PRASANGKA YANG KELIRU
Aku takut sekali menyangka bahwa segala keberhasilanku ini karena usahaku semata, harta benda yang terkumpul adalah sebab pintarnya aku dalam bekerja, aku takut menyangka bahwa semau hal yang kucapai saat ini adalah berkat kerja kerasku. Sementara sebenarnya sungguh, itu semua adalah karunia Allah.
Banyaknya rezeki tidak membutuhkan syarat harus bisa ini dan itu, bahkan Allah tetap memberikan rezeki dalam jumlah yang melimpah kepada mereka-mereka yang tidak beriman kepadaNya. Jadi, kalau aku masih memandang bahwa rezeki yang banyak itu adalah hasil kerja keras diri semata, tidak, semata-mata itu adalah karunia Allah. Nanti yang akan membedakan adakah keberkahannya.
Kadang kita seolah dipaksa untuk bisa mencapai titik tertentu, entah oleh standar sosial media, dsb. Padahal, kita sangat menyadari bahwa di dalam hidup ini, setiap manusia memiliki peran yang berbeda-beda. Tidak semua orang punya pendapatan dua digit dan harus dua digit. Menilai bahwa satu digit, pasti kurang. Meniadakan hakikat rezeki yang sesungguhnya bahwa rezeki tidak semata uang, rezeki juga bisa datang dari arah yang tidak disangka.
Belajar tentang rasa cukup adalah hal yang sulit sekali rasanya di masa sekarang. Seperti meyakini bahwa pernikahan itu membuka pintu rezeki pun, sulit. Apalagi konsep-konsep lain yang memang di luar logika dan rasionalitas manusia.
Sementara kehidupan yang terus berjalan ini, kita terus hidup dalam kerangka berpikir untung rugi, oportunis, dan segala hal yang membuat dunia terasa ada di dalam hati, terasa digenggam erat. Sementara orang-orang yang begitu tenang jiwanya, tidak sekalipun meletakkan dunia ini di dalam hati dan genggamannya.
Emang ini sepertinya lagi masuk ke fase yang berbeda dalam proses tumbuh dewasa. Rasanya, pemikiran sebelumnya perlu ada yang dibenahi. Mari kita belajar lagi :)










