002; Berbincang Dengan Ibu
Sudah hampir larut, tetapi Bintang masih setia membaca buku-buku sekolah untuk mempersiapkan diri dengan ujian sekolah yang sebentar lagi datang. Bintang bukan tipe anak yang suka belajar sejujurnya, ia rela untuk belajar agar ia dapat masuk di sekolah yang ia inginkan, SMAN 37 Jakarta.
Tok....tok....
Terdengar suara ketukan pintu, suara itu membuyarkan fokus Bintang yang sedang membaca. Ia berjalan ke-arah pintu dan membukanya. Ternyata sang Ibu lah yang mengetuknya.
"Nak, ini sudah larut. Kenapa kamu belum tidur hm?" Tanya Ibu kepada Bintang. Sebagai Ibu tentu saja ia khawatir, ia tak mau diesok hari anaknya jatuh sakit karena tidur terlalu larut.
"Kakak lagi belajar bu, kakak mau dapat nilai bagus untuk ujian kelulusan nanti." Jawab Bintang, ia benar-benar semangat untuk mempersiapkan diri dengan ujian kelulusan. Walau dalam lubuk hatinya dan dalam pikirannya banyak rasa takut, takut akan kecewa dan takut akan kegagalan.
"Boleh Ibu masuk kak?" Tanya Ibu, Bintang hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang Ibu. Ibu melangkah kan kakinya ke dalam kamar Bintang. Kamar dengan nuansa putih gading yang bercampur dengan warna abu-abu dibeberapa spot tertentu menyambut pandangannya.
Ibu mendudukkan dirinya di kasur empuk milik Bintang dengan Bintang yang duduk di depannya menggunakan kursi belajarnya.
"Kak. Ibu tau kamu takut, Ibu tau kamu cemas dengan hasilnya nanti. Ibu tidak pernah memaksa mu untuk masuk ke SMA Negeri ataupun sekolah favorit sayang, apapun hasil ujian mu nanti Ibu akan tetap bangga kepada mu." Ujar Ibu. Bintang sangat sangat berterimakasih kepada sang Ibu, Bintang selalu merasa Ibu selalu datang di waktu yang tepat, dimana saat Bintang butuh seorang untuk bercerita.
"Bu. kakak tau, kakak tau Ibu atau ayah tak pernah memaksa kakak untuk menjadi yang terbaik. Tetapi sebagai anak, kakak tentu saja ingin memberikan yang terbaik untuk kalian." Bintang tersenyum, ia tak mau membuat Ibunya merasa khawatir karena dirinya yang terkesan memforsir diri untuk terus belajar dan belajar. yaa walaupun pada nyatanya memang itu yang Bintang lakukan. Memaksakan diri untuk terus belajar.
Ibu mengelus surai Bintang dan tersenyum, ia merasa bangga dengan anak sulung nya. Ia merasa berhasil mendidik sang anak tanpa harus memaksanya menjadi seperti apa yang ia inginkan. "Ibu tau kak, tapi kamu jangan memforsir diri ya? Kalau memang saatnya istirahat, istirahat lah. Jangan memaksakan diri. Oke?" Rasanya Bintang ingin menangis saat itu juga, sang Ibu benar-benar menjadi alasannya untuk tetap semangat dikala banyak masalah dan kekhawatiran yang menyerang dirinya.
Setelah perbincangan singkat antara Ibu dan anak itu, Ibu langsung menyuruh Bintamg untuk tidur, Ini sudah terlalu larut untuk melanjutkan kegiatan belajarnya. Karena, ini sudah waktunya untuk tidur, jam sudah menunjukkan pukul 01:30. masih ada hari esok untuk belajar, begitu kata ibu.
Tiba-tiba, ketakutan akan kegagalan hinggap dipikiran Bintang. Ia benar-benar takut akan ujian kelulusan ini. Andai saja ia bisa melewati fase ini dan langsung menuju ke fase masa SMA -nya. Namun itu semua kan hanya "andai" karena Bintang tetap harus mengerjakan soal-soal di secarik kertas yang menentukan lulus atau tidaknya dia dari sekolahnya.
Tidak mau terlarut dalam ketakutan yang tidak mendasar itu, Bintang memutuskan untuk tidur, ia ingin melupakan sejenak ketakutannya dan mengistirahatkan hati dan pikirannya yang sedari tadi berdebat. Toh, bagus atau tidak hasilnya nanti, yang penting ia tetap bisa bersekolah, walaupun dia nanti bukan di SMA Negeri dia akan tetap bersyukur.





















