This is how it goes: God whispers in Cain’s jealous ear, drawing his attention to the Sin crouched at his doorway. Sin has haunted eyes and a mouth that has been kissed. Let there be no doubt that Sin has been kissed, with a wet-red mouth that may taste of blood or pomegranate or the electric crackle of a stoplight. Cain looks at Sin. He runs his tongue over his teeth.
This is how it goes: Cain leaves the house at one am in bare feet and a hoodie, careful to avoid the last stair that creaks, and treks out into the Field. There are many fields in the world but there is only one Field. Cain feels the difference in the grass when he crosses the border from field to Field, the way the grey-green blades stand up at attention in his wake, the way the dirt turns ice-cold and furious beneath his heels. The earth is good with foreshadowing. The tree of Knowledge has deep roots.
This is how it goes: God says, I will take you or your brother.
God says, You get to choose.
And Cain says, “When you split me and my brother in the womb, you did not divide us evenly. He got kindness, and I got longing. He got complacence, and I got ambition. I want to kill him sometimes. I think sometimes he wants to die.”
I have never made brothers before, God explains. That is how I thought they were made. What more do you want?
“I want to steal some of his kindness,” Cain says, and shakes his pocket knife out of his sleeve.
Back at home, Abel sits up in his bed with a start, heart racing. That was close, he thinks, that was a damn close one, and does not know why.
In the Field, the ground warms as blood seeps into the dirt.
nanti kita tua dan aku mau membawamu ke pelosok negara tak ternama. mungkin aku akan mengajakmu kembali ke indonesia atau malah ke singapura. lihat kondisi ekonomi kita dulu tapi, ya. apa kita akan cukup kaya untuk menyewa apartemen menjulang tinggi di kota singa atau hanya cukup untuk sewa kontrakan sederhana di jawa?
aku mau dimana aja asal sama kamu, leo. dimana kau berada, di situ aku pun ikut serta.
kita akan tua & bergelut di dapur bersama. lapangan kemah itu tak setara dengan dapur sempit milik kita.
aku akan mengupas bawang merah dan kamu membumbui ayam dengan cita rasa. kemudian kita gila dengan tenang yang belum pernah kita rasakan sebelumnya—perasaan kemarin baru saja kamu mengalahkan gaea? perasaan baru kemarin deh, troya kalah.
kamu akan menertawaiku karena putra neraka baru saja terluka mengupas bawang merah—aku berdarah sejari dan kamu tertawa keras sekali. pandai dengan keris belum tentu pandai dengan pisau dapur, ya, ternyata. engkau bercanda soal empousa yang kalah lawan bawang merah perihal membuat aku berdarah.
gelak tawamu musik di telinga.
tapi ia mati begitu cepat ketika ayam kamu ceburkan ke dalam minyak. si jago merah berdansa ria & kamu hampir saja dipeluk ajal untuk kedua kalinya.
geluduk minyak itu tidak setara dengan bahaya yang dulu kita hadapi setiap hari.
aku masih menahan perih di jari & kamu sudah berpindah mencuci nasi. kamu mengejekku karena kau sudah memasak dua hal & akan membuat sambal terasi, sedangkan aku baru mau pindah mengupas bawang putih. tentu saja kamu membuat semuanya menjadi kompetisi.
“alah, alay banget, sih,” ejekmu sembari mengobati luka kecil di jariku agar tidak terinfeksi, “udah pernah perang di troya juga,”
tanganku bau bawang & punyamu bau terasi setelah mengulek sambal. “tapi yang ngobatin kan bukan kamu,” ucapku geli.
gelak tawamu cahaya hidupku, “ohh, berarti ini buat caper doang?”
“iya,” ujarku dengan senyuman, “dokternya ganteng soalnya,”
valdez, ternyata perang di troya sepuluh tahun tak lebih susah daripada menyetrika baju segunung ataupun menyapu rumah, tapi kalau ada kamu, ya, sepele, lah, mereka berdua. aku bisa mendorong batu atau membuat mereka menangis dengan lagu, tapi aku tidak bisa masak quesadilla tanpa kamu.
oh my favorite trope? two people who go through something so unique and agonizing and entirely beyond words that they have no choice but to create a bond that transcends all other types of love, thus acting as the sole point of understanding for the other person in a world that cannot fathom what they’ve been through
di semesta ini aku di rumah sakit mitra keluarga, di semesta sebelah aku ada di uks kemah darah dewa.
24 Mei 2024
sudah lama sejak terakhir kali aku ke rumah sakit.
tempat ini bau harapan; kehidupan & kematian di saat yang bersamaan.
aku datang ke sini tidak untuk menjenguk ataupun menyaksikan detik terakhir seseorang sebelum dijemput, aku ke sini untuk membuka mulut.
tapi tanpa aba-aba — secara tiba-tiba, aku takut mati (mungkin karena fakta bahwa gigi berlubang itu bisa mempengaruhi syaraf dan menyebabkan seseorang untuk berpulang). atau mungkin karena pesanmu yang sempat aku beri bintang.
“aku bangga banget waktu kamu bilang kamu gak mau bunuh diri,”
“aku marah bukan berarti aku mau kamu mati.”
dan aku mengingat itu selama aku masih ada di dunia ini.
aku selalu ingin mati, tapi setelah kamu berkata bahwa kamu bangga, aku takut membuat kamu kecewa. mati muda berdua bersamamu selalu jadi fantasiku yang paling liar, tapi setelah kamu berkata begitu, aku rasa hidup lama bersamamu akan lebih sangar.
di semesta ini, aku manusia biasa dengan gigi yang berantakan parah & tidak berdarah dewa. di semesta ini, rumahku tidak di bawah tanah, tapi lagi-lagi aku dibuat takut mati oleh orang yang kuanggap penerus tahta raja dari segala dewa di semesta yang berbeda.
kalau aku mati di semesta ini, perlu berapa lama sampai aku hidup kembali?
di semesta lain, menurutmu aku akan dibukakan pintu yang mana oleh hades apabila aku berpulang ke bawah tanah sebagai arwah? elysium terdengar seperti penghargaan & tidak layak dihuni gelandangan. asphodel terdengar mengerikan karena isinya orang orang yang menyesal sudah menyia-nyiakan kehidupan. lapangan penghukuman terlalu brutal untuk kekal. tartarus terlalu dalam & aku kurang yakin hades setuju untuk anaknya dijadikan satu bersama para titan yang dikandang. island of the blessed susah digapai, bagaimana kalau di kehidupan berikutnya aku tidak selayak hidupku yang sebelum ini? mana harus tiga kali.
tapi kalau memang aku dijerumuskan ke bawah tartarus yang paling dalam sebagai balasan atas semua dosaku di kehidupan ini, aku akan membuat kronos tunduk padaku & membuatnya memperlambat laju waktu, membuatmu hidup lebih lama dari seharusnya agar kamu tidak perlu mampir ke sini. kalau bisa, aku akan memintanya untuk mengulang masa & membawaku ke pertemuan pertama kita, agar aku tidak menyia-nyiakan kebersamaan sebelum ajal mengantarku pulang ke rumah. akan kuulang momen-momen itu tanpa bisa membuat keputusan baru. selama aku masih bisa menikmati kebersamaan bersama kamu.
di semesta ini rumahku di gedangan & kamu di jambangan. di semesta sebelah, rumahku di neraka sedangkan surga selalu menyambutmu dengan bahagia. kamu menceritakan aku ribuan cerita soal olympus dan keindahan tata bangunannya; soal daratannya yang berupa awan & bagaimana kamu cinta terbang.
kamu memang anak zeus paling tulen yang pernah kutemukan.
dan kamu adalah duplikat terdekat dari surga yang bisa aku raih sepenuhnya. aku bisa merasakan panah eros menusuk dadaku di saat ini juga, saat nyx dan phanes tengah berebut masa; aku jatuh cinta padamu tanpa prediksi bencana, dengan buta, di tengah malam yang gelap gulita, di rekah fajar yang menandakan dewi malam telah mengalah, sebelum apollo membangunkan sang surya.
kamu harus tau kalau penambalan gigi tidak senyeri pemandangan kamu berduaan dan senang bersama perempuan lain. kematian tidak semengerikan membayangkan kamu bahagia dengan orang yang lebih sehat hidupnya. kita dua sisi dari rumah sakit ini, sayang. kamu kehidupan itu sendiri dan aku jalan berpasangan dengan mati, mau di semesta ini atau di semesta dimana kita anak haram dari dua dewa yang membuat sumpah untuk tidak beranak lagi.
menurutmu di semesta lain kita akan jadi bunga atau menjadi anak zeus & hades beneran? langit dan bawah tanah. apa kamu akan mengkhianati kita semua karena muak dimanfaatkan & beralih ke sisi lawan bersama para titan?
apa figur dewa yang jadi orang tua kita dari dunia yang sama? kalau aku di sisi yunani & kamu nordik apakah kita akan masih saling memiliki atau malah saling menghardik? aku menghentikan para titan sebelum mereka mengakhiri dunia & kamu memenjara loki agar kiamat tidak ada dua. kemudian kita bertukar cerita mengenai petualangan entah keberapa kita untuk memperlambat akhir dari alam semesta tanpa takut para jotuns akan muncul tiba-tiba dan meratakan dunia.
di semesta ini, aku pulang dengan gigi yang barusan ditambal & kamu masih belum mau membalas pesan. di semesta lain, pedangmu berada di leherku beberapa detik sebelum aku mengakui kekalahan.
di semesta ini kamu berani minta maaf dan kita membicarakannya baik-baik kemudian kita keluar mencari makan. di semesta lain, kamu berani menolak keabadian karena ingin tumbuh tua berdua. padahal aku sudah menyuruhmu bersumpah atas nama sungai styx untuk tidak menolak keabadian apabila ditawarkan sebagai penghargaan.
di kedua semesta, aku mencintaimu sama saja. mau dalam versi kamu sebagai manusia biasa atau sebagai anak emas raja semesta; aku mencintaimu di semua dunia.
aku di parkiran tunjungan mau pulang saat aku menulis ini.
di balkon lantai ini ada dua lelaki merokok sambil menikmati matahari sebelum benda langit berganti. anehnya, aku menganggap itu kita. kamu bukan perokok & aku pun sudah berhenti, tapi aku tidak apa-apa kalau kita hanya mampu nongkrong di parkiran & tidak masuk mall kalau bayarannya kisah yang tidak pernah kamu ceritakan ke siapa-siapa. duduk seperti gelandangan di pinggiran jalan tunjungan tidak apa-apa asalkan kita masih bisa bertukar cerita. asalkan kita masih bertukar sapa.