Sesungguhnya makan siang di kantin sendirian seperti ini sangat menyebalkan. Sementara meja lainnya diisi oleh dua atau lebih mahasiswa. Kamu bisa bayangkan betapa kikuknya diriku dikelilingi keramaian yang begitu sinis padaku. Yang ku lakukan hanyalah menatap layar telepon genggamku tanpa ku pahami maksud dan tujuanku melakukannya. Karena tidak ada hal yang menyenangkan sama sekali di sana. Baterainya hanya berkurang sedikit sekali karena jarang sekali, bahkan tidak ada notifikasi yang masuk. Hampa sekali.
Di tengah-tengah sekaratku yang sedikit lagi mati gaya, aku melemparkan pandanganku ke segala arah. Tidak jelas. Di sebuah pojok, ada seorang gadis manis mengalami nasib yang sama denganku. Dia duduk sendiri, tidak ada yang menemani. Tapi dia tidak sekarat seperti diriku. Dia menikmati kesendiriannya. Membuka halaman demi halaman buku yang sedang dibacanya. Seperti sebuah kesenangan yang tak tergantikan. Buku apakah itu yang kau baca wahai yang di ujung sana? Buku nikah kita berdua?
Langkahku tergerak menuju ke arahnya. Entah apa yang ada di dalam pikiranku saat ini. Semua berjalan tak terkendali. Mataku tak henti-hentinya menatapnya. Tubuhku bagai magnet yang bergerak ke kutub yang berbeda. Dia menarikku begitu kuat. Seketika aku menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan mantap tanpa rasa ragu. Deg-degan, iya. Dia menyadari kehadiranku dari tatapannya yang penuh tanya. Aku mengusiknya namun bahasa tubuhnya menyambutku dengan baik. Aku tahu apa? Ini semua hanya karena rasa yang terlalu menggebu. Rasa apa? Inikah namanya cinta? Oh tidak! Terlalu cepat. Nafsukah? Unduh bokep dari internet saja terus onani. Aku bisa menikmati yang lebih aduhai dari dia. Jadi ini apa? Kutukan? Pelet? Bodo amat!
Aku menyunggingkan senyumku, dia membalasnya dengan senyum yang hangat pula.
“Hai.” Aku menyapanya, agar kecanggungan ini segera berakhir.
“Saya bisa duduk di sini kan?” Tanyaku.
“Bisa kok, silahkan.” Jawabnya, tetap dengan senyum.
“Axel.” Aku sodorkan tanganku ke arahnya, memulai sebuah perkenalan.
“Vanya” Dia menjabat tanganku, tangannya hangat. Menenangkan.
Diam. Tidak ada lagi obrolan apa-apa antara kita berdua saat ini. Keheningan menyelemuti meja ini. Dia melanjutkan membaca buku. Aku tidak punya pilihan lain lagi, aku membuka ponselku yang tidak ada pesan baru sejak seminggu yang lalu. 30 menit berlalu dalam senyap, aku memberanikan berbicara.
“Iya, Xel.” Matanya tetap tertuju pada buku yang sedang dibacanya.
“Jadian yuk, heheh.” Aku sudah gila.
“Ayo.” Apa katanya barusan?! Aku tidak sedang mengigau kan?
“Hehehe…” Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, hanya nyengir saja.
“Hehehe…” Eh dia nyengir juga.
“Jadi kita udah resmi pacaran nih?” Tanyaku malu-malu.
“Iya Axel.” Kini dia menatapku penuh makna, senyumnya merekah begitu indah.
Aku baru mengenalnya setengah jam yang lalu, kemudian aku menembaknya. Serta merta dia menerimaku. Sungguh keajaiban yang luar biasa.
“Pesan makan yuk.” Tawarku.
“Hey! Hey! Halo? Mas?” Tiba-tiba ada suara yang sepertinya memanggilku.
Aku mendapati diriku masih duduk di mejaku, bukan di meja Vanya. Seketika aku tersadar. Vanya berdiri di hadapanku. Aku mulai senang dia menghampiriku. Tapi, tunggu! Tidak. Ini tidak akan seperti yang aku harapkan. Mukanya merah padam, ekspresinya antara malu dan marah.
“Maaf ya Mas, dari tadi Masnya ngeliatin saya terus. Saya jadi gak nyaman. Jadi, mohon pengertiannya ya Mas.” Vanya menegurku, suaranya sedikit meninggi. Sebentar. Siapa bilang namanya Vanya. Itu kan hanya dalam lamunanku saja. Beberapa orang di sekelilingku menatap ke arahku. Sial!
“I, iya, maaf.” Kupastikan wajahku pun memerah, menahan malu.
“Makasih.” Kemudian gadis itu membalikkan badannya dan kembali lagi ke mejanya. Ku lihat di sana dia sudah tidak sendiri lagi. Ada beberapa teman perempuannya duduk di situ, menatap ke arahku juga, tertawa dan menggelengkan kepala.
“Ngarep banget Xel! Bego lu Xel!” Aku merutuk diriku. Segera ku tinggalkan kantin itu, dan tidak akan pernah ke sana lagi.