Kualifikasi
[3.4]
Memimpin adalah seni mendengar dan mengelola. Memimpin adalah panggung kualifikasi memikul beban dan kapasitas menampung.
Menampung apapun itu semua keluhan dan curhatan. Mendengarkan semua apa yang dirasakan dan dipikirkan. Memimpin adalah seni mengelola visi dan masa depan serta seni memahami konteks zaman. Memimpin adalah membaca zaman sebelum zamanya, berpikir dan bergerak sebelum orang lain menemukan apa yang menjadi masalahnya.
Kualifikasi adalah soal keberanian dan kemauan, mengambil resiko dan menjadi lokomotif perubahan. Kualifikasi berbicara pada konteks bahwa pemimpin adalah manusia yang sudah selesai pada tataran entitas urusan pribadi. Setiap entitas pikiran dan penghayatan visi misi dicurhkan untuk semua yang ia pimpin.
Kualifikasi juga berbicara pada konteks kemandirian entitas knowledges, narasi, strategi, kompetensi dan kapasitas melahirkan generasi pemimpin baru. Sehingga menjadi pemimpin adalah standardisasi kualifikasi untuk wilayah jangkauan dan segmentasi narasi.
Kualifikasi adalah konteks memahami narasi sampai tataran aplikasi dan memiliki umur panjang untuk adaptble dengan zaman. Kualifikasi adalah konteks narasi peradaban yang umurnya lebih panjang dari umur manusia-manusia arsitek peradaban. Maka Narasi adalah salah satu unsur penting substansi seorang pemimpin.
Kualifikasi akan melahirkan dan memberikan added value yang tinggi pada substansi narasi dan value of life sebuah peradaban yang dipimpin & disiapkan. Kualifikasi juga berbicara regenerasi narasi dan pemimpin masa depan.
Kaulifikasi adalah panggung dialektika yang punya nilai. Maka menjadi pemimpin adalah juga berkarya dan berbicara. Jangkauan wilayah luas dan rakyat yang padat membutuhkan sentuhan value hidup dan kemandirian prinsip dan visi. Panggung berbicara adalah juga panggung kualifikasi. Konteks panggung berbicara adalah substansi visi yang menjadi tumpuan think tank generasi dan rakyatnya.
Hari ini kita menyaksikan banyak judul dengan modifikasi yang indah dan slogan-slogan tanpa substansi yang dijual ke rakyat-rakat bangsa. Hari ini ada banyak negarawan yang berlomba menjual judul. Kita sebagai bangsa kehilangan kualifikasi. #Indonesia2034
@indarwan-iswan













