Monolog : Tangga dan Masa Depan
Gw sudah berjanji untuk menjelaskan, apa yang terjadi dengan Tangga sebulan belakangan ini. Mengapa begitu banyak berita tak menyenangkan soal kami. Mengapa dua posting gw sebelumnya bernada sumbang. Mengapa description di soundcloud Tak Kemana Mana kami seolah olah bernada subliminal. Mengapa tercium bau bau perpisahan. Begitu banyak mengapa hingga seolah kurang aksara untuk menjelaskan. Sebenarnya gw lebih tertarik menjelaskan ini secara lisan. Tapi yasudahlah.
Semua berawal dari sebuah harapan berjudul Tak Kemana Mana. Tangga mulai bersiap untuk mencicil lagu untuk album keempat. Mood berkarya sedang baik, dan percayalah ini jarang terjadi. Bila kamu punya band yang tidak memegang final say dalam pemilihan lagu maka kamu akan mengerti. Lagu ini tercipta begitu cepat, cuma makan waktu sekitar tiga jam. Semua terasa begitu mudah. Lirik lagu ini pun datang ke kepala gw tidak lama, mungkin memang karena ide cerita ini sudah mengendap bertahun tahun yang alasan mengendapnya tidak akan gw ceritakan disini. Harry Budiman, music producer kami datang dengan progresi chord yang kami langsung sukai, dan terakhir gw ingat, semua pulang dengan senyum tersungging di wajah.
Ini adalah momen yang besar bagi kami karena, terlepas dari rasa syukur atas kesuksesan Utuh dan Cinta tak Mungkin Berhenti, dua lagu tersebut bukanlah lagu yang kami sukai. Mungkin di awal karir menyanyikan lagu seperti ini bukanlah masalah. Tetapi kami makin tua. Euforia senang terkenal, dielu elukan, sudah lewat. Buat gw pribadi, gw cuma ingin connect dengan apa yang gw nyanyikan. Gw ingin menceritakan cerita yang gw pedulikan, atau setidaknya, bisa gw bayangkan. Lama kami menunggu saat itu tiba, hingga akhirnya muncul Tak Kemana Mana.
Ternyata senyum cuma bertahan sehari, karena proses Tak Kemana Mana untuk bisa ‘dihidangkan’ ke meja label amat sulit. Lagu ini sudah selesai hampir dua bulan lalu, tapi percaya atau tidak, bahkan approval akan lagu ini hingga hari ini pun masih belum kami terima. Itulah alasan mengapa lagu ini baru bisa lari ke dapur Soundcloud.
Merasa patah arang, kami meminta bantuan management kami untuk menolong lagu ini sampai ke meja redaksi. Namun terlepas dari segala hal yang telah Tangga dan management bangun bertahun tahun ini, kami merasa bahwa Tak Kemana Mana bertepuk sebelah tangan. Hanya Tangga yang memiliki keyakinan akan lagu ini, tidak yang lain.
Mudah rasanya menerima kekecewaan saat tidak berharap. Namun saat harapan bertemu muka dengan kekecewaan, rasanya amat pahit. Di saat itulah kami sadar, mungkin saking terlalu lamanya kami membiarkan orang2 yang bekerja di sekitar kami mengatur hidup kami, adalah mustahil bagi kami untuk mendapat hak suara kembali. Ketika kami mencoba melihat kebelakang akan 9 tahun karir yang sudah dibangun bersama, kami tak kenal siapa kami. Tangga adalah hasil manufaktur yang cukup baik, namun apakah jati diri kami tergambar dengan jelas di nama tersebut? Jawabannya tidak.
Tak Kemana Mana adalah simbol. Simbol dari Tangga yang siap untuk dewasa. Siap untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Apakah jalannya akan semakin mulus? Tentu tidak. Malah mungkin akan lebih parah. Tapi sekali lagi, selama secercah harapan masih ada maka akan selalu ada alasan untuk menyunggingkan senyum ini di wajah.
Nerra menikah bulan Agustus dan pindah ke Surabaya untuk menjalani mimpinya yang lain. Berumah tangga. Kami bertiga tetap bermusik bersama, malahan kami sudah mulai workshop untuk album kami nantinya di bulan yang sama. Apakah namanya masih Tangga? Kemungkinan besar tidak. Tangga akan kami ‘tidurkan’ di bulan Agustus, dan belum tahu kapan akan terbangun dari hibernasinya.
Kami berpisah dengan management untuk memiliki keleluasaan menentukan nasib Tangga. Kami masih berusaha untuk berpisah dengan label untuk bisa menentukan masa depan dari karir musik kami bertiga. Mungkin memang terlambat. Umur gw 27tahun, bukan umur yang baik untuk memulai karir kembali dengan nama baru. Namun yang kami kejar cuma rasa bahagia. Sukses tak sukses bukan soal utama.
Baru sore tadi kami berbicara dengan pihak label. Mereka bilang Tak Kemana Mana not good enough for a single. Mungkin mereka benar. Mungkin kami salah. Namun apabila salah rasanya sebahagia ini, kami bisa terima.