Aku menapaki lorong demi lorong dirumah sakit berjalan sangat pelan untuk bertemu dengan anakku... Aku menangisi semalaman dengan luka sayatan di perutku masih basah. Langkah demi langkah aku lalui. Tapi sebentar, ternyata tidak seperih hati ini yang menerima kabar dari perina kalau adik kondisinya menurun, belum bisa menyeimbangkan gula darah nya sendiri.
Ventilator, sinar UV dan oksigen serta selang untuk adik makan. Hati ibu mana yang kuat melihat scene ini. Rasanya dunia seperti runtuh. Luka sayatan ini tidak terlalu berasa karna sakitnya yg ini lebih sakit lagi.
Malam malam ku hanya menyebut nama Allah. Air mataku terus keluar membasahi pipi dan pikiran ku terus kemana mana, sementara aku harus tetap menjaga supply asi ku untuk antibodi adik walau hasil pumpingku sangat sedikit.
Setiap hari aku sentuh anak ku di dalam ventilator, rasanya hangat setelah ku masukan hidung dan mukaku setengah dilubang samping, oh mungkin seperti ini rasanya di dalam rahim.
Bagaimanakah adik nanti setelah beradaptasi di suhu ruang? Aku masih bertanya tanya, ku tempelkan jari telunjuk ku lalu ia genggam, dalam ke harusan makan dengan selang itu aku menaruh jariku kembali ke pipi adik yang lalu aku sadar kalau adik ingin minum dengan menyapih.
Selalu aku bisikan adik agar tidak lupa napas, selalu ku bisikan adik supaya pulang bisa menyapih langsung dengan ku. Aku manusia waras di siang hari setelah sampai di NICU melihat anak ku, segala harapan datang, pasti adik bisa tumbuh seperti anak anak lainnya.
Ketika kembali dirumah aku meratapi dan selalu bertanya kenapa, menangis sambil berbicara kepada Tuhan ku agar aku bisa bersama anak ku dirumah.
Setan mencari celah untuk mengelabui ku, sampai dititik dimana aku sudah mulai melantur dan pikiran ku membuat imajinasinya sendiri yang hampir tidak bisa ku kendalikan.
Ya... Ini gejala schizophrenia penyakit mental stage lanjutan karena depresi yang tidak tertangani dengan baik. Namun kasih sayang Allah sangat luas. Kabar baik datang dari suster disana setelah hasil rekam jantung adik keluar, ternyata hasil nya baik.
Lalu kabar baik lainnya mengikuti sampai tiba dimana hari suster mengajari ku cara untuk merawat adik dengan menggendongnya, memberi makan lewat cup, botol dan langsung dari sumber asinya.
Tapi seketika pandangan kebahagiaan itu perlahan memudar saat aku belajar menyapihi langsung adik dari payudara ku langsung diruang NICU, suami ku melihat dan ternyata hasilnya mengecewakan karna puting ku termasuk yang datar sehingga susah untuk meminumkannya langsung ke mulut bayi, lalu suami ku memaki ku dengan suara yang cukup keras karna kebodohanku tidak bisa menyapihi anak ku sendiri, aku yang paling bodoh dan tolol ini katanya...
Tapi aku lihat lagi wajah mungil ini, ia seperti mendengar dengan mengerutkan dahi, bayiku tidak nyaman, dan aku hanya bisa mengajaknya bercanda dan mengelus lembut wajahnya agar kita bisa belajar bersama untuk saling mengasihi, aku yang harus nya mengasihi nya, tapi ternyata dia yang lebih mengasihi aku. Bayi hebat ku ini mampu melewati masa kritis nya berjuang di inkubator lengkap dengan alat pernapasan.
Pada sore harinya ku mulai lagi berdzikir dan suster memberi kabar bahwa dede sudah mulai observasi tanpa alat bantu, hatiku dag dig dug Der.. Sedikit takut dan cemas namun aku bergembira karna ini artinya tidak lama lagi bayi ku bisa aku timang timang dalam pelukan ku.
Pulang kerumah dengan hati yang bahagia sekaligus kekurangan tidur ini karna memikirkan adik di rumah sakit, jam 4 subuh aku ke UGD untuk suntik lambung dengan di tangani oleh dokter kesayangan.
Di siang hari sampai ke sore hari aku mulai kembali drop karna sebelum nya bahkan aku kesulitan untuk membaca dzikir pagi dan petang karna aku khawatir ini adalah gejala struk ringan, cara bicara cadel dan susah. Tapi aku mulai berpikir secara positif mudah mudahan aku hanya kelelahan saja.
Di ruang NICU itu aku mulai kelelahan dan duduk di lantai sampai perawat menyadarinya aku hanya bisa menangis karna aku sangat lelah dan merasakan sakit kepala, suami ku yang duduk langsung mengajak ku keluar dan mulai memaki ku lagi, dengan perkataan yang tidak wajar bodoh dan tolol.
Apa sudah benar ibadah solat yang iya lakukan itu, setiap pagi dan malam meminta keselamatan untuk anaknya. Tapi memaki ku habis habisan di depan orang orang, aku ingat sekali di depan lobby rumah sakit, sampai aku kesakitan menelpon orang tua ku dengaan tangisan kelelahan. "Mau jemput anak malah sakit, tolol banget".
Semuanya terjadi begitu cepat, nasi sudah menjadi bubur rasa haru dan bahagia karna di karunia anak tetapi menyesal untuk kesekian kalinya menikah dengan lelaki yang salah. Kalau saja ia cukup cerdas mengendalikan emosionalnya, matang secara pemikirannya dan pintar untuk mengambil keputusan, mungkin aku tidak se patah hati ini.
Dalam pernikahan ini terkadang aku mendambakan sosok yang lain.......