Berawal dari sini
Kisah ini bermula di penghujung SMA yang menurutku adalah masa dimana kita sedang berada dalam fase sibuk-sibuknya, sibuk mempersiapkan masa depan, sibuk akan cita-cita yang masih mengambang, sibuk belajar buat UN ataupun Ujian Masuk Perguruan Tinggi.
Berawal dari sini kita tahu bahwa sebenarnya hidup itu tentang beragam pilihan yang mengantarkan kita untuk sampai pada tujuan. Apapun tujuan kita pasti ada banyak pilihan didalamnya dan semuanya tergantung kita yang memilih ingin menjadi seperti apa. Baik atau buruk, surga atau neraka. Menjadi seperti apa kita hari ini adalah hasil pilihan-pilihan yang kita ambil di masa lalu.
Di fase ini kita benar-benar dihadapkan antara lanjut kuliah, bekerja atau menikah. Apakah ujung dari sma adalah ketiganya? Memikirkan semuanya menjadi rumit karena setiap pilihan yang kita ambil menentukan masa depan kita. Jika memilih kuliah kita juga akan dihadapkan dengan berbagai pilihan jurusan. Aku yang saat itu masih bingung dengan cita-citaku sendiri. Dulu aku kekeh sekali ingin menjadi dokter, sekarang entah mengapa cita-cita itu telah gugur di tengah jalan. Jika memilih bekerja jujur aku belum siap untuk masuk dalam dunia kerja, aku masih bingung dengan pilihan mau kerja apa dan dimana. Dan jika memilih menikah itu tidak mungkin aku pilih, masih jauh dalam pikiranku untuk menikah. Sungguh ini adalah fase yang sulit dalam hidupku.
Diantara sulitnya pilihan yang harus diambil dalam menentukan masa depan serta sedang dalam fase ribet-ribetnya belajar dan bimbel muncul keluhan ingin cepat tamat SMA. Ada yang ingin cepat masuk perguruan tinggi, yang dulu aku kira belajarnya bebas dan santai tapi ternyata nyatanya tidak. Ada juga yang ingin cepat wisuda supaya bisa bantu orang tua dengan memilih bekerja, ada juga yang ingin segera lulus sebab jodoh sudah menunggu.
Si introvert menghadapi fase ini dengan menyublim bersama buku kumpulan soal ujian masuk SBMPTN dan mencari jurusan yang tepat untuk dirinya. Meski ada jalur masuk SNMPTN namun aku tak terlalu berharap bisa masuk lewat jalur ini sebab nilaiku paspasan. Aku sibuk belajar dan melupakan untuk menikmati fase ini bersama teman-teman padahal ini adalah tahun terakhirku bersama teman-teman di SMA. Maafkan aku yang sibuk dengan duniaku sendiri.
Dulu aku tak percaya pada kalimat ini “Masa SMA adalah masa yang paling berkesan karena itu buatlah banyak kenangan didalamnya” namun baru sekarang rasanya aku menyesal telah menyianyiakan masaku bersama kalian. Aku selalu sibuk sendiri, tak banyak kenangan yang ku ukir bersama kalian, aku selalu menolak setiap kali kalian ajak untuk main dan aku benar-benar menyesal sekarang.
Di sekolahku ini aku tak punya banyak teman, hanya orang-orang terseleksi yang menjadi temanku. Bukannya aku pilih-pilih dalam berteman namun aku memang adanya begini. Bukankah seorang introvert itu sangat hati-hati dalam berteman dan melakukan tindakan? Aku salah satunya. Bagiku tak apa punya sedikit teman asalkan ia setia dan selalu ada disaat suka ataupun duka. Teman paham yang selalu mendukungku, menegurku keteika salah juga memberikan semangat ketika aku jatuh. Bersama kalian aku merasa bebas, bebas bercerita tentang apapun dengan nyaman, bebas melakukan tindakan yang dirasa konyol tanpa rasa canggung, bebas untuk tertawa dan menangis dengan lepas. Aku real bersama kalian tak ada hal yang kututupi dan sekarang aku sangat merindukan kalian.
Kisah Ini adalah rangkaian cerita penghujung SMA ku bersama kalian dan juga kamu yang sempat aku sukai diam-diam.
24juni2022













