Dunia hanyalah persinggahan sementara, mengembaralah, dan berbuat baiklah.
AnasAbdin

PR's Tumblrdome
No title available
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
h
Lint Roller? I Barely Know Her
i don't do bad sauce passes
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day

pixel skylines
Alisa U Zemlji Chuda
Stranger Things
Xuebing Du
Three Goblin Art
TVSTRANGERTHINGS
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
trying on a metaphor
almost home
seen from Kazakhstan

seen from Italy

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Belarus
@iyunniee
Dunia hanyalah persinggahan sementara, mengembaralah, dan berbuat baiklah.
Entah sejak kapan, segala hal selalu dipandang dengan sebuah standarisasi. Padahal hidup jauh lebih tenang tanpa perlu distandarisasi 'kan (?)
Terlihat betah di zona nyaman, bukan berarti tidak sedang berjuang; hanya berhenti memperlihatkan.
Tentang rasa yang tak perlu diusahakan.
Aku pernah membayangkan bagaimana pertemuan kita setelah beberapa tahun. Misal, se-sepele kita tiba-tiba berpapasan di jalan; atau mungkin tak sengaja bertemu di suatu forum; dan banyak skenario-skenario ketidaksengajaan lainnya yang terpikirkan.
Hanya saja, rupanya, hal yang paling tidak pernah kita pikirkan akan terjadi… itulah yang terjadi.
Pertemuan pertama kita justru terjadi karena kesengajaan. Kita berdua sama-sama sengaja janjian untuk bertemu.
Rasanya kayak... apa ya. Ha~ agak sulit untuk digambarkan.
Kamu tahu apa yang kurasakan saat pertama kali melihatmu yang sedang duduk fokus menatap layar laptopmu? Dengan wajah serius yang dulu selalu kukagumi. Bukan jatuh cinta atau merasa déjà vu. Aku malah lebih merasa seperti… membeku sesaat. Lalu mencoba untuk baik-baik saja—yang memang rasanya aku baik-baik saja. Karena ketika melihatmu lagi, kali ini bukan mata penuh cinta, tetapi mata yang melihat realita—bahwa laki-laki adalah makhluk yang isi kepalanya tak bisa ditebak.
Namun, aku masih suka dengan tingkah jenakamu, canda tawamu dan suaramu. Sekadar suka yang tak perlu dilebih-lebihkan oleh perasaan.
Ada satu hal yang bisa kupastikan dengan berani setelah reuni pertama kita hari itu: aku sadar, aku mungkin masih menyimpanmu di salah satu sekat dalam hatiku, tetapi aku sadar bahwa kamu tidak lagi seberharga itu untuk kuusahakan.
#flashfiction
"Aku masih bisa menghitung berapa senja yang pernah kulewati bersamanya," ujar Rinjani pada Biru di suatu sore.
"Begitu sedikit waktu yang terlewati yaa, Rin?"
Rinjani hanya mengangguk kaku, sedikit ragu tetapi mengiyakan. "Yah, sepertinya bisa dihitung jari," jawab Rinjani sambil mengacungkan jarinya pada Biru.
Biru tersenyum tipis tanpa Rinjani sadari.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Biru tiba-tiba.
Rinjani menggeleng tak berdaya lalu berkata, "Terlalu banyak sampai tak bisa dihitung lagi."
"Di masa depan akan banyak sekali senja yang akan kita lewati bersama-sama, Rin," ucap Biru pelan. Kata-kata itu menciptakan sebuah debaran aneh pada Rinjani tanpa sadar.
Di bumi yang penuh corak ini, kamu warnanya apa?
Ternyata dalam kehidupan ini, aku juga kebagian scene: selalu ada satu manusia yang diam-diam menaruh rasa tanpa perlu mendapat balasan yang sama, karena baginya berinteraksi normal itu sudah lebih dari cukup.
Ternyata perasaan menyukai seseorang juga perlu ya untuk hidup yang katanya melelahkan ini.
Pada peluang jatuh cinta yang ada, sekali lagi aku hanya akan memilih diriku sendiri.
Iyn, 28/12/25
Diantara banyaknya jenis keraguan, meragu pada diri sendirilah yang paling menakutkan. Iyn, 12.3.25
tentang ketakutan (?) Biru x Rinjani
"Ketakutan kamu paling bikin kamu kesel apa, Ru?" tanyaku pada lelaki berparas rupawan yang kini fokus pada layar komputer dihadapannya.
Biru menoleh sebentar, menatapku intens.
"Mungkin confess ke seseorang yang kusukai," balasnya sembari kanan kirinya membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit merosot. "Kamu sendiri apa?"
Aku diam. Memandangi buku diary-ku cukup lama. "Entahlah, aku gak yakin ini bisa disebut ketakutan atau bukan," jawabku lalu menghela napas panjang.
"Aku bukan gak punya ketakutan, Ru, aku hanya merasa kalau orang-orang yang bikin kita jadi takut. Entah itu takut dengerin ucapan mereka, takut bertemu mereka karena lagi-lagi ucapan mereka, dan takut sama ekspektasi orang-orang yang terlalu berlebihan pada kita
"Hal ini tuh kadang bikin aku mikir keras dan hal yang terlintas di pikiran aku saat itu juga: sebenarnya kita hidup untuk menyenangkan dan memenuhi ekspektasi orang ya? Dan aku rasa itu sebagian besarnya benar, kan? Buktinya ekspektasi orang tua terhadap anaknya."
"Bener juga, Rin, kalau ngelihat hal yang terjadi sekarang, orang-orang banyak berlomba-lomba untuk memenuhi ekspektasi orang lain untuk punya hidup yang katanya nyaman. Padahal nyatanya tengah membohongi diri sendiri." Lagi-lagi Biru menoleh padaku. Namun kali ini ia melempar senyumnya. Membuat hatiku berdebar saja.
"Perjalanan menuju dewasa ini ribet banget ya," keluhku.
Biru tertawa kecil. "Jalanin aja, Rin."
Ya emang lagi dijalanin kali, Biru. Ah lelaki ini memang nyebelin, selalu.
"Pada akhirnya, ungkapan cinta hanyalah basa basi yang punya rentan waktu. Akan selalu banyak alasan yang membuat seseorang memilih untuk menetap atau pergi begitu saja."
“Banyak yang bilang usia dua puluh dua tahun adalah the golden age–kurasa benar. Hanya saja versiku bukan yang menggebu-gebu, tetapi yang tenang, merelakan, mengikhlaskan juga memahami. Tak luput dari banyak tanya yang bertebaran, juga banyak jawaban yang antri untuk dipilah-pilah.”
from: Twenty Two? (a novel)
fyi: coming soon.
Kutemukan banyak tanya yang punya jawaban, tetapi tak cukup memuaskan dahaga penasaranku. Dan aku semakin mencari hingga... pengalaman hidup yang silih berganti perlahan-lahan jadi jawabannya. Hanya saja, pertanyaan lain lalu berdatangan dan semakin bertebaran (?)
Sukailah hal-hal yang mustahil tergapai (untuk saat ini, as like Gege Drachin or Oppa2 Drakor), karena hal ini lebih baik ketimbang harus menghadapi perasaan nyata dengan orang yang mudah ditemui–sebab frekuensi jatuh cinta jauh lebih lapang ketika ada celah nyata.
Orang-orang selalu nanya, kapan ..., Yun? Tapi kenapa gak ada yang nanya, "Belum ... ya? Sini mana yang bisa kubantu?" Kenapa sih orang-orang suka ngedesak kita dalam hal-hal yang sebenarnya mereka gak bisa bantu apapun.
Kadang–
Kita yang sudah lama mengenal dan mengaguminya, belum tentu jadi pemenang.
Justru orang baru dengan keunikan dan daya tariknya (dan mungkin saja terikat benang merah tak kasat mata) lah yang jadi pemenang.
–the best thing.