Yah, sekarang kita beda kota
Lucu ya, dulu kita pernah ada di satu titik yang sama—
di jalan yang sama, di waktu yang terasa nggak akan habis,
dan di rasa yang waktu itu kita kira akan selalu tinggal.
Sekarang… semuanya berubah tanpa permisi.
Kamu di kota yang bahkan namanya kadang aku hindari,
bukan karena benci,
tapi karena setiap menyebutnya, ada bagian dari aku yang masih terasa runtuh.
Aku di sini, di tempat yang sama,
tapi rasanya nggak pernah benar-benar sama lagi.
Karena sebagian dari aku,
ternyata ikut pergi waktu kamu memilih untuk nggak lagi tinggal.
Kita pernah sedekat itu—
sampai hal kecil pun terasa berarti.
Pesan singkat, tawa sederhana,
atau cuma diam bareng tanpa harus banyak kata.
Sekarang, semuanya jadi kenangan
yang bahkan untuk diingat pun harus pelan-pelan,
karena kalau terlalu dalam,
aku tahu aku bisa tenggelam lagi.
Aku pernah berpikir,
kalau cinta itu cukup, kita pasti bisa.
Tapi ternyata, hidup nggak sesederhana itu.
Ada hal-hal yang nggak bisa dilawan cuma dengan rasa.
Ada keadaan yang lebih kuat dari keinginan kita untuk bertahan.
Dan yang paling sulit bukan tentang melepasmu…
tapi menerima kalau kamu benar-benar nggak akan kembali.
Bukan LDR lagi,
bukan sekadar nunggu waktu buat ketemu,
tapi benar-benar selesai.
Nggak ada lagi rencana “nanti kita ke sana ya”,
nggak ada lagi bayangan masa depan yang kita susun diam-diam.
Semua berhenti di satu titik yang bahkan kita sendiri nggak pernah rencanakan.
Aku belajar banyak dari kita.
Tentang bagaimana mencintai dengan tulus,
tentang bagaimana bertahan sejauh mungkin,
dan akhirnya… tentang bagaimana merelakan sesuatu
yang dulu aku pikir nggak akan pernah aku lepaskan.
Kadang aku masih bertanya,
“gimana kalau waktu itu kita sedikit lebih sabar?”
“gimana kalau kita lebih kuat?”
Tapi pertanyaan-pertanyaan itu nggak pernah benar-benar ngasih jawaban—
cuma bikin hati makin lelah.
Jadi sekarang aku memilih diam.
Bukan karena semuanya sudah benar-benar sembuh,
tapi karena aku mulai mengerti—
nggak semua cerita harus punya akhir yang bahagia
untuk bisa disebut berarti.
Yah, sekarang kita beda kota.
Dan kali ini,
bukan tentang jarak yang bisa ditempuh,
bukan tentang waktu yang bisa ditunggu,
tapi tentang dua orang yang pernah saling mencintai…
dan akhirnya memilih berjalan ke arah yang berbeda.
Kalau suatu hari nanti kita nggak sengaja bertemu,
mungkin kita cuma akan saling senyum,
tanpa cerita panjang, tanpa tanya “apa kabar hati kita sekarang?”
Karena beberapa perasaan,
meskipun sudah selesai,
tetap nggak pernah benar-benar hilang.
Dan kamu…
akan selalu jadi bagian dari aku
yang pernah aku perjuangkan
habis-habisan.
— Jurnal An














