sekilas tentang novel 'Anak Rantau'
bebek berjalan berbondong-bondong, tetapi elang terbang sendiri ~ bung karno
alam terkembang jadi guru ~ hepi
Dalam sebuah kesempatan, seorang teman menyarankan membaca buku ini, katanya cocok buat anak rantau modal nekat seperti saya. Selang beberapa hari kemudian saya cari buku ini di toko buku Gramedia kota Mataram. Seorang petugas membantu mencari buku ini dengan komputer. Ternyata stoknya habis. Oke ga masalah, saya tetap mengelilingi deretan rak buku di toko tersebut, mencari buku yang lain yang menarik. Tak lama kemudian petugas tadi kembali menghampiri sambil membawa buku ini, ternyata masih ada stok sisa di gudang.
Apa yang saya prediksi tentang buku ini ternyata salah besar, A. Fuadi mampu mengecoh pembacanya dengan teknik penulisannya. Kita akan menjelajahi kisah Hepi di perantauan. Demi menuntaskan dendamnya, ia beserta kedua temannya yaitu attar dan Zen berpetualang mendatangi sarang jin, menghadapi lelaki bermata harimau, memburu biduk hantu, sampai menyusup ke markas pembunuh.
Hidup di perantauan akan mempertemukan kita dengan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah di duga. Tuntutan kemandirian membuat anak rantau selayaknya menjadi elang. Maka tepat ungkapan bung karno yang beberapa kali di sebut dalam buku ini, “ bebek berjalan berbondong –bondong, tetapi elang terbang sendiri. Kemampuan elang melihat dari ketinggian membuatnya mampu belajar banyak dari alam. Seperti mottonya Hepi, “alam terkembang jadi guru”
Buku ini wajib dibaca bagi perantau yang sedang berjuang melawan kemustahilan, atau yang sedang galau karena dikecewakan orang lain. Kita juga diajak merenungi apa itu dendam? mungkinkah dendam itu berasal dari rindu? Ketika perjuangan dan pengorbanan membela yang haq justru membuat pelakunya mendapat label pengkhianat, bagaimanakah caranya agar tetap mampu memaafkan?












