Kebahagiaan dan Materialisme : Jawaban Hidup Adalah Uang-Uang-Uang
Minggu ini merupakan minggu yang sibuk dalam pemerintahan republik. Terjadi lima tahun sekali, diwarnai beberapa drama, akhirnya kita sudah punya jajaran menteri yang dilantik pada rabu lalu. Ribuan orang berkomentar, dari sudut pos ronda bersama satpam kompleks, obrolan bapak-bapak warung, ibu-ibu di pasar, hingga kumpulan kelas menengah melalui cuitan di twitter.
Saya akui, saya merupakan salah satu yang bercuit ria di twitter. Terutama sekali soal penunjukan mas Nadiem Makarim sebagai Mendikbud serta omongan mengenai pendidikan dan industri yang dimunculkan pada saat pelantikan oleh presiden. Cuitan itu saya jabarkan dalam thread singkat mengenai hal esensial untuk pendidikan saat ini, pada intinya saya menyangkan pernyataan mengenai orientasi pendidikan kita yang diarahkan pada industri. Jelas sudah, semua bidang di negara ini sekarang difokuskan untuk percepatan pembangunan ekonomi tanpa pandang bulu, dengan harga apapun.
Satu hal yang paling melekat dikepala saya adalah persoalan uang-uang-uang dan kaitannya dengan depresi. Pernyataan saya itu dibalas oleh seseorang di twitter, bahwa memang uang lah yang akan membantu kita keluar dari depresi, memenuhi kebutuhan hidup, dan alat untuk menggapai banyak hal dalam hidup. Langkah pemerintah fokus pada industri sebagai output pendidikan justru bagus karena akan menaikkan taraf hidup masyarakat yang pada akhirnya akan mengurangi depresi.
Semalam tadi saya terdiam, tak sepakat, tapi saya tak punya konter argumen. Saya tak mau berdebat untuk hal yang tak saya pahami sepenuhnya. Bisa jadi memang saya yang salah kan? Thread saya itu terlanjur di-retweet dan di-like ratusan orang, sementara penulisnya gamang dengan argumennya.
—
Persoalan keterkaitan antara depresi dan uang (atau material secara umum) merupakan persoalan yang begitu luas dan tak bisa dijabarkan secara singkat. Saya takut ada banyak hal yang akan saya lewatkan, banyak sudut pandang yang terpaksa saya abaikan, hanya gara-gara saya berusaha untuk mempersingkatnya. Namun orang-orang semestinya tahu bahwa konsep keterkaitan kebahagiaan hidup dengan materi itu bukan hal yang baru dibicarakan secara akademik belakangan ini. Kajiannya sudah lama sejak manusia belajar menelaah filsafat. Kajian materialisme secara mendasar bahkan punya bahasan ilmunya sendiri, yang kemudian tersebar dalam penelitian di berbagai cabang ilmu lainnya, seperti psikologi, komunikasi, ekonomi, dan politik.
Pagi tadi saya mendengar satu podcast ketika di kendaraan menuju psikolog untuk berkonsultasi soal kondisi pribadi saya. Si penyiar bicara mengenai cara keluar dari pola pikir materialis yang merusak kehidupannya di masa lalu. Ia bicara mengenai bagaimana dunia saat ini, dimanapun dan kapanpun, sedang menggiring semua orang dengan pemahaman bahwa memiliki sesuatu akan membuat kita nyaman dalam hidup. Hampir semua sistem ekonomi ditopang oleh marketing dan advertising, memberikan pesan diam-diam di jalanan menuju tempat kerja bahwa kita mesti membeli sesuatu hari ini karena kita butuh hal tersebut.
Maka pada akhirnya wajar saja jika banyak orang berpandangan bahwa tanpa uang mereka tak akan bisa makan, mereka tak punya tempat tinggal, tak bisa berkegiatan sosial, tak bisa bahagia dan lain-lain. Pun terjadi pada saya.
—
Karena ternyata hari ini layanan psikologi tidak menerima pendaftaran, saya pun menuju perpustakaan untuk mencari buku dan jurnal mengenai materialisme dan konsep kebahagiaan. Agak lucu memang, karena saya ragu bisa membacanya dengan lapang dada.
Mayoritas penelitian yang saya baca beserta rujukan lainnya menunjukkan bahwa memang keterkaitan antara kepemilikan barang/status sosial sangat terkait dengan kebahagiaan diri. Mengingat dunia dipenuhi dengan iklan dan ajakan menjadi konsumen, saya rasa wajar jika banyak orang tak tahu jika mereka bisa membuat gubuk sederhana di hutan, kemudian memulai kehidupan purba seperti yang dilakukan seorang youtuber melalui channel Primitive Technology.
Berapa kali kita melihat iklan mobil hari ini? Satu keluarga berkumpul dan jalan-jalan bersama mobil barunya. Memperlihatkan mesin yang handal untuk keperluan transportasi yang nyaman, seperti berada di rumah sendiri, dekat dengan orang yang dicinta. Di tv, di koran, di majalah, di laptop, di hp, di twitter, di youtube, di papan reklame, dimana-mana!
Jadi ketika disodorkan kuisioner yang berisi pertanyaan, “Apakah anda senang bisa membeli mobil dengan uang sendiri?” Kebanyakan orang akan menjawab iya!
Lalu pembicaraan mengenai perawatan tubuh dan konsep ketampanan/kecantikan ideal. Sungguh, masalah konsumerisme yang menyebar bagai jamur di musim hujan benar-benar sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak lagi kita sadari. Kita pun juga bagian yang ikut menyebarkan rasa ingin untuk memiliki sesuatu pada orang lain lewat postingan foto di instagram.
Sungguh, dalam standar materialisme, saya benar-benar tak bahagia, dan saya memang tak bahagia. Keinginan bunuh diri selalu datang tiba-tiba, mengganggu saya dalam malam, membuat saya tak bisa tidur hingga pagi. Baru malam tadi saya minum obat tidur agar tak lagi mengalami kecemasan-kecemasan akan diri.
—
Saya masih bingung untuk menjawab argumen bahwa uang adalah hal utama dalam hidup. Konsep abstrak soal nilai mata uang dan barang-barang konsumsi beserta status sosial yang menyertainya merupakan pukulan telak untuk manusia modern. Kita tak punya jalan keluar lain, sudah terbiasa seperti ini dari lahir, maka pilihannya dua, menikmatinya atau mati menderita. Bagaimana bisa saya mengelak terhadap konsep kepemilikan dan kebahagiaan diri sementara dalam dunia pendidikan saat ini hal-hal tersebut masih terjadi, dan merupakan bahasan besar terkait akses masyarakat terhadapnya.
Di berita saya masih mendengar anak sekolah dasar yang bunuh diri karena seragam sekolahnya basah, ia hanya punya satu seragam itu, tak ada gantinya, takut dimarahi guru. Hati siapa yang tak menangis mengetahui kabar itu? Dan kita benar-benar tahu, bahwa tak cuma anak tersebut yang hanya memiliki satu seragam untuk sekolah, ada banyak orang tua yang tak mampu membelikan seragam tambahan untuk anaknya.
Karya-karya sastra kita juga masih dipenuhi harapan bernada materi, yang tak saya salahkan karena mimpi semua orang adalah ingin bahagia, dan cara bahagia adalah hal yang sangat subyektif. Cerita seperti Sepatu Dahlan persis menggambarkan bahwa kebahagiaan kita masa ini adalah kemampuan untuk dengan bebas memiliki banyak hal.
—
Entahlah, saya tak tahu ingin menjawab apa. Saya tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan mungkin Tuhan hanya tertawa mendengar kita manusia ribut soal kebahagiaan, karena ia tahu mana yang paling benar. Ini tak membuat saya pusing, hanya penasaran dengan peradaban kita yang dibangun oleh ketidaktahuan. Kita terus mencari, dan pencarian itu yang akan terus membangun peradaban. Dan tentu semua ini hal yang lucu bagi saya yang keinginan hidupnya sudah tak ada lagi.
Sebelum menutup, saya ingin bertanya, mengenai kehidupan manusia saat ini dan materialisme sebagai dasar kita mengejar kebahagiaan. Benarkah kita harus merawatnya melalui pendidikan di sekolah, menjadikannya cita-cita bangsa, dengan cara mengarahkan pendidikan kita jadi bahan bakar penggerak industri? Apa nilai manusia kita memang benar sebatas nilai pembangunan industri negara? Siapapun yang ingin menjawab, semoga bisa mencerahkan banyak orang.
Terima kasih sudah membaca, tabik!













