Dalam istilah Psikologi ketika kita dalam keadaan stress (tertekan) ada respons bernama fight or flight. Respons itu yang mengatur bagaimana tubuh kita hereaksi terhadap "ancaman" yang ada di depan mata. Fight; artinya lawan, Flight; artinya hindar.
Tapi untuk menghindari atau melawan suatu ancaman tentu saja tidak semudah itu, tubuh inginnya menghindari namun kondisi memaksa kita untuk melawan ancaman. Dalam kondisi tertentu, tentu saja sering kita menghadapi kondisi seperti ini lrlah dan ingin menyerah tapi kondisi menuntut kita menghadapi semuanya. Apa yang terjadi? Sel-sel tubuh kebingungan, dia makin tertekan. Otak berkata "Ayo hindari" tubuh malah melangkah "melawan", yang terjadi mual, sesak, jantung berdebar tidak karuan.
Ya, itu kondisiku beberapa bulan ini. Ketika ada berita seorang murid laki-laki memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan pada detik-detik terakhir dia mengungkapkan bahwa dia selalu mual dan ingin muntah kita pergi ke sekolah, dadaku langsung terasa sesak membaca cerita itu.
Berat sekali yang ia rasakan, pasti hari-harinya pundaknya terasa berat, perutnya melilit, dadanya seperti ada yang mengikat. Tidak nyaman, tapi tetap harus pergi ke sekolah karena ya, tentu saja sudah kewajiban.
Bagaimana aku tidak sesak, akupun merasakan hal yang sama, beberapa bulan ini relapse setelah beberapa tahun ini mulai membaik. Setiap hari rasanya ingin menangis, tes demi tes aku lalui diawali dengan muntah di pagi hari, kakiku dingin selama tes, dadaku sesak ingin menangis.
Setelah pengumuman kelulusan, apakah aku senang. Ya, tentu saja untuk sesaat. Namun kemudian kepalaku dihantui dengan rasa apakah aku harus bertemu dengan orang baru, di tempat baru, memperkenalkan namaku, menceritakan diriku (lagi?).
Hari-hari pertama kedatanganku di sekolah ini diwarnai dengan drama tidak bisa tidur. Kuhabiskan malamku dengan melamun sisa 2-3 jam untuk tidur. Aku takut, sangat takut. Adaptasi saja belum selesai lalu ditumpuk dengan pelatihan dasar yang tiba-tiba dengan tugas berantai. Aku tidak sanggup.
Aku menangis setiap hari tanpa alasan yang jelas. Aku bukan guru, tidak pernah mempunyai pengalaman mengajar formal, aku tidak mengerti apa itu program tahunan atau program semester, aku tidak mengerti apa itu kontrak belajar dan agenda kelas. Aku masih meraba-raba, memahami sedikit-demi sedikit semampuku. Aku berusaha.
Aku berusaha memahami sistem, kultur, budaya, manajemen, kebiasaan. Aku berusaha mengikutinya. Aku berusaha memahami birokrasi dan regulasi yang ada, aku ikiti aturannya. Egoku kuturunkan demi mengikuti kultur dan budaya di sini, hatiku menolak. Kamu tahu apa yang terjadi padaku setiap hari? Aku muntah setiap hari sebelum pergi bekerja. Fisikku tidak terlalu lelah, mentalku dihajar habis-habisan.
Setiap hari selalu dibayangi kekhawatiran dan kecemasan. Bagsimana jika; bagaimana jika aku tidak bisa. Bagaimana jika aku ditertawakan? Bagaimana jika aku memang tidak mampu, bagaimana jika orang lain membicarakanku di belakang.
Mungkin benar kata Psikolog yang pada hari lampau pernah berkata mungkin kecemasanku bukan kecemasan biasa, mungkin semacam bentuk gangguan. Mungkin saja, karena tak masuk diakalku aku harus menangis setiap hari selama beberapa bulan ini. Mengkhawatirkan kejadian yang tentu saja, belum dan tidak akan terjadi.
Kuminum puluhan tablet suplemen yang katanya bisa memperbaiki mood dan menstabilkan hormon. Magnesium, vitamin D, ginkgo biloba, ashwagandha. Apakah membantu? Hanya sedikit. Sedikit sekali.
Tapi aku ingat perasaan dan keadaan semacam ini ada pada 3 atau 4 kali momen di hidupku; ketika masuk Tsanawiyah, ketika masuk kuliah, ketika menulis skripsi dan hari ini. Aku sadar polanya, tubuhku selalu menolak ketika dihadapkan pada hal baru, situasi baru, berkenalan dengan orang baru. Otakku tidak siap ketika ada perubahan besar yang terjadi. Tubuhku selalu tidak siap ketika dihadapkan pada ketidakpastian.
Kemarin teman seangkatanku tiba-tiba tidak hadir pada minggu ke-2 pelatihan, dikonfirmasi katanya mengundurkan diri. Sempat terbersit apakah aku harus ikut mengundurkan diri juga. Aku benar-benar tidak nyaman dengan kondisiku yang seperti ini.
Apakah ini saatnya aku harus konsultasi ke Psikolog karena menangis dan muntah setiap hari itu sangat melelahkan?