ungkapan terimakasih yang benar dalam bahasa Jawa
Kata yang sering kita dengar dan ucapkan adalah matur nuwun, tapi tak jarang pula ada yang mengucapnya matur suwun. Pertanyaannya, samakah makna dua kata tersebut?
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Origami Around

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
taylor price
cherry valley forever
I'd rather be in outer space 🛸
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Game of Thrones Daily

oozey mess

❣ Chile in a Photography ❣

No title available

JVL

No title available

blake kathryn
Show & Tell
art blog(derogatory)
YOU ARE THE REASON
One Nice Bug Per Day
tumblr dot com

seen from France

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from Iraq

seen from United States

seen from Bulgaria
seen from Egypt

seen from United States

seen from Japan
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Iraq
seen from Tunisia
@intiakarasa
ungkapan terimakasih yang benar dalam bahasa Jawa
Kata yang sering kita dengar dan ucapkan adalah matur nuwun, tapi tak jarang pula ada yang mengucapnya matur suwun. Pertanyaannya, samakah makna dua kata tersebut?
asal usul peci, songkok dan indonesia, asal usul kopyah
Penutup kepala tak ubahnya sebuah saksi. Benda itu memiliki peran sekaligus pemaknaan yang dekat dengan wilayah pengemukaan identitas, penggambaran sikap juga keberpihakan. Baik berupa kain terlilit, topi rapat hingga mahkota berlingkar emas. Penutup kepala memiliki maksud-maksud penggunaan,dari sekadar alasan subyektif hingga argumentasi yang menyangkut kepentingan kelompok. Dalam bahasa Belanda, penutup kepala ini disebut petje. Gabungan dari dua unsur, Pet yang berarti Topi, dan Je yang artinya kecil. Di kemudian hari, bahasa Indonesia menyerapnya sebagai Peci : benda mungil, yang punya peran tak kecil. Sekarang ini, Peci tak lagi menjadi tanda kemusliman dan kesalehan seseorang. Kini, ia menjadi busana formal. Nuwun.
catatan perjalanan mendaki semeru, kisah misteri di gunung semeru, kalimati, mistis di oro-oro ombo
Padang rumput ini menyimpan beragam kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Salah satunya adalah pagelaran gending gaib mirip gamelan pagelaran wayang kulit. Suara gamelan mirip pagelaran wayang kulit itu selalu terdengar terutama pada waktu-waktu tertentu.
(via Cepuri Parangkusumo : Tempat Sutawijaya Teken Kawin Kontrak dengan Ratu Kidul)
Karena sudah kesengsem pada pandangan pertama, Ratu Kidul menyanggupi permintaan Sutawijaya, dengan syarat, Sutawijaya dan keturunannya yang menjadi raja, harus bersedia menjadi suaminya. Sutawijaya pun menyetujui syarat ini, asalkan perkawinan tersebut tidak membuahkan keturunan. Dari sini perjanjian tersebut diteken.
sejarah snouck hurgronje,
Tokoh yang satu ini terbilang tokoh yang penuh kontroversi, baik semasa masih hidup maupun sesudah mati. Satu sisi ada yang memuja dan sisi lain ada yang melaknatnya.
asal usul kata wali, ngaji, sunan, dan pesantren
tuhan, sejarah tuhan dari masa ke masa,
Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya dengan Tuhan, yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Tuh Hyang, yang memiliki arti roh atau dewa yang memiliki posisi tertinggi dalam khayangan atau surga. Berbicara tentang Tuhan, maka nilai yang akan kita berikan adalah tidak terhingga. Berada pada setiap dimensi di alam semesta, membaur diri dengan alam semesta, tidak memiliki batasan, memiliki perulangan tak memiliki nilai. Tiap-tiap agama penganut paham monotheisme memiliki nama untuk Tuhan.
sejarah penaklukan giri kedaton, pencaplokan pesisir oleh sultan agung, hegemoni mataram di jawa
Mataram dibangun atas dasar intrik politik dan pembunuhan. Bahkan semenjak pada awal pembentukan Mataram oleh tiga serangkai Ki Panjawi keturunan Bhre Kertabhumi, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Martani, Mataram adalah sejarah intrik kekuasaan. Pendirian Mataram pun awalnya adalah konspirasi bohong pembunuh Aryo Penangsang.
Kadang, betapa terasa lambatnya waktu, bahkan sama sekali terasa tak bergerak. Diam saja. Sampai kegelisahan ini memuncak hingga titik kulminasinya
Akarasa
Paha Anak SMA dan Otak Kita yang Ngehek
Di antara para babon yang berbicara HAM dan moral, salah satunya adalah kelompok yang mendaku dirinya diferensialis dan selalu punya perspektif yang berbeda. Sayangnya, sifat blunder juga mereka pelihara. Salahsatu yang unik dari Indonesia adalah kultur penghakiman dan cepat tanggap dalam kasus seksualitas. Baru-baru ini, sebagian dari kita kaget, sebagian dari kita kesemsem, dan sebagian dari menjustifikasi.
Yang terhormat mas, mba, kulo pengen nanya ke panjenengan, kalian iki buzzer plus polisi moral anak SMA yang spread legs iku? Kalo ngga, ya anggurin saja tulisan iseng ini. Kalo iya, hmm…saya lanjut nulis aja ya. Gabut wa hehe.
Rasanya ga perlu bandingin ama mutiara yang tertutup dan memiliki keindahan nan kaffah juga kali. Saya dan kalian juga sama, ga suka dengan perayaan kelulusan seperti itu–iya kalo lulus, kalo ngga kan bisa ambil paket.
Rasanya terlalu lama kita mempermasalahkan paha-paha dan bahenolnya mereka. Masih banyak yang perlu dipermasalahkan. Misal, aksi Kartini Rembang yang disemen. Jika berbicara mengenai wanita dan kecantikan, jangan sebatas betis dan paha saja. Pikiran pria mengenai wanita sejatinya lebih luas karena didorong oleh sifat kelelakian dan permasalahannya sifat kelelakian itu begitu langka.
Saya mau nanya, sebenarnya apa yang membuat kita terperangah dengan tingkah-laku mereka yang seperti itu? Bukankah sudah sering kita melihat bagian-bagian strategis yang terbeber itu di perkotaan? Jika kita terperangah dengan kemolekan mereka, ada yang salah dari otak kita dalam menilai kecantikan dan wanita yang sejati. Wanita boleh dikatakan cantik ketika berdansa, diam, atau frontal. Tapi, kecantikan lebih misterius dan serba relatif. Kecantikan, di Indonesia, selain dipegang oleh Dian Sastro juga dipegang para Kartini Rembang yang menuntut pabrik semen di kawasan Rembang untuk ditutup.
“Untuk anak-anak!” Teriak mereka yang sayup terdengar di televisi sebelum aksi dipasung semen itu dilakukan.
Apakah wanita Rembang ini tidak cantik? Tidak sexy? Tidak molek karena sudah hampir renta dan melawan traktor, berkelindan dengan debu demi anak-anak mereka?
Mereka tidak minta untuk dibelikan lipstik dan bedak sebagaimana mamah muda di perkotaan, lagi, menuntut kesetaraan dalam hubungan sosial jender nan dikotomi ini. Mereka hanya ingin pabrik semen ditutup agar ekosistem di daerah mereka terjaga, begitu juga dengan generasi mereka nantinya.
Sisi feminis dari ibu-ibu ini sepertinya termaktub dalam English Proverbs; If I got 5 hours to cut down a three, I spent the 4 hours to sharpen my axe. Betis dan paha merekalah yang sebenarnya harus diperhatikan lebih, bukan anak SMA yang molek itu. Sebab, kecantikan ada pada perempuan-perempuan yang lupa bahwa mereka cantik mereka tak perlu repot untuk merias diri agar terlihat cantik.
Sekarang kita justru terjebak pada paha anak SMA yang sebagiannya mungkin belum merekah, sedangkan kita mengesampingkan betis paha yang kaku demi anak-anaknya dan perjuangan melawan mesin yang merampas kemurnian.
Barangkali Freud benar, ketika menyambut akhir hayatnya, Sigmund Freud yang ahli psikoanalisis menulis, “Pengetahun kita tentang alam pikiran manusia suatu saat kelak boleh jadi bisa dipakai untuk menimbulkan ‘patologi masyarakat kultural’.” Barangkali, kita begitu patologis (cacat) dan neurotic sehingga melupakan wanita-wanita cantik yang berjuang demi generasi mereka mendatang.
Lantas, yang ngehek itu otak kita apa paha anak SMA itu?
Aneh
Sesuatu yang aneh pasti akan terlihat, bahkan sampai-sampai dianggap ancaman meskipun yang aneh belum tentu mengartikan sebuah anomali baik dalam pranata sosial atau tingkah laku pribadinya. Kita menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh karena hal yang dilakukan “Yang Aneh” tidak seusai dengan logika kita yang menilai.
Penilaian mengenai aneh atau tidaknya seseorang terjadi ibarat di dalam sebuah ruang dan di ruang itu segala hal terperangkap mengenai peran, watak, dan kualitas dari yang-dianggap-aneh dan yang-menilai-aneh. Karena pada dasarnya ketika melakukan penilaian maka terjadi dua gesekan; menjustifikasi objek yang dinilai dan menjustifikasi kita sebagai penilai.
Jika mereka yang mendaku dirinya bukanlah orang aneh, lantas, anehnya yang sedang diperdebatkan mengenai apa? Aneh yang bagaimana? Menurut siapa dan bagaimana? Beberapa orang pasti akan terlihat aneh sekarang ini, setidaknya secara awam atau keseluruhan. Misal, kesalahan berpikir lagi bersikap mengenai definisi “Radikal” dengan demikian orang-orang yang memakai turban dan hijab tidak akan mengena pada logika mereka yang kebanyakan feminazi, dll.
Orang-orang yang mendaku dirinya sebagai yang-tidak-aneh itu menenteng relativitas pembenaran di diri mereka masing-masing. Di saat bersamaan, mereka menyatakan bahwa semua hal adalah kebenaran dan tidak dapat disalahkan karena berada pada nilai subjektif seseorang. Singkatnya, kebenaran dapat diklaim siapa saja.
Dengan iming-iming pluralisme seperti itu, mereka para pendaku yang-normal itu seharusnya sadar bahwa yang-bukan-mereka juga harus dianggap benar–dan sesuai logika pluralis mereka, dunia tidak pernah memiliki keanehan sebab semuanya begitu normal dan begitu benar menurut masing-masing.
Ketika mendakwa “semua hal adalah benar”, maka, dengan demikian, juga menerangkan bahwa gangguan kepada yang-aneh (menurut mereka) juga seharusnya tidak ada. Di saat bersamaan mereka juga dapat didakwa sebagai “Yang Aneh” karena memiliki cacat pikir yang jumawa.
Sama halnya dengan para wanita yang meneriakimu “modus” ketika membawa kesopanan kepada kaum mereka. Wajar saja, sebab kesopanan adalah hal yang begitu langka sehingga menjadi aneh sekarang ini.
Perjanjian
Jika ada yang menghidupi di muka bumi ini selain harapan, maka ia adalah sebuah Janji yang merupakan taraf teratas setelah harapan. Ia memberikan warna kepada hidup dengan memberi rasa debar, juga membuat manusia mengira-ngira.
Sebuah janji, baik besar mau pun kecil, tampaknya ditakdirkan untuk hadir di kehidupan manusia karena sebuah Janji mengerti sekali apa yang diinginkan manusia. Sebuah Janji tidak memperdulikan jenis kelamin, warna kulit, ideologi, bahkan pengelompokan manusia menurut kebudayaan; Homo Ludens (kelompok manusia yang suka bermain) atau Homo Fabers (yang suka bekerja).
Janji mendefinisikan sesuatu yang bebas, terlepas dari genggaman. Begitu pula sifatnya. Sebuah Janji juga menerangkan dirinya sendiri sebagai sebuah ucapan prolog dongeng tentang masa depan yang menenangkan. Namun, tetap, sebuah janji akan menjadi serius ketika diucapkan baik tersurat atau pun tersirat.
Manusia dengan sikap reaktifnya menanggapi serius mengenai janji, mengenai sebuah pembuktian, mengenai sebuah rasa debar akan hasilnya, dan yang paling penting; mengenai sebuah penantian.
Sebuah Janji hanya sekadar kata-kata yang koheren sebelum ia terbesit di pikiran dan janji memerlukan objek atau tujuan, ketika sebuah Janji terucapkan, walau pun hanya iseng, ia bukan lagi sebuah Janji. Sifat alamiah Janji pun tergerus ketika ia terucap (baik tersirat atau tersurat), setelahnya, ia lebih sering disebut Perjanjian.
Perjanjian, bukan lagi hal sederhana atau susunan kata-kata yang menenangkan karena Perjanjian bukan dongeng khayalan untuk menghantarkan anak kecil ke alam mimpinya. Kita sering lupa atau mungkin hanya menganggap hal sepele mengapa sebuah hal semacam ini sering disebut Covenant, Agreement, atau, ya, A Contract.
Sebagian dari kita mengingat pepatah India kuno yang masih menjadi panutan dalam membuat perjanjian hari ini. Pacta sunt servanda, agreement must be kept, setiap perjanjian harus ditaati. Begitu seriusnya mengenai Perjanjian, sampai-sampai termaktub dalam pasal 26 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan bahwa “every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed by them in good faith” atau “setiap perjanjian mengikat para pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik”.
Ada dua buah syarat mengenai penciptaan Perjanjian, yakni itikad baik (good faith) dan keterikatan (bind). Segala sesuatu yang didorong oleh niat yang baik dan dijadikan alasan sebuah Perjanjian memang berupa Perjanjian–namun bukan Perjanjian yang Serius. Karena yang Serius akan bersedia untuk terikat pada sebuah perjanjian.
Sebuah benang merah mengenai Janji dan Perjanjian sudah ada sejak sebuah Perjanjian masih berupa embrio di dalam benak seseorang. Barangkali, kita sering lupa dengan nasihat nenek kita dulu “jangan sembarangan berjanji ya, nduk.”.
Mengapa demikian? Apakah Perjanjian adalah sebuah peraduan nasib di atas meja Poker? Bukan. Bukan sama sekali.
Perjanjian adalah suatu ikatan yang sakral, sesuatu yang besar, yang par excellence, dan yang tidak sembarangan. Sebab, Perjanjianlah yang membuat manusia mengesampingkan sebagian dari hidupnya, atau barangakali sepenuhnya, untuk membuktikan hasil Perjanjian itu.
Seturut Arfal yang mengatakan, Janji pasti ditepati, namun tidak sekarang. Perkataan itu menjelaskan bahwa Janji dan Perjanjian akan diletakkan pada dikotomi hasil; berhasil atau gagal–bukan berjanji dan mengingkari.
Sebab, Janji adalah Janji dan sebuah Perjanjian bukanlah tentang sebuah hak istimewa, namun sebuah pertanggungjawaban untuk dituntaskan.
Waktu
Waktu berjalan dengan pola yang sama dan stagnan. Matahari di masa depan akan terlihat sama sampai kita mengatakan matahari itu sebagai “matahari yang sama dari masa lalu”. Waktu hanya akan diwarnai oleh siang dan malam, diisi dengan suara detik per detik dari sebuah bandul. Perjalanan dari musim ke musim, pasang dan surutnya air menurut rotasi bumi dan putarannya alam semesta.
Apa yang disebut Heraklius benar adanya, tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adagium kuno itu juga menyangkut tentang sifat alamiah dari waktu. Waktu terus seperti itu, waktu hanya memiliki sedikit warna dan tidak memiliki hal yang baru.
Walaupun kaku dan stagnan, waktu adalah satu-satunya hal berharga yang manusia punya. Dengan waktu, manusia dapat menggapai apa yang mereka pertanyakan dan apa yang mereka nantikan. Tanpa waktu, manusia tidak dapat hidup.
Hidup berbeda dengan waktu yang berjalan begitu stagnan. Hidup bukan mengenai proses biologis dari sebuah makhluk; lahir, tumbuh, dan mati. Hidup lebih dari itu, itulah mengapa dalam menjalani hidup, manusia dapat melakukan pengandaian, bertanya, menghasilkan dan berencana. Manusia merencanakan banyak hal dan menyandangkan waktu pada perencanaan itu. Hubungan waktu dan hidup sulit untuk dipisahkan, ibarat lepat dan daun.
Manusia boleh saja merencanakan apa pun, namun hidup lebih dari sebuah pola, bahkan banyak pola. Bukan tidak mungkin Zasdar mengatakan bahwa hidup begitu acak. Bertrand Russel dalam bukunya “The Problem of Philosophy” juga ‘menyatakan’ pertanyaan mengenai hidup dan waktu; akankah masa depan akan selalu sama dengan masa depan yang telah lalu?
Tentu saja pertanyakan filosofis semacam itu bisa dijawab dengan berbagai ke-tergantung-an. Sebab dalam hidup, manusia pun tumbuh, berkembang, istirah, berhasil, gagal, dan meninggalkan. Sebab dalam hiduplah, manusia meniti waktunya. Bahkan, adagium yang sama masanya dengan masa Heraklius tadi mengatakan bahwa, setiap hari adalah matahari yang baru.
Adagium (pepatah) itu berbicara mengenai hidup dan waktu dengan sudut pandang yang berbeda, mengkhususkan pada acaknya pola kehidupan. Matahari boleh saja berbentuk sama setiap harinya, terbit dari Timur dan tenggelam di Barat. Namun jika berbicara tentang hidup, matahari akan selalu menjadi baru atau di luar dari pola waktu.
Maka, sebaik-baiknya hidup adalah yang melawan waktu. Menembus ruang, lagi waktu. Manusia yang hidup dengan kehidupannya yang sejati tentu saja akan selalu berucap dan berbicara selaiknya manusia yang hidup pada waktunya dalam kepala manusia lainnya.
Waktu memang berjalan dengan satu pola menuju akhirnya dan waktu adalah satu-satunya kepastian. Waktu memang terkesan tidak pernah peduli dengan kehidupan, kendati demikian, waktu tidak pernah meninggalkan.
Dan ketika manusia memberikan 'waktunya’ kepada manusia lainnya, hal tersebut sama saja dengan memberikan hal yang paling berharga yang dimilikinya. Sebab waktu adalah apa saja yang melingkari leher kehidupan dengan bandul detiknya. Lantas, berhati-hatilah dengan waktu karena merupakan kepastian kedua setelah keberadaan Tuhan.
Toleransi~ Bukan sekedar menghormati yang merayakan, berterimakasih pada yang mengucapkan selamat. Tapi juga menghormati pilihan beberapa teman yang berkeyakinan tidak mengucapkan selamat natal.
Pada akhirnya memang perdebatan harus dihentikan, siklus kebencian harus diputus.
Selamat natal kepada teman teman yang merayakan.
Selamat liburan untuk teman teman semua.
Damai di hati damai di bumi.
sejarah kesenian tayb tuban, kesenian tradional tayub terancam punah
Sesuatu yang kekinian, terbarukan, atau istilah jaman sekarang up to date dalam kebudayaan lazim dipertentangkan. Asumsi ini pada akhirnya mendudukan suatu kontradiksi bahwa yang tradisonal akhirnya dianggap kuno, katrok, dan ketinggalan jaman. Sedangkan yang berbau modern selalu berkait erat dengan tren kekinian dan sesuai dengan jamannya. Pada akhirnya, kita terima atau tidak, kesenian modern pada akhirnya menjadi pemenangnya atas kesenian tradisional. Dan salah satu yang terancam mati suri karena ekspansi masuknya budaya asing di Indonesia yaitu Kesenian Langen Tayub di Kabupaten Tuban.
hakikat pernikahan dalam pandangan kaum sufi dan kejawen, hakekat nikah
Menurut, socrates. Dunia pernikahan, ibarat sangkar emas. Yang diluar ingin masuk, yang didalam ingin keluar. Sedangkan dalam pandangan kaum sufi, sebuah pernikahan antar sepasang kelamin hanyalah suatu kegiatan hawa nafsu, tetapi dilegalkan oleh agama. Oleh kernanya kaum sufi itu sendiri menganggap, pernikahan hanyalah sebuah bentuk simbolis yang menyimpan makna rahasia hakikat hubungan antara yang transenden dan yang imanen.
sisi lain dari pangeran diponegoro, kisah perselingkuhan diponegoro dengan gadis china, sejarah yang disembunyikan
Judul dalam seri tulisan Perang Jawa ini bisa jadi sangat provokatif, atau mungkin ada kesan tidak nasionalis karena yang saya angkat dalam tulisan kali ini adalah sisi lain dari keperwiraan Pangeran Diponegoro. Terlepas dari itu semua, ini adalah sisi lain seorang anak manusia yang tentu saja tidak akan pernah luput dari kekhilafannya.