Lebih dari satu dekade
Lebih dari sekedar cinta di permukaan
Ternyata, aku telah jatuh terlalu dalam pada cintamu
Meski tahu kisahnya salah
Meski tahu waktunya tak tepat
Tak perlu kamu tanya lagi, siapa pemilik hati ini

pixel skylines
Cosimo Galluzzi
d e v o n
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

if i look back, i am lost
DEAR READER
Keni

Andulka
Alisa U Zemlji Chuda
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

No title available
Sade Olutola
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER

tannertan36
Misplaced Lens Cap
seen from Iraq
seen from Kyrgyzstan
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from India

seen from United States

seen from Singapore
seen from Brazil
seen from United States

seen from Nepal

seen from Australia

seen from Türkiye
@ishtardiva
Lebih dari satu dekade
Lebih dari sekedar cinta di permukaan
Ternyata, aku telah jatuh terlalu dalam pada cintamu
Meski tahu kisahnya salah
Meski tahu waktunya tak tepat
Tak perlu kamu tanya lagi, siapa pemilik hati ini
Belakangan ini isi kepalaku teramat ramai. Butuh tempat bercerita, bersandar, dan menangis. Menangis dalam sepi ternyata tidak menyenangkan, hahaha
Namun, aku seperti tak punya waktu untuk mencerna semua perasaan yang muncul. Entah sial, entah beruntung, kesibukanku mampu menepis segala keramaian di otakku di siang hari, namun tak berdaya mengalihkan perhatian saat malam.
Aku tahu tak bisa mengganggumu, meminta jeda sejenak untuk mendengarkan keluhku. Aku tahu kesibukan menyanderamu sedemikian rupa. Mungkin nanti kita bisa berbincang. Semoga saat itu semua ceritaku bisa kita tertawakan.
Salah satu alasan kenapa aku memilih tetap waras menjadi selir hatimu memang cukup absurd: aku masih bercita-cita dikremasi. Bila kelak umurku di dunia telah habis, aku ingin dikremasi dengan layak agar kelak abuku bisa dilarung di laut lepas. Agar kelak abuku menyatu dengan lautan yang ku cinta sepenuh hati, agar baris-baris puisi tentang bermuara di laut bisa ku genapi.
Untukmu lautanku,
Percakapan kemarin masih terngiang di kepalaku.
Ala-ala lamaran palsu itu sesekali dianggap serius oleh otakku. Imaji yang kadang timbul tanpa bisa ku larang.
Jika aku sedang waras, jawaban seperti kemarinlah yang akan muncul. Meski jiwa pecintaku sesekali meledek dengan brutal,"bukankah dirimu ingin menenggelamkan diri dalam lautan yang kau cintai, dan bukan hanya memainkan kaki, kecipak-kecipuk bermain air, sambil mengaguminya bagai idola?
Sungguh, ada bagian hati yang ingin memilikimu lebih dari ini. Mendekap dan menyentuhmu tanpa waswas, menggandeng erat tanpa rasa bersalah.
Namun, aku pun sadar. Banyak sekali yang akan terluka, bahkan mungkin porak poranda. Aku tahu aku tak berhak, aku tak boleh.
Bila tanyamu lagi seperti kemarin, "apakah kamu cukup bahagia dengan seperti ini?"
Iya, selama aku boleh bercakap denganmu, menatap matamu, dan sesekali menggenggam tanganmu, meski terkadang resah seperti pencuri yang bersembunyi. Aku cukupkan rasa bahagia dalam diam-diam.
Maka, selama engkau masih mendamba, ijinkan aku untuk terus menjadi pecinta.
Mas, aku rindu sekali berbincang kesana kemari. Obrolan sederhana namun menghangatkan hati di tengah dinginnya negeri kanal ini.
Sedemikian rindunya, aku bermimpi kamu menjemputku di kantor. Menemanimu keliling kota dengan naik motor. Mengobrol panjang denganmu di foodcourt stasiun Gambir. Aku rindu.
I miss u like a crazy
Tetiba menemukan lagu ini. Beginilah merindu, ada saja lagu yang kebetulan lewat:
Ini Abadi - by Perunggu
Dihentak sunyi
Geram gusarmu mulai
Gerayangi kupingku
Dibungkam lagi
Janji yang sumbang itu
Tak semenarik dulu
Sejuk wangimu
Tersisa di sela-sela
Baju hangatku
Terakhir kali
Kita bicarakan semua
Besok kan bagaimana
Lihatlah semua sudut itu
Bandung kan selalu memelukmu
Dinginnya hangatkanmu selalu
Dilengkapi lapisan selimut
Yang berupa dekapan nadi yang mengalir
Menjadi seruan di hati
Bermuarakan kabar baru
Tentang mimpi berkecukupan
Tanpa harus lembur lagi ke Gambir lagi
Senin pagi dilanjut taksi tenangkanlah
Ini abadi
Wo oh oh uh
Ho oh ho uh (abadi)
Oh ho oh uh (abadi)
Hu oh ha ah
Hu oh ha ha
Memandangi wajahmu yang terlelap membawa pertanyaan yang terus berulang sejak satu dekade lalu, "mengapa aku mencintamu?"
Pertanyaan klise, karena aku tahu pertanyaan ini tidak akan pernah mendapat jawaban yang sempurna
Memandang wajahmu dalam gelap, entah kapan lagi terulang. Tak ku lewatkan selama mata masih mampu terjaga.
Di kota nostalgiamu, aku membuat kenanganku.
Memandangi punggungmu, tanpa bujuk rayu. Serasa hangat meski tanpa dekap. Jejak-jejak pandang yang hanya ku abadikan lewat mata tanpa kamera. Karena benak lebih aman dari kartu memori termahal.
Tahukah kamu, ini terasa amat berharga untukku?
Entah kapan ku pandangi lagi tubuhmu dalam malam-malam bisu tanpa harus menghitung 60 menit sebelum kau membuka pintu lagi.
Tahukah kamu kalau aku sudah menghamba rasa padamu?
Kenapa mencintaimu bisa semenyenangkan ini?
Bertemu denganmu menyembuhkanku. Tak bermaksud gombal, memang begitu adanya. Nyeri punggung sedari minggu pagi tak reda meskipun sudah menelan natrium diklofenak. Namun, setelah bertemu denganmu, nyeri itu tak berbekas, seolah tak pernah ada di sana.
Secara gombalnya: efek jatuh cinta dan mabuk kepayang.
Penjelasan biologinya: bertemu dengan kenyamananmu memicu sekresi oksitosin dan endorphin yang meredakan nyeri.
Terima kasih cinta
Ini kali ketiga kamu berkata, "Andai kita bertemu jauh lebih awal"
Aku tahu ini hanya rayuan gombal saat kita bercinta, rayuan yang tak seharusnya aku masukkan ke hati.
Namun, kali ini, kalimat itu membuatku berpikir, "Bila kita bertemu sebelum masing-masing dari kita terikat janji, apakah kita akan saling jatuh cinta? Apakah kita akan saling menggenggam dan bahagia bersama?"
Cerita kita mungkin bukan cerita biasa, mungkin pula babak biasa yang sudah tertulis jauh sebelum kita dicipta. Ataukah ini adalah pencobaan yang kita terjatuh di dalamnya?
Apapun itu, terima kasih sudah ada, memberi cinta dan bahagia, meski dalam rahasia. Aku tak tahu sampai kapan ceritaku beriring dengan ceritamu, namun namamu selalu ada dalam setiap doa. Doa yang mungkin membuat malaikat bingung mencatatnya di kiri atau kanan.
Dalam segala doa dan kelemahan, bolehkah aku meminta padaNya agar kisah kita saling menggenggam seterusnya, seiring genggaman lain yang tak akan terlepas? Pendosa seperti kita memang kadang banyak maunya, tapi bukankah kita, cinta, dan kisah ini juga diciptakan olehNya, oleh Dia yang Mahadaya dan Mahacinta?
~hampir tengah malam, dalam pikiran yang tak lepas darimu~
Hampir sedekade mengenalmu.
Hampir sewindu mencandu kecupmu.
Tak pernah menyangka kisah ini teruntai sebegitu panjang dan hangat.
Tak pernah menduga rasa ini akan sebegitu dalam.
Senyummu, ceritamu, dekapmu, kecupmu, semua hal tentang dirimu seolah menjelma bait-bait sajak yang mengalun tenang, berdendang nyaman di pasang surut hidupku.
Terima kasih untukmu: Yu 2015
Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa jatuh cinta padamu sedalam ini.
Kadang, aku ingin menahan laju waktu hanya untuk berbincang random denganmu.
Helaan napasmu, kedipan matamu, senyum bibirmu, rengkuh hangatmu, tak pernah berhenti membuatku mencandu. Lagi dan lagi.
Dalam rahasia, rasa itu kian menggebu, rindu itu kian bertalu.
Berjuta kali ingin ku bisikkan: aku menyayangimu, lebih dari yang kamu tahu.
Ternyata begini rasanya rindu sampai sesak.
Aku rindu. Teramat rindu.