Iko Uwais - Merantau (2009)

seen from Kazakhstan
seen from Somalia
seen from China
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Norway

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
Iko Uwais - Merantau (2009)
Anak rantau dihadapkan pada 2 pilihan: pulang membawa uang atau memilih tak pulang ke kampung halaman. Bagi mereka-mereka yang memilih jalan berjuang tanpa mengenal definisi menyerah pada keadaan.
Beruntunglah Pernah Melewati Masa Sulit
Hampir 6 bulan pasca pulang dari (tinggal selama 2 tahun tanpa mudik sama sekali) Newcastle, terkadang masih membuatku tak menyangka bahwa episode kehidupanku di sana sudah terlewati. Mungkin karna itu adalah salah satu wishlist ku saat masih gadis dulu; tinggal dan hidup berkeluarga di Inggris, membesarkan anak di sana, sudah dikabulkan olehNya? jadi rasanya seperti "masih mimpi" kalau itu sudah terlewati.
tapi sesungguhnya yang seringkali menjadi trigger adalah ketika aku lagi merasa lelaaah sekali saat menjalani episode kehidupanku yang sekarang: di Bandung. Seperti sekarang saat aku menulis ini, aku habis bepergian seharian bersama keluarga kecilku, alhamdulillaah hati rasanya senang sekali dan pergi ke luar benar-benar menjadi hiburan untukku, tapi ternyata kesudahannya aku capeeek bahkan sampai migrain, laluuuu terbayanglah hari-hari beratku saat di Newcastle dulu yang kalau aku bayangkan sekarang, pasti aku berkata dalam hati "dulu kok aku kuat yaaa berjalan kiloan meter, belasan ribu langkah sambil gendong Hamnah yg saat itu sudah belasan kilogram?" "dulu kok aku kuat yaa dorong stroller jalan jauuuh banget dan beratnya minta ampun karna bawa belanjaan dan juga ada Hamnah di dalamnya?" "dulu kok aku kuat yaa jalan nanjak menerabas angin super dingin kadang tangan sampai beku demi untuk belajar di kelas gratis yg durasinya cuma 1,5 jam itu? dan tentu sambil bawa anakku" hingga episode kehamilan pun tiba, gong!!rasanya klo dipikir-pikir lagi sekarang kayak "kok dulu aku kuat yaa?" dan dulu itu semua menjadi hal yang biasa. maa syaa Allah nangissss banget kalau mengingat masa-masa ituuu. Sungguh aku tau bahwa Allah-lah yang telah menguatkankuuu T__T Aku bersyukur padaNya yang telah mengabulkan doaku untuk merasakan berbagai kenikmatan sekaligus "tempaan" hidup di sana dan juga kekuatan yang selalu dan selaluuu Dia berikan. Sehinggaa ketika saat ini aku lagi merasa lelah padahal aku sedang di negara sendiri yang jauhhh lebih banyak kemudahan di dalamnya, berbagai memori tersebut langsung jadi penguatku lagi dan pada akhirnya aku memilih untuk jeda-rehat agar kembali kuat: meniatkan semua untuk IBADAH.
Buatku yang terpenting adalah agar Allah selalu dan selalu menemaniku di manapun aku beserta anak dan suamiku berada, karena gak kebayang kalau menjalani hidup tanpa kasih sayang dari Allah. Huhuhuhu takuuuut :(
18 ke 18
18 Mei menjadi tanggal baru yang masuk ke dalam daftar pengingat. Konon katanya angka 1 dan 8 pada angka 18 memiliki makna menjadi satu selamanya, sehingga dipilih sebagai tanggal sakral dimana ijab dan kabul diucapkan dalam hari pernikahan. Sebut saja pemaknaan barusan berasal dari si ahli cocoklogi, tiga detik yang lalu sambil membuat tulisan ini.
Dalam waktu 31 hari, 18 Mei ke 18 Juni tahun ini berjalan dengan mode ultra cepat. Saking cepatnya, cukup sulit untuk menjalani setiap momen dengan penuh kesadaran hingga menyelami rasa dan emosi yang muncul. Sampai ke tanggal 18 Mei saja rasanya surreal, apalagi sampai ke 18 Juni yang tiba-tiba sudah berbeda 11 jam lamanya dengan rumah sehari-hari.
Kalau ditanya apa rasanya, cuma bisa bilang alhamdulillah kayak mimpi. Nggak pernah terbayang ternyata pengalaman merantau pertamaku langsung mode ekstrem ke belahan dunia yang jarang sekali tersebut dalam daftar melancong impianku, apalagi menetap walau sementara.
Rasanya kemarin masih duduk bernafas sejenak sambil memandang lapangan timur Masjid Salman, jajan baso tahu bersama teman-teman di seberang kantor, mencoba gerakan pose pilates ala-ala bersama guru pilates yang empat tahun lebih muda, jalan kaki bersama ibu di kompleks sebelah, ketiduran di mobil ketika dijemput bapak malam-malam, membantu enin troubleshooting HP yang katanya error padahal kepencet, menyapa kucing kuning (menolak memanggil dengan kucing oren) di jalanan rumah yang awalnya dikira hanya satu ternyata ada empat, dan momen tak terhingga lainnya bersama familiar faces yang sekarang sedang berjauhan.
Kota tempat aku tinggal saat ini terbilang sepi, katanya karena penduduknya banyak mahasiswa dan sekarang sedang libur musim panas. Menurut suami, kota ini less entertaining jika dibandingkan Bandung atau Jakarta, domisili asal kami. Menurut temannya yang dulu berkuliah di ITB Jatinangor, kota ini seperti Jatinangor, tapi masih lebih ramai Jatinangor. Tentu saja lebih ramai Jatinangor, di area yang sangat padat terdapat tiga (atau lebih?) perguruan tinggi. Pusat perbelanjaan dulu hanya ada satu (Jatos), sekarang sudah ada waralaba-waralaba ibukota yang jumlahnya satu-satu, kebayang kan kemana-mana sepertinya ketemu orang yang kenal. Ini semi-semi hiperbola, sebenarnya kotanya ramai-ramai saja lho.
Dibekali dengan diri yang masih minim riset namun bermental letsgo dulu weh, ternyata Ann Arbor (yak ini dia namanya) memiliki daya tarik tersendiri untuk orang yang tidak suka ramai-ramai sepertiku. Meskipun datang bukan sebagai mahasiswa, setiap kali diajak eksplor kampus rasanya ingin ikut membaca, menulis, belajar hal-hal yang sudah lama tertunda, laptopan, drafting ide-ide yang muncul di kepala.
Perpustakaan kampus ada berbagai macam dengan arsitekturnya yang menarik mata dan boleh dimasuki oleh siapa saja, belum lagi district library yang jumlahnya ada lima dalam satu kota. Di area downtown, terdapat toko buku bernama Literati yang sangat bikin betah dan berbagai toko buku bekas yang belum aku jelajahi semuanya. Dulu sering ngebatin pengen deh di kota tempat tinggal ada lebih banyak tempat umum buat baca atau ber-produktif-ria, dengan fasilitas yang nyaman dan bisa diakses seluruh warga kota. Alhamdulillah di sini diberikan rezeki itu, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Ayo gunakan kesempatannya buat banyak baca dan dalami ilmu-ilmu yang ingin dipelajari, Shab!
Masih banyak aspek kota yang belum dieksplor, tapi insya Allah akan menyenangkan untuk disinggahi satu per satu. Sekilas cari-cari di Instagram dan juga pamflet yang ditempel di sudut-sudut kota, ada banyak komunitas dan kegiatan kerelawanan yang bisa diikuti, salah satu yang menarik adalah relawan taman kota. Bagi yang suka blusukan, banyak sudut kecil di jalanan tempat para seniman mural berkarya. Selain itu banyak sekali event lokal yang dibangun dengan semangat komunal, yang tidak harus ramai-ramai dan tetap disyukuri berapapun peserta yang akan hadir.
Jalan dua minggu di sini aku masih harus bekerja ngalong, alias bekerja dengan jam kebalik karena mengikuti WIB. Alhasil jalan-jalan di waktu "normal" dengan tenang baru bisa dilakukan Mulai dari Jumat sampai Minggu. Berhubung judul tulisan ini adalah review perubahan secepat kilat dari tanggal 18 ke 18 lainnya, adaptasi adalah hal yang sedang diupayakan sebaik-baiknya. Bukan hanya pindah domisili, tapi juga pindah kartu keluarga yang mana sekarang ada peran baru sebagai istri dalam rumah tangga.
Buat seseorang yang selama 28 tahun hidupnya tinggal bersama keluarga di rumah, mengurus rumah tangga sendiri rasanya seruuu sekali (dalam arti yang sebenar-benarnya). Rasanya tiap hal kecil, tiap aktivitas, tiap hari ada aja hal baru yang perlu dipelajari dan dievaluasi. Sangat rawan jadi overwhelming, tapi bismillah tarik napas ayo ingat jalani semuanya satu per satu. Gapapa kalau masih melakukan kecerobohan-kecerobohan lucu, yang penting tahu berikutnya agar lebih hati-hati lagi.
---
Dengan ini mari kita akhiri dulu tulisan pertama dari Ann Arbor! Satu bulan lebih sembilan hari sudah dilewati, semoga hari-hari yang akan datang bisa dijalani dengan lebih berkesadaran, juga diisi dengan mencari berkah dan menemukan makna.
Have a good day!
Wahai jiwa dan ragaku...
maaf ya... aku terus menerus memaksamu untuk kuat, terus menerus mengajakmu untuk berlelah-lelah, aku tahu kamu sudah sangat lelah
Namun, kamu masih muda... semangat ya... cari bekal untuk masa depanmu, untuk anakmu, untuk mewujudkan harapan harapan kecilmu...
kamu kuat kok, dua tahun itu tidak lama...
kamu pasti bisa...
Saat kamu ingin menyerah, Ingatlah.... bagaimana kamu selalu mengunci pintu dan mengajak anakku bermain hanya didalam rumah, karena takut ada pedagang yang lewat sedangkan kamu rak memegang uang sepeserpun...
Ingat juga, bagaimana kamu selalu kehujanan dan kepanasan saat mencuci piring karena diluar rumah dan belum punya dapur
ingat juga, bagaimana masa kecilmu banyak buku di Bazar sekolah yang ingin kamu miliki namun tak satupun yang bisa kamu beli
Ingat juga, lisan-lisan manusia yang selalu merendahkanmu karena kemiskinan kamu
Dan ingat pula... orang-orang baik disekitarmu yang selalu memberi sesuatu yang amat sangat berarti bagimu, yang selalu membantu meringankan urusanmu..
kamu boleh berdo'a agar Allah melimpah kan rezeki yang banyak dan berkah, kamu boleh minta ingin jadi orang yang kaya supaya mudah untuk bersedekah, supaya mudah membantu orang, juga supaya ibadahmu lebih dipermudah...
Semangatlah wahai diri...
(HongKong, 15mei 2024) mata lagi sakit, pusing, sakit gigi, capek, gemeter, abis lembur... pingin tidur
Iko Uwais
Workout with Chicco Jerikho (November 2022)
Kesediaan Merantau
Satu hal yang baru kusadari belakangan adalah "merantau merupakan sebuah privilege yang tak semua orang bisa mendapatkannya dan mau melakukannya."
Tak jarang banyak yang terhalang keinginannya karena tak mendapat restu orang tua untuk pergi jauh dari rumah; entah untuk kuliah, kerja, bahkan menikah pun disarankan dengan yang dekat-dekat saja.
Aku pun sempat menanyakan kenapa orang tuaku sama sekali tidak keberatan ketika tahu aku akan ikut suami merantau ke pulau seberang? Tentu mereka tak masalah, karena kami sekeluarga pun sudah merantau dari kampung halaman sejak aku masih bayi.
Seorang teman pun pernah menyampaikan, kalau ia jadi aku mungkin ia tidak mau jika harus diajak tinggal di tempat jauh yang sebelumnya tidak ia ketahui. Hal yang kupikir bukan suatu kendala ternyata bisa jadi pantangan bagi orang lain.
Kita mungkin sering mendengar nasihat Imam Syafi'i;
"Merantaulah,
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Merantaulah,
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)."
Tulisan ini tentu bukan untuk berbangga diri dan merasa menjadi "si paling merantau" haha karena merantau pun belum tentu mendapatkan hidup yang lebih baik, akan selalu ada tantangan dimanapun kita berada.
Saat ini aku merantau ke daerah yang jauh berbeda dari tempat tinggalku sebelumnya. Tidak banyak teman, tidak banyak pilihan kegiatan, bahkan makanan untuk sekedar memenuhi keinginan. Pekerjaan yang kadang terasa menjemukan, tidak banyak hal baru yang kudapatkan. Hm terasa membosankan ya?
Namun, jika ditanya apakah aku betah tinggal di sini? Ya, betah betah saja, kurasa aku cukup baik dalam beradaptasi. Hanya saja lama-lama aku merasa telah membangun zona nyaman yang rawan melalaikan. Tak banyak hal baru yang kudapati karena aku melewati rute yang sama dengan kegiatan serupa tiap hari.
Lantas bukan hanya kesediaan merantau saja yang diperlukan, namun semangat untuk terus belajar, merasa kurang dalam ilmu, miskin dalam pengalaman jadi modal utama agar terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dimanapun kita berada. Terakhir, selamat merawat semangat :)
ANS | Manado, 12 Oktober 2022
MERANTAU, CARA TUHAN MENJAWAB DO’A – DO’AKU
Merantau, sebuah keputusan yang cukup berat karena harus meninggalkan keluarga. Berjuang sendiri di daerah yang berbeda adat budaya, hingga bahasa sehari-harinya. Tapi percayalah, dengan merantau, Allah akan membuka mata kita, memperluas wawasan dan pergaulan kita.
Saya sendiri mulai merasakan merantau sejak lulus SMA. Saya terlahir di keluarga yang ekonominya menengah ke bawah, keinginan untuk kuliah harus dihadapkan dengan kemampuan ekonomi yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai anak sulung, mau tak mau harus berpikir keras bagaimana bisa kuliah, tapi tidak menjadi beban bagi orang tua. Saya mulai mencari informasi kampus – kampus yang membebaskan biaya kuliah. Berkali – kali mencoba jalur Beasiswa untuk siswa dari keluarga yang tidak mampu pun gagal.
Dari kegagalan itu orang tua memberi nasihat yang sangat menenangkan bagiku “Khusnudzon saja, berarti Allah tidak menganggap kita sebagai keluarga yang tidak mampu.. ”
Aku pun menjawab, “Nggih ya bu, Aamiin”
Toh mampu atau tidak, tak selalu diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, masih ada Allah yang akan memberi jalan bagi hamba-hambaNya yang tidak pernah menyerah.
Dalam masa pencarian itu, aku teringat pesan guruku “Mintalah sama Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Memberi. Mintanya yang sungguh – sungguh, kalau perlu secara spesifik juga boleh”.
Sejak saat itu, dalam setiap sujud, tak lupa ku sampaikan keinginanku sama Allah, terkadang sampai tak terasa meneteskan air mata. Alhamdulillah, Allah memberikan ku rejeki untuk kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Kedinasan, sudah bebas biaya kuliah, dapat uang saku juga tiap bulan, lulus langsung diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara. Namun disitu juga, aku diharuskan merantau, karena kampus tersebut berada di Jakarta Selatan, sedangkan orang tua di Sidoarjo.
Di awal perantauanku, beratnya ospek, lingkungan yang juga asing, membuatku ingin pulang saja. Tapi ketika ku ingat-ingat lagi janjiku “Aku sudah sejauh ini, kalau aku tak bisa membawa kesuksesan, malu rasanya untuk ketemu keluarga”. Dari situ aku bertekad sungguh-sungguh menjalani semua ini.
Meski berat diawal, ternyata selama masa perantauanku, Allah juga menjawab do’a – do’aku yang lain. Dulu punya keinginan untuk berkeliling ke beberapa wilayah di Indonesia, Allah pun menjawabnya dengan cara memberikanku penempatan ke wilayah NTT dan sekarang ke Bali.
Namanya manusia, keinginan terus ada, pernah punya keinginan untuk tinggal di lingkungan yang religius, karena terakhir belajar Ngaji itu jaman SD, Allah memberikanku lingkungan kampus yang sangat peduli dengan hal-hal religius, mempunyai teman-teman yang sangat peduli tentang hal ini.
Kini aku tahu, mungkin jika dulu aku tidak berani mengambil resiko mengambil kampus yang jauh dari rumah, ku tak akan bisa seperti ini. Manusia paling berpengaruh dan paling mulia bagi umat muslim (Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam) pun, kesuksesannya diraih setelah beliau hijrah ke Madinah. Bahkan Imam Syafi’I rela merantau, berjalan kaki dari Baghdad ke Makkah dan Madinah seorang diri, karena ingin menuntut ilmu. Dampaknya, sekarang ilmu beliau sangat bermanfaat untuk kita.
Teringat salah satu pesan Imam Syafi’I :
“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang
Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan)…. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”
Kini aku mengetahui maksud perkataan itu, Jangan jadikan dirimu bagaikan Katak dalam tempurung, yang membatasi dirinya untuk berkembang. Namun terbanglah layaknya burung yang bisa menikmati luasnya Bumi Allah, yang mensyukuri Nikmat-Nya, Maka kelak Allah pasti akan membalas do’a bagi hamba – hambaNya yang mau bersungguh – sungguh dan selalu Khusnudzon kepadaNya. Dan satu lagi yang pasti, mintalah do’a restu langsung dari Orang Tua, Insya Allah semuanya akan dimudahkan.
(C) Fajar R. Priyambada