Analog space gear
styofa doing anything

Discoholic đȘ©

No title available
noise dept.

oozey mess

â
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie

blake kathryn
art blog(derogatory)
Sweet Seals For You, Always
i don't do bad sauce passes

pixel skylines

No title available

JBB: An Artblog!

shark vs the universe
DEAR READER
I'd rather be in outer space đž
Aqua Utopiaïœæ”·ăźćșă§èšæ¶ă玥ă

#extradirty

seen from Italy

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Malaysia
seen from Finland

seen from United States

seen from Philippines

seen from TĂŒrkiye
seen from Estonia

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from Colombia

seen from United States
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
@inkglospace
Analog space gear
Finally done with it, may I start slapping all over town?
Antara Kurator, Seniman, dan Pasar
oleh  Scholastica Gerintya Saraswati
Kusno Drajat
Vending Machine
Mesin penjual otomatis, karya grafis murni, uang
2015
Pada suatu ketika, seorang kawan sayaâsebut saja Joshua, seorang perupa muda yang memilih kanal lowbrow yang sedang mewabah (lagi) di ibukota kitaâdatang dengan muka memberengut dan rupa yang tak enak ditilik dari sisi manapun. Selidik punya selidik, ternyata dia baru saja ditolak. Bukan ditolak perempuan, tentu saja, karena dengan jenggot dan cambang bawuknya yang super hipster dilengkapi tattoo made in studio di sepanjang lengan dan punggung plus atribut seniman muda yang sudah entah kapan dilekatkannya pada dirinya, sejauh ini Joshua nyaris tidak pernah dirundung galau karena masalah perempuan dan masalah hubungan romantik interpersonal. Adalah sebuah gelaran pameran di sebuah galeri besar di Jakarta yang membuat kawan saya ini mengkerut mukanya. Apa pasal? Sang kurator dari pameran yang memiliki banyak sponsor itu telah menolak untuk mengikutsertakan karya-karya Joshua dengan pelbagai alasan, termasuk di antaranya: karyanya kurang matang, tidak utuh secara tematik, masih perlu menambah jam terbang dan pertimbangan-pertimbangan lain dari sang kurator.
âJam terbang mbahmu!â kata kawan saya itu bersungut-sungut.
Sebagai seorang seniman yang masih terbilang muda, meskipun cukup populer dikalangan peminat lowbrow bahkan sampai ke luar negeri, Joshua mau tidak mau mesti terima nasib: karyanya tidak bisa diikut sertakan di dalam pameran. Karena begitulah yang sudah diputuskan oleh sang kurator.
Tentu saja, nasib serupa ini tidak hanya menimpa Joshua seorang. Tidak sedikit perupa yang mengkerut dan terpaksa mundur teratur setelah berhadapan dengan argumen-kritik-penilaian-keputusan para kurator. Karya-karya yang sudah susah payah mereka hasilkan pada akhirnya tidak berhasil menempatkan diri di antara karya-karya lain di sebuah ruang pameran atau galeri, apalagi dibeli oleh kolektor karya-karya seni. Kurator pada akhirnya menjadi tembok tinggi yang sulit ditembus dan dilampaui oleh kawan-kawan seniman muda untuk menjangkau pasar yang berpotensi membeli karya-karya mereka.
Bicara mengenai kurator, apa sebenarnya kurator itu? Saya mengutip dua pemahaman mengenai kurator, yakni pengertian tradisional dalam Webster New 20th Century Dictionary dan Baudrillard. Kurator menurut Webster New 20th Century Dictionary adalah seseorang yang menjaga/memelihara, memperhatikan, dan mengawasi segala sesuatu berkaitan dengan koleksi seni rupa. Dalam kerja kuratorial, seorang kurator membuat penelitian atas teks/objek, konseptualisasi, interpretasi, perencanaan, dan promosi pameran atau koleksi. Sedang dari Baudrillard saya menyinggung soal adanya peran kurator dalam proses estetik seniman. Ke-aku-an kurator masuk dan hadir dalam otoritas karya si seniman selama proses kurasi berlangsung.
Lalu, apa kaitannya pemahaman sederhana kurator dengan Baudrillard?
Pada dasarnya, kemampuan untuk memahami dan menikmati karya seni tersebut ditentukan oleh selera dan hal ini berkaitan erat dengan kebiasaan si individu (consumerâs habitus). Oleh Bordieu, habitus ini terbentuk dari kondisi atau latar belakang individu tersebut, misalnya kelas sosial, kelas ekonomi, dan tingkat edukasinya, yang akhirnya memunculkan persepsi-persepsi tertentu (Bourdieu 1984:170). Persepsi-persepsi tersebutlah yang menentukan kualitas dan nilai dari karya seni. Kerja kurasi seorang kurator-lah, baik kurator tradisional maupun kurator independen, yang biasanya menentukan nilai dari karya seni tersebut berdasarkan habitus yang ia miliki. Di sinilah letak kuasa si kurator terhadap si seniman. Perbedaan level kekuasaan tersebutlah yang membuat kawan saya, Joshua, dan perupa-perupa lainnya sulit menjangkau pasar.
Namun, nilai dari suatu karya dapat berubah bila ada perubahan struktur power dalam bidang terkait di masyarakat (Bourdieu/Wacquant 1992:101; Bourdieu 1996:142, 225).Namanya seniman ya pasti tidak kurang akal dan selalu punya jalan keluar. Seperti yang dilakukan Kusno Drajat, seniman muda civitas akademika Institut Kesenian Jakarta ini menciptakan vending machine untuk menjual karya-karyanya langsung kepada publik. Dengan cara ini dia mencari jalan lain demi menghindari halangan tembok tinggi kuratorial. Bayangkan: sebuah vending machine yang menjual karya seni yang bukan produk massal, tinggal masukkan uangâplungâkarya senipun sudah di tangan.
Dari sebuah perspektif, tentu ini adalah sebuah jalan yang cerdik dan efisien bagi seorang seniman untuk mempertemukan langsung karyanya dengan pembeli, dengan demikian, transaksi bisa terlaksana, karyanya terjual alih-alih menjadi rongsokan karena melulu ditolak oleh kurator dan akhirnya tidak dibeli oleh kolektor. Kusno berusaha mencari celah untuk menjangkau pasarnya sendiri dengan caranya sendiri. Dan usaha yang cerdik ini tentu layak menerima pujian. Namun, di sisi lain, terbit pula pertanyaan: apa iya sebuah karya seni mesti dipasarkan dengan mengecer sedemikian rupa hingga menempuh cara yang sama dengan cara menjual rokok atau minuman bersoda?
Memang, menciptakan karya dan memasarkannya adalah dua hal yang memiliki masalahnya masing-masing. Seorang seniman yang mumpuni, dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang kuat tentu tak hendak karyanya disebut medioker, pasaran, atau (amit-amit) murahan. Sementara itu, seniman tidak bisa pula menjaga jarak terlalu jauh dengan pasar, karena toh pada akhirnya seorang seniman yang menghasilkan karya-karya yang tidak laku di pasaran (baik publik maupun kolektor) lama kelamaan akan mati kehabisan amunisi karena karyanya bahkan tidak mampu menghidupi dirinya sendiri apalagi membuatnya bisa kembali berproduksi. Karya yang dibuat Kusno adalah sebentuk diskursus yang menyinggung langsung atmosfir hubungan antara seniman-kurator-pasar di sekitar kita. Polemik semacam ini tidak sekali dua saja terjadi, bahkan tidak jarang melibatkan galeri, seniman, dan kurator yang telah cukup memiliki nama di lingkungan dunia seni rupa kita. Dan dalam kisruh semacam ini, kadang mencuat gugatan tentang kapasitas seorang seniman oleh kurator dan kapasitas seorang kurator oleh seniman, meskipun keduanya tidak memiliki tolok ukur yang pasti dalam memberikan penilaian pada masing-masing pihak.
Namun kisruh tinggal kisruh, tetapi tugas seniman ya membuat karya, kurator memilih dan memilah, dan pada akhirnya pasarlah yang menentukan apakah sebuah karya hendak mereka beli atau tidak.
Scholastica Gerintya Saraswati
Adalah mahasiswa Kajian Media di Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2012. Lahir di Jakarta, 10 Februari 1994. Saat ini aktif berteater di Teater Pandora dan magang di kantor pemerintah. Kesenian, jalan-jalan, dan diskusi random merupakan hal yang disenangi.
Cekitot..
Distorsiiiiiihhh..
INKGLOSPACE MINIMAX
D.I.Y minimum system for integrated circuit ATMega16
Recent project! the âSpace V Machineâ
thanks for purchase :)
Kenal Rupa: Sebuah Pengantar
(Scroll down for English version)
âMelihat kampus sebagai kanvasâ - Reza â Asungâ Afisina
Obrolan malam kami mendadak terhenti karena raungan mesin pemotong kayu dari studio sebelah, yang batasnya (dengan semangat ala kadarnya) dibuat dari sederet loker besi para mahasiswa. Keheningan yang tak hening ini dipakai sementara untuk mengoleskan losion anti nyamuk ke kaki dan tangan masing-masing, mengingat studio-studioan sementara ini berlokasi di lobi bawah yang terbuka. Usai mesin reda, obrolan soal Kenal Rupa pun dilanjutkan. âEh, tadi sampai mana, ya?â celetuk teman, dan diiringi gelak tawa.
Kampus Institut Kesenian Jakarta, yang sedang dalam pembangunan tanpa henti, menjadi sebuah arena bermain bagi para mahasiswanya. Situasi ruang yang serba darurat, persilangan antara peraturan dan kemauan mahasiswa, menjadi hal-hal yang coba dikenali dan dipahami oleh para mahasiswa-mahasiswi lewat program Kenal Rupa.
Fasilitas penunjang perkuliahan, apalagi ketika saat ini kondisi gedung sedang direnovasi, sulit untuk memuaskan semua pihak. Oleh Yudhistira Dwi P.S (DKVâ14), Ragil Dwi Putra (Seni Murniâ10), dan kelompok yang menamakan dirinya Kenalrupawati dari angkatan 2014, kekosongan tersebut coba diisi. Alih-alih dengan protes blak-blakan dan tuntutan menyala-nyala, mereka akan menggunakan fiksi, entah dari apropriasi stiker Sedot WC, atau topi sulap untuk menodong orang yang lewat.Â
Reruntuhan gedung lama ataupun pasak-pasak berkarat calon gedung baru, ternyata dimanfaatkan untuk ritual foto outfit of the day atau #ootd oleh mahasiswa FSR IKJ, dalam berpose memamerkan kombinasi cadas pakaian mereka di Instagram. Tren ajaib ini diangkat oleh Talitha, Jonathan, dan Christo, mahasiswa DKV angkatan 2013.Â
Kepekaan akan ruang, melihat barang-barang acak-sisa pindahan-yang terbengkalai namun sering dilewati juga memantik kejahilan Atras Alwafi dari DKVâ11 lewat projek Ketok Magic-nya dan Ibrahim Arimurti dari Seni Murniâ13. âGue merasa, yang membedakan karya seni dengan yang bukan adalah captionâ ujar Ibrahim. âDi kampus ini, gue ngeliat banyak benda-benda yang sengaja atau gak sengaja terlihat artistik, jadi gue mau merespon soal ituâŠâ.
Tak hanya benda, hiruk-pikuk percakapan yang mengisi suasana kampus menarik Atho Faruq, DKVâ13, untuk mengumpulkannya menjadi kolase audio dan menyebarkan kembali untuk didengar, seolah menjadi potret atau refleksi suara. Ada juga Anto Dul Muhammad, Seni Murni â12, yang menjadikan dirinya sebagai biro jasa pengenalan antarmahasiswa, akibat keresahannya tentang jarak yang semakin jauh antar teman fakultas satu dengan yang lainnya.Â
Jika Kenal Rupa disebut sebagai platform berbagi di dalam proposal kegiatan dan pengantar, memanglah dirasa seperti itu bagi yang terlibat. Untuk kami, Senat Mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta 2014/2015 selaku penyelenggara, Kenal Rupa menjadi sarana memahami mahasiswa kampus dan potensi-potensi yang mereka miliki. âGue jadi mengenal proses mereka. Gue belajar membedakan pendekatan gue ke orang.â ujar Bhaskara Haqa, Ketua Himpunan Mahasiswa Kria, yang bertindak sebagai Koordinator Seniman dan Teknis Karya.
Lain dengan Kusno Drajat, dari Seni Murni 2011. Projeknya justru membawanya untuk mengenal hal di luar kampus atau jurusannya. Berniat untuk membuat sebuah mesin, Kusno sampai mendatangi temannya yang berkuliah di fakultas teknik dan mempelajari buku tentang teknik mesin.
Banyak tantangan dan taruhan memang, ketika membuat sebuah pameran yang berbasis situs spesifik dan melibatkan banyak orang. Akan tetapi, kami yakin bahwa kedekatan adalah hal yang penting dan magis dalam membuat atau mengapresiasi sebuah karya. Berbicara soal kampus, dari penghuni kampus, dan dinilai oleh sesama penghuni juga. Sebagaimana ketika awal-awal program ini diformulasikan bersama Reza âAsungâ Afisina, ia menawarkan untuk âmemanfaatkan platform kampus untuk membesarkan kampus itu sendiri.â
Rico Prasetyo, pencetus dan Ketua Pelaksana Kenal Rupa, melihat Kenal Rupa bukan hanya sebagai pameran dengan jangka waktu yang terbatas, namun juga tempat bermain yang berkelanjutan, karena mengenal tidak ada habisnya. Setelah sebelumnya mengadakan acara diskusi yang mengundang FX Harsono, rangkaian acara Kenal Rupa akan mengundang kritikus-kritikus seni rupa muda untuk menghidupkan karya melalui pembacaan mereka serta acara diskusi mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta yang dilaksanakan di IKJ dalam waktu dekat.Â
Pantau terus kotak masuk surel atau lini masa sosial media kamu untuk info terkini tentang Kenal Rupa! Sampai bertemu di kampus kami!
Ditulis dan diterjemahkan oleh Gesyada Annisa Namora Siregar
Kenal Rupa: An Introduction
âWhere the campus is perceived as a canvas..â â Reza âAsungâ Afisina
Our late night discussion was suddenly interfered by a roar from next studioâs wood cutting machine, where the partition is only marked with an array of studentâs lockers. This moment of silence, but yet noisy, then spent to smear the mosquito repellant lotion onto our feet and hands, since this temporary studio located at an open underground lobby. Â After the machine off, we continued our Kenal Rupa discussion. âWait, where were we?â uttered one of the friend, and followed by a burst of laughter.
The never ending reconstruction that happened in Jakarta Institute of Arts, both in infrastructure and academic, are seen as a playground for every student who resides here. These transitory spaces, the cross between school rules and studentâs demand, are the things that tried to be identified and understood by these students, through Kenal Rupa program. (Kenal: know, understand, identify; Rupa: aspect, form, appearance, face-red)
When most of the buildings are under construction, current school facilities become difficult to meet everyoneâs expectation. By Yudhistira Dwi P.S (Visual Communication Designâ14), Ragil Dwi Putra (Fine Artsâ10), and group of girls that called themselves Kenalrupawati from 2014 generation, those problems are tried to be answered. Instead of using fiery protests, they chose to provide a fiction, whether itâs from an appropriation of toilet plumbing service advertisement or magician hat to collect peopleâs money.
The ruins from old building demolition or pivots for the upcoming new building, utilized as a background for outfit of the day or #ootd photo by the students, as a means to exhibit their rocking outfit on Instagram. This bizarre trend will be brought by Talitha, Jonathan and Christo, Visual Communication Design students from 2013.
Sensitivity for spaces, seeing the random stuff that scattered around the campus area, ignited the naughtiness of Atras Alwafi from Visual Communication Designâ11 through his project Ketok Magic and Ibrahim Arimurti from Fine Artsâ13. âIt seems like, what differentiate an artwork or not-an artwork is the caption.â said Ibrahim. âHere, at the campus, I have seen so many stuffs that deliberately or not, have artistic tendencies. So I want to respond thoseâŠâ .
Not only objects, buzzing conversations that fill the campus air inspired Atho Faruq from Visual Communication Designâ13, to gather them as an audio collage and distribute it  back to the students, as if become a sound portrait or reflection. Thereâs also Anto Dul Muhammad, Fine Artsâ12, who acts as a bureau service who introduces students to one another, which departed from his concern about the gap that starting to occur between students from each faculty at Jakarta Institute of Arts and year.
When Kenal Rupa is presented as a sharing platform in our event proposal and introduction, it is indeed what the participants felt. For us, Students Senate for Visual Arts Faculty at Jakarta Institute of Arts 2014/2015 as the organizer, Kenal Rupa is tool to get to know the students and the potentials that they have. âIn here, I came to understand their process. Iâve learned to vary my approach to people.â admitted Bhaskara Haqa, the Head of Craft Department Student Union, who serves as Artists and Artworks Coordinator.
Itâs different when it comes to Kusno Drajat, from Fine Arts â11, His project has pushed him to know things out of his major or campus instead. Planning to make a machine, Kusno visited his friend who studied engineering and even copied a book about engines.
Conducting an exhibition with site-based artworks and involving many people, has its own challenges and stakes. However, we believed that closeness is an important and magical aspect when it comes to creating or appreciating an artwork. Talking about campus, from the people themselves, and judge by the fellow. Regarding to what Reza âAsungâ Afisina said in the beginning when Kenal Rupa was formulated: âutilizing the campusâ platform to expand the campus itself.â
Rico Prasetyo, the initiator and Executive Manager of Kenal Rupa, planned Kenal Rupa not as an exhibition with limited span of time, but as a continuing playground, since knowing is an endless process. After previously held a discussion with FX Harsono as the keynote speaker, series of Kenal Rupa events will invite young art critics to enliven the artworks with their writings and launch a discussion with students from various campus at Jakarta, which will be hosted soon at Jakarta Institute of Arts.
Stay tuned for upcoming updates about Kenal Rupa on your social media timeline or mail inbox! See you at our campus!
Written and translated by Gesyada Annisa Namora Siregar
"Unemployedâ
silkscreenprints
This is INKGLO SPACE poster
test print. Dry point, intaglio. dateless loser.
For a t-shirt, or a sticker, or something. If you have specific feelings, you can message me or comment. Will be tidied up for the finished product, whatever it ends up being.
test print. etching. intaglio.Â
ini diaaah poster projek nya kak andi. BOMB DA LOVE
Art For Cure
Squeegee board.
Cemani ink on deck.
Totally printmakers
âA GO GOâ
20x30 wood cut print on paper. signed and numbered edition of 12.