me and my relationship with cooking
āPeople who love to eat are always the best peopleā - Julia Child
Ada sebuah pertanyaan (atau pernyataan?) yang sering banget aku dengar akhir-akhir ini,
āJasmine suka masak ya?ā
Well, I could say that currently, I have pretty good relationship with cooking, but it wasnāt always like this. Aku besar di keluarga yang tidak menekankan anak-anaknya untuk selalu mengerjakan pekerjaan rumah (but believe me, me and my brother are 100% capable of cleaning & cooking because our parents still taught us that), memasak bukan sesuatu yang familiar buatku. Waktu kecil, mungkin aku hanya sekali-kali aja ikut mamaku ke dapur, itu pun mungkin hanya saat dia buat kue lebaran, not on daily basis.Ā
Fast forward to college time, 3 tahun pre-klinik aku habiskan sebagai anak kos (well, not really kos-kosan, 1 tahun pertama wajib asrama dan 2 tahun di rumah kontrakan with my closest friends). Ekspektasiku sebelum mulai kehidupan kos adalahĀ āwah seru bgt nih jadi anak kos yang dapurnya lengkap dan nyaman. Mungkin ini saatnya aku grow up dan prep my own meal?ā
Yeah, like it was gonna happened
Hidup di Jatinangor yang makanannya super murah (dan enak!) dan ke Bandung cuma modal Rp.9000 tarif tol membuatku hampir tidak pernah masak. Aku masih inget, pernah satu hari agakĀ āinsyafā dan groceries bahan-bahan untuk masak 1 minggu, and I only lasted 1 day! Saat itu, aku merasa bahwa cooking is such a waste of time and no fun (give a break, this is 19 years old me yang ga mikir kalau uang jajan harus dihemat dan makan sayur itu penting). I didnāt know how to use a knife, how to peel off some fruits, how much time to fry things, or how to seasons a meal; I was clueless. Pernah waktu tahun 3 aku pergi KKN dan hidup 1 bulan di suatu desa di Majalengka yang mengharuskan kita untuk cook for survive. Aku kaget melihat betapa mumpuninya skills memasak teman-temanku disaat aku bahkan bikin nasi goreng pun ga bisa, honestly I was ashamed a bit.Ā
Semester terakhir pre-klinik dan koas, kuliah kami pindah ke Bandung. It was time to say goodbye to kos-kosan life. Aku tinggal di rumahku lagi yang berarti ga akan ada kesempatan untuk masak. Then, my parents moved overseas due to my dadās job, and I lived alone with my brother for a year. I was given a monthly money that supposed to be a groceries money, tapi, sebagai anak kuliah 20tahun yang tinggal tanpa orang tua di rumah sendiri, I messed the opportunity up. Instead of buying things for cook, I spent the money for buying foods (or shopping or cafe hopping or coffee shop hunting). I did not learn my lesson.
After college, I moved out from Bandung for the first time. I lived in Cirebon for a year, di kos-kosan, real kos-kosan dengan status sebagaiĀ āpekerjaā, bukan pelajar. Sebelum pindah, aku sudah berjanji dengan diri sendiri untuk grow up, be independent, hemat, rajin masak, dan rajin beres-beres kosan sendiri. The plan sounds solid right?
The execution was bad. Aku yang masak sendiri dikosan hanya bertahan 3 bulan awal, sisanya aku menyerah. 3x sehari makan dengan delivery, full. My excuse wasĀ āCapek bgt abis jaga ngga ada energi untuk masakā. How about penghematan dengan masak? Oh, tentu tidak ada karena guys delivery 3 kali sehari itu cost a loooot of money. But I mean whoās to blame? Makanan Cirebon enak enak luar biasa......(ok, another excuse).
Setelah merencanakan untuk kembali ke Bandung dan bekerja disana, takdir berkata lain, Iām about to live in another city, 100km away, Cikarang; dan kembali menjadi anak kos. Kali ini, dengan janji yang sama untuk rajin masak dan be independent, be more responsible, being more adult.Ā
Entah karena memang umur, atau dapet ilham dari suatu tempat, disini aku bersikap lebih bijak terhadap keuanganku. Aku baru sadar, bekerja itu capek dan gaji yang didapat tiap bulan itu bukan hal yang turun dengan mudahnya. Darisana aku belajar money management, belajar budgeting, memilah mana sektor yang bisa dihemat, mana sektor yang uncompromised, dan berapa banyak yang harus ditabung tiap bulan.Ā
I was torn apart between shopping and food. I love shopping but I also love good food. Aku tau aku bisa menahan keinginan untuk makan enak lebih besar dibanding menahan keinginan belanja. So it all set, Iāll cook every single one of my meal everyday, eventho Iām getting tired from work (ya sekalian belajar dikit-dikit untuk kehidupan berumah tangga nanti yakaann).Ā
My philosophy of cooking is quick, simple, and looks sophisticated. I learned from the beginning thank God to internet. Aku rajin scrolling pinterest untuk inspirasi menu makanan, aku tonton jutaan video youtube tentang cooking tutorial. Bahkan, aku belajar basic di dapur, tentang peralatan dapur and how to use them properly, tentang storage makanan supaya ga gampang basi, tentang kalori tiap makanan supaya tetap sehat, dan tentang memilih bahan makanan yang berkualitas.Ā
Awalnya ga gampang, banyak banget malesnya rasanya ingin menyerah dan deliv deliv tiap makan. Tapi aku paksa demi kesehatan keuangan, and you know what? Now Iām enjoying it so very much. I love cooking, I love the excitement I hold when I go groceries and imagining the meal Iām about to cook. Nowadays, Iām hardly even delivering. Iām almost always cook, and I really love it. (ps. I even learn how to brew a good coffee just because I want to cut off my coffee budget)
Panjang banget ya haha oke, intinya sih mau bilang kalau you can be anything that you wanna be as long as the will is coming from inside of you (and as long as youāre doing it for yourself). Aku, yang beberapa tahun lalu bahkan gatau cara pegang pisau, sekarang udh merasa nyaman dgn pisau. Kamu bisa kok lakuin apapun, menjadi apapun, asal niat dan motivasi kamu kuat, dan kamu selalu berusaha melawan semua hal yang membuat kamu menyerah. Kalau gagal, ya belajar dari pengalaman terus coba lagi. Intinya, you are more capable of doing things than youāre expected yourself to be.
Sekian atas epilog yang kurang nyambung, thankuuuu