repeat
Merasa sudah jatuh berulangkali
Merasa sudah tenggelam dalam lubang antah brantah
Bungkam karena terlarut kesedihan
Mungkin setiap orang pernah merasakan apa itu kegagalan. Kegagalan dalam asmara, menggapai mimpi, cita – cita, pekerjaan, dan mungkin masih banyak lagi kegagalan lainnya.
Sedih? Itu adalah fase pertama yang dirasakan saat kegagalan itu datang. Manusia yang sudah merencanakan semua hal yang indah. Tapi semua itu hanya sebatas rencana. Semuanya akan terasa sia – sia.
Terpukul? Putus asa? Ada rasa ingin menyerah? Pasti. Tahap selanjutnya setelah kesedihan itu terus menjadi virus yang menyebar dalam jiwa dan raga. Semua harapan, semua kerjakeras untuk bangkit, tegar, sabar terasa sudah tidak ada gunanya lagi.
Biarkan sedih dan keputus asaan ini dinikmati.
Saat seperti ini, ingin rasanya kembali ke masa lalu untuk membenahi kesalahan – kesalahan. Namun hal itu sudah dipastikan tidak akan bisa terjadi. “seandainya” itu adalah kata – kata yang mustahil akan terjadi kembali. Merasa semua terasa sangat berat, merasa diri ini sangat terpukul, sangat sengsara, dan sangat gagal dalam kehidupan.
Egois? Iya. Kata itu pantas untuk diri ini bahwasannya merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia. Padahal, masih banyak disekeliling kita yang sudah lama menderita, namun mereka masih bisa bertahan dan bersyukur. Walaupun masalah atau beban hidup orang disekeliling kita bisa jadi lebih berat dan lebih luarbiasa sakitnya.
Ketika berpikir mereka masih bisa bertahan, bangkit dan bersyukur, kenapa diri ini merasa tidak bisa?
Hidup memang tidak selamanya indah. Masalah yang menghampiri diri ini tidak datang dengan sepi. Ia akan selalu berdampingan dengan kawan. Ketika masalah datang, kita masih ingin berlari, menyendiri, mencari solusi, memperbesar atau memperkecil masalah, itu semua akan menjadi sebuah perjalanan hidup.
Di depan nanti, itu semua akan menjadi sebuah proses yang membentuk mental dan jati diri.
Teringat semua orang yang ada disekeliling diri ini yang selalu merasa sepi ketika kegagalan itu menimpa. Orang – orang yang menyayangi, mau menerima diri ini apa adanya, mau memberikan kedua telinganya untuk mendengar, memberikan bahunya untuk bersandar, meluangkan waktunya untuk sekedar menemani tanpa bicara, atau memberikan solusi yang tidak pernah terlintas dipikiran ini.
Rasanya rindu mereka yang selalu ada untuk diri ini yang dilanda kehancuran raga dan batin. Tak perlu diri ini bersenandung tentang luka dan kegagalan yang menyayat raga dan hati, karena mereka akan selalu mengerti.
Diri ini akan selalu mencoba lagi untuk menyelesaikan masalah yang diri ini hadapi untuk mengambil hikma yang masih tersembunyi dibalik perjalanan hidup yang masih panjang.

















