Penulis & Sutradara: Ucu Agustin
Produser: Ursula Tumiwa, Ucu Agustin
Kamera: Affan Diaz, Darwin Nugraha
Musik: Frans Martatko Filman
Penata Suara: Dono Firman
Animasi & Desain Graphis: Affan Diaz, Erickson Siregar
Line Produser: Sidik Ilmawan
Manajer Produksi: Bince Mulyono
Format Pengambilan Gambar: HD
Format Pemutaran: M2T, Mpeg2, HD
Produser Eksekutif, Ucu Agustin, Ursula Tumiwa
Diproduksi oleh: Gambar Bergerak
Durasi 144 Menit 27 Detik
Setelah reformasi, dengan cepat konglomerasi menjadi corak industri media di Indonesia. Pola tersebut terus berkembang dan seolah dilanggengkan dengan dijadikannya sistem itu sebagai pegangan oleh para pelaku usaha media yang menjalankan operasional industri media di Indonesia.
Ribuan media dengan aneka format baik cetak, online, radio, televisi, yang informasinya diserap 250 juta penduduk Indonesia, hanya dikendalikan oleh 12 group media. Tiap pemilik group ini memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan kerap terang-terangan membanjiri publik dengan berita dan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang banyak me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik.
Luviana adalah seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK-kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan demi tekad untuk mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi.
Melalui dua kisah tersebut, film dokumenter ini akan membawa kita pada perjalanan Di Balik Frekuensi yang menuntun kita akan sebuah pencarian terhadap makna 'apa itu media'? Seperti apakah seharusnya media bekerja? Untuk siapakah mereka ada?
‘Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli’, benarkah itu yang tengah terjadi di dunia media kita di era konglomerasi media pasca reformasi 14 tahun silam?
Ada apa dengan TV berita kita? Itulah pertanyaan awal yang datang saat mengcapture semua peristiwa yang berkenaan dengan kasus Luviana dan Hari Suwandi – Harto Wiyono yang ada dalam cerita Di Balik Frekuensi. Luviana berhadapan dengan televisi berita pertama yang ada di Indonesia, Metro TV. Hari Suwandi dan Harto Wiyono berhadapan dengan televisi berita yang dulu salah satu taglinenya adalah: terdepan Mengabarkan, TV One. Kedua televisi tersebut bersiaran secara nasional dan jelas-jelas mereka menggunakan frekuensi publik untuk sarana siarnya.
Pertanyaan di atas itu lalu bersambung dengan pertanyaan lanjutan yang datang susul menyusul seiring dengan peristiwa yang terus terjadi dan harus diikuti untuk diambil gambarnya demi kepentingan produksi: ada apa dengan media kita di Indonesia setelah era Soeharto usai? Capek-capek dulu memperjuangkan kebebasan pers, untuk inikah semua perjuangan tersebut akhirnya? Sebuah konglomerasi media dimana media-media yang dimiliki oleh seorang pengusaha media tak lebih hanya dijadikan kanal untuk saluran kepentingan sang pemilik.
Siapa saja pemilik media di Indonesia kini ada dan apa interest politik juga kepentingan bisnis mereka? Bagaimana nasib para jurnalis dan pekerja medianya? Bagaimana para jurnalis tersebut bersikap terhadap kepentingan-kepentingan yang menyaru dalam berita yang harus mereka liput? Siapa yang paling dirugikan dengan pemberitaan yang begitu bertubi tapi tak ditujukan untuk kepentingan informasi yang mencerahkan tapi justru memalsukan realita untuk kepentingan pemilik media? Siapa korban langsung sesungghunya dari pemberitaan-pemberitaan yang demikian?
Pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan ini begitu sering dipercakapkan di kalangan media, tapi tidak dibicarakan secara terbuka di ruang public. Untuk itulah Di Balik Frekuensi ada dan bercerita.. ***