
Kalo dipikir lagi dan dibaca ulang, harusnya diri sendiri udah sadar sejak awal. Lu cuma suka sama imajinasi lu doang yes. Emang pintar banget Yesi ini. Padahal udah tegas sejak awal penolakannya. Baru sadar, ternyata yang menyakiti diri sendiri adalah harapan sendiri yang terlalu tinggi.
Sekarang kalo mau berharap jadi mikir-mikir, jadi lebih nanya ke diri sendiri, "am I deserved this?"
Siang itu setelah shalat Jumat... aku masih ingat dengan jelas di tahun 2017.
Waktu itu aku baru pulang kuliah, sempat ada miss komunikasi antara aku dan bapak. Aku ingat bapak sempat bentak aku, dan aku memang nggak bisa banget dibentak, aku nangis.
Abis pulang shalat Jumat bapak meluk aku dan bilang, "maafin bapak ya, maaf sudah bentak Esi, maaf anak perempuan bapak dibikin nangis." Aku jadi tambah nangis, dan minta maaf juga.
Pengin banget bilang sekarang ke bapak, kalau apa yang bapak dulu lakuin buat bonding sama anak perempuannya itu bermanfaat banget buat aku. Aku sadar betapa penting peran ayah untuk anak perempuannya.
Makanya dulu nggak pernah canggung apa aja diceritain, ngambeknya aku cuma bapakku yang paham. Jalan pikiran yang kadang sedikit absrud bapak pun bisa paham. Makanya kehilangan bapak untuk selamanya adalah patah hati terhebatku. Aku nggak nangis di ICU, bahkan di pemakaman masih bisa senyum dengan tulus.
Orang mikir aku nggak sedih, nggak tahu aja besok nya keluar kamar nyari mama nangis kejer dan bilang. "Mama Esi kangen bapak."
Bahkan sampai sakit, dan dirawatātapi cinta bapak yang cukup untukku, m buat aku jadi kuat; jadi bisa minum obat tanpa digerus (karena dulu bapak paling sering gerus obat untukku, karena gak bisa nelen). Aku nggak nyerah aja waktu itu pasti sudah buat bapak bangga.
Selalu minta maaf sama Allah kalau aku masih nangis kalau kangen, karena sadar bahwa Allah lebih berhak atas bapak daripadaku. Aku berterima kasih kepada Allah karena sudah menitipkan aku pada bapakku, dan kehadiranku kata mama paling ditunggu bapakku, padahal aku masih dalam perut mamaābelum tahu bentuknya seperti apa, tapi cinta itu sudah hadir sejak itu.
Bapak, kalau nanti aku punya anak; aku bakal ceritakan ke anakku kalau mereka punya kakek yang keren dan hebat, baiknya benar-benar baik. Allah Maha Adil pak, aku percaya rahmat Allah paling luas, Allah pasti akan hadiahkan surga untuk bapak.
Dulu bapak selalu bilang ke aku, "Yes, jangan cari suami kaya bapak. Bapak masih banyak kurangnya." Tapi pak, karena bapak aku jadi tahu apa yang paling aku butuhkan.
Aku tahu bagaimana bapak ngasih tahu aku tanpa mengurui, tapi mengarahkan dan bapak selalu memberikan alasan kenapa aku nggak boleh ngelakuin itu.
Aku masih ingat obrolan kita di akhir tahun 2017, kalau nggak salah habis magrib bapak pulang dari masjid, terus bapak ajak ngobrol aku. "Yes, nanti kalau sudah kerja apa yang pengin Esi lakuin?"
Aku cuma jawab, "apalagi kalau bukan beliin apapun yang mama bapak mau. Pokoknya bahagiaiin orang tua. Apalagi ya pak? Kalau Esi nikah muda gimana?" Tiba-tiba random aja nanya itu, karena tahun-tahun segitu masif banget pernikahan muda. Aku penasaran cara pandang bapakku. Aku masih ingat pesan bapak ini.
"Yes, menurut bapak untuk nikah nomor sekian. Esi masih muda, nanti kalau punya uang nikmatin uang itu untuk pergi ke tempat-tempat yang Esi mau kunjungi, makan makanan yang belum pernah Esi coba, dan kalau Esi mau bisa lagi lanjut pendidikan. Bapak nggak larang Esi mau lihat dunia seluas apapun, pesan bapak jangan lupa sisihkan uang untuk beli buku untuk bisa Esi baca. Karena masa muda nggak datang dua kali, dan menikah kalau sudah siap." Aku nggak expect bapak pesan begini. Sebenarnya sudah kebaca karena waktu sekolah aku dilarang keras pacaran katanya pacaran buang-buang waktu, ketahuan di HP senyum-senyum langsung ditanya, "udah mulai berani pacaran? Dia sudah bisa cari uang sendiri?" Padahal nggak tahu aja aku senyum-senyum lagi baca Fan Fiction One Directionš
Kalau bapakku tahu sekarang duitku nggak aku beliin buku, dipake jajan, jajan, dan jajan. Reaksi gimana ya? Buku dibeli juga nggak dibaca-baca, reaksinya gimana yaš
Terus aku kan kepo, "emang esi harus cari suami kaya gimana pak?"
Masih ingat pesannya sampai detik ini "Bapak pengin nanti Yesi kalau nikah cari suami yang shalat 5 waktu dijaga, dan lebih baik lagi kalo di suka berjamaah di masjid, yang bisa baca Al-Quran. Dia sudah punya pekerjaan tetap, nggak perlu harus jabatan manajer atau gimana yang penting uang yang dia dapatkan cukup untuk menghidupi istri dan anaknya. Tentu harus halal."
Aku nanya lagi, "itu aja pak?"
"Kalau dia mapan pun itu bukan karena orang tuanya, tapi hasil dia sendiri. Yang paling penting Kalau sudah nikah jangan tinggal sama mertua, atau tinggal sama mama bapak. Tinggalnya pisah mau ngontrak dulu juga nggak apa-apa, lebih bagus punya rumah. Tapi, itu bonus. Karena rumah tangga itu hanya kalian berdua. Yang paling penting nanti suami Esi bisa sayang sama Esi, sebagaimana bapak sayang sama Esi."
Aku langsung meluk bapak, terus nanya "bapak sayang Esi kan?"
"Sayang banget... tau-tau udah gadis aja anak bapak." Kalo bapak ngomong gitu matanya kaya berbinar mungkin bapak bangga, bisa membesarkanku dengan baik walaupun saat itu aku belum bisa nunjukkin apa-apa. Sekarang bisa, tapi bapak nggak pernah ngerasain.
Bapak bangga kan? Anaknya sekarang nggak takut apa-apa, bahkan mau kehilangan siapapun dalam hidupku saat ini biasa aja. Karena kehilangan mama dan bapak sudah cukup luar biasa.
Kayanya bakal bangga deh. Soalnya sudah jarang sakit, dan jadi wonder women banget.
Maaf pak belum bisa ke LA sampai tahun 2026, baru lewat LA aja (Lenteng Agung)š¤£
Aku masih suka baca kok pak, baca komentar netizen, apalagi soal komenin pemerintah. Seru deh ada bapak di sini, kita bisa diskusi tentang gebrakan pemerintah di masa sekarang pak. Lebih absurd, kan hobi kita dulu ngomongin politik. Bahkan kadang kalau sudah malam ngomongin mulai soal surga dan neraka. Makasih pak sudah jadi bapak yang super asik.
Makasih waktu Esi kecil bapak selalu menyempatkan jalan berdua; jalan-jalan ke rumah nenek, makan mie ayam favorite kita yang deket rumah nenekākarena ada bawang gorenganya. Ke stasiun cuma buat lihat kereta lewat, karena Esi seneng banget lihat kereta lewat. Ajak naik Transjakarta waktu pertama kali ada, diajak ke Pasar Baru, ditemenin ke Gramedia, diajak keliling Jakarta Pusat sampai masuk Utara: cuma mau ngasih tahu dulu tempat main bapak. Kayanya bapak hafal seluruh Jakarta deh, bahkan bapak sampe ceritain sejarah ITC Roxy Mas dulunya bekas apa. Bahkan lewat rumah sakit Husada tiba-tiba cerita sejarahnyanya gimana.
Bahkan bapak sampai cerita bisa tahu mana-mana SMA/SMK yang suka tawuran. Terus tiba-tiba juga ngajak ke Stasiun Jayakarta sampai diceritain dulu gimana proses pembangunan jalan kereta dari di bawah jadi ke atas, dan kayanya masih banyak deh moment kita berdua di Jakarta. Bapak suka cerita, dan ya bapak tuh kaya duniaku.
Bulak balik Kuningan Jakarta... sabar banget kalau Esi udah muntah atau banyak nanya ke bapak. Jalan-jalan ke Karoya naik Delman, sambil nunjuk gunung ceremai pertanyaanku sama "pak itu kok gunungnya makin jauh?" Bapak sabar jelasin. Kalau abis idul fitri sehari tiba-tiba ngajak "yuk Yes kita makan hucap di ciawi." Kita berdua aja, dan ngobrol girl and dad time gitulah istilahnya.
Kalo recall memori masa kecil bapak berhasil kasih memori baik itu masih diingat sampai sekarang.
Aku bisa seikhlas ini. Tidak akan menyalahkan siapapun, di sini jelas harapanku yang terlalu tinggi. Entah dalam pertemanan, hubungan, dan sebagainya.
Mungkin dari sisi aku, aku terlalu membuat banyak masalah dan bikin muak dengan sikapku, aku menyadari itu. Baiklah, satu persatu pergi dan... aku di sini.... bertanya akan hal-hal yang bahkan jawabanya tidak bisa langsung ada.
Aku mulai terima dengan keputusan beberapa orang yang sudah mengenal aku, lalu mereka mundurābahkan tanpa penjelasan. Tidak pernah dalam pikiranku terbesit menyalahkan keputusan mereka. Mungkin saja memang aku bukan yang terbaik untuk mereka, makanya Tuhan jauhkan.
Aku menemukan titik ikhlas malam ini. Tidak apa-apa aku berdiri ditengah lorong gelap dengan cahaya yang sangat minim, tapi aku akan tetap mengikuti cahaya minim itu yang akan membawaku pada pelajaran serta hikmah baik yang aku dapat dari proses aku menyembuhkan luka, kehilangan, dan hampir putus asa. Aku akan tetap berdiri dengan kakiku, berjalan, dan mengikuti cahaya minim itu.
Anak yang dulu dianggap paling cengeng kalau tinggal mamanya kerja, dikit-dikit selalu mama. Tiba-tiba saat usia dewasa, butuh doa-doa mamanya. Mamanya pergi untuk selamanya.
Suara mama yang meminta pada Tuhan untuk kebaikanku sungguh aku rindukan, di malam hening itu doa mama selalu sama. Hanya ingin kebaikan untuk hidupku dalam segala aspek.
Mama aku paham sekarang kenapa langkah-langkahku kemarin di permudah ada doa-doa yang setiap hari mama sampaikan pada Tuhan. Bahkan saat aku keluar rumah pun, mama selalu mengusap kepalaku dan bilang. "Yes, ada mama. Doa mama nggak akan pernah putus. Sabar dan ikhlas ya Yes." Its powerfull sekali mama.
Sekarang gantian ya Mama, aku meminta pada Tuhan untuk membalas kebaikan mama sama aku, Tuhan hadiahkan surga Firdaus-Nya.
Kangen juga ya dikit-dikit manggil, "Mama, ma." Kangen juga setiap di telepon, "Yes, di mana Yes? Pulang jam berapa?"
Kangen alarm mama, yang lebih awal bangunin dari alarmku. Mama suka makan apa, keju adalah favoritenya, coklat silverqueen kesukaannya, dan suka banget susu kedelai. Tapi, kalo keluar lebih inget makanan aku.
Mama koki terbaik sih, jadi kangen juga lontong isi daging buatan mama. Enak banget, I miss her so much.
Mama, sabar dan kuat banget. Anak pertama perempuan, yang bener-bener up and down hidupnya, dan selalu bisa lewatin. Tapi, kerennnya selalu bilang. "Yes, di dunia ini kita selalu diuji. Misal lulus ujian keluarga, nanti di uji lagi lewat hal lain. Sabar dan menerima itu kuncinya Yes, Esi juga nanti bakal ketemu ujian-ujiannya. Esi sakit kemarin juga ujian kan? Waktu bapak gak ada, itu juga ujian."
Aku inget banget pas aku abis sakit demam, mama bilang gini. "Yes, kalo waktu itu pas Esi sakit, terus mama kehilangan Esi, mama gak tau gimana rasanya kehilangan suami dan anak secara bersamaan. Tapi, kalo dipikir lagi anak dan suami itu titipan, bisa aja Esi diambil duluan, atau mama."
13 Nov 25
Kamis malam ini, aku rela pulang kantor jam 9 malam. Bukan karena rajin, but ada satu case, sudah lama, dan ada case baru sampai dibuat down. Nggak akan nulis di sini apa casenya, intinya about me, and all the people in my office.
Dititik ini aku kaya disadari kalau Tuhan baik, Tuhan Maha Mendengar, bahkan disaat aku nggak minta.
Jadi gini, aku sempat ada case sama beliau. Secara pengalaman oke, jabatan oke, skill aku tahu bagaimana beliau ini sangat kompeten di bidangnya. Tapi, beliau juga sangat memahami bagaimana management perusahaan harus bergerak.
I wish, punya mentor kaya beliau. Kita berdua sama-sama mengeluarkan uneg-uneg yang kita rasain. Btw, beliau ini kalo bicara sangat straight to the point.
Aku salah, yah dibilang salah. Kadang agak pedes, dan nggak tahu kenapa aku sama sekali nggak marah karena menyampaikannya dengan benar. Tidak asal marah atau judge.
Setelah selesai menyampaikan apa yang beliau rasakan, dan aku pun. Akhirnya seperti perkiraan aku, beliau pasti kasih insight dan transfer ilmu yang bikin aku sadar. "Yes. Kamu cuma salah tempat sama mentor aja. Ini loh yang kamu butuhin."
Kenapa ngomong gini? Karena aku mau mentor kaya gini nih. Dia marah gak asal marah, atau tanpa ngasih solusi.
Cerita panjang lebarlah aku, terus beliau ngasih insight dan arahan. Tiba-tiba beliau nanya beberapa hal :
"Selama ini perasaan lu gimana?"
"Apa yang lu rasain? lu ada rasa takut kah? Atau ngerasa lu di sini merasa terpojok karena lu benar."
Diam dulu, dan di sini aku ceritain yang aku rasain, pas kelar cerita. Gong banget, Ini mentor sendiri pun nggak pernah nanya gini ke aku.
Sampai dia bilang ke aku, "gue nggak mau lu keluar dari sini, nggak dapat apa-apa. Gue tahu lu udah dapat banyak ilmunya, lu mulai dari 0. Karena, di sini kita tahu seperti apa, jangan lihat yang nggak enaknya, lihat pelajaran yang lu dapat apa aja. Jadi pas cabut, lu dapat benefitnya. Karena kalau di perusahaan yang sudah bonafit, lu bakal jarang ketemu masalah-masalah kaya gini. Karena secara management mereka udah oke. Makanya lo ada di sini, buat lu belajar dan kalau pun pindah, yah lu bakal siap ngadepin case yang lebih besar."
Jleb, kaya iya juga ya. Tambahan beliau adalah, "kalau nemu case lagi, lu harus tahu apa pelajaran yang didapat dari case ini, apa yang bisa lu lakuin untuk mencegah case ini terjadi lagi. Terus lu harus latih juga otak lu untuk berpikir lebih kritis lagi, misalnya ada sistem yang nggak beres, harus begini, sampaikan masalahnya sampai ke atas, kalo di atas nggak oke. Yaudahlah berarti emang manusia-manusianya keras kepala, lu simpen hal yang menurut lu benar buat nanti bekal lu ke depannya. Ini buat pribadi lu lebih matang lagi nanti ke depannya."
Disitu langsung kaya, bilang makasih, maaf, dan jadi panjang lebar. Sampai beliau bilang, "nggak apa-apa lu mention nama gue aja, gue paham situasinya dari yang lu jelasin. Makannya gue ngomong, biar mereka ngomong ke gue. Lu udah bener kok."
Padahal awalnya saling debat, ternyata habis itu malah jadi diskusi panjang lebar. Tukar pikiran, pengalaman, dan nasehat-nasehat baiknya. Ternyata diminta nggak pulang dulu, karena ini.
Kaya Tuhan ngajarin aku, tapi lewat beliau ini. Nggak cuma sekali ini, kalau lagi ngumpul, even aku paling muda, beliau selalu kasih nasehat. Bahkan ketiga anak buahnya dan aku tetep masih yang paling muda haha, sayang mereka sudah resign semua. Ketiganya pun kalo ngobrol sama aku, selalu ngasih banyak wejangan yang sangat bermanfaat.
Ternyata yah mungkin Tuhan buat aku keterima di sini, yah disuruh belajar, dan sepaket ketemu orang yang ngasih pelajaran berharga, dan nguji kesabaran.
Itulah ceritaku malam ini.
13 Oktober 2025
Bengong dikit jadi keinget ini :
Best moment yang masih aku ingat saat umur 9 adalah pertama kali naik Transjakarta bersama bapak.
Sebelum naik Transjakarta, di sekolah, pas lagi kejar-kejaran sama teman kelas, aku dijorokin sama anak cowok sampai bibirku nyium meja ā jontor banget. Aku nangis, sampai wali kelas dan guru olahragaku marah banget sama dia, soalnya beneran bercucuran darah. Bibirku mirip Suneo, haha.
Pas pulang ke rumah, aku langsung manggil, āBapak!ā Terus aku peluk bapak sambil bilang, āBibir Esi, Pak,ā sambil nunjuk ke bibirku. Masih ingat banget gimana khawatirnya bapak waktu itu, langsung diobatin bibirku. Terus bapak bilang, āEsi mandi ya sama mama, kita naik busway.ā
Aku yang tadinya nangis langsung seneng banget. Langsung peluk bapak lagi. Inget dulu, waktu itu naik TJ pertama kali, awalnya aku gak mau ikut bapak jenguk adik sepupuku yang baru lahir. Aku mau ikut karena lagi sedih.
Sore, kayaknya pas jam pulang kantor, dan itu padat banget. Sekarang aku jadi bagian dari orang-orang itu, hehe. Bocah yang bawel ini dulu banyak nanya pas ada announcement dari bis. āPak, bisnya kok bisa ngomong ya?ā Bapak jelasin, terus aku nanya lagi, āOrangnya ada di mana, Pak? Di dalam bis?ā Terus nanya lagi, āKok banyak orang ya, padet banget, ini mereka dari mana?ā Pas pintu kebuka sendiri, aku nanya lagi, āPak, kenapa pintunya kebuka sendiri?ā Inget banget, bawel sekali aku. Penasaran banget. Tapi bapak jawab semuanya dengan sabar.
Gak tahu kenapa, setelah itu aku jadi seneng. Bibir yang jontor kerasa bukan apa-apa. Apalagi pas bapak gendong aku keluar dari bis biar gak kesenggol orang-orang. Pas udah turun, bapak nanya, ā bibirnya masih sakit gak? Gimana sekarang nggak sedih lagi, kan?ā
Lupa aku jawab apa. Yang aku ingat cuma satu ā aku peluk bapak lagi.
Sekarang baru sadar, itu cara sederhana bapak biar aku gak sedih.
Allah Maha Baik, sudah menitipkan aku pada bapak. š¤
8 Oktober 2025
Akhirnya ada yang ngoreksi ucapanku pas bilang "Latte" malah "Late". Di koreksi langsung sama mas kopi jagoš
Beginilah ceritanya, Yessi yang hidupnya 90% lawak semua. Membeli kopi jago di Stasiun MRT, padahal di kepala udah bilang nyebut "Latte" ya bukan "Late" yes.
Masa iya jadi matcha terlambat.
"Mas, saya mau beli matcha late ya satu." Langsung nyadar, kenapa tetep late. Heran otak dan mulut gak singkron.
Kupikir Masnya gak bakal koreksi, seperti yang dilakukan mba barista kopken. Gongnya, mas dengan wajah datar (biasa aja) sambil ambil pesananku "oh maksudnya mbanya itu matcha latte." Malu woyy sebelahnya juga ada orang.
Mereka sih biasa aja ya, gak tahu dalam hatinya. Mungkin berkata. "Makhluk mana yang bilang match latte, jadi matcha late."š
2 Oktober 2025
If one day Allah allows me to become a mother, I wish to be as strong and remarkable as my mom.
The mom who always placed me first, even when I never thought to place myself there.
The mom who taught me the quiet power of kindness, the long patience that heals, and the strength to stand tall even when the world feels like it is falling apart.
I also hope to be as fortunate as she wasāto meet someone like my father, whose love was pure and unwavering.
Their marriage was filled with trials, tears, and storms, yet in the end, they chose to remain together, to endure, to keep holding on to each other.
If one day I could become a mother like her, and find a love as true as theirs, I would know I have been given two of lifeās greatest blessings: a family rooted in strength, and a love that never fades with time
29 September 2025
Cinta itu bentuknya luas sekali, ya. Terutama cinta Tuhan kepada hamba-Nya. Semua yang aku terima saat ini, aku percaya, adalah wujud cinta-Nya.
Kadang, kalau lagi duduk di transportasi umum, aku suka tiba-tiba bertanya pada Penciptaku. Tentang banyak halātentang rasa syukur, tentang hidup yang begini-begini saja. Banyak sekali.
Kalau dipikir-pikir, aku ini memang banyak bertanya. Tapi Tuhan itu Maha Baik. Nggak apa-apa semua hal ditanyain, dan jawaban yang datang sering kali justru bikin aku terdiam, speechless.
Aku pernah bertanya beberapa kali: kenapa satu per satu diambil? Orang tuaku⦠Tuhan pasti tahu betapa aku ini anak perempuan yang sering kalah daripada menang, sering sakit-sakitan, dan tentu saja cengeng. Aku merasa benar-benar nggak bisa hidup tanpa mereka. Itu yang kupikirkan dulu, waktu mereka masih ada.
Mereka itu ārumahā tempat aku pulang. Bersama orang tuaku, aku bisa jadi anak kecil lagi, jadi diriku sendiri tanpa pura-pura bahagia. Kalau sedih ya sedih saja, kalau senang ya senang saja.
Kehilangan kedua orang tua di saat kamu belum jadi apa-apa⦠berat banget rasanya. Ini menurutku, ya. Aku ingat, aku pernah nanya sama mamaku,
āMa, bangga nggak sama Esi?ā
Dan jawabannya, āMama bangga, dan bersyukur dikasih anak perempuan.ā
Mama sambil ngelus kepalaku waktu itu, di rumah sakit. Iya, memang mama bangga banget. Aku bisa lihat dari caranya memperlakukan aku, dari cara mama sayang dan ngejaga aku, sampai cara mama cerita ke orang saat ada yang nanya tentang aku.
Aku ingat waktu di kampung, temannya mama nanya tentang aku. Aku di situ, dan aku bisa ngerasain gimana mama bangganya sama anaknya. Padahal aku ini anaknya masih bingung mau jadi apa, sampai sekarang pun begitu. Mama sudah sebangga ini, apalagi kalau aku jadi anak super pintar, juara satu mulu di kelas, tiap hari tumpengan⦠hahahaha.
Setelah kepergian kedua orang tua, aku belajar banyak hal. Aku jadi lebih menerima hal-hal yang nggak sesuai keinginanku.
Aku baru tahu, bahwa cinta yang cukup dari kedua orang tuaku, itu adalah bekal untuk terus menjalani hidupku. Siapa sih hidup yang nggak ada cobaan? Dunia kan memang tempatnya capek, ya kan? Tapi darah mereka yang mengalir di tubuhku, adalah sumber kekuatanku untuk terus melanjutkan hidup dengan penuh harapan, cinta kepada diri sendiri, dan sesama.
Aku menerima kalau kehilangan adalah bagian dari hidup. Memang nggak mudah, tapi itu pasti akan dirasakan semua manusia, nggak sih? Apalagi berpisah karena kematian. Semakin dewasa, semakin sadar aku pasti akan menemukan banyak perpisahan karena kematian. Tapi Tuhan nggak pernah ngebiarin aku sendirian. Selalu ada tangan-tangan baik yang menyambut aku dan bilang, āYes, you are not alone.ā
Yang ngasih kata-kata baik, yang support, yang mau menerima aku dengan tangan terbuka saat aku benar-benar butuh bantuan. Bersyukur sekali Tuhan kasih orang-orang baik dalam hidupku.
Tuhan kasih jawabannya dari banyak hal. Salah satunya lewat teman-temanku yang baik sekali, dan pikiranku tentang ātakut ngerepotin.ā Ternyata mereka nggak pernah berpikir seperti itu, sama sekali. Jadi, jawaban Tuhan datang lewat teman-temanku yang punya hati baik. Walaupun, kalau lagi kumpul, love language mereka kadang cuma memancing emosi⦠hahaha. Sebenarnya mereka biasa aja, cuma pertanyaan mereka itu di luar nalar semua, dan aku emosi. Hahahaha.
Akhirnya aku sadar, aku nggak perlu punya semua jawaban sekarang. Cukup jalanin aja pelan-pelan, sambil percaya kalau Tuhan selalu nyiapin jalan, entah lewat doa, lewat orang-orang baik, atau lewat hal kecil yang sering kelewat aku syukuri.
Dan mungkin, itu juga salah satu cara Tuhan bilang:
āYessi, kamu nggak pernah sendirian.ā
Kok ya tiba-tiba jadi kangen bapakku. Spend time with him, terus makan soto ayam buatan mama, dan sekarang udah lupa suaranya bapak kek gimanaš
Kalau aku belum juga ngerasain gimana sih, rasanya disayang dan dicintai sebegitu tulusnya dari orang lain, at least aku pernah dicintai sama bapakku begitu besar. Even jarang bilang aku cantik, tapi dalam hidupnya ada 2x bilang aku cantik.
Pertama, waktu aku masih kecil pas mama kepang rambut aku jadi dua, terus aku makin tinggi, pas bapak pulang kerja. Seperti biasa aku salim, terus bilang gini. "Anak bapak udah gede aja, cantik banget. Pasti tinggi kaya bapak." Aku masih inget gimana bapak ngeliat aku, kaya terharu bangga, padahal aku belum jadi apa-apaš„ŗ Aku langsung peluk bapak, rumah ternyaman dan teraman adalah saat berada dekat dengan bapak.
Lalu pas aku baru lulus sekolah, aku sok-sok an belajar pake alis. Terus bapak ngeliat, "anak bapak cantik ya, ngga nyangka udah segede ini." Lagi dan lagi beliau ngeliat aku kaya bangga sama aku, padahal aku belum jadi apa-apa juga.
Bapak yang khawatir banget pas aku ngerasa sakit, misalnya cuma karena sariawan dan sakit tenggorakan. Jam 2 malem pun ke luar, ke warung 24 jam tak lain dan tak bukan adalah warung maduraš beliin kaki tiga, kakiku dulu pernah borokan parah, pas aku tidur diem-diem bapak nyelepin borok-borok aku. Ngipas-ngipasin biar nyerep salepnya. Kata mama, bapak khawatir banget.
Aku dulu sering jatuh. Gak tau napa lanus banget dulu. Pernah pulang main lari-larian jatuh di belakang mini market. Dengkul berdarah, sikut juga berdarah, dan pas pulang bapak langsung panik, nyiapain betadine, kapas, dan hansplast, dan selalu nanya ada yang sakit lagi gak. Bilang kao ngerasa ada kaya keseleo entar dibawa ke dokter. Sering banget jatoh heran hahaha.
Dulu sering nanya ke bapak, "bapak sayang ngga sama Esi?' Tapi selalu dijawab hal yang sama, sayang banget katanya. Kalo dinget-inget emang iya, kalo marah cuma ngomel doang. Udahnya minta maafš„ŗ kadang suka meluk sambil bilang, "anak perempuan bapak, maafin bapak ya." Kangenš
Jadi inget dulu ngetik di laptop lagi bikin fanfiction 1D, tiba-tiba bapak nyeletuk. "Lagi nulis diary? Galau gara-gara cowok, udah mulai pacaran. Masih sekolah jangan pacaran. Kalo ketahuan pacaran, bapak gak kasih main." Aku cuma bilang bukan lagi nulis one direction.
Wkwwkwkwwk nah ini fotonya, D'rainbow versi lite sekali. Duanya gak masuk frame.
Honestly thanks banget utk mereka sudah pernah ada di BAB kehidupan aku, sejak kecil sampai masa SD - SMP. Termasuk orang-orang yang pernah jadi bagian hidupku.
Yg baju merah Maruf, di antara yg lain keknya emang gue yang lebih deket sama Maruf. Even bacotannya dia kadang ngeselin, but dia asyik orangnya. Apa guenya aja yg legowo kali denger dia kalo ngomel. Walaupun kita beda SD, ngajinya bareng karena gue ngaji di neneknya. Gue juga paham banget silsilah keluarga Marufš
Neneknya ini, kita biasa manggil umi Ceceh beliau sudah meninggal 2 tahun lalu. Dulu kalo diajar ngaji sama Umi, takut karena terlalu tegas. Umi ceceh udah tahu gue dari masih bayi, manggil aku selalu, "si kecil." Kalo ketemu mama, waktu masih sehat selalu nanya, "si kecil gimana sekarang? Udah kerja?"š„ŗ intinya ama keluarga Maruf sudah sangat kenal wkwkwk.
Maruf ini orang yang mau aja gue ajak nyari anak kucing di pasar, sampai ke tumpukan sampah, buat kita mandiin. Nyari sayuran, buat mainan masak-masak kan. Lupa dah alasan nyari anak kucing sampai ke tumpukan sampah terus dimandiin, ke rumah neneknya pas habis hujan berdiri di balkonnya, terus ada pelangi, kita malah make a wish. "Yes, make a wish." kata si Maruf, apaan sih make wish pas ada pelangi, orang mah bintang wkwk. Make a wish lah berdua dah kek orang bener.
Dulu di rumahnya punya PS, dan gue diajarinlah, walaupun tetep endingnya gue gak bisa𤣠Nangisin anak kucing mati, dan kita kuburin (dramatis bgt moment ini). Kata-kataan nama ortu juga pernah, dan sedih pas Maruf pindah ke Bogor.
Jadi, suka ngumpulin koin cuma buat tlp maruf dari telepon umum. Nelpon Maruf, karena dua bocah ini gak ada yg dikasih hp wkwk. Inget yang gue tanyain pas tlp selalu, "lu betah, Ruf? Kapan ke Jakarta?" Akrab bener si Yesi kalo diinget2š¤£
Endingnya yah maruf balik sekolah lagi di Jakarta, dan weekend pulang hahaha. Kita masih temenan kok sampe SMP apalagi ini satu sekolah kita, Maruf baik bgt gue yang kebingungan nyari kelas, eh dia nyariin dan ketemu. Suka nyamper ke kelas, cuma buat nanya, "lu bawa bekel gak? Jajan yuk." Atau dia bawa jajanan, dan ngasih ke gue.
SMK masih juga, cuma jarang ketemu. Cuma sering chat di FB, karena dia ngefans sama Zayn Malikš¤£
Sekarang udah lost contact wkwkwk. Tapi dia masih sempet chat dan ucapin belangsungkawa pas mama meninggal, begitu pun aku waktu bapaknya meninggal. Karena ortu kita sangat bestie sejak muda haha. Intinya thanks Maruf udah jadi teman kecil yang menyenangkan, dan doa baiknya semoga karirnya makin baik, mamanya Maruf sehat-sehat terus, ketemu jodoh yang terbaik!!
Bocah yang pake baju hitam dengan pose jari tengah, ini anaknya kakak sepupu bapak. Asep namanya, tumbuh bareng, nangis bareng, di imunisasi bareng, dan diomelin bareng juga sama neneknya Asep karena sering mainin air hasil nimba neneknya. Asep gak pernah manggil nama selalu 'jenong' wkwk. Asep yang ngajarin aku main gangsing, main gundu, main game mario bros, main layangan, dan semua permainan anak cowok aku mainin. Gara-gara ini aku cukup jago main gangsing, thanks Asep𤣠mainan yang gue beli waktu kecil yah itu gangsing, gundu, layangan wkwkwkwk.
Aku sama Asep cukup dekat, gak pernah canggung walaupun udah gede. Asep juga manggil mama aturan 'tante' tapi mama juga. Jadi orang suka nanya, "si Yesi punya ade?" Haha padahal ngga.
Pokoknya thanks sama Asep, yang respect banget sama bapakku, walaupun bapak suka jail, even bukan keluarga inti bapak, tapi mereka cukup membantu pas bapak ngga ada, dan pas mama meninggal udah dateng ke rumah buat ngelayat, bantuin aku pindahin. Thanks banget, pas aku di kampung nengok ke rumah takut aku gak mengunci dengan benar. Thanks banhet pas waktu sempet ada kebakaran aku masih di kampus gemeteran, khawatir mama, eh mamanya udah dibawa Asep ke rumah mimi. Thanks banget! Tentu aja sama Asep gak pernah lost contact masih suka WA an.
Kalo bocil satunya itu Afdal, dia udah lulus SMA maybe. Adiknya temenku Rio, katanya sih masih sudara neneknya bapak Rio adik kakak sama nenenknya bapak aku. Dua cewek itu Eta dan Icha, Eta masih komunikasi kadang-kadang, dan udah nikah. Kalo icha gak tau kabarnya soalnya pindah. Tapi, thank you banget karena mereka masa kecil aku jadi berwarna, dan kalo diinget lucu banget. Polos, dan tanpa beban hahaha.
Maybe that's why we tend to guess the ending of every new story in our lives.
Weāre afraid. Afraid that it will end the same way as before ā with a conclusion we didnāt want.
Because deep inside a place called the mind,
we keep encountering the same patterns,
and we say to ourselves, āOf course. It ends like this again.ā
Why does it feel so unfair?
Whose fault is it?
Was it the expectation? Or maybe we were wrong to hope at all?
No one really knows the answer. People say "home" isnāt always a building. But can they show us what home really is? Have they ever known what itās like to feel like a stranger, everywhere?
Weāve felt safe before ā but that was with family.
Can we truly find home in someone else, someone who shares no blood with us?
Even with ourselves, weāre still struggling to build walls that can hold us together.
Can someone explain ā what does āhomeā really mean? Does it exist⦠for people like us?
Meeting ourselves still feels foreign.
Meeting others, in the end, also leads to strangeness. So is our home simply called āunfamiliarā?
We donāt know.
And maybe, thatās okay too.
Life feels like a joke sometimesā
Or maybe I just donāt know what else to call it.
Searching for answers to what went wrong,
Only to find none.
I want to begin again,
But where do I start?
I donāt know.
I try to be the sun for everyone,
But Iām still lost in being the sun for myself.
Is this right, or wrong, what I feel?
Or is it just my mind, wandering too far?
I don't know.
Can I really be with myself?
Be my own friend?
Sometimes, I donāt even like being my own company.
Iām tryingābut why is it so hard?
Still, I keep trying.
So, when does it start to work?
I miss the days
When I could still see color.
Now everything feels pitch black,
As if even light refuses to enter.
Iām learning to let go of what has goneā
Of what will never return.
But in doing so,
It feels like Iām slowly killing a part of me.
Benar yah kata guru bilang, "kalo kamu sudah lulus, kamu pasti kangen masa putih abu-abu, karena ngga akan pernah bisa diulang."
Dulu kaya iya iya aja. Tapi, setelah beberapa tahun baru menyadari kalau kenangan masa SMK tuh membekas banget.
Walaupun pas lulus SMP mama dan bapakku berdebat untuk masukin aku antara SMA atau SMK. Bapak dulu pengin masukin aku ke SMA N 10 katanya deket rumah nenek, tapi aku maunya SMA N 2 (kaya berasa pinter banget dan yakin bisa masuk situš) pada akhirnya perdebatan dimenangkan oleh mama.
Aku pilih SMK N 11, bapakku udah oke. Sayangnya ngga masuk saya HAHAHAHA. Akhirnya masuk ke IPPI High School again and againš.
Meskipun begitu setidaknya aku bertemu dengan teman-teman yang spesies dengan aku. Inget banget waktu MPLS di suruh bawa pot bunga, Dan pot bunga yang aku bawa mayan berat karena sama tanahnya, terus rambut di kunci Dua dengan pita. Seorang remaja yang excited mau ganti seragam ke putih abu-abu.
Kenalan sama beberapa teman baru dari SMP lain, dan juga masih ada dari SMP yang sama bahkan satu kelas. Seneng banget, tekadku dulu harus punya banyak teman, duduk harus paling depan. Motivasi biar bisa paham, kenyataan tidak jugaš
Tercapailah itu semua, duduk di depan, dapat teman baru. Happy banget ngga sih, kek "ih gue udah jadi anak SMA