Menjadi anak sulung perempuan adalah bagaimana menjadi kuat dan harus bisa menguatkan, juga melindungi. Bahkan di saat situasi rapuh maupun genting sekali pun, dia bersibuk untuk tegak menjadi perisai bagi yang lain, hingga sering lupa akan kondisinya sendiri.
Terlalu sibuk menjadi kuat dan tegar di setiap waktu, tak jarang dia lupa bahwa dia hanya manusia biasa. Sering menutupi banyak hal untuk terlihat baik-baik saja dan kuat anti goyah, padahal dia juga butuh tempat untuk bercerita untuk menuangkan segala hal yang berisik di kepala, bahkan sekadar cerita remeh-temeh apa yang dia alami di dalam hari-harinya.
Tak ayal, sekali dia menemukan tempat untuk 'pulang', rasanya seperti menemukan oase di padang pasir. Tidak lagi dia harus terlihat kuat di sepanjang waktu, tidak lagi dia harus keras pada diri sendiri. Bercerita banyak hal, bahkan tak jarang menceritakan hal yang tidak penting tanpa dia sadari. Karena baginya, ini adalah tempat yang aman untuknya, tanpa harus menyembunyikan diri di balik topeng kuatnya.
Tak jarang, sikap yang seperti ini membuatnya lupa diri. Sering lupa bahwa tempat untuknya 'pulang' memiliki kapasitas dan waktu yang terbatas, yang tidak selalu ada dan tersedia untuknya. Maka, ingatkanlah dia dengan sebaik-baiknya cara, tanpa memojokkan atau merendahkannya. Meski tidak seketika, dia akan pelan-pelan memahami dan mengatur dirinya dengan baik.
Bila kamu menemukan ada anak sulung perempuan di sekitarmu, sesekali, coba tanyakan kabar padanya. Pertanyaan, "Aman, Kak?", " Apa kabar hari ini? Ada cerita apa?", akan membuat hatinya hangat dan kembali penuh. Ajaklah dia berinteraksi, bercerita, dan bersua meskipun tak setiap hari.
Tidak perlu terus ingatkan dia untuk kuat. Sebab....
..........dia sudah selalu. Dan akan selalu.