1 tahun kepergian nenek. Innalillahiwainnailaihiroji'un. Itulah kalimat pertama yang sebenarnya berat saya ucapkan di 16 agustus tahun lalu, pagi itu, serta dengan kondisi sedang hamil. seperti ada badai besar di hati, beban berat di kaki, dan tangis besar yang ga bisa sama sekali saya pendam. Iya, nenek kesayangan saya, yang tanpa saya sadari, kepergiannya ternyata sudah setahun. Nenek.. 3hari sebelum 16 agustus di tahun lalu, saya bermimpi. Bermimpi mengantar nenek menaiki bus besar, nenek memakai jilbab baju hingga sepatu semuanya berwarna putih, saya mengantar nenek naik ke dalam bus, dan duduk di salah satu kursi. Namun yang mengherankan saya adalah, didalam bus, semuanya kosong, tidak ada siapa siapa selain nenek. Setelah itu saya turun, saya pamit sama nenek, dan berdiri melihat bus itu berjalan menjauh dan semakin jauh hingga hilang dari pandangan saya. Saat itu, nenek sedang koma, seminggu. Setiap kali menelpon nenek, saya cuma bisa berbicara ditelpon agar nenek mendengar suara saya. Alhamdulillah tanggal 15 agustus nenek telah sadar dari koma. Saya yang sedang internsip di maluku tengah sama sekali ga bisa ke ternate buat jenguk nenek dengan kondisi hamil muda yang belum bisa terbang dengan pesawat. 3x24jam saya update kesehatan nenek lewat telpon. Di tanggal 15 agustus 2015, nene sadar, nenek bangun, minta makan bahkan makan yang banyak, nenek sempat sholat dengan posisi berbaring, nenek masih mengaji dan tasbih selalu ditangan. Wajah nenek keliatan segar, seperti orang yang sudah sembuh, dan nenek juga senang karena kalo sembuh bisa segera pulang ke rumah. Minggu, 16 agustus 2015 Pukul 00:00 wit Nenek mau bab, dan dibantu oleh tante saya. Setelah itu nenek dibersihkan, dan nenek lanjut mengaji sampai ketiduran. Pukul 02:00 wit Napas nenek mulai memendek mendek, tiba tiba. Seluruh keluarga langsung menghubungi dokter, suster, untuk datang ke kamar melihat nenek. Tapi napas nenek mulai tersengat sengat, lama kelamaan mulai ekspresi wajah nenek berubah. Menurut tante, nenek seperti sedang dijemput sakratul maut, namun wajah nenek senyum, dan napas mulai hilang satu persatu. Setelah dokter datang, memeriksa nenek, ternyata nenek sudah ga ada... malam itu di masohi, dikamar, saya ingat dengan tepat, jam 2 malam saya kaget dan terbangun, bukan karena mimpi buruk bukan karena ada bunyi2 yang mengagetkan, entah kenapa. Namun ga ada satupun yang menelpon saya untuk memberitahukan bahwa nenek sudah pergi. Mama ataupun tante serta fifi, ria, ulfa, berniat untuk ga bilang sama sekali karena takut saya shock dengan kondisi sedang hamil. Paginya ketika bangun tidur, tante saya menelpon dan mengabari "in, apapun yang tante bilang setelah ini, iin jangan kaget, iin harus kuat dan iin harus ikhlas. Nenek sudah meninggal tadi malam".... Innalillahiwainnailaihirojiun.. Sedih rasanya, karena ini adalah berita buruk paling terburuk seumur hidup saya, dan ini pertama kali saya merasakan kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat penting dalam hidup saya. Orang tua kedua saya. Orang yang menghabiskan masa tuanya untuk mengurus saya, ikut andil dalam masa pertumbuhan dan perkembangan saya, yang merawat saya sejak masih bayi bergelantungan tali pusar, yang pertama kali mengantar saya ke sekolah, yang sering menunggu saya didepan kelas sampai pulang sekolah, yang mengantar saya ke panggung MTQ pertama kali saat mengikuti lomba, yang menyaksikan pertama kali saya mendapat juara 1 dalam lomba MTQ di usia 4tahun, dan yang akan menangis kalo saya dimarahi mama papa atau guru di sekolah. Bagaimana mungkin saya tidak berteriak menangis seorang diri dikamar mendengar kabar paling menyedihkan seumur hidup saya.. Nenek, nenek ku sayang.. Hari itu nek, bukan karena ga mau datang melihat nenek untuk yang terakhir kalinya. Saat mendengar kabar pagi itu, antara sedih dan marah ke semua keluarga yang coba sembunyikan hal ini, saya mengecek seluruh pernerbangan dari ambon ke ternate, tapi semuanya kosong. Bertepatan hari minggu, pesawat ke ternate ga ada. Bahkan nyari yang transit makassar, atau manapun untuk bisa ke ternate tapi bandaranya tutup. Kapal dari masohi ke ambon pun, hanya 1 kali di hari minggu dan hanya di jam 8 pagi. saya mencoba segala caa untuk bisa ketemu nenek yang terakhir kalinya, mau cium nenek, mau bilang terima kasih ke nenek secara langsung, tapi apa boleh buat, seperti Allah belum menakdirkan saya untuk bertemu nenek hari itu. Saya mengikhlaskan nenek untuk pergi walaupun berat sekali menerima ini, belum sempat saya menenpati segala janji ke nenek dan akhirnya hanya lewat doa saya mengantar kepergian nenek, hanya lewat doa saya menyampaikan pesan pesan dan hadiah buat nenek di akhirat sana... Insya Allah nenek sudah tenang di Surganya Allah, insya Allah kuburnya nenek selalu terang dipenuhi cahaya amal dan kebaikan nenek selama didunia, insya Allah nenek selalu mendapat kiriman doa dari anak dan cucu nenek didunia, insya Allah kita akan berkumpul bersama di Akhirat ya nek... Amin ya robbal'alamin..













