Setelah sekian lama meninggalkanmu...
بسم الله الرّحمن الرّحيم
انّما الاعمال باالنّيّات، وانًّما لكلّ امرى ما نوى…
NASA
𓃗
todays bird
occasionally subtle

oozey mess
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Discoholic 🪩
Keni
untitled
Stranger Things
d e v o n
Misplaced Lens Cap

blake kathryn

No title available
we're not kids anymore.

Product Placement
Show & Tell
trying on a metaphor

gracie abrams
Noah Kahan
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from United States
@jasputih
Setelah sekian lama meninggalkanmu...
بسم الله الرّحمن الرّحيم
انّما الاعمال باالنّيّات، وانًّما لكلّ امرى ما نوى…
Hmmm
Jelas perbedaan antara para pencari hanif dengan para pengikut jalan kekufuran. Para pencari yang hanif seperti dicontohkan Ibrahim Al Khalilullah begitu kritis mengenali dan menolak mempertuhankan thagut batil dengan rasionalitasnya. Kemudian setelah ditunjukiNya jalan yang lurus, Ibrahim dengan penuh keyakinan dan tanpa pertanyaan mendengar dan patuh pada perintah Allah. Ketika Ibrahim diperintahkan menyembelih buah hatinya Ismail, dengan kepatuhan tanpa syarat; tak lagi kritis mempertanyakan alasan Allah, Ibrahim menjalankan perintah Allah sekalipun berat dan irrasional. Kontras dengan para pengikut kekufuran, tak cukup dengan pertanyaan mengenai keberadaan Allah, kemudian setelah mengaku beriman mereka tetap mempertanyakan sekaligus mencari alasan atas setiap perintah Allah. Mereka mempertanyakan hanya untuk mengulur waktu, melalaikan perintah Allah. Sesungguhnya yang mesti kita cari sepanjang masa itu kebenaran aktual, sedangkan "sumber" kebenaran cukup kita temukan sekali setelah itu "gigit dengan geraham erat-erat".
Hmmm
Seringkali saya berpikir saat paling menarik dalam setiap interaksi dengan orang lain adalah “time between time”, jeda di antara pembicaraan atau jeda di antara pertemuan. Karena pada saat itu saya bebas berpikir dan merefleksikan esensi pembicaraan.
CD8+ T lymphocytes (TCD8+) are of particular interest as they combine specificity and lethality at a level that no current chemotherapeutic or radiation regimen can match.
Samir Khleif, Tumor Immunology and Cancer Vaccine
Eventually, you will realize that sometimes the best advice isn't the advice you want to hear.
Yeahh. I'm rarely interested on something. But when i did, i did it with all my intention.
I can't agree more.
Catatan KKNM Unpad 2013, "Jika Aku Menjadi"
18 April 2013, tanpa bekal pengetahuan yang detail mengenai profil desanya, hari itu aku mantapkan diri memilih Pusparaja sebagai desa lokasi KKNM. Dengan bantuan peta digital akhirnya aku tahu letak desa Pusparaja di Cigalontang, Tasikmalaya. Di dalam peta, Pusparaja tampak sebagai desa pegunungan di kaki Gunung Galunggung. Sebetulnya timbul sedikit keraguan, ketika mengetahui 'desa rawan longsor dan gempa' sebagai satu-satunya deskripsi desa Pusparaja yang aku temukan di internet. 13 Juni 2013, senang sekaligus khawatir ketika pertama kali menelusuri jalanan Pusparaja untuk mencari pemondokan sebulan kedepan. Takjub melihat keindahan alamnya, sebuah desa yang diapit pegunungan menghijau dengan bentangan sawah berundak sepanjang mata memandang yang terkadang diselingi kolam kolam ikan beriak-riak kecil di pekarangan rumah. Asri sekali desa ini, ditambah nihilnya bising kendaraan bermotor membuatnya cocok untuk melakukan kontemplasi dan relaksasi. Aku terpikat oleh desa ini. Tak sadar telah menelusuri jalan berkelok dan berlubang sampailah di sebuah pemondokan nyaman di kampung Sukarame, titik tengah desa Pusparaja. Sebuah tempat dengan jarak 1 km dari Balai Desa Pusparaja dan 30 km dari ibukota kabupaten Tasikmalaya, Singaparna. Terpencil dan sepi dari keramaian kota, itulah ekspektasi hari-hari KKNMku di Pusparaja. Namun sambutan hangat dan keramahan penduduk nyatanya mampu mengobati kesepian itu. Juli 2013, Hari-hari yang terasa begitu panjang aku jalani di sini. Rutinitas harian di Pusparaja, diawali menu makanan desa dan air minum yang dimasak diatas tungku 'hawu' dengan aroma khas asap. Awalnya aku enggan tapi tanpa pilihan lain yang ditawarkan, akhirnya terbiasa juga. Ketiadaan akses internet yang memadai membawa hari-hariku disibukkan dengan bencengkrama bersama warga. Dari sekedar obrolan ringan hingga diskusi intrik politik khas pedesaan kala pemilihan kuwu. Dalam obrolan itulah aku menyadari tidak mudah hidup bermasyarakat. Miris ketika dalam setiap obrolan harus mendengar keluh kesah mereka. Ekonomi yang sulit selama ini memaksa pemuda Pusparaja merantau jauh dari desa mencari peruntungan. Kebanyakan diantaranya merantau ke Pulau Bali sebagai pedagang. Tak bisa ditepis, aku pun menyaksikan hasil kesuksesan itu, daerah 'kulon' yang kebanyakan penduduknya merantau tampak lebih sejahtera. Kontras terlihat, rumah-rumah lebih mentereng dan terparkir mobil mewah berplat nomor DK di halaman rumah warga daerah 'kulon'. Apalagi di dua minggu terakhir menjelang Idul Fitri, deru lalu lalang mobil-mobil itu memecah keheningan desa. Mobil memang merupakan tolok ukur kesuksesan di Pusparaja. Sekilas terlihat positif, namun sesungguhnya inilah titik lahirnya paradok ekonomi-pendidikan. Buah bibir kesuksesan di Bali menyebar luas di Pusparaja, hingga banyak orang tua tanpa memperhatikan kebutuhan pendidikan anaknya mendorong mereka untuk merantau dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Lahan produktif di desa pun mereka tinggalkan, menyisakan generasi tua yang mengurus ladang, sawah dan mengurus desa. Menelisik lebih jauh sendi-sendi kehidupan warga, dengan berpartisipasi langsung dalam aktivitas warga seperti menanam padi di sawah, memanen cabai di ladang bahkan berkunjung dari rumah ke rumah, makin teranglah keprihatinan itu karena nyatanya krisis itu tidak hanya menyerang sisi ekonomi namun juga kesehatan. Dengan kondisi Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) yang kurang baik, tak mengherankan banyak warga terutama anak-anak terjangkit penyakit kulit. Tak akan sulit ditemukan kolam-kolam ikan konsumsi di Pusparaja berfungsi pula sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga. Di sisi lain banyak lansia di Pusparaja yang kesehatannya terabaikan. Sebagai calon dokter, aku terenyuh ketika menyaksikan beberapa lansia yang saya temui dalam kondisi memilukan. Setidaknya terdapat tiga sosok lansia yang mungkin menggambarkan permasalahan kesehatan masyarakat Pusparaja secara keseluruhan. Mak Enah, seorang nenek yang mengalami senile cataract dan tak lagi mampu melihat, hidup sebatang kara dan hanya mengandalkan belas kasihan tetangga. Untuk pengobatan penyakitnya di Bandung, satu-satunya harapan adalah hasil penjualan rumah yang kini ia tinggali. Mak Nesih yang tinggal bersama anaknya, tak mampu berobat ke puskesmas sekalipun padahal sesak napas yang ia keluhkan membuat sekedar beranjak dari tempat tidur pun menjadi masalah. Pun cerita pasangan setia Pak Ajid-Mak Ijoh memberi banyak pelajaran bagiku. Mereka hidup berdua tanpa dikaruniai putra. Di usia senja Pak Ajid dengan telaten menjaga dan merawat Mak Ijoh yang sejak 5 tahun lalu mengalami lumpuh tangan dan kaki. Karena kekurangtepatan perawatan, Mak Ijoh mengalami luka dekubitus di punggung. Tiga cerita berbeda yang menyuarakan permasalahan kesehatan masyarakat Pusparaja. Tiada yang spesial, hanya permasalahan klasik kesehatan yang tak kunjung usai. Masalah aksesibilitas menuju pusat pelayanan yang jauh dan sulit serta ketersediaan tenaga kesehatan terutama dokter yang hanya ada satu di ibukota kecamatan. Tak ada pilihan lain, andai aku bertugas sebagai dokter di sini, aku akan menggenapkan kebutuhan akan tenaga kesehatan disamping mengusahakan perubahan paradigma pendidikan. Bahwa pendidikan adalah kebutuhan bukan sekedar persyaratan memperoleh pekerjaan. Meski ku sadari untuk menuntaskan permasalahan tersebut tak akan mudah dan perlu waktu yang lama, aku akan berupaya sekeras yang aku bisa.
Undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon.
Prabu Siliwangi
Ga penting ikut mainstream atau ikut anti-mainstream, yang penting ikut yang bener.
The Power of Alone
Most inventors and engineers I’ve met are like me—they’re shy and they live in their heads. They’re almost like artists. In fact, the very best of them are artists. And artists work best alone where they can control an invention’s design without a lot of other people designing it for marketing or some other committee. I don’t believe anything really revolutionary has been invented by committee. If you’re that rare engineer who’s an inventor and also an artist, I’m going to give you some advice that might be hard to take. That advice is: Work alone. You’re going to be best able to design revolutionary products and features if you’re working on your own. Not on a committee. Not on a team.
Susan Cain, Quiet
#I am not sure if everyone will agree, but it works for me.
… Two roads diverged in a wood, and I, I took the one less traveled by, And that has made all the difference.
Robert Forst, The Road Not Taken
Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa yang merasa cukup dan yang tersembunyi.
HR Muslim
Wasting time is worse than death, because wasting time cuts you off from Allah and the akhirah, whereas death cuts you off from the dunya and its people.
Ibn Al Qayyim
The Introverted Leadership
While extroverts tend to attain leadership in public domains, introverts tend to attain leadership in theoretical and aesthetic fields. Outstanding introverted leaders, such as Charles Darwin, Marie Curie, Patrick White and Arthur Boyd, who have created either new fields of thought or rearranged existing knowledge, have spent long periods of their lives in solitude. Hence leadership does not only apply in social situations, but also occurs in more solitary situations such as developing new techniques in the arts, creating new philosophies, writing profound books and making scientific breakthroughs. Susan Cain, Quiet
Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.
Pramoedya Ananta Toer